
Hari yang ditunggu Aleta datang. Siang ini dia sedang menunggu Renata dibandara.
"Mana ni anak gak nongol-nongol dari tadi?" Gerutu Aleta. Sudah hampir satu jam dia menunggu. Dihubungi pun ponselnya tidak aktif.
"Aleta" teriak seseorang. Aleta menoleh.
"Renata, darimana saja kau?" Omel Aleta setelah mereka berdiri sejajar.
"Maaf aku dari toilet, sejak turun dari pesawat perut ku sakit dan ponsel ku lowbet" ucap Renata tanpa rasa bersalah.
"Dasar, yuk ke apartemen ku" ajak Aleta. Mereka berjalan beriringan menuju luat bandara dan mencari taxi.
Tin
Tin
Sebuah mobil BMW X5 VR6 berhenti didepan mereka.
"Siapa Ta?" Bisik Renata bertanya.
"Ntah aku juga tidak tahu" jawab Aleta mengedikkan bahunya.
Tak lama kemudian, pintu mobil terbuka dan memperlihatkan siapa pemilik mobil tersebut.
"Kak Daniel?" Pekik Aleta kaget. Ternyata itu adalah Daniel.
"Hay, sudah mau pulang kan?" Tanya Daniel pada Aleta.
"Iya kak, ini mau cari taxi" balas Aleta.
"Sama kakak saja, kakak sengaja kesini memang untuk menjemputmu" jelas Daniel.
"Oke, yuk Ta" ucap Aleta menarik tangan Renata untuk masuk.
Setelah semuanya masuk mobil tersebut bergerak mulai meninggalkan bandara.
"Kakak kok bisa tau aku lagi dibandara?" Tanya Aleta heran, karena dia tidak memberitahu Daniel soal ini.
"Tadi aku apartemen kamu, mau ngajakin makan siang tapi kamu gak ada kata Rion kamu ke bandara jemput temen kamu" jelas Daniel panjang lebar.
"Ohh, oh ya kak kenalin ini Renata sahabat aku" ucap Aleta memperkenalkan Renata pada Daniel. "Dan ini kak Daniel Ta" lanjut Aleta.
"Renata" ucap Renata.
"Daniel" balas Daniel. Tanpa bersalaman mereka berkenalan hanya dengan saling melihat dari kaca spion mobil. Karena Renata beradan dikursi belakang sedangkan Daniel dan Aleta dikursi depan.
Hening sesaat.
"Ta kamu liburan disini berapa lama?" Tanya Aleta memecah keheningan.
"Mungkin dua mingguan Ta" jawab Renata.
__ADS_1
"Yes aku ada temennya buat jalan" ucap Aleta girang.
Daniel merasa mereka sedang diikuti. Dia melirik kaca spion ada beberapa mobil yang terlihat mengikutinya. Dia mencoba memelankan laju mobilnya berfikir mobil dibelakang mungkin hanya orang lewat saja. Ternyata mobil tersebut juga ikut memelankan laju mobilnya. Yakin dia telah diikuti Daniel mulai membuat strategi.
"Aleta, Renata kencangkan sabuk pengaman kalian, dan pegangan yang erat" ucap Daniel memperingatkan dan mulai menambah laju mobilnya.
Mendengar ucapan Daniel, Aleta dan Renata hanya menuruti perintah darinya.
"Kak kira-kira dong jalanin mobilnya Leta gak mau mati konyol ya" protes Aleta melihat Daniel meliuk-liukkan mobil nya dijalanan yang padat. Berbagai macam umpatan mereka dapatkan akibat hampir menyerempet mobil lain.
"Iya nih kak, aku belum nikah ya" lanjut Renata makin mengeratkan pegangannya.
Daniel tak memperdulikan ocehan dua kaum hawa disamping dan dibelakangnya. Dia makin menambah kecepatan mobilnya. Karena mobil yang mengikutinya tidak mau menyerah.
"Kak ih pelan-pelan Leta gak mau mati muda dosa Leta masih banyak, Leta belum nikah juga" teriak Aleta setengah ketakutan.
"Kalian bisa diam tidak?" Bentak Daniel dengan suara yang tegas dan dingin.
Dua makhluk yang ada dimobilnya langsung diam membeku. Karena merasa sudah agak tenang Daniel mulai berkonsentrasi mengendarai mobilnya.
Dorr ...
Dorr ....
Dorr ....
Suara tembakan terdengar, beruntung mobil yang dikendarai Daniel anti peluru. Daniel mulai meliuk-liukkan mobilnya.
Sedangkan Aleta yang trauma masa kecilnya belum menghilang sepenuhnya meringkuk di kursi depan dan menutup telinganya.
"Tidak, tidak jangan lagi" gumam Aleta disela isak tangisnya.
Daniel melirik Aleta, dan melihat keadaan Aleta Daniel murka. 'Sial kalian membuat wanita ku ketakutan' batin Daniel. Tanpa pikir panjang Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan maximal. Dia menggiring mobil-mobil yang mengejarnya untuk kearah hutan.
"Kak mau keman? Pelan-pelan donk" tanya Renata setengah protes.
"Diam, dan pegangan yang kuat" bentak Daniel. Dan Renata diam seketika dan mengeratkan pegangannya.
