My Mine (Emergency Future)

My Mine (Emergency Future)
Bab 15 : Permintaan Aleta


__ADS_3

  Pulang dari bertemu Renata Aleta segera memberitahu sang abang akan rencananya itu.


  "Bang halow apakah abang sudah pulang?" Aleta celingukan dibalik pintu kamar Rion.


   Mencari keberadaan sang abang, sudah pulang dari kantor atau belum.


   "Hmm kayaknya belum pulang deh, besok aja lah aku ngomong nya" Gumam Aleta, dia tidak menjumpai manusia bernama Rion yang notabennya adalah kakak nya itu.


  Aleta berbalik,


"ABANG YA AMPUN" Aleta kaget hingga jatungnya tidak copot, ya kalau copot dia m*t* dong. Karena Rion tiba-tiba muncul di dihadapannya. 


   "Kamu ngapain celingukan depan kamar abang?" Tanya Rion penasaran. 


  Aleta masih menormalkan jantungnya yang masih berdetak kencang, bukan karena jatuh cinta ya tapi karena kaget dengan kedatangan Rion yang tiba-tiba ada dihadapannya. 


   "Aku mau ngomong sesuatu sama abang" ucap Aleta dengan tampang yang serius kali ini bukan yang dibuat-buat. 


   "Tumben kau, mau bicara apa?" Tanya Rion balik, merasa heran dengan tingkah laku adiknya yang lain dari biasanya. 


   "Ayo ikut aku" Aleta menarik tangan Rion menuju keruang keluarga, Rion yang ditarik tangannya oleh adiknya yang absurd itu menunut saja tetapi malam ini agak lain dari biasanya.


  Mereka berdua duduk.


  "Ekhem" Aleta akan memulai, "Bang aku mau kuliah" ucap Aleta to the point.


   "Hah?" Rion kaget mendengar ucapan adiknya kali ini. Seorang Aleta ingin kuliah? Apakah dia tidak salah dengar, berulang kali dia menyuruhnya untuk kuliah tapi Aleta menolak dengan alasan dia mager dan warisan orang tua nya tidak akan habis


Setelah menormalkan ekspresinya Rion mengulang kembali pernyataan Aleta.


   "Kamu ingin kuliah? Abang nggak salah dengar? Kamu masih waras kan? Kamu baik-baik aja kan? Nggak amnesia kan? Kamu nggak lagi kerasukan kan? Kamu masih ingat kan kamu siapa?" Ucap Rion begitu kuatir setelah Aleta mengutarakan keinginan untuk kuliah.


   "Ihh abang Aleta serius ini, Aleta bosan dirumah terus, sendirian agk ada kegiatan, aku mau kuliah permodelan bang. Aku pengen punya butik sendiri" jelas Aleta pada abangnya. 


   Rion yang masih syok atas permintaan sang adik yang tiba-tiba berusaha mencerna penjelasan adiknya, ada apa dengan adiknya sehingga bisa berfikiran maju seperti itu. Apakah dia benar adiknya atau Aleta kerasukan jin tomang?.


   "Besok kita cari paranormal yang bisa sembuhin kamu, kayaknya kamu kerasukan jin" jawab Rion masih tidak percaya dengan adiknya dan beranggapan adiknya kerasukan jin. 


    "Abang ih aku baik -baik aja, gak lagi kesurupan atau amnesia, dulu aja abang maksa untuk aku cari kegiatan daripada jadi kaum rebahan, sekarang giliran aku mau kuliah malah dikira kesurupan" ucap Aleta kesal dengan Reaksi yang diberikan sang abang. 


   "Oke, oke kamu mau kuliah dimana?" Akhirnya Rion mencoba percaya kalau Aleta masih adiknya.


   "Diparis Bang, kalau boleh" jawab Aleta penuh harap. 


   "Yakin mau disana?" Tanya Rion 


  "Yakin banget bang" jawab Aleta mantap. 


   "Oke nanti kabang urus semuanya, abang mau istirahat dulu ya capek banget" Akhirnya mereka berdua beranjak menuju kamar masing-masing.


**************


   Tepat pukul 12 malam Rion beranjak keluar dari kamarnya. Dengan pakaian yang serba hitam

__ADS_1


Malam ini dia ada janji dengan Daniel. Rion bergegas menuju mobilnya, dia tidak sabar bertemu dengan Daniel dan orang yang telah memb*n*h kedua orang tuanya.


