My Mine (Emergency Future)

My Mine (Emergency Future)
Bab 23 : Cafe


__ADS_3

  Kling, bunyi sebuah pesan masuk. Aleta meraih ponselnya dan melihat siapa yang mengirim pesan kepadanya. Ternyata itu pesan dari sahabatnya Renata. 


   "Ta gue mulai besok udah cuti, gue mau samperin lu ke Paris kangen banget gue 💋" isi pesan Renata diakhiri dengan tanda cium. Aleta yang membacanya senang sekaligus merasa geli. 


   "Wah beneran Ta?" Balas Aleta. 


   "Yups besok gue ikut penerbangan pagi, jemput gue dibandara ya" balas Renata lagi. 


   "Siap bestay, besok kalau sudah di Paris hubungi gue aja pasti gue jemput" balas Aleta. 


   "Okey, gue siap-siap dulu ya biar besok langsung bisa cus" isi pesan Renata. 


    "Okey bay bay sampai ketemu di Paris" send. Pesan terkirim, tetapi tak ada balasan dari Renata. Aleta meletakkan ponsel nya diatas nakas. Dia tidak sabar untuk bertemu Renata karena dia juga sudah sangat merindukan sahabatnya itu. 


     Kling sebuah pesan lain muncul. Aleta mengambil ponselnya dan melihat sang pengirim pesan. 


    "Feliks?" Gumam Aleta, dia segera membuka pesan dari Feliks. 


     "Lara, kenapa tadi tidak hubungi ku? Padahal aku berharap banget loh bisa jalan sama kamu?" Aleta membaca pesan dari Feliks, dia lupa kemarin ada janji dengan teman prianya itu. 


     Aleta segera membalas pesan dari Feliks "maaf sekali Feliks aku lupa, tadi aku pulang bersama Rea" balas Aleta pada Feliks dia merasa tidak enak pada temannya itu.  


    "Oh, kau sudah melupakan ku Lara aku jadi sedih 😭"  balasan pesan dari Feliks diakhiri dengan emotikon menangis. 


   "Aku benar-benar minta maaf Feliks aku tidak bermaksud melupakan mu" balas Aleta tidak enak. 


    "Hey santai saja, aku hanya bercanda Lara tetapi sebagai gantinya bisakah nanti malam kita makan malam bersama?" Isi pesan Feliks penuh harap. 


    "Aku sungguh minta maaf Feliks, bukannya aku menolak tetapi aku tidak bisa, aku baru saja kecelakaan tadi" balas Aleta. 


    "Kau kecelakaan? Bagaimana bisa? Lantas bagaimana keadaan mu sekarang?" Balas pesan Feliks kawatir. 


     "Hanya kecelakaan kecil Feliks, aku tidak mengapa hanya baret kecil disiku dan keseleo saja" balas Aleta. 


    "Oh tidak, aku akan menjengukmu sekarang, boleh kah aku meminta alamat apartemenmu?" Tanya feliks penuh harap.


    Membaca pesan balasan dari Feliks membuat bola mata Aleta membelalak seketika. 'bisa perang dunia kesepuluh ini kalau Feliks kesini dan bertemu dengan bang Rion' batin Aleta. 

__ADS_1


    "Tidak usah Feliks, aku tidak apa-apa besok juga sudah membaik" balas Aleta mencoba menolak secara halus. 


   "Ayolah aku benar-benar kuatir kepadamu Lara" Feliks tetap memaksa. 


    "Sungguh aku tidak apa-apa Feliks" Aleta mulai risih. 


    "Pliss" balas Feliks. Aleta hanya melihat pesan tersebut tanpa berniat membukanya. Aleta beranjak keluar dari kamarnya. Dan mendapati Apartemennya sepi. Kemana abangnya batin Aleta mencari keberadaan Arion. 


    Tetapi tidak menemukannya, Aleta mencarinya dikamar tetapi tak ketemu juga. "Kemana lagi abanh jahanam ku itu?" Gerutu Aleta kesal. Aleta kembali kedalam kamarnya untuk mengambil ponsel dan menghubingi sang abang. Dia mulai merasa lapar dan malas untuk memasak, Aleta ingin Rion membelikan makanan untuknya. 


    Aleta mencari nomor sang abang dan mengubunginya setelah deringan ke tiga Rion mengangkat telponnya. 


    Belum juga Aleta mengatakan sesuatu"Halo ada apa?" Tanya Rion dengan nada datar.


   "Abang ada dimana? Leta cari diapartemen kok gak ada?" Tanya Leta balik. 


   "Abang keluar sebentar ada urusan, kalau tidak ada yang penting abang tutup telponnya" ucap Rion dingin. 


   "Aku..." Belum selesai Aleta menjawab Rion sudah memutus panggilan telponnya. "mau titip makanan" lanjut Leta nanar menatap layar ponselnya yang telah gelap. 


