
Ponsel Daniel berdering.
"Halo?" Sapa Daniel pada si penelpon.
"Kau menemukan sesuatu dan kau tidak memberitahuku?" Balas orang yang berada ditelpon.
"Bukan begitu, aku hanya ingin memastikan terlebih dahulu benar tidaknya, setelah semuanya jelas aku pasti akan memberi tahu mu" ucap Daniel sedikit membela diri.
"Oke hari ini juga aku akan berangkat kesana" klik tanpa menunggu balasan Daniel orang tersebut mematikan panggilan ponselnya.
"Dari dulu tetep aja kau Rion selalu tidak sabaran" gumam Daniel.
Yap, yang menghungi Daniel barusan adalah Arion, dia mendapat laporan dari seorang bawahannya bahwa Daniel pergi ke Paris untuk mencari dalang dari pembunuhan orang tuanya.
********
Sedangkan disisi lain.
"Siapkan jet pribadiku sekarang juga kita terbang ke Paris" ucap Rion pada Riki asistennya.
"Baik Tuan" Riki segera melaksanakan perintah Tuannya sebelum dunia di luluh lantahkan oleh sang Tuan.
Tak butuh waktu lama semuanya telah siap, Rion sudah berada dalam jet pribadinya. Setelah semuanya telah dirasa cukup jet mulai mengudara.
Setelah kurang lebih 36 jam mengudara jet pribadi Rion mendarat di bandara Paris. Tak membuang waktu Rion langsung menuju markas Daniel.
Brakkkk suara pintu dibuka paksa. "Kau b*j*ngan tengil kenapa kau membuat keputusan tanpa sepengetahuanku?" Tanya Rion penuh amarah.
Daniel menanggapinya dengan santai, dia beranjak dari tempat duduknya berjalan melewati Rion.
"Kau mau tetap disitu atau ikut dengan ku? Aku memiliki sesuatu yang pasti akan kau suka" ucap Daniel kemudian melanjutkan langkah kakinya. Dengan hati yang masih kesal Rion berjalan mengekor dibelakang Daniel.
Daniel berjalan ke ruang bawah tahan khusus untuk menahan tawanan dari tingkat menengah ke atas. Markas Daniel mempunyai beberapa tingkatan tahanan, mulai dari yang terendah sampai yang terberat. Mereka akan di tempatkan pada tahanan menurut kejahatan yang mereka lakukan.
Daniel menuju ruang khusus. Teriakan terdengar bersautan dan bau anyir darah tercium menusuk hidung, bagi yang belum terbiasa akan pingsan mencium dan mendengar teriakan para tahanan. Berbeda dengan Rion dan Daniel yang sudah terbiasa dengan itu semua.
"Kenapa kau membawa ku ke tempat jelek begini?" Tanya Rion sinis.
"Kau akan tau nanti" jawab Daniel datar.
__ADS_1
Kemudian Daniel menuju pintu paling ujung di ruangan tersebut. "Buka" ucap Daniel pada penjaga yang membawa sejanta laras panjang mereka. Mendengar perintah sang Tuan penjaga membuka pintu ruangan tersebut.
"Silahkan kau lihat siapa yang ada didalam sana" ucap Daniel mempersilahkan Rion untuk masuk ke dalam.
Rion masuk ke dalam ruangan tersebut, didalam ada seorang pria yang terikat tangan dan kakinya dengan keadaan yang cukup memperihatinkan.
"Paman Oliver?" Ucap Rion terkejut setelah mengetahui siapa pria tersebut. Medengar seorang menyebut namanya pria bernama Oliver tersebut mendongakkan kepalanya dan tersenyum miring.
"Daniel kenapa kau menangkap dan menyiksa pamanku?" Tanya Rion bingung.
"Kau tanya kenapa aku menangkap dan menyiksa pamanmu?" Tanya Daniel balik. "Karena dialah yang menyuruh para eksekutor untuk memb*n*h paman dan bibi Dominic" jawab Daniel dingin.
Rion yang mendengar itupun seketika marah, aura dingin dan ingin memb*n*h pun keluar dalam diri Rion. Rion berjalan mendekati sang paman.
"Kenapa paman melakukan ini semua?" Tanya Rion dingin.
Dengan tersenyum miring sang pamam menjawab "kau tanya kenapa?, Karena yang seharusnya menyandang kepala klan Red Demon bukan Demitri papamu yang bodoh itu tapi aku" ucap sang paman penuh amarah.
"Kau memang tak pantas menyandang kepala klan Red Demon, kau hanya seorang pengecut" balas Rion penuh penekanan.
