My Sweet Bodyguard

My Sweet Bodyguard
Suspicious


__ADS_3


Shelyn duduk tak bergerak memandang Davin yang masih belum siuman dari pingsannya. Ia merasa sangat khawatir dan ketakutan. Dokter yang memeriksanya mengatakan Davin terkena luka tembak dan luka tersebut kembali terbuka karena ia banyak bergerak. Untungnya luka tersebut tidak infeksi, hanya mengalami peradangan saja. Jadi dokter memberikan cairan infus, antibiotik dan obat pereda nyeri. Luka Davin dijahit kembali. Cowok itu cukup banyak mengeluarkan darah sehingga kondisinya melemah.


Shelyn termangu. Hatinya bertanya-tanya kenapa Davin bisa terkena luka tembak. Siapa yang menembaknya?


Pukul lima pagi dan ia harus kembali karena ada mata kuliah penting yang harus dihadiri. Semalam ia hanya bisa tidur sebentar karena pikirannya kalut. Baru kali ini Shelyn melihat seseorang pingsan dihadapannya dengan mengeluarkan banyak darah.


Shelyn bangkit dari kursinya pelan-pelan agar tak membangunkan Davin yang masih terlelap. Saat ia berbalik, tiba-tiba sebuah tangan lemah memegangi pergelangan tangannya. Shelyn tersentak, lalu menoleh dan mendapati Davin sudah siuman. Wajahnya pucat sekali. Davin memandang Shelyn dengan sayu.


"Shel ...," panggilnya lirih, tanpa embel-embel nona.


Shelyn menahan napas memandangnya. Davin mengangkat tubuh pelan-pelan dan menyandar ke atas kepala brankar.


"Makasih, ya ...."


"Iya, Vin. Gimana perasaan kamu?" Shelyn duduk kembali di kursinya.


"Sudah lebih baik." Davin tersenyum tipis.


"Vin, kata dokter kamu terkena luka tembak. Apa yang terjadi sama kamu? Kenapa kamu bisa kena tembak?" Shelyn langsung memberondong pertanyaan yang sudah menderanya sepanjang malam. "Siapa yang menembak kamu?"


Davin menelan ludah mendengar pertanyaan itu. Ia tak mungkin menjawab hal yang sejujurnya pada Shelyn.


"Vin ...." Shelyn masih menatapnya lekat.


Davin cuma menggeleng. "Ceritanya panjang. Nanti saya ceritakan kalau sudah saatnya.”


"Oh, ya udah, deh." Shelyn mengalah.


Seorang suster berpakaian putih masuk ke dalam ruangan untuk mengecek cairan infus dan luka pada perut Davin.


Shelyn mengamati suster itu. Namun, pikirannya masih dipenuhi tanda tanya. Ia terus termenung. Suster itu memberikan obat pada Davin di atas meja begitu selesai memeriksa.


"Diminum, ya setelah sarapan. Tolong jangan banyak bergerak dulu karena jahitan masih belum kering,” katanya sambil tersenyum manis pada Davin sebelum berlalu.


Shelyn melirik Sang Suster dengan sinis. Merasa sebal karena suster itu seperti sedang menarik perhatian Davin.


"Shel ... uhm ... maaf, maksud saya, Nona. Apa nona semalaman di sini menunggui saya?"


Shelyn berpaling menatap Davin. "Iya ... aku khawatir takut kenapa-napa sama kamu."


"Maaf, saya sudah merepotkan Nona ...."


"Nggak apa-apa, kok. Aku cuma berharap kamu cepet sembuh. Seharusnya semalam kamu kasih tahu kalo kamu lagi terluka. Apalagi itu luka tembak."


"Nona, bisa 'kan rahasiakan masalah luka saya ini dari siapapun? Bahkan, dari Papa dan teman-teman, Nona?"


Shelyn memandang Davin dengan bertanya-tanya, menatap lurus pada manik mata cowok itu seolah mencari jawaban atas rasa penasaran yang terus menderanya.


