
Aleta dan Daniel sampai di apartemen. Daniel turun dari mobil dan menggendong Aleta.
"Kak Leta bisa sendiri, beneran deh" ucap Leta meyakinkan Daniel.
"Udah kamu nurut aja, supaya cepat sembuhnya tuh kaki" balas Daniel kekeuh tetap menggendong Aleta.
Akhirnya Aleta hanya bisa pasrah, membiarkam Daniel menggendongnya. Sampai di ruang apartemen Aleta, Daniel menurunkan tubuh dan mendudukkannya dikursi.
Setelah itu Daniel ngambil posisi jongkok, membuka balutan kain coklat yang ada pada kaki Aleta. Setelah terbuka Daniel mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya.
"Apa itu kak?" Tanya Aleta penasaran. Melihat sebuah cairan dalam botol kecil ditangan Daniel.
"Ini obat untuk kaki mu supaya segera sembuh" jawab Daniel.
"Oh aku kira racun" balas Aleta dengan nada bercanda. Daniel hanya tersenyum mendengarnya.
Dengan cekatan Daniel mulai mengoleskan cairan dari dalam botol pada kaki Aleta. Aleta memperhatikan Daniel yang mengobati lukanya. 'kalau diperhatikan kak Daniel tampan juga' batin Aleta. Setelah itu dia menggelengkan kepalanya 'mikir apa sih Aleta' gemas batin Aleta.
Daniel melihat tingkah Aleta pun heran. "Ada apa?" Tanya Daniel.
"Ah gak kok, apa sudah selesai?" Tanya Aleta mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sudah" jawab Daniel bangkit, kemudian duduk disebelah Aleta.
"Terima kasih kak" ucap Aleta.
"Tidak masalah" balas Daniel. "Sepertinya Rion belum kembali" ucap Daniel pada Aleta, karena tak menemukan sosok Rion dalam apartemen Aleta.
"Biarin aja lah, kayak anak kecil bae habis marah kabu" ucap Aleta kesa pada abangnya. Dia kesal karena Rion marah padanya dan lebih kesal lagi Rion membiarkannya kepalaran.
"Mau ku temani?" Tanya Daniel menawarkan diri.
"Boleh, apa tidak merepotkan kakak?" Tanya Aleta balik.
"Tentu saja tidak, hari ini agak free" jawab Daniel.
"Terima kasih, aku juga sedang bosan" ucap Aleta kemudian. "Oh ya kalau kakak ingin minum, kakak ambil sendiri ya, Aleta mager heheh" sambungnya lagi.
"Iya santai aja" balas Daniel mengacak rambut Aleta.
Ketika sedang asik bercanda, terdengar suara pintu dibuka. 'itu pasti si anak dakjal' batin Aleta masih sebal dengan sang Abang.
Tak berapa lama kemdian muncullah sosol Rion. "He ngapain disini lo?" Tanya Rion pada Daniel. Sekilas melirik sang adik.
"Gak ngapa-ngapain main aja" jawab Daniel datar.
"Memangnya gak ada kerjaan, lo main-main ke apartemen adek gue?" Tanya Rion sensi. Mungkin efek dari marahnya pada sang adik, sekarang sahabatnya pun kena juga.
"Suka-suka gue donk, gue bosnya" jawab Daniel dengan nada agak kesal. Bisa-bisanya dia juga kena semprot Rion.
"Pulang san mengganggu pemandangan aja" ucap Rion mengusir Daniel.
"Idih Sok sokan, yang punya apartemen aja ngebolehin kenapa anda yang heboh?" Balas Daniel tak terima diusir.
Aleta yang melihat dan mendengar perdebatan dua makhluk dewasa tetapi lebih mirip remaja labil itupun mulai bersuara.
"Kalian berdua cukup, aku lagi sakit ya tolong mengerti" ucap Aleta.
"Dia noh yang mulai duluan" balas Daniel menunjuk Rion.
__ADS_1
"Eh enak aja" ucap Rion tak terima.
"Sebelum lo dateng semua aman-aman aja giliran lo dateng malah bikin rusuh" balas Daniel.
"Udah cukup Aleta makin pusing dengernya" teriak Aleta. Setelah itu dia mengambil tongkatnya berjalan menuju kamar, meninggalkan dua manusia menyebalkan dihadapannya.
"Aku bantu Ta" ucap Daniel menawarkan diri.
"Tidak usah kak aku bisa sendiri" balas Aleta berlalu begitu saja.
Rion tersenyum mengejek pada Daniel "sukurin, mau jadi pahlawan kesorean lu" ucap Rion.
"Daripada lo adiknya sakit bukannya diperhatiin malah dimarahin, udah gitu dibiarin beli makan sendiri pula" balas Daniel menyindir Rion.
"Eh gue gak marah ya cuma kuatir aja" ucap Rion membela diri.
"Iya tapi gak gitu juga brody, kasihan adik lu udah sakit malah lu omelin" balas Daniel menasehati.
"Iya-iya gue salah" kata Rion mengakui kesalahannya.
"Dan asal lo tau, adik lo pergi cari makan sendiri dengan keadaan seperti itu, musuh lo bisa aja nyulik dia" ucap Daniel memperingatkan.
