
Pukul 6 pagi waktu setempat Aleta telah terbangun dari hibernasinya. Dia menggeliat merenggangkan otot-ototnya.
"Hem sudah jam 6 rupanya, cepet banget perasaan" gumam Aleta melihat jam. Dia merasa waktu berjalan begitu cepat karena rasanya baru saja dia tertidur sekarang sudah pagi saja.
Aleta berjalan gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berasiap menuju kampusnya karena hari ini ada kuliah pagi.
Beberapa menit kemudian Aleta telah selesai mandi dan bersiap, dia menyambar tas ranselnya dan berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan.
"Pagi adik tuyul ku" ucap Rion menyambut kedatangan Aleta.
"Pagi juga abang dakjal ku" balas Aleta memutar bola matanya malas. Pasalnya dia masih ngambek dengan sang abang.
"Mau berangkat sekarang?" Tanya Rion berbasa basi.
"Gak tahun depan" jawan Leta datar.
"Masih ngambek sama abang?" Tanya Rion.
"Tauk, pikir aja sendiri" jawab Leta beranjak dari tempat duduknya, dan pergi meninggalkan Rion. Dia tidak mod lagi untuk sarapan.
Rion yang melihat itu, bergegas bejalan menyusul sang adik. "Mulai hari ini dan sampai batas waktu yang belum ditentukan, abang yang akan antar jemput kamu ke kampus" ucap Rion, hal itu membuat mod Leta bertambah kacau. Dan membuat Aleta seketika menghentikan langkahnya.
"Lah gak bisa gitu donk" protes Leta.
"Ya jelas bisa dong" balas Rion cuek.
"Lah terus pak Riza gimana?" Tanya Leta mencari alasan agar tidak diantar jemput abangnya, bisa jadi satpam dadakan abangnya nanti.
"Ya abang kasih libur, biar pernah liburan, abang juga kasih tiket liburan ke Jepang loh berserta keluarga nya juga. Baik kan abang?" Ucap Rion menyombongkan diri.
"Bodo ah Leta mau berangkat sendiri aja" kata Leta tak mau diantar abangnya. Dia mulai mempercepat langkahnya.
"Abang tidak menerima penolakan ya" ucap Rion, mengejar Aleta.
"Idih kok maksa si?" Tanya Leta dengan nada sebal.
"Biarin aja demi keselamatan dan kelancaran kamu" balas Rion sengit.
"Leta gak mau abang" rengek Leta akhirnya.
"Kan sudah abang bilang abang tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun" ucap Rion mantap.
"Ih abang nyebelin banget" balas Aleta memanyunkan bibirnya dengan mengehentakkan kakinya berjalan kembali menuju mobil.
"Silahkan masuk Tuan Putri" ucap Rion membukakan pintu untuk sang adik.
Tanpa mengucapkan terima kasih, Aleta masuk kedalam mobil. Dalam perjalanan menuju kampus tak ada yang bersuara sama sekali, Aleta sibuk dengan segala kedongkolan dihatinya, sedangkan Rion entah apa yang sibuk dia pikirkan.
Sekitar 10 menit mereka tiba di depan universitas Aleta. Dan dengan sigap Rion kembali membukakan pintun untuk sang adik. Hal itu membuat mereka menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Aleta dapat mendengar mereka berbisik-bisik, ada nitijen yang kagum, ada juga nitijen yang julid. Sementara Aleta yang menjadi bahan bisik-bisik mereka tidak peduli sama sekali, karena dia masih jengkel dengan sang abang. Tanpa sepatah kata pun Aleta pergi meninggalkan Rion begitu saja.
Rion yang mendapat perlakuan menyebalkan dari sang adik hanya mengedikan bahu, kemudian memasuki mobil sportnya menuju ke apartemen Daniel. Ada hal yang perlu dia sampaikan kepada sahabatnya itu.
*******
"Dilara" Teriak Rea, berlari menghampiri Aleta.
"Oh hai Rea, ada apa teriak-teriak?" Tanya Aleta. Setelah posisi mereka sejajar.
"Pagi ini kau tidak diantar supir pribadimu?" Tanya Rea balik.
"Tidak" jawab Aleta singkat.
"Kau menjadi tranding topik di koran dan kampus" ucap Rea antusias.
"Hah?, Kenapa bisa begitu?" Tanya Aleta heran.
"Kau tidak tau?" Tanya Rea, dan Aleta hanya menggeleng.
"Sungguh tidak tau?" Tanya Rea lagi mencoba memastikan, dan lagi Aleta menggelengkan kepalanya karena dia benar-benar tidak tau.
"Sebentar aku tanya, tadi kalau bukan supir lalu siapa? Kekasihmu?" Tanya Rea lagi dan lagi.
"Bukan, dia kakak ku" jawab Aleta agak malas.