"Hmm ... baiklah aku bakal rahasiain masalah ini dari siapapun."


"Terima kasih, Nona," ucap Davin tulus. Senyum merekah di wajahnya yang masih terlihat pucat. Sorot matanya berbinar.


Shelyn menunduk, tak kuat menatap Davin lebih lama. Ia pun bangkit berdiri dengan canggung. "Ya udah, aku mau pulang dulu. Mau ke kampus, Vin."


"Saya akan bersiap mengantar Nona kalo begitu. Tunggu sebentar."


"Jangan! Biar aku bisa pergi sendiri ke kampus hari ini. Kamu di sini aja istirahat yang banyak. Aku gak mau kamu kenapa-napa lagi gara-gara aku."


Shelyn cepat-cepat menolak saat Davin hendak bangun dari tempat tidurnya.


"Tapi, Nona—"


"Udah, aku nggak pa-pa kok. Nanti siang aku kembali ke sini lagi. Bye, Vin!" Shelyn buru-buru berjalan ke pintu setelah melambaikan tangan sebentar.


***


Shelyn mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja sambil menopang dagu. Otaknya masih kepikiran soal luka tembak itu. Apa Davin berkelahi dengan seseorang? Polisi? Penjahat? Ataukah ia hendak dibunuh?


Pikiran-pikiran aneh terus membayanginya sampai ia tak menyadari Poppy dan Rara sudah duduk dihadapan Shelyn sambil melambaikan tangan di depan wajahnya.


"Woi! Mikirin apaan sih, Shel? Sampe serius gitu?" Poppy menyenggol bahu Shelyn yang membuatnya terlonjak kaget.


"Eh, apaan sih? Bikin jantungan aja!"


"Lo bengong mulu sampe nggak nyadar gue sama Rara udah dari tadi duduk di sini," tukas Poppy.


"Ooh ...," gumam Shelyn sambil membetulkan posisi duduknya. "Sori ... gue lagi mikirin sesuatu."


"Soal apa?" tanya Rara, lalu bangkit untuk memesan makanan, "Gue laper belom sarapan. Kalian mau makan apa?"


"Gue bubur ayam aja satu. Kalo lo, Shel?" Poppy balik menatap Shelyn.

__ADS_1


"Gue nggak laper. Pesen lemon tea anget aja satu," sahut Shelyn.


Rara segera pergi memesan makanan karena mereka sedang berada di kantin kampus. Tak berapa lama, ia kembali ke tempat duduknya.


"Lo lagi mikirin apaan sih, Shel?" Poppy kembali bertanya.


Shelyn hendak mengatakan sesuatu mengenai luka tembak Davin, tapi dengan segera mengurungkannya karena ingat ucapan Davin bahwa ia harus merahasiakan soal itu.


"Bukan apa-apa."


"Ih, apaan sih lo kok jadi sok misterius gini." Rara menyipitkan mata.


"Iya, emang bukan apa-apa kok."


"Gue tahu pasti lo lagi mikir kejadian waktu di birthday party-nya Elisa, 'kan? Sih Mikho brengsek itu! Untung aja ada Davin yang nolongin lo." Poppy memukul meja dengan geram.


Shelyn bergidik bila ingat kejadian itu. Terbayang bagaimana Mikho menggerayangi tubuh dan berusaha menciumnya dengan paksa.


"Semua orang muji bodyguard lo tahu, Shel. Bahkan ada yang nanya darimana lo dapet bodyguard sekeren itu." Rara menambahkan.


Shelyn tertawa. "Masa sih? Ya, Davin emang keren. Kalo nggak ada dia tahu gimana nasib gue malem itu."


"Oh ya, sekarang dia ada di mana?”


"Eh? Dia lagi libur. Jadi hari ini dia cuti."


"Libur? Nggak yakin gue. Jangan-jangan dia berhenti, ya karena nggak tahan sama sikap lo yang manja," ledek Poppy yang membuat Shelyn menyeringai.


