
Rion tiba di gedung apartemen Daniel. Setelah memarkirkan mobilnya dibasement, dia berjalan menuju ruang apartemen Daniel. Setelah sampai, tanpa permisi dan mengetuk pintu Rion langsung memasukkan pin apartemen Daniel.
Hanya Rion yang mengetahui nya. Setelah pintu terbuka Rion masuk dan mencari sang pemilik apartemen.
"Sepi sekali, dimana tuh anak goblin? Apa masih tidur?" Gumam Rion, setelah mendapati apartemen Daniel dalam keadaan gelap. Rion kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar Daniel.
Cklek
Pintu terbuka, Rion melihat seonggok orang sedang tidur nyenyak dibawah balutan selimut. Rion mendekat dan menyibakkan selimut yang dipakai Daniel.
"Woi anak goblin bangun sudah siang woi" teriak Rion.
"Kau mengganggu saja, aku baru kembali tadi subuh dan baru saja bisa tidur" ucap Daniel lirih dan serak khas orang bangun tidur.
"Memang kau tidur pukul berapa?" Tanya Rion.
Daniel menunjukkan angka tujuh dengan jarinya, karena dia sudah tidak bertenaga untuk sekedar berbicara singkat.
"Memang kau darimana?" Tanya Rion penasaran.
Suara dengkuran halus terdengar keluar dari mulut Daniel, Dia sudah tertidur lagi.
"Ck malah ditinggal tidur" gumam Rion kesal. Karena Daniel tertidur kembali dia berjalan keluar dari kamar Daniel menuju ruang tamu.
Karena bosan, Rion membuka ponsel dan mengecek email yang masuk, sembari menunggu Daniel sadar dari pingsan sementaranya. Karena bosan dan tak ada teman mengobrol Rion tertidur.
********
"Issh ini orang kemana sih? Ditelpon gak bisa-bisa" ucap Aleta menggerutu. Karena jam kuliahnya telah selesai, dia berniat langsung kembali ke apartemennya karena rasa magernya mulai kambuh.
Harapan pulang ke apartemen dan memeluk kasur pun hanya tinggal harapan. Pasalnya Arion sang abang tak kunjung bisa dihubungi.
"Dasar manusia dakjal, katanya mau antar jemput ini hari pertama aja sudah di lupain aing" ucap Aleta kesal. Di kampus Aleta mencak-mencak karena sang abang tidak dapat dihubungi. Sedangkan disisi Rion, dia tertidur dengan pulasnya dan ponselnya dalam keadaan mati mungkin dia lupa untuk mencharger ponselnya semalam.
"Ada apa Lara?" Tanya Rea yang melihat Aleta menggerutu.
"Oh Rea, aku lagi sebal, abangku tidak dapat dihubungi" jawab Aleta dengan nada kesal.
"Oh, mau ku antar?" Ucap Rea menawarkan diri. Aleta berfikir sejenak.
"Baiklah, tetapi tidak merepotkanmu kan?" Tanya Aleta sungkan.
"Tentu saja tidak, tunggu disini sebentar, aku mengambil motor ku duli di parkiran" ucap Rea pada Aleta.
"Kau ke kampus naik motor?" Tanya Aleta agak.
"Yap, memangnya kenapa? Kau berubah pikiran?" Tanya Rea.
"Oh tentu saja tidak, aku hanya salut dengan mu kau orang berada tetapi mau menggunakan motor" ucap Aleta kagum.
"Kau bisa saja, menurutku motor lebih praktis daripada mobil apalagi kalau jalanan sedang macet, bisa nyelip-nyelip dan tak memakan waktu yang lama" balas Rea menjelaskan.
"Memang benar" ucap Aleta membenarkan.
__ADS_1
"Baiklah tunggu sebentar aku segera kembali" Rea beranjak pergi meninggalkan Aleta menuju tempat motornya terparkir.
Sebenarnya Aleta ragu untuk pulang bersama Rea, takut kalau sang abang akan murka. Tetapi Aleta meyakinkan dirinya kalau ini semua juga salah sang abang, kenapa saat dia selesai kuliah malah nomor nya tak bisa dihubungi.