   "Bang mau kemana malam-malam begini?" Aleta yang melihat kakak nya malam ini cukup mengerikan ada aura dingin dan mengintimidasi keluar dari abangnya itu.


    "Oh kamu belum tidur?" Rion balik bertanya.


    "Kebangun bang haus, Abang mau kemana?" Aleta mengulang pertanyaan nya.


   "Ada urusan sebentar, kamu cepat tidur" tanpa menunggu jawaban Aleta, Rion berlalu pergi begitu saja menuju garasi. Tak lama kemudian terdengar mobil sport milik sang abang keluar.


   "Kemana abang malam-malam begini,nggak biasanya, kayak ada yang disembunyiin" gumam Aleta "hilih b*d* amat gua ngantuk" ucap Aleta masa bodoh. 


   Meskipun Aleta sudah mengetahui identitas keluarganya tetapi Rion berusaha untuk tidak memberitahu Aleta tentang kasus pemb"*nt*ian orang tuanya. Rion khawatir dengan psikis sang adik yang belum siap menerima semuanya. 


°Ditempat lain°


  Rion sudah berada markas Daniel. Rion mengetahui semua tentang Daniel dan siapa Daniel. Tanpa berlama-lama Rion masuk ke dalam markas tersebut.


  "Akhirnya sampai juga lo" Sambut Daniel setelah Rion berada didalam markas.


   "Tak perlu basa basi mana orangnya, gue udah nggak sabar ingin menyiks*nya" ucap Rion


 dingin. Sisi lain darinya yang tidak diketahui oleh Aleta adiknya karena meskipun Rion bergelar kepala keluarga mafia dia berusaha terlihat baik didepan Aleta. 


   "Sabar bro, dia ini hanya pesuruh bukan dalangnya, dari tadi dia juga gak mau buka mulut, bikin gue kesel aja" ucap Daniel. 


   Mereka berdua sampai di dalam sebuah ruangan, Ketika dibuka bau anyir d*r*h tercium. Nampak seorang lelaki berumur sektiran 35an b*bak belur, tampak l*ka s*y*tan di tangan dan lehernya, d*r*h segar masih nampak keluar dari l*ka tersebut


   "Ck.... Kuat juga itu orang, tubuhnya sudah tak berbentuk begitu, masih saja bernafas. Loe s*d*s juga Niel" ucap Rion. 


   "Sorry bukan gue yang ngelakuin itu tapi suruhan gue, nanti tangan gue yang mulus ini jadi kotor kalau bersentuhan dengan sebutir amoeba didepan ini, lagian kalau gue yang eksekusi bisa m*t* cepat dia" balas Daniel santai. 


   "Anj*r loe, masih aja ngelucu loe disaat seperti ini, jadi dia belum mau ngasih tau siapa yang nyuruh dia ng*b*ntai kedua orang tua gue waktu itu?" Tanya Rion kesal. 


   "Belum sampai kehabisan cara gue buat orang itu ngomong, kalau di d*r malah nanti hilang petunjuk kita satu-satunya" Jawab Daniel prustasi.


   "Tumben loe kehabisan akal? Seorang Daniel wow tidak disangka" balas Rion dengan nada mengejek. 


   "Eh jangan salah gue sudah menyiapkan satu kejutan buat ini amoeba" Senyum Daniel menyeringai.


    "Oke waktu dan tempat gue persilahkan Tuan Danie" badan Exel membukuk mempersilahkan Daniel


    "Parjo bawa dia kemari" ucap Daniel lantang memerintah si Parjo tangan kanan nya yang berbadan gempal dan tinggi semapai.


     "Oke bos" si Parjo segera meninggalkan ruangan menuju kesebuah ruangan satunya.


Beberapa saat kemudian dia kembali dengan menyeret seorang gadis yang masih belia. 


     "Ampuun bang,, ampun jangan sakitin saya, tolong lepaskan saya" gadis itu meraung karena ketakutan. 


    Lelaki yang sedari tadi diam karena diikat tangan dan kakinya itu mendongak, setelah telinganya mendengar jeritan seorang yang amat dikenalnya.


   "Ayo masuk" seret Parjo, gadis tersebut berjalan terseok-seok mengikuti Parjo.

__ADS_1


   "Ampun bang,, sakit bang, tolong lepaskan saya" rintih gadis tersebut berharap belas kasihan Parjo. 


    Setelah itu pria bernama Parjo tersebut mend*rong gadis tersebut kehadapan Daniel dan Rion, kemudian membuka penutup kepalanya.