Tiba-tiba Rara mencondongkan tubuhnya mendekat. Shelyn dan Poppy mengikutinya. Gadis berwajah bulat itu berbisik pelan, "Kalian tahu nggak katanya Mikho diculik waktu habis pulang dari pesta kemaren dan ditemukan dalam keadaan babak belur parah di apartemennya."


"What?" Poppy dan Shelyn spontan mendelik kaget.


"Serius lo?" Shelyn menutup mulutnya.


"Iya ... gue denger dari sodara gue yang tinggal di sebelah apartemen Mikho. Dia 'kan denger berita di TV katanya lo kena pelecehan seksual sama dia. Pokoknya berita heboh banget waktu kemaren dan anehnya sekarang nggak ada lagi media yang membicarakan soal itu."


Shelyn tercenung, merasa pasti Papanya yang melakukan semua itu. Haikal memang tidak akan tinggal diam jika ada sesuatu yang mengganggu putrinya.


"Terus keadaan Mikho gimana sekarang? Apa dia masih hidup?" tanya Shelyn penasaran.


"Ya masih sih, tapi cukup parah lukanya. Dia dibawa ke rumah sakit sama keluarganya. Keluarganya nggak ada yang mau lapor polisi soal kejadian itu. Tapi gue bersyukur. Itu pembalasan bagus buat cowok setan kayak dia."


"Iya, mampus! Kenapa nggak sekalian aja dia modar!" timpal Poppy kejam.


Shelyn bangkit berdiri tiba-tiba dan membuat kedua sahabatnya keheranan.


"Gue cabut, ya! Hari ini gue bolos kuliah dulu."


Tepat saat itu makanan yang mereka pesan datang. Namun, Shelyn keburu kabur.


"Shel, ini lemon tea punya lo. Lo mau ke mana sih?" teriak Poppy.


"Minum aja buat lo! Gue mau pergi dulu ada urusan. Bye!" Shelyn melambaikan tangan. Setengah berlari menuju Benzy yang terparkir di pelataran parkir.


***


"Wah! Kamar lo enak banget, Vin! Si Tuan Puteri itu baik banget sampe rela nyewa kamar VVIP buat lo!" seru Dimas tak henti-hentinya berdecak kagum mengamati seisi ruangan kamar rumah sakit yang ditempati Davin saat ini.


Ia dan Dara sedang menjenguknya kemari. Cowok itu membuka lemari es dan mengambil sekaleng minuman ion, lalu duduk di sofa sambil memantul-mantulkan tubuhnya.


Dara menatap Dimas dengan jengah, lantas mendudukkan diri di kursi dekat brankar."Gimana keadaan lo, Vin?" tanyanya pada Davin.


"Sekarang udah lebih baik, kok," jawab Davin sambil tersenyum memandang kelakuan Dimas yang kekanak-kanakan.


"Kalo kamar segini enaknya, gue rela tidur di sini nggak pulang-pulang," kata Dimas sekenanya. Ia berjalan mengitari sebuah lemari kayu yang berada di sudut ruangan, lalu membuka tutup lemari tersebut, "Ada lemarinya juga! Vin, kalo lo nikah sama Tuan Puteri itu, hidup lo bakal terjamin tujuh turunan. Jadi konglomerat betulan lo!"


"Eh, Dim. Lo kalo ngomong jangan suka ngaco deh!" Dara menyela jengkel.


Davin hanya tersenyum lucu di atas tempat tidurnya, lalu mengalihkan pembicaraan, "Oh ya, gimana sama kabar Haikal? Apa ada bukti baru? Katanya Agen Frodo kemarin berhasil masang alat penyadap ke mereka?"


Agen Frodo adalah nama julukan untuk rekan mereka yang bernama Rian.


"Gagal, Vin! Haikal sama sekretarisnya tahu kayaknya mereka disadap. Alat itu nggak berfungsi pas mereka turun dari pesawat," jelas Dara. Ia menyerahkan sekeranjang buah pada Davin. "Oh ya, ini untuk lo, Vin!"


