
BRAAKKKK!!!
Lukas menggebrak meja dengan marah. Bola matanya sudah nyaris melompat dari rongganya ketika menatap seluruh orang-orang dalam ruang aula gedung Lembaga Intelijen Pancasila. Tak ada yang berani menatap matanya apalagi mengeluarkan suara jika beliau sudah marah.
Lukas menjabat sebagai Diretur Pelaksana dalam lembaga tersebut. Beliau terkenal keras, galak dan disiplin dalam menjalankan tugas. Kali ini kemarahannya memuncak kala mengetahui bahwa Chip milik Haikal yang sangat dibutuhkan ternyata bukan berisi data penting. Chip yang mereka dapatkan merupakan chip yang salah.
Tatapan tajam Lukas berhenti di depan wajah Mathias yang berdiri di tengah ruangan.
"Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu tidak mendidik anak buahmu dengan benar!" teriaknya sambil menunjuk Mathias dengan geram. "Kamu tahu kita butuh benda itu! Jika benda itu kita dapatkan, Haikal sudah berada dalam genggaman kita!"
"Maafkan saya, Pak," ucap Mathias pelan.
Lukas mengembuskan napas penuh kekesalan.
Seorang wanita dan pria tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Si wanita tersenyum pada semua orang yang berada di dalam. Aura dingin menyelimuti wanita berusia 30 tahun-an tersebut kala melangkah dengan mantap menghampiri Lukas yang sedang menghardik anak buahnya. Suara ketukan hak sepatu pantofel wanita itu membuat perhatian siapa saja tertuju padanya. Dara dan Dimas saling pandang, mereka tak mengenali wanita itu.
"Perkenalkan, Pak Lukas. Saya Melda dan ini asisten saya Arif." Wanita berpakaian rapi tersebut memperkenalkan diri, menunjuk seorang pemuda di sebelahnya dengan ramah.
"Melda adalah seorang Jaksa yang sedang menyelidiki kasus perdagangan ilegal di negara kita saat ini. Dia bersedia bekerja sama untuk mengungkap keterlibatan Haikal dalam kasus gelap tersebut." Pak Ilman menjelaskan pada Lukas. Pak Ilman adalah Kepala Koordinasi dalam Lembaga Intelijen Pancasila.
"Oh, baiklah. Saya Lukas Syalendra. Direktur Pelaksana di lembaga ini." Lukas menjabat tangan Melda dengan ramah. Seketika amarahnya mereda ketika wanita itu datang. "Silakan duduk, Bu Melda."
Melda dan asistennya duduk dengan sopan di kursi kosong yang tersedia. Lukas dan Ilman ikut duduk di kursi seberang mereka. Sementara Mathias tetap berdiri di tempatnya.
"Jadi, bagaimana perkembangannya? Apa ada bukti besar yang sudah kalian dapatkan? Semalam kami dan pihak kepolisian sudah melakukan penggerebekan ke suatu tempat yang diduga adalah markas mafia senjata ilegal itu. Tapi, kami belum berhasil menangkap ketua mereka. Kami hanya menangkap anak buah dan senjata-senjata rakitan buatan mereka saja." Melda langsung berbicara begitu duduk.
Mathias menyuruh Dara, Dimas dan yang lain untuk meninggalkan ruangan. Mereka semua menurut dan segera keluar dari ruangan ini. Dimas berjalan sambil tertunduk. Ia menyesali kecerobohannya dalam menjalankan tugas. Jika saja mereka lebih berhati-hati.
"Kami juga sudah berusaha untuk mengumpulkan bukti-bukti yang bisa menjerat Haikal. Hanya saja belum banyak yang terkumpul. Chip yang kami dapatkan pun ternyata chip yang salah." Lukas menjawab.
Melda tersenyum. "Chip itu pasti disembunyikan di suatu tempat. Haikal bukanlah orang yang ceroboh. Dia sangat cerdik, Pak. Tidak akan mudah memang menangkap Menteri itu."
"Tapi, kami akan berusaha untuk terus memata-matainya." Mathias menyela.
"Haikal punya banyak koneksi dan kasus kotor yang dilakukannya juga cukup banyak. Bahkan saya kemari pun pihak kejaksaan tidak ada yang tahu. Mereka akan menentang saya jika berusaha menangkap Haikal," jelas Melda dengan suara rendah. "Saya kira, kita bisa bekerja sama dalam menangkap Menteri tersebut. Kita bisa buat rencana B agar Haikal menyerahkan chip yang asli pada kita tanpa harus bersusah payah."