    Gadis itu mengerjab beberapa saat karena cahaya tiba-tiba masuk kedalam netra matanya


Setelah penglihatnnya normal kembali dia menyapu seluruh ruangan yang terlihat asing baginya, sampai pada satu titik "Ayah?" Pekiknya, melihat seorang pria yang selalu menyanyanginya sepenuh hati,ya dia ayah gadis tersebut, ayahnya diikat dikursi dengan keadaan yang cukup memprihatinkan.


    "Mawar? Apakah itu kau nak?" Lirih pria tersebut mengetahui anak gadisnya ikut terseret kedalam masalahnya.


   "Ayah? benar ini ayah?" Mawar berusaha bangkit dari duduknya, untuk menghampiri ayahnya. Namun belum juga melangkahkan kaki dia sudah dihadang 2 kaki tangan Daniel.


   "Tolong biarkan saya menemui ayah saya" mohon Mawar dengan menundukan kepalanya dia tak kuasa menatap wajah Daniel, ya meskipun Daniel berwajah tampan tetapi untuk saat ini dia mengeluarkan aura iblisnya. 


   "Tidak segampang itu Nona" sahut Daniel tiba-tiba beranjak dari duduknya mendekati Mawar, Mawar yang merasa ketakutan mundur satu langkah.


   "Tuan tolong jangan sakiti anak saya, dia satu-satunya anak saya, saya mohon tuan, dia juga tidak tahu menahu soal masalah ini " laki-laki itu berkata lirih tenggorokan terasa tercekat.


   "Akhirnya kau mau bicara juga baj*ng*n*" senyum Daniel sinis.


   "Cepat katakan siapa yang menyuruh mu memb*nt*i tuan dan nyonya Dominic" Bentak Rion


 sudah mulai emosi


  "Sa...saya" ucap lelaki itu tertahan, dan ragu melanjutkan ucapannya. Ragu untuk memilih sang anak atau kesetiaan pada Tuannya. 


   "Cepat katakan atau anakmu ini akan aku leny*pkan" bentak Daniel, mulai mendekati mawar.


   "To...tolong ja..jangan sa..sakiti mawar Tu..Tan, ba..baiklah sa..saya akan berbicara tetapi to..tolong le..lapaskan aa..nak saya" ucap lelaki itu terbata. Pasalnya sudah tak ada tenaga lagi untuk dia berbicara. 


     "Segera katakan" ucap Rion tidak sabar. 


     "Sa..saya hanya disuruh orang bernama Sidiq Tuan, dia kaki tangan orang yang menyuruh m*mb*n*h orang tua Tuan, tapi saya juga tidak tau siapa dia, dia hanya menyuruh kami hanya lewat Sidiq tuan, dan yang mengeksekusi orang tua tuan juga bukan saya melainkan dua rekan saya, saya hanya bertugas melihat situasi saja" ucap lelaki itu.


    "Kau tak berb*hong padaku?" Ucap Daniel penuh selidik. Dia meneliti ekspresi pada wajah pria itu dan dia tidak menemukan kebohongan disana.


    "Ti..Tidak tuan saya tidak berani berbohong, tapi bolehkah saya meminta satu hal?" Mohon lelaki itu.


    "Oke apa permintaanmu?" Jawab Daniel.


    "Saya mohon lindungi anak saya dan keluarga saya, saya yakin mereka mengincar keluarga saya saat tau saya tertangkap" ucap pria tersebut mencoba memohon pada Daniel. 


    "Baiklah aku akan melindungi mu dan keluarga mu mulai detik ini, tapi ingat jika kau berb*h*ng padaku atau berani bermain dengan ku akan ku pastikan anak turun mu ku b*nt*i habis" ucap Daniel mengancam.


     "Tii..tidak tuan saya ti..tidak berani" jawab lelaki tersebut.


      "Parjo segera evakuasi keluarga pria ini, dan kau santip panggilkan dokter Jeff suruh dia mengobati luka pria ini" perintah Daniel pada kedua kaki tangan nya


"Laksanakan tuan" jawab mereka serempak.


   Akhirnya Daniel juga yang mengobati luka yang dibuat anak buahnya atas perintah nya sendiri, kalau tak demi teman karib tak akan mau dia mengobati luka itu. 


  Cukup meng*n*skan memang keadan pria tersebut, tetapi Daniel cukup puas dengan karya anak buahnya, ya walaupun dia harus menyuruh dokter Jeff mengobatinya. Karena biasanya dia akan langsung tembak m*t* tawanannya setelah membuka mulut. 

__ADS_1


__ADS_2