"Thanks!" Davin menerimanya. "Jadi apa rencana kita selanjutnya?"


"Belum tahu. Pak Mathias belum kasih instruksi lagi. Masih nunggu keputusan Pak Lukas sama Pak Ilman."


Pak Lukas dan Pak Ilman adalah pejabat tinggi dalam Lembaga Intelijen Pancasila. Pak Lukas menjabat sebagai Direktur Pelaksana sementara Pak Ilman menjabat sebagai Kepala Koordinasi. Dan Pak Mathias sendiri adalah Kepala Bidang Strategi.


"Kayaknya sulit buat kita untuk menjebak si Haikal gitu aja. Lo tahu 'kan dia punya banyak koneksi dari pejabat-pejabat lain di negara kita. Kecuali kita gunakan taktik kotor, kita gunakan putrinya." Dimas ikut berkomentar. Cowok itu sudah duduk kembali di sofa dan menyalakan televisi dengan santai.


Wajah Davin seketika menegang. Mata tajamnya membulat mendengar ucapan Dimas barusan. "Gue harap mereka nggak bertindak gegabah. Gue nggak mau Shelyn terlibat. Kasihan dia nggak tahu apa-apa."

__ADS_1


"Kenapa? Lo khawatir, ya sama si tuan putri?" Dimas langsung meledeknya sambil terkekeh.


Dara menatap Davin yang raut wajahnya berubah merah padam. Ia yakin ucapan Dimas tadi memang kenyataan.


"Gue cuma berpikir pasti ada jalan lain. Kenapa harus gunakan putrinya?" elak Davin cepat.


"Yakin lo bukannya khawatir?" Dimas terus menggodanya.


Dara dengan kesal melempar sebutir jeruk sunkist yang tepat mengenai kepala Dimas. Dimas bangkit berdiri. Saat ia ingin membalas lemparan jeruk itu, terdengar suara langkah kaki di luar. Cowok itu berjalan ke pintu dan mengintip dari balik kaca yang terpasang di pintu. Tampak siluet Shelyn yang sedang berjalan anggun menuju ke ruangan ini.


"Ada Si Tuan Putri kemari. Kita harus gimana?" Dimas buru-buru memberitahu.


Dara dan Davin seketika saling pandang. Dimas menarik tangan Dara untuk mencari tempat sembunyi.


"Kenapa kita harus sembunyi? Dia 'kan nggak kenal kita?" tanya Dara bingung.


"Pokoknya kita sembunyi aja. Jangan sampai dia tahu kalo kita teman Davin." Dimas memandang berkeliling. Tatapannya membentur lemari kayu kosong tempat meletakan baju yang berada di sudut. Dengan tergesa-gesa, ia menuju lemari tersebut sambil menarik Dara.


"Gue nggak mau sembunyi di situ!" tolak Dara enggan, karena sudah bisa dibayangkan ia akan merasa pengap di dalamnya, walau lemari tersebut mempunyai celah-celah kecil pada pintunya untuk keluar masuk udara.


"Udah cepetan masuk!" Dimas memaksanya masuk dan duduk di dalam.


Suara langkah kaki Shelyn di depan pintu terdengar. Dara akhirnya menurut dan masuk ke dalam. Pintu ruangan terbuka tepat saat Dimas dan Dara sudah berada di lemari dengan aman.


Davin duduk bengong menatap kedua temannya yang nekat bersembunyi di dalam lemari sempit itu.


"Hai, Vin!" sapa Shelyn seraya berjalan menghampirinya dan merasa heran melihat Davin sedang melongo menatap sesuatu. Ia pun mengikuti arah tatapan Davin. "Lagi liat apa, sih? Lemari?"


"Eh?" Davin berpaling memandang Shelyn dan tersenyum kikuk. "Nona sudah pulang kuliah?"


Shelyn duduk di kursi sambil memasang cengiran kudanya. "Aku bolos, Vin."


"Kenapa? Apa ada yang ganggu, Nona?"