    "Dasar abang gak peka, mau minta tolong malah dimatiin ya udah aku pergi sendiri saja" ucap Aleta melampiaskan kemarahannya pada ponselnya. Menganggap ponsel tersebut adalah pengganti abangnya. 


   Tak butuh waktu lama, Aleta sampai di cafe X. Aleta masuk dan memesan makanan, karena cacing peliharaannya sudah minta jatah makan. Setelah memesan Aleta mencari tempat duduk. 


   "Kamu disini Ale?" Tanya seorang pada Aleta. Aleta mendengar ada yang bertanya padanya pun menoleh. 


   "Eh kak Daniel, ngapain disini Kak? Mau makan?" Tanya Aleta balik bertanya. 


   "Oh kakak mau berenang" jawab Daniel asal. Mendengarnya Aleta tertawa garing. 


   "Kakak bisa aja, duduk kak" Aleta mempersilahkan Daniel duduk. Daniel memperhatikan Aleta, dia melihat sebuah tongkat Elbow disis meta Aleta. 


   "Tongkat itu milikmu Ta?" Tanya Daniel. 


   "Ini?" Balas Aleta dengan menunjuk tongkatnya. 


   "Yap" ucap Daniel.

__ADS_1


    "Iya ini punya Leta kak" balas Leta. 


    "Kamu kenapa pakai tongkat itu? Apakah kaki mu sedang sakit?" Tanya Daniel dengan nada kuatir. 


   "Oh itu, hanya keseleo kak, tadi Aleta terlibat kecelakaan kecil" jawab Aleta nyengir. Daniel yang mendengarnya langsung bangkit dari kursi, dan melihat keadaan kaki Aleta. 


   Melihat kaki Aleta dibalut kain coklat Daniel mulai memeriksanya. Dia menyentuh kaki Aleta, akibat dari sentuhan Daniel Aleta mendisis "stttt" Daniel reflek menjauhkan tangannya dari kaki Aleta. 


    "Apakah aku menyakitimu?" Tanya Daniel dengan nada sangat kuatir. 


   "Tidak kak, hanya saja masih terasa nyeri jika disentuh" jawab Aleta. 


   "Baiklah nanti coba kakak obati, kakak punya obat untuk luka seperti ini" ucap Daniel bangkit dan kembali duduk. Aleta membalas ucapan Daniel dengan tersenyum. Senyum yang sangat manis bagi Daniel. 


    Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan pun tiba, mereka makan dengan hikmat hanya terdengar suara sendok dan piring yang beradu. 


    "Kenapa kau pergi kesini sendiri?" Tanya Daniel setelah mereka menyelesaikan acara makan mereka. 


   "Sebenarnya aku terpaksa, tadi aku menghubungi bang Rion untuk membelikan makanan untukku, belum juga aku mengatakannya bang Rion sudah mengakhiri panggilan secara sepihak, sepertinya dia masih marah pada ku" jelas Aleta. 


    "Kenapa kamu tidak menghubungi kakak? Kakak bisa membelikannya untukmu" ucap Daniel. 


    "Aku tidak kepikiran karena sudah terlalu lapar" balas Aleta nyengir. 


    "Dasar kau tidak pernah berubah, dan juga abangmu itu keterlaluan sekali. Memangnya apa yang kamu lakukan hingga Rion marah padamu?" Tanya Daniel penasaran. 


    "Hanya karena aku pulang tidak menunggunya, dan pulang diantar teman ku naik motor terus kecelakaan" jawab Aleta dengan wajah yang tanpa dosa. 


    "Pantas saja Rion marah padamu salahmu juga tidak mau menunggunya, dia hanya kuatir padamu" ucap Daniel. 


     "Ya salah bang Rion juga, udah aku telpon berkali-kali tidak bisa, hanya nada nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi cobalah bebeapa tahun lagi" ucap Aleta membela diri. "Udah aku tunggu sampai berlumut juga gak dateng-dateng" sambung Aleta kesal. 


    Daniel yang mendengar penjelasan Aleta menjadi bingung. Siapa yaang patut disalahkan, menurutnya Rion yang salah karena melantarkan sang adik. Sehingga terjadi hal yang tidak diinginkan. Tetapi kenapa dia harus marah dasar aneh. 


    "Ayo kakak antar pulang sekalian" ucap Daniel menawarkan diri. 


    "Baiklah" Aleta bangkit dari duduknya. Melihat Aleta cukup kesulitan berjalan mengggunakan tongkat. Merasa kasihan tanpa aba-aba Daniel menggendong Aleta ala brydal style. Itu membuat mereka jadi pusat perhatian. Sedangkan Aleta tak bisa berkata-kata dia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Daniel untuk menyembunyikan rasa malunya. 

__ADS_1


   "Kak bisa turunkan aku saja, aku bisa berjalan sendiri aku malu jadi pusat perhatian" bisik Aleta. 


   "Sudah kamu diam saja" balas Daniel. Dia tidak peduli dengan pandangan orang. 


__ADS_2