"Ayo Lara" Ucap Rea sudah berada didepan Aleta. Aleta pun naik dibelakang Rea, Rea menyerahkan sebuah helm pada Aleta.
"Ini" ucap Rea menyerahkan salah satu helmnya.
"Apa kau selalu membawa dua helm?" Aleta menerima helm tersebut kemudian memakainya.
"tidak juga, tadi kebetulan aku mengantar adikku dulu ke sekolah karena supir yang biasa mengantarnya sedang berhalangan" jelas Rea.
"Oh" Aleta hanya ber oh ria. Setelah semua siap, Rea melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Kau tinggal di apartemen mana Lara?" Tanya Rea, karena dia belum mengetahui apartemen Aleta.
"Di apartemen X, didepan kau tinggal belok kanan saja sudah ikuti jalan kurang lebih 3 kilo meter dan sampai lah di apartemen ku" jawan Aleta menjelaskan.
"Oke" Rea melajukan motornya sesuai arahan dari Aleta.
Tanpa mereka duga, pada saat mereka berbelok seseorang menyabrang dengan sembarangan. Menyebabkan Rea kaget, dan membanting stang motornya kekiri dan menabrak tiang lampu jalan.
Braaakk
Tabrakan terdengar cukup keras Rea dengan reflek meloncat dari atas motornya dan menggelinding. Sedangkan Aleta yang tidak siap dan terkejut terjatuh bersamaan dengan motor Rea.
Kaki Aleta tertindih badan motor, dan sikunya sedikit tergores dengan aspal jalan. Aleta mencoba menggerakkan kakinya.
"Issshh" Aleta mendesis, karena kaki nya sakit ketika digerakkan. Melihat keadaan Aleta, Rea menjadi panik.
"Lara kau tidak apa-apa? Maafkan aku yang kurang berhati-hati" ucap Rea merasa bersalah.
"Oh tidak sikumu berdarah" Rea mulai panik. "Seseorang tolong panggil ambulan" teriak Rea.
Tak lama ambulan datang, Aleta kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat. Setelah mendapat perawatan, Aleta diperbolehkan untuk pulang.
"Lara aku benar-benar minta maaf, karena ku kau malah seperti ini" ucap Rea sendu, dia membantu membopong Aleta keluar dari rumah sakit. Kemudian mereka berdua masuk kedalam taxi yang dipesan Rea. Karena motor Rea sudah tak bisa digunakan lagi.
"Sudah, tidak apa Rea. Kau jangan menyalahkan dirimu seperti itu" kata Aleta mencoba menghibur temannya itu.
"Sekali lagi aku minta maaf Lara" ucap Rea tulus.
"Sudah Rea, aku tidak apa-apa" balas Aleta dengan senyuman, mencoba menenangkan Rea.
Setelah itu sepanjang perjalanan hanya hening. 20 menit kemudian mereka telah sampai didepan gedung apartemen Aleta.
"Kau mau mampir atau langsung pulang Re?" Tanya Aleta.
"Eh boleh aku mampir?" Tanya Rea ragu.
"Tentu saja boleh, yuk" ajak Aleta.
"Yuk" Rea membatu Aleta turun dari taxi dan membantunya berjalan menuju ruang apartemennya. Meskipun Aleta menolak takut merepotkan Rea, Rea kekeuh ingin membatu Aleta karena dia merasa bersalah pada Aleta.
Mereka berdua sampai depan ruang apartemen Aleta. Setelah menscan iris mata dan wajah Aleta pintu otomatis terbuka setelah terdengar bunyi klik dan mereka pun masuk ke dalam apartemen. Rea kagum melihat apartemen Aleta yang minimalis namun terksan elegan dan mewah.
"Wah apartemen mu canggih sekali Lara" puji Rea pada apartemen Aleta.