"Nggak kok. Cuma lagi pengen jenguk kamu aja," kata Shelyn. Ia menyerahkan sekeranjang buah-buahan pada Davin. "Buat kamu."


Davin menerimanya dan meletakan keranjang buah tersebut ke atas meja yang disebelahnya juga terdapat keranjang buah pemberian Dara dan Dimas tadi.


"Itu dari siapa? Apa tadi ada yang datang jenguk kamu?" tanya Shelyn heran.


Baru saja Davin hendak menjawab, tiba-tiba terdengar bunyi BUKKK yang berasal dari dalam lemari. Seketika ia dan Shelyn menoleh ke sumber suara.


"Suara apaan tuh?" Shelyn mengerutkan keningnya.


Davin melirik Shelyn sambil menggaruk kepala bingung. "Suara tikus kali ...."


Shelyn memandang Davin tak percaya. Mana ada tikus di kamar kelas VVIP seperti ini. "Gak mungkin tikus."


Terdengar lagi suara BUKKK yang kedua dan masih di tempat yang sama. Davin mengumpat dalam hati. Entah apa yang dilakukan Dimas dan Dara di dalam sana sampai menimbulkan bunyi gaduh yang membuat Shelyn curiga.


"Tuh 'kan. Kamu denger nggak?"


"Udah lah biarin aja," sela Davin berusaha mengalihkan perhatian gadis itu, "Eng ... coba Nona lihat keluar jendela. Cuacanya bagus, ya?"


Shelyn terperangah mendengar ucapan Davin yang terasa aneh baginya. "Vin, di luar panas banget cuacanya. Bukan cuaca yang bagus bagi aku. Kamu kenapa sih?"


Davin meringis. Baru sadar bahwa ucapannya tadi sungguh menggelikan. Ia memutar otak untuk kembali mengalihkan atensi gadis itu, tapi bunyi BUKKK terdengar lagi untuk ketiga kalinya dan kali ini lebih kencang.


"Ada sesuatu kayaknya dalam lemari itu. Jangan-jangan ada orang lagi yang ngumpet di sana.” Shelyn bangkit berdiri. Kakinya sudah siap melangkah menuju ke lemari kayu di sudut.


Dengan sigap, Davin menarik tangan Shelyn untuk mencegah. Namun, tarikannya ternyata terlalu kuat hingga membuat gadis itu terjatuh ke atas pangkuannya di atas ranjang. Mereka berdua sama-sama terperanjat kaget.


Shelyn pelan-pelan menarik tubuhnya, tapi Davin malah menahan gadis itu. Mereka saling berpandangan selama beberapa saat dengan jantung berdegup kencang.


Hal itu juga membuat Dara dan Dimas yang melihat dari dalam lemari ikut tersentak kaget. Shelyn duduk di pangkuan Davin. Sementara Davin diam saja membiarkannya, malah terkesan menikmati.


"Wah, Agen Neo curi-curi kesempatan." Dimas terkikik pelan.


Dara menoyor kepala Dimas dengan geram. Sejak tadi mereka berdua tidak bisa diam karena merasa tempat ini terlalu sempit. Dimas duduk berdempetan dengan dadanya dan membuat Dara merasa pengap.


"Eh, lo bisa diem nggak sih? Nanti kalo kita berisik, kita bakal ketahuan!" Dimas melotot padanya.


"Liat tuh! Si Davin sama cewek itu!" Dara menekuk wajahnya yang sudah hampir menangis.


"Biarin aja sih, orang lagi adegan romantis juga," sahut Dimas yang membuat Dara makin geram.


Gadis itu sekali lagi menoyor kepala Dimas dan Dimas balas menyikut bahu Dara, hingga mereka kehilangan keseimbangan, dan membuat pintu lemari terbuka. Keduanya sontak terjatuh keluar dari dalam. Dimas jatuh telentang di lantai sementara Dara tersungkur di atasnya.


Davin dan Shelyn spontan menatap mereka dengan kaget bukan kepalang.


"SIAPA KALIAN?!" pekik Shelyn dengan suara nyaring.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2