"Benarkah?" Tanya Rea tak percaya.
"Dia sangat tampan, sama sepertimu yang sangat cantik" ucap Rea tulus.
"Kau bisa saja" balas Aleta malu-malu padahal hati nya sudah melayang-layang.
"Sungguh, apakah kakakmu sudah mempunyai kekasih?" Tanya Rea to the point kerana rasa penasaran.
"Tidak, siapa yang mau dengannya? Dia adalah pria paling menyebalkan, paling tidak peka dan paling dingin sedingin kutub utara dan selatan saat digabungkan" jawab Aleta menjabarkan sifat sang abang.
"Wah, itu kreteria pria idaman ku" ucap Rea dengan mata berbinar.
"Kau tak salah? Kakak ku adalah pria terminus didunia" ucap Aleta mencoba menyadarkan sang teman dari sihir sang abang.
"Tidak, bolehkah aku mencoba mendekatinya?" Tanya Rea meminta restu pada Aleta.
"Kau sedang meminta restu dariku heh?" Tanya Aleta terkekeh.
"Ya kurang lebih begitu" jawab Rea menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Boleh ya? Plissss" ucap Rea lagi dengan nada memohon.
"Silahkan saja, tapi jangan mengeluh kan sikapnya kepadamu nanti" balas Aleta memperingatkan.
"Oke" ucap Rea dengan wajah yang berseri-seri.
__ADS_1
"Katamu tadi aku menjadi topik utama, mamangnya apa yang aku perbuat?" Tanya Aleta kembali penasaran.
"Oh itu, karena dalam waktu 2 hari kau sudah berkencan dengan 2 pria tampan yang berbeda" jawab Rea.
"2 hari? Berkencan? Dengan 2 pria tampan? Maksudnya bagaimana?" Aleta kian bingung dengan jawaban Rea.
"Jadi kan kemarin kau dijemput dengan seorang pria tampan, dan sekarang kau diantar juga dengan seorang pria tampan yang berbeda" ucap Rea menjelaskan.
"Oh seperti itu" balas Aleta akhirnya mengerti.
"Yang tadi mengantarmu kan kakakmu, lantas yang kemarin menjemputmu siapa? Apakah dia benar kekasih mu?" Tanya Rea penasaran.
"Dia bukan kekasih ku, aku masih trauma menjalin sebuah hubungan karena pernah di hianati" balas Aleta setengah curhat.
"Lantas dia siapamu?" Tanya Rea semakin penasaran.
"Dia adalah sahabat dari kakakku, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri" ucap Aleta menjelaskan.
"Oh aku kira kakasih mu, tetapi kalian terlihat sangat serasi kau wanita yang sangat cantik dan dia adalah pria yang tampan sungguh pasangan yang sempurna" puji Rea.
"Kau bisa saja Rea, terima kasih atas pujiaannya" balas Aleta malu-malu.
"Oh ya kalau boleh tau siapa namanya?" Tanya Rea lagi.
"Siapa? Kakak ku atau sahabat kakaku?" Tanya Aleta balik.
"Em dua duanya deh" jawan Rea nyengir.
"Kakak ku namanya Exell Orion Raefal Putra Dominic kau bisa memanggilnya Rion, Arion atau Exell terserah kau, kalau sahabat kakaku biasanya aku memanggilnya Kak Daniel nama lengkapnya aku lupa hehe" jelas Aleta.
Mendengar nama Rion, Rea seakan teringat sesuatu. Entah itu sesuatu apa, yang jelas dia sangat familiar dengan nama Rion. Tetapi dia pernah dengar dimana. Dia mencoba mengingat tetapi tidak menemukan apapun.
"Hei kenapa kau melamun?" Tanya Aleta mengibaskan tangannya didepan wajah Rea.
"Eh tidak, aku hanya tidak asing dengan nama kakakmu" jawab Rea jujur.
"Oh mungkin nama kakakku terlalu pasaran mangkannya kau merasa tidak asing" ucap Aleta dengan asal.
"Ya mungkin kau benar, tetapi masa iya nama kakakmu panasaran?" Tanya Rea.
"Mungkin saja, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini bukan?" Balas Aleta.
"Ya kau benar juga, dan sekarang sebaiknya kita segera masuk kelas, karena pelajaran akan segera dimulai" ajak Rea
"Kau benar" tak berapa lama dosen yang mengajar memasuki ruangan, dan pelajaran pun dimulai.
Semantara Rea tidak fokus mengikuti pelajaran. Dia masih penasaran dengan Rion, nama yang sangat familiar ditelinganya. Tetapi siapa? Akhirnya sepanjang pelajaran dia hanya melamun saja tanpa berminat menyimak materi yang diberikan oleh aang dosen didepan.
__ADS_1