__ADS_1
Semua yang ada di dalam ruangan menatap Melda dengan terbelalak. Melda kembali menyunggingkan senyum tipis di atas bibirnya yang dipolesi lipstik berwarna merah menyala.
"Rencana B? Apa maksudnya?" Ilman mengerutkan alis memandang wanita cantik itu.
"Saya dengar Haikal sangat menyayangi putrinya dan kalian berhasil menyelipkan seorang agen di sana. Kita bisa gunakan putrinya dan buat kesepakatan kepada ketua mafia itu." Sorot mata Melda terlihat berbinar.
Lukas mengusap-usap dagunya yang tidak ditumbuhi janggut. "Saya tahu maksud Anda. Tapi saya pikir itu adalah rencana yang sedikit beresiko."
"Saya tahu," sahut Melda. "Tapi, itu adalah cara terbaik yang bisa kita lakukan jika Haikal masih sulit untuk didapatkan. Gunakan putrinya untuk mendapatkan chip itu."
***
Shelyn tersenyum lebar begitu selesai mencukur jenggot papanya yang nampak sudah bersih berkilat. Pagi ini, Shelyn melakukan ritual yang sering ia lakukan jika papanya berada di rumah, yaitu mencukur jenggot dan kumis papanya. Kegiatan ini merupakan hal yang menyenangkan bagi gadis itu.
"Sudah bersih?" tanya Haikal pada putrinya.
"Udah dong, Pah. Papa udah muda lagi kayak ABG." Shelyn tergelak. Lalu, memberikan sebuah cermin kecil pada Haikal agar bisa melihat hasil cukurannya.
Haikal memandang cermin, memutar-mutar wajah dan mengusap dagunya yang sudah bersih. Sebuah senyuman terukir di wajahnya. "Terima kasih putri Papa yang cantik."
Shelyn tersenyum dan mencium pipi papahnya dengan lembut. Davin yang memperhatikan keakraban ayah dan anak tersebut tampak tersentuh. Ironis rasanya jika Shelyn tahu bagaimana papanya mempunyai rahasia gelap yang tidak diketahuinya. Dan entah apa yang akan terjadi jika papanya ditangkap suatu saat nanti, mengingat hubungan mereka sebagai ayah dan anak sangat dekat.
Haikal mengangguk. Seorang pelayan bergegas membereskan peralatan cukur serta membersihkan helaian-helaian bekas janggut Haikal yang berserakan di halaman.
"Belajar yang rajin ya, Sayang!" Haikal mengusap kepala Shelyn dengan lembut.
Shelyn mengambil tas sandangnya yang telah disiapkan pelayan dan berjalan menuju Benzy, diikuti Davin. Ia sengaja datang ke kampus pagi-pagi sekali untuk mengerjakan tugas kuliahnya yang masih menumpuk. Beberapa hari lagi, tugas itu harus dikumpulkan, sedangkan ia baru mengerjakannya sedikit.
Shelyn masih bersikap agak dingin pada Davin sejak peristiwa pernyataan cintanya waktu itu. Ia kecewa karena Davin belum juga memberi kepastian apakah menyukainya atau tidak, sementara Bara tetap pada pendiriannya untuk menunggu gadis itu menerimanya kembali. Memikirkan hal itu membuat Shelyn pusing tujuh keliling.
Tak berapa lama, mereka sampai di gedung kampus. Shelyn bergegas turun saat Davin membukakan pintu untuknya. Gadis itu berjalan cepat menuju perpustakaan di lantai dua dan segera menyiapkan alat tulisnya untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.
"Saya bisa bantu Nona," ujar Davin tatkala melihat Shelyn kesulitan memecahkan kode essai matematikanya.
Shelyn menoleh singkat dan mengulurkan pulpennya sedikit. "Nih ...," katanya tanpa memandang Davin yang sudah duduk di sampingnya.
Davin meraih pena tersebut, lalu mencoret-coret rumus soal yang membuat Shelyn kesulitan. Pemuda itu menerangkan dengan lembut agar Shelyn bisa mengerti. Shelyn pun merasa takjub lantaran menyadari Davin ternyata sangat pintar. Kenapa tidak dari kemarin saja ia meminta bantuan Davin untuk mengerjakan tugