My Mine (Emergency Future)

My Mine (Emergency Future)
Bab 16 : Aleta Pergi


__ADS_3

  Setelah semua kepengurusan dokumen selesai, 2 hari lagi dia akan segera berangkat ke Paris untuk melanjutkan studinya. 


  "Ta lo beneran ni mau kuliah kesana?" Tanya Renata sedih. Hari ini dia izin tidak bekerja karena ingin menghabiskan waktu bersama Aleta sebelum dia berangkat ke kota mode tersebut. 


  "Beneran Renata, kan gue udah mantep nih lo jangan buat gue goyah ya" jawab Aleta. 


  "Ya bukannya gitu Ta, nanti lo disana sama siapa? Siapa yang mau temenan sama lo yang absurd ini kecuali gue?" Ucap Renata khuatir plus setengah mengejek Aleta. 


  "Sialan lo, yang pasti banyak hla orang gue cantik pake banget begini, baik hati, dan tidak sombong" balas Aleta narsis.  


   "Dan rajin menabung jangan lupa itu" tambah Renata sedikit jengah dengan kenarsisan sahabatnya itu. 


   "Nah betul" balas Aleta santai. 


   "Tapi beneran Ta, gue bakal kangey banget sama lo, lo di sini aja kita jarang ketemu apalagi kalau lo sudah kuliah disana" ucap Renata kembali sedih. 


  "Jaman udah canggih Renata, kita bisa telepon,chatan, vidio callan, dan lo juga bisa nyamperin gue kesana kalau lo libur panjang" balas Aleta. 


  "Ya tapi kan...." Belum sempat Renata melanjutkan perkataannya, Aleta sudah menyela terlebih dahulu. 


  "Tunggu jangan bilang kalau lo udah jatih kismin?" Tanya Aleta dengan tanpa dosanya. 


  "Kampret lo, gue masih tajir ya enak aja" jawab Renata kesal. 


  "Lagian lo kalau kangen ya tinggal nyamperin kesana apa susahnya sih heran, soalnya beberapa tahun kedepan gue juga gak bisa balik sini dulu gue pengen fokus belajar dan ngejar cita-cita gue" jelas  Aleta. 


  "Iya-iya bawel, cita-cita lo masih sama? Gak berubah?" Tanya Renata penasaran. 


  "Gak Ta, tetep sama kayak dulu pengen punya butik dan brand sendiri" jawab Aleta. 


  "Oke deh mungkin ini memang jalan ninjamu dan gue akan selalu suport dan ngedukung lo" ucap Renata memeluk Aleta. 


  "Makasih Ta lo emang sahabat gue yang ter debest" balas Aleta. 


   "Emang lo punya sahabat lainnya selain gue?" Tanya Renata dengan nada mengejek. 


   "Hehehe kagak cuma elo satu-satunya" jawab Aleta tanpa dosa.


*********


   Ke esokan harinya Dibandara. 


  Pukul 6 pagi Aleta, Renata dan Rion sudah nangkring dibandara. Karena pesawat Aleta akan berangkat pada pukul 8 pagi. Tidak mau terlambat mereka berangkat lebih awal. 

__ADS_1


  "Ta gue bakalan kangen banget sama lo" ucap Renata memeluk kembali sahabat absurdnya itu. 


   "Gue juga Ta, kalau ada waktu lo samperin gue ya" balas Aleta. 


  "Pasti Ta, pasti" ucap Renata melepas pelukannya. 


  "Ekhem" Rion berdehem, agak keberadaannya disadari dua insan sahabat tersebut. 


  "Eh lupa ada abang Rion yang ganteng" kata Aleta cengengesan. 


   Tanpa berkata Rion merentangkan kedua tangannya, Aleta mengerti maksud dari abangnya tersebut. Dia berjalan menuju sang abang dan memeluknya erat Rion membalas pelukan sang adik. 


   "Leta bakalan kangen banget sama abang, abang jaga diri baik-baik ya, jangan suka keluyuran malam, jangan capek-capek, eh apa lagi ya?" Ucap Aleta berfikir wejangan apalagi yang akan diberikan pada sang abang. 


   "Eh harusnya abang ya yang bilang begitu, kamu jangan nakal disana, belajar yang bener, jangan suka keluyuran dan jangan ganjen, jadi anak yang cerdas yang ngebanggain abang, biar abang gak sia-sia dan gak rugi nguliahin kamu mahal-mahal kesana" balas Rion datar. 


   "Ih abang mulai deh nyebelinnya" rengek Aleta. Renata yang mendengarnya hanya tertawa ngakak atas wejangan Rion pada Aleta. 


  Mereka bercengkrama banyak hal, walaupun hanya Renata dan Aleta yang lebih banyak berbicara sedangkan Rion hanya menjadi pendengar setia. Hingga tak terasa waktunya Aleta untuk naik ke pesawat. 


   "Ta, abang Aleta berangkat dulu ya" Aleta memeluk Renata dan Rion secara bergantian. 


   "Hati-hati Ta" ucap Renata. 


    "Abang udah siapin semuanya disana, nanti ada yang jemput kamu dibandara, dan kuliah, apartemen juga sudah abang siapkan sesuai keiinginan kamu" Kata Rion. 


********


 Paris, Prancis


   Setelah menempuh perjalanan panjang selama 36 jam akhirnya Aleta sampai di bandara internasional Bandar Udara Paris Charles de Gaulle. Aleta turun dari pesawat. 


   "Huh akhirnya sampek juga di Paris" gumam Aleta sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Karena ini pertama kalinya dia menempuh perjalanan jauh. Aleta berjalan keluar bandara. 


   Diluar sudah ada seorang yang menjemputnya dengan membawa tulisan Dilara Grizelle Alleta Putri Dominic From Jakarta, Indonesia. Aleta yang melihat itu langsung menghampiri orang tersebut. 


   "Anda yang ditugaskan untuk menjepuy saya?" Tanya Aleta kepada orang tersebut, untuk meyakinkannya dia tidak salah orang. 


   "Benar nona, apakah Anda nona Dilara Grizelle Alleta Putri Dominic?" Tanya balik orang tersebut. 


   "Ya, benar saya adalah Dilara Grizelle Alleta Putri Dominic" jawab Aleta. 


   "Oh perkenalkan saya Simon, saya yang akan mengantarkan Nona ke apartemen nona, mari nona silahkan" ucap orang tersebut sopan. Aleta mengangguk dan tersenyum kemudian masuk kedalam mobil yang telah dipersiapakan. 

__ADS_1


   Sepanjang perjalanan ke apartemen Aleta kagum dengan kota Paris. Tak terasa Aleta telah sampai di depan apartemennya. 


   "Kita sudah sampai nona, silahkan" ucap sang supir sopan. Aleta melangkah keluar dari mobil dan berjalan menuju apartemennya. 


   "Selamat datang Nona Dilara Grizelle Alleta Putri Dominic, perkenalkan saya Alrdric manager apartemen ini, anda bisa memanggil saya Aldric atau Ric" ucap sang manager sopan. 


   "Salam kenal Tuan, anda bisa memanggil saya Aleta atau Dilara" balas Aleta sopan. 


   "Baik nona Diralara, mari saya antar ke aparetemen nona, Tuan Rion sudah mempersiapkan semua kebutuhan nona selama nona disini" Aleta hanya menganggung dan mengikuti sang manager. 


  Aleta sampai di depan kamar Apartemennya. 


  "Mohon maaf nona untuk keamanan nona, nona harus scan iris mata dan wajah nona terlebih dahulu" ucap sang meneger menuntun Aleta melakukam scan iris mata dan wajah, dan Aleta menurut saja. 


  "Akses diterima" setelah muncul tulisan tersebut pintu apartemen pun terbuka. Dan Aleta terkagum dengan isi ruangan apartemennya yang terkesan minimalis tetapi mewah. 


  "Silahkan masuk nona" ucap sang menager mempersilahkan Aleta masuk. Aleta melangkahkan kakinya memasuki kamar apartemen tersebut. 


   "Kalau begitu saya pamit undur diri dulu nona, silahkan beristirahat, kalau memerlukan sesuatu anda bisa memanggil saya" pamit sang manager.


   "Terima kasih Tuan" balas Aleta. Kemudian Aleta menutup pintu kamar apartemennya. 


   "Woaaaa abang emang ter the best dah" teriak Aleta histeris. Dia sangat kagum dan senang atas kamar apartemen yang disiapkan oleh sang abang. 


  Drrrtt... Drrrtttt...


  Ponsel Aleta bergetar, dia bergegas mengambil ponsel dari dalam tas nya. Ternyata sang abang yang menghubunginya. 


   "Halo dek" sapa Rion dari sebrang sana. 


   "Halo abang, hua terima kasih bang apartemennya Aleta suka" teriak Aleta, sehingga Rion terpaksa menjauhkan ponsel dari telinganya takut bud*g dengan teriakan adik luknutnya itu. 


   "Halo abang?" Ucap Aleta lagi, menyakinkan kalau sang abang tidak hilang. 


   "Iya?" Balas Rion. 


    "Masih ada, aku kira udah ilang" ucap Aleta dengan tengilnya. 


    "Kuping abang mendadak bud*k denger teriakan kamu" balas Rion datar. 


    "Hehe maaf bang, terima kasih banyak ya bang atas semua yang abang siapkan disini untuk Aleta" kata Aleta. 


   "Ya sama-sama, belajar yang bener disana, jangan aneh-aneh, seminggu lagi kamu masuk kuliah, kamu bisa istirahat sebentar, dan selama kuliah kamu udah ada yang antar jemput supir namanya pak Riza" Rion memberikan wejangan. 

__ADS_1


    "Siap abang" balas Aleta.


    "Ya udah abang masih banyak kerjaan" klik sambungan telepon dimatikan Rion tanpa menunggu jawaban Aleta. Sedangkan Aleta menatap sebal pada ponselnya. 


__ADS_2