
Setelah menunggu beberapa lama sang bibik datang.
Tok..
Tok..
Tok...
"Non Leta, itu ada non Renata di luar" ucap bibik dibalik pintu.
"Suruh kekamar aja bik lagi mager kalau harus turun" sahut Leta dari dalam kamarnya.
"Oke non" bibik berlalu meninggalkan kamar Leta menuju ruang tamu dimana tempat Renata menunggu.
"Langsung keatas saja non, non Leta udah nungguin di kamarnya" ucap bibik pada Reneta setelah sampai di ruang tamu.
"Oke bik, aku ke atas dulu, oh ya bik tolong bawain minuman dingin sekalian cemilannya ya" pinta Renata sambil nyengir.
"Siap non, laksanakan" balas bibik memberi hormat, kemudian berlalu menuju daput untuk membuatkan request Renata.
Ya begitulah Renata baginya rumah Aleta adalah rumah ke 2 setelah rumahnya. Mereka bersahabat dari sekolah dasar, hingga mereka beranjak dewasa pun masih saling setia. Hanya Renata yang tahan dengan sikap absurd Aleta, yang kadang sedikit membuat naik darah.
Mereka adalah dua orang yang saling bertolak belakang tapi saling melengkapi. Renata yang agak tomboy namun perfeksionis, selalu memikirkan dengan matang apapun yang akan diperbuatnya dan memperhitungkannya terlebih dahulu. Sedangkan Aleta adalah gadis yang agak ceroboh, tukang mager, feminim dan tidak berfikir panjang serta segala ke absurd.an nya.
Aleta selalu bersyukur mendapatkan teman sekaligus sahabat seperti Renata yang selalu ada untukknya, meskipun dia selalu membuat Renata kesal tapi Renata selalu ada.
"Ta lo belum tidur ka?" Tanya Renata menyembulkan kepala nya dibalik pintu kamar Aleta.
Aleta pun menoleh "belum lah, gue nungguin lo" sahut Leta, kemudian fokus pada layar televisinya.
Renata melangkah masuk, kemudian langsung melompat ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disamping Leta.
"Eh lo kesini udah mandi kan?" Tanya Leta penuh selidik pasalanya tadi dia katanya baru pulang dari kantor.
"Udah lah bigik, gue bukan lo ya yang betah gak mandi berhari-hari" sindir Renata. Ya sangkin magernya kadang Leta hanya cuci muka dan gosok gigi saja kalau hanya dirumah saja.
Yang disindir hanya nyengir kuda tanpa rasa berdosa.
"Eh ngapain lu gangguin gue malem-malem gini? Awas aja kalau gak penting-penting amat gue blender lu" ancam Renata. Pasalnya dia tak mau datang sia-sia malam-malam menemui sahabatnya yang agak-agak ini hanya karena masalah sepeleh.
Leta hanya menggaruk kepala yang tidak gatal, bingung. Pasalnya dia mau curhat masalahnya dengan Rino belum juga curhat sudah diancam aja.
"Ehh em itu, gue mau curhat" jawab Leta akhirnya dengan gugup
"Hadeh pasti masalah si kadal ngesot itu" tanya Renata penuh selidik. Pasalnya dia sudah bosen mendengar sahabatnya itu curhat masalah pacar yang unfaedah itu.
"Hehehe elu udah alih profesi jadi dukun ya Ta tau aja gue mau curhat tentang itu orang" jawab Leta sambil nyengir.
"Ngadi-ngadi lu, kalau gak masalah itu ya masalah apalagi hidup lu kan segabut itu gak ada masalah lain selain si Rino" ucap Renata agak kesal. Pasalnya sudah berkali-kali dia menyuruh Leta untuk tidak terlalu memperdulikannya.
"Ye ya gak gitu juga keles" jawab Leta.
__ADS_1
"Kali apa yang udah dia berbuat sehingga membuat seorang Aleta Dilara Grizelle Alleta Putri Dominic galau setegah mampus" ejek Renata.
"Dia udah berani bentak gue Ta, sedih gue. Padahal gue juga buat salah sama dia, Rino udah berubah Ta" curhat Leta dengan menangis tersedu-sedu yang dibuat-buat biar lebih menjiwai.
"Kan udah gue bilangin dari awal lu aja bandel gak mau dengerin gue, sekarang jadi kayak gini kan?" Omel Renata pada Leta.
"Ya gak gue sayang bin cinta sama dia Ta, gimana donk?" Rengek Leta.
"Makan tuh cinta, lu cinta boleh beg* jangan Aleta heran deh, otak aja lu cerdas tapi gak pernah dipake, udah tinggalin" ucap Renata akhirnya.
Disela pedebatan dua besti itu ada yang mengentuk pintu kamar Leta.
Tok....
Tok....
Tok....
"Siapa?" Teriak Leta dari dalam.