Tak lama kemudian mereka telah sampai dihutan, dan Aleta masih dengan posisinya dan meracu tak jelas. Dirasa cukup aman Daniel membelokkan mobilnya berhadapan dengan mobil-mobil yang mengejarnya.
Daniel memelankan laju kendaraannya kemudian menghentikannya.
"Kak, apa kakak sudah gi...." Umpat Renata.
"Jangan banyak bicara, kamu tunggu disini jangan keluar apapun yang terjadi, jaga Aleta dan beri aku waktu 10 menit untuk membereskan semua ini" perintah Daniel.
Tanpa menunggu jawaban dari Renata, Dia keluar dan berjalan santai dan duduk di cap mobilnya. Orang yang berada dalam mobil yang mengejarnya pun ikut keluar, mereka berbadan kekar dan berjumlah 10 orang.
Renata yang melihatnya dari dalam mobil bergidik ngeri, dan rasa khawatir mulai mendera dirinya. Apakah Daniel akan selamat menghadapi mereka semua sendirian.
"Siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Daniel dengan santai.
__ADS_1
"Kau tidak perlu tahu siapa yang menyuruh kami, yang jelas hari ini adalah hari terakhir mu untuk bernafas hahaha" jawab si paling besar dan berkepala botak. Mungkin dia adalah pimpinan kelompok tersebut.
"Jangan bermimpi bahkan untuk menyentuhku saja kau tidak akan bisa" sombong Daniel dengan smirknya.
"Bedebah ini, maju kalian" perintah si botak.
Total ada lima orang yang maju menyerang Daniel. Mereka sangat percaya diri bisa mengalahkan Daniel. Sedangkan Daniel masih santai dengan posisinya. Tepat pada jarak lima meter Daniel mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya.
Ya, dia mangambil sebuah senjata laras pedek yang selalu ada bersamanya. Dengan gaya yang elegan dan santai dia mengarahkan senjata tersebut pada para pengganggunya.
Doorrr ......
Dorrrr........
Dorrrr......
Arrgggg
Tembakan dan suara teriakan menggema secara bersamaan. Daniel menembak tepat kearah vital lawannya. Dan membuat mereka tumbang seketika alias langsung tewas. Tak memberi waktu lawannya Daniel menembak semua musuhnya menyisahkan sibotak yang sudah gemetaran.
Daniel mendelati sibotak. Dia mengikis jarak.
"Kau lihat, bahkan kau tidak bisa menyentuh ujung rambutku bagaimana caramu menghabisiku?" Tanya Daniel dengan aura yang menekan. Sedangkan si botak sudah gemetar tak karuan.
Badan dan omongannya saja yang besar ternyata nyalinya tak sebesar badan dan omongannya.
Karena tak kunjung menjawab Daniel mengulang pertanyaannya kembali "siapa yang menyuruhmu?" Ulang Daniel.
"A.. aaa" gedebuk. Si botak pingsan sebelum menjawab pertanyaan Daniel. Sedangkan Daniel mendengus kesal. "Apa aku semenyeramkan itu?" Gumam Daniel. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Richard.
"Bereskan kekacauan ini, akan ku kirim lokasinya. Dan satu lagi ada yang pingsan bawa kemarkas biarkan dia tetap hidup" klik. Telepon dimatikan sepihak oleh Daniel tanpa menunggu jawaban Dari Richard.
Sedangkan disebrang sana Richard menatap nanar layar ponselnya. 'Dasar bod lucnut' batin Richard. Kemudian bergegas menyelesaikan tugasnya karena Tuannya sudah mengirim lokasinya.
Balik lagi kesisi Daniel.
"Tujuh menit, lumayan" ucap Daniel melihat jam mewah yang melingkar ditangannya.
Daniel berjalan kearah mobilnya setelahnya masuk dan duduk dikursi kemudi. Dia melihat kaca dan melihat Renata melongo.
"Kalau kau terus membuka mulutmu maka lalat akan masuk dan bisa membuatmu m*ti" ucap Daniel. Dan perkataan Daniel sukses membuat Renata sadar dan menutup mulutnya.
"Wah kau keren sekali kak" puji Renata tanpa rasa takut. Sedangkan Daniel memutar bola matanya malas. Dia mengarahkan pandangannya pada Aleta.
"Ale?" Panggil Daniel lembut. Tidak ada jawaban dari Aleta. Dia mendekat untuk memastikan keadaan Aleta. Setelah cukup dekat Daniel dapat mendengar dengkutan halus keluar. Ya Aleta tertidur. Daniel tersenyum, dan membenarkan posisi Aleta senyaman mungkin.
"Aleta sumpah ya ni anak bisa-bisanya dia tidur" ucap Renata heran dengan kelakuan sahabat karibnya itu. Tentu dia tau trauma yang dialami Aleta.
"Kau diam, telingaku terasa sakit mendengar suara fals mu itu" ucap Daniel. Kemudian melajukan mobilnya keluar hutan. Menuju apartemen Aleta. Bisa mencak-mencak Rion kalau adiknya tidak pulang-pulang.
Sedangkan Renata yang duduk dibangku belakang hanya bisa ngedumel dengan hati dongkol dan memajukkan bibirnya mendengar ucapan Daniel.
__ADS_1