Rion melangkah maju menuju sang paman "takkan ku biarkan kau mati dengan mudah, akan kubuat kematian mu lebih mengerikan dan menyakitkan, meskipun kau memohon pada Dewa kematian, takkan ku biarkan dia mencabut nyawamu dengan mudah" bisik Rion penuh penekanan.
Anak buah Daniel yang sebagian adalah ahli bedah. Mereka langsung mengeksekusi mengeluarkan pelurur tanpa bantuan bius. Hal itu membuat paman Oliver meraung kesakitan, ketika benda pisau bedah mulai menyanyat tubuh nya untuk mengeluarkan peluru yang bersarang pada tubuhnya.
Daniel dan Rion sangat menikmati suara raungan sang paman Oliver, bagi mereka itu adalah suara termedu yang pernah mereka dengar. Ada rasa senang ketika mendengar sang tahanan kesakitan dan meraung.
Belum selesai sampai disitu, setelah semua peluru dikeluarkan, kini giliran jarum jahit yang akan menerobos masuk diatara daging tubuh sang paman. Tanpa obat bius itu membuat rasa sakit makin menjadi.
"Kau bunuh saja aku, dasar iblis, psikopat" umpat sang paman pada Rion.
"Sudah aku katakan, aku takkan membiarkan mu mati dengan mudah, meskipun kau memohon pada dewa kematian, takkan ku biarkan dia mencabut nyawamu dengan mudah" balas Rion dengan smirk nya yang menakutkan.
Tak lama kemudan, kegiatan menyenangkan bagi mereka telah selesai. Beberapa luka jahit bercampur darah terlihat dibeberapa tempat ditubuh Oliver.
"Hem cukup rapi untuk anak buah seorang ahli bedah" ucap Rion sedikit memuji hasil bawahan Daniel.
"Kau sudah puas?" Balas Daniel datar.
"Oh tentu belum" ucap Rion menyeringai. Daniel yang mendengar itu antusias dengan pertunjukkan yang akan Rion sajikan untukknya.
__ADS_1
"Ambilkan aku air garam dan capur dengan air perasan jeruk nipis atau lemon" perintah Rion pada bawahan Daniel.
"Laksanakan Tuan" balas bawahan Daniel cepat, kemudian berlalu pergi.
"Apalagi yang akan kau lakukan padaku?" Tanya Paman Oliver ketakutan. Karena dia sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang diberikan oleh sang keponakan.
"Kau akan tau nanti" balas Rion dingin. Tak lama kemudian apa yang diminta oleh Rion telah siap.
"Silahkan Tuan" ucap bawahan Daniel.
"Kalian berdua siram perlahan orang itu dengan air tersebut secara perlahan" perintah Rion. Paman Oliver yang mendegar itu kian ketakutan dengan tubuh yang tegang.
"Arrghhh sakit, perih, sudah cukup aku sudah tak tahan lagi, kau bunuh saja aku" teriak paman Oliver memohon.
"Tak semudah itu, itu balasan karena kau sudah berani memghabisi orang tuaku" ucap Rion dingin. "Lakukan perlahan sampai air dalam drum itu habis" sambung Rion kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut diikuti dengan Daniel.
Meskipun amarah mendominasi perasaannya tetapi tak dapat dipungkiri dia masih tidak percaya kalau sang paman tega melakukan perbuatan menjijikkan tersebut. Bagaimana jika sang adik tau? Bahwa orang yang selama ini merawat mereka adalah pemb*n*h kedua orang tuanya. Batin Rion mulai berperang antara memaafkan atau menghabisi.
"Aku tau, pasti berat menerima ini semua orang yang selama ini memberikan rumah untukkmu adalah orang yang menghancurkan rumah mu" ucap Daniel mencoba menghibur sahabatnya itu.
"Aku tau tapi bagaimana perasaan Leta jika mengetahui hal ini?" Balas Rion agak sendu.
"Dia pasti akan mengerti, dan kau bisa memilih mengampuni atau menghabisi itu semua ada ditanganmu tetapi ingat dia adalah orang yang menghabisi orang tua mu, pikirkan baik-baik" ucap Daniel.
"Ya kau benar, aku takkan mengampuni mereka yang menghilangkan nyawa kedua orang tua ku" jawab Rion mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.
"Pilihan yang bijak" ucap Daniel. "Ke apartemen Leta yuk pasti dia seneng kalau abangnya ada di Paris" ajak Daniel kemudian.
"Oke, aku juga kangen sama ke absurdan dia. Dan mau numpang istirahat" balas Rion, pasalnya setelah sampai di Paris Rion langsung menuju ke markas Daniel tanpa beristirahat terlebih dahalu. Meskipun sang asisten menyuruh untuk beristirahat sejenak, bukan Rion namanya kalau jadi pria yang penurut.
Akhirnya mereka menuju ke apartemen Aleta.
__ADS_1