__ADS_1
"Biasa saja Re" ucap Aleta merendah. "Silahkan duduk dulu Re jangan sungkan" sambung Aleta. Rea duduk dikursi depan televisi. Ketika Aleta pulang apartemen dalam keadaan gelap pasti sang abang belum kembali. 'kemana ini abang kupret kok belum balik, halah sebodo teung lah' batin Aleta.
"Kau tinggal sendiri Lara?" Tanya Rea.
"Sebelumnya memang sendiri, sebelum abang ku tiba-tiba muncul disini" jawab Aleta agak kesal mengingat kedatangan sang abang yang tiba-tiba seperti jelangkung.
"Oh, lantas kemana dia? Sepertinya apartemen mu sepi sekali?" Tanya Rea penasaran.
"Entah lah aku juga tidak tau" jawab Aleta cuek. "Kau mau minum apa Re?" Tanya Aleta.
"Air putih saja " jawab Rea. Aleta pergi ke dapur untuk mengambil air putih, dia agak kesulitan berjalan menggunakan tongkatnya.
Tak berselang lama, terdengar suara pintu apartemen terbuka. 'pasti itu bang Rion' Batin Leta.
"Minum dulu Re?" Ucap Aleta mempersilahkan.
"Terima kasih Lara" Balas Rea.
"Loh dek kamu udah pulang? Sama siapa? Kok gak hubungin abang" tanya Rion tiba-tiba muncul.
"Tanya satu-satu napa" jawab Aleta sebal.
"Terus ini anak jenglot siapa?" Tanya Rion menunjuk Rea. Yang ditunjuk bingung jenglot itu apa. Maklum di Paris mana ada jenglot.
"Abang suka asal ya, kenalin ini Rea temen kampus ku" ucap Rea memperkenalkan. Sedangkan Rea mengulurkan tangannya "Rea" tetapi Rion tak kunjung membalas nya. Akhirnya Rea menarik kembali tangannya.
Rion melihat ada yang berbeda dari sang adik dan "itu siku mu kenapa ada plester?" Tanya Rion penuh selidik. Akibat goresan pada saat jatuh tadi, siku Aleta harus di plester agar tidak terinfeksi bakteri.
"Em itu?" Jawab Aleta bingung, kalau dia jujur pasti sang abang akan murka.
Belum juga Aleta menjawab sang abang bertanya lagi "Terus itu kenapa kaki mu diperban?".
"Eh itu?" Jawab Aleta bingung.
"Maaf kak, tadi kami terjatuh dari motor karena menghindari orang menyebrang sembarangan" bukan Aleta yang menjawab tetapi Rea dengan kepala menduk takut dengan aura yang dikeluarka Rion.
"Terjatuh dari motor?" Tanya Rion dengan nada heran dan marah.
"Iya kak maafkan saya" balas Rea takut.
"Kau yang menyebabkan adikku terjatuh?" Tanya Rion mendekati Rea, aura dingin dan mengintimidasi begitu terasa nyali Rea menjadi ciut seketika 'semenyeramkan inikah kakak Lara?' batin Rea.
Sebelum sang abang semakin marah pada Rea, Aleta mengumpulkan keberanian untuk berbicara.
"Jangan salahkan Rea, ini semua juga salah abang kenapa tidak bisa dihubungi, Rea hanya mencoba membantuku dengan mengantarkan ku pulang" ucap Aleta menjelaskan.
"Tapi kau jadi seperti ini karena ulahnya" balas Rion kekeuh tetap menyalahkan Rea. Rea hanya tertunduk takut.
"Jika abang dihubungi Aleta juga tidak akan seperti ini" ucap Aleta mulai kesal dengan sikap sang abang.
"Tapi...." Sebelum Rion berbicara lagi Aleta sudah memotongnya.
"Sudah tidak ada tapi, Rea tidak bersalah" ucap Aleta Final.
"Rea sebaiknya kau pulang terlebih dahulu, maaf atas sikap abang ku padamu" ucap Aleta lagi. Setelah kepergian Rea, Aleta langsung memasuki kamar nya dan menutup pintu dengan keras.
__ADS_1