"Kebiasaan lu Ta suara lu bikin telinga gue b*d*k tau gak" omel Renata.
Yang di omelin hanya nyengir.
"Ini bibik non, bawain minuman sama cemilan buat non Leta sama non Renata" jawab bibik.
"Oh masuk bik gak dikunci kok" saut Leta dari kamar.
"Inget PUTUSIN, gue gak mau ya lo ngerengek lagi kayak bocah gini" omel Renata.
"Ya elah jahat banget lu Ta" balas Leta dengan muka yang dibuat-buat sesedih mungkin, agar bestinya itu iba.
"Bener tu non Renata non, lagian cowok gitu di pertahanin malah bikin sakit hati non" ucap bibik ikut nimbrung.
"Kan, bibi aja setuju sama saran gue" balas Renata.
"Idih kalian ini malah mojokin" rengek Leta.
"Bukan mojokin tapi nyelametin lu dari bencana hati yang akan terjadi" jawab Renata cuek.
"Betul itu, masak bibik lihat tiap hari non Leta ngelamun aja" sambar bibik.
"Lah bibik masih disini, kirain udah balik" ucap Leta mencoba mencari topik lain.
"Ehh ini mau balik non,masih banyak kerjaan. Permisi" akhirnya si bibik ngacir balik ke alam nya.
"Inget PUTUSIN, cowok kayak gitu pentesnya di taruh di tempat daur ulang biar lebih bisa menghargai kaum hawa" ucap Renata menggebu-gebu.
"Emang Rino sampah apa?" Tanya Leta.
"Ya dia emang sejenis sampah yang sudah saat nya untuk dibuang" jawab Renata.
__ADS_1
"Termasuk sampah organik atau non organik?" Tanya Leta lagi.
"Kalau dilihat dari bahannya kan ya dari Tanah kan ya, mungkin termasuk organik?" Jawab Renata asal.
"Kok bisa?" Tanya Leta bingung.
"Anggap aja bisa, elah malah bahas sampah" ucap Renata dengan cengengesan.
"Lah lu dulu yang mulai" jawab Leta agak kesal.
"Udah stop deh, pokoknya inget hlo segera mungkin PUTUSIN dia" ancam Renata lagi.
"Iya-iya bawel, tapi harus gue selidikin dulu apa penyebabnya, kalau emang gak bisa di maafin ya udah gue cari lagi aja" jawab Leta asal.
"Mulai deh ganjennya" ucap Renata malas.
"Hehe terima kasih Ta udah hibur gue, dan selalu ada buat gue" ucap tulus Leta dengan memeluk bestinya itu.
"Sama-sama Ta, untuk gue gak harus goyang dumang biar bisa ngehubur lu" jawab Renata asal.
Tanpa di duga Leta bangkit dan mempraktek kan sesi goyang dumang yang dia mau. (Kalian bayangun sendiri aja ya).
Melihat itu Renata tertawa terbahak-bahak melihat aksi absurd bestienya itu, sampai memegangi perutnya.
"Ta udah lu bikin gue malah sakit perut" ucap Renata disela-sela tawanya.
Leta yang mendengar itu bukannya berhenti malah menjadi, sekarang dia malah kayak suster ngesot. Yang lagi kepanasan.
"Ta please udah Ta gue gak kuat" disela tawanya sambil melambaikan tangan.
Tanpa mereka sadari Rion sudah nangkring di depan pintu, sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh adiknya.
"Ngapain kamu dek?" Tanya Rion datar.
"Eh ada bang Rion, kapan pulangnya? Tiba-tiba udah nangkring disitu aja" tanya Leta berdiri dan membersihkan baju nya dari debu sisa konsernya tadi.
"Baru aja, mau lihat kamu sudah tidur apa belum?" Jawab Rion.
"Oh, udah makan bang?" Tanya Leta lagi dengan langkah mendekat.
"Udah tadi diluar, udah sana tidur udah larut, dan itu temenmu suruh nginep aja" ucap Rion datar, dan melangkah pergi meninggalka kamar sang adik.
"Abang mu tetep sama kayak dulu datar dan dingin" ucap Renata setelah Leta menutup pintu dan berjalan ke arahnya.
"Ya begitulah, tidur yuk besok gue anterin lu pulang. Besok lu libur kan secara besok hari minggu" tanya Leta.
"Libur dong, ehh jalan yuk mumpung ada waktu ini" ucap Renata.
"Skuy lah gas" jawab Leta antusias.
Akhirnya mereka berdua tertidur dengan persaan bahagia. Pasalnya sudah lama Renata tidak menginap di rumah Leta karena kesibukan masing-masing. Ya meskipun yang sibuk dalam arti yang sebenarnya Renata karena dia bekerja, sedangkan Leta hanya nangkring dirumah saja menghabiskan waktunya yang unfaedah itu.
__ADS_1