"Hah, yang bener lo? Kenapa dia gak telpon gue?" Tanya Rion.
"Dia udah nelpon lo, buat minta tolong beliin makanan tapi belum juga dia minta udah lolo matiin, mulai amnesia lo?" Sindiri Daniel.
Rion menepuk jidatnya merasa bersalah pada sang adik. "Kenapa dia gak minta tolong penjaga atau OB yang ada disini sih" ucap Rion.
"Lu gak masih gak sadar kebiasaan adik lu kalau laper udah lupa semuanya" balas Daniel gemas.
"Ya mana gue tau Niel" ucap Rion mencoba membela diri.
"Dasar kakak gak peka lo, untung aja dia tadi ketemu gue kalau gak, mungkin dia udah diculik" balas Daniel menakuti Rion. Disela perbincangannya ponsel Daniel berdering.
"..........."
"Kau serius?" Tanya Daniel dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"..........."
"Baiklah aku akan segera kesana" balas Daniel kemudian mematikan ponselnya.
"Ada apa?" Tanya Rion penasaran.
"Ada hal penting, aku harus pergi" balas Daniel. Dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Apa ini ada hubungannya dengan pamanku?" Tanya Rion.
"Tidak, aku pamit dulu" pamit Daniel bergegas meninggalkan apartemen Aleta.
"Hem" hanya itu yang keluar dari mulut Rion.
Daniel kembali pada mode dingin dan datarnya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju kesuatu tempat. Dia tidak peduli dengan berbagai umpatan yang ditujukan padanya karena mengendarai mobil secara ugal-ugalan.
Daniel mengambil ponselnya, dan menghubungi asistennya Richard.
"Siapkan semuanya" ucap Daniel dingin pada Richard melalui sambungan telepon .
"Baik Tuan" balas Richard.
__ADS_1
Kemudian Daniel mematikan ponselnya dan menuju tempat yang dituju.
Daniel sampai disebuah rumah tua yang cukup besar. Dia memarkirkan mobilnya kemudian masuk kedalam. Daniel melangakah kedalam bangunan tersebut terasa lembab, dan dingin mungkin karena sudah lama ditinggalka.
Dari raut wajahnya dia sudah menahan amarah. Sampai disebuah ruangan dia bertanya pada seorang yang menjada disana.
"Apa dia berada didalam?" Tanya Daniel. Penjaga tersebut menjawab hanya dengan anggukan. "Buka pintunya" perintah Daniel kemudian.
Krrriiieeet
penjaga tersebut membuka pintu, hawa lembab mulai terasa. Daniel melangkahkan kakinya kedalam ruangan tersebut. Setelah masuk dia melihat seorang wanita telah terikat kaki dan tangannya pada sebuah kursi.
Richard yang juga berada dalam ruangan tersebut melangkah menuju kearah Daniel.
"Tuan" Richard membungkukkan badan.
"Apa benar itu dia?" Tanya Daniel dingin.
"Menurut hasil serangkaian tes yang kita lakukakn memang benar itu dia Tuan" jawab Richard mantap.
Tanpa bertanya lagi, dia mendekati wanita yang ada dihadapannya. Wanita itu dalam keadaan pingsan.
"Siram" perintah Daniel pada penjaga. Penjaga kemudian menggambil seember air dan menyiram wanita tersebut.
Byurrrr
Wanita yang mendapatkan perlakuan tersebut terbagun dengan gelagapan karena ada yang menyiramnya.
"Sialan kau mau memb*n*h ku hah?" Teriak wanita itu kesal.
"Ya aku akan mengh*b*s* mu" jawab Daniel dingin dengan nada penuh dengan intimidasi dan tekanan.
Mendengar suara yang berasal dari Daniel wanita itu mendongak dan membulatkan matanya.
"Hay Clara" sapa Daniel dengan wajah yang menyeramkan dan smirknya.
"K,,kau siapa?" Tanya Clara ketakutan. Benar, wanita tersebut adalah Clara, wanita yang dicari oleh Daniel. Clara yang sekarang sudah berganti wajah dan nama.
"Kau tidak mengingat ki Clara?" Tanya Daniel dengan senyum smirk nya yang menyeramkan.
"A...aku bukan Clara a..aku Abigail" jawab Clara mencoba mengelak.
"Meskipun kau berganti wajah dan nama dan berpindah tempat aku tetap bisa menemukan mu" balas Daniel dingin.
"S...sudah ku bilang aku bukan Clara" teriak Wanita tersebut masih tidak mau mengakui.
"Richard" panggil Daniel. Richard mengangguk dan mengeluarkan sebuah map yang didalamnya berisi berkas wanita itu. Daniel mengeluarkannya dan menunjukkan pada wanita itu.
Wajah wanita itu pias dan pucat setelah melihat berkas tersebut "apa kau masih ingin mengelak?" Tanya Daniel.
"I..itu bukan aku, a..aku abigail" jawab Clara masih kekeuh dengan pengakuannya.
"Kau Clara wanita yang berani men*pu ku" balas Daniel dengan raut wajah marah.
"A..aku" Clara tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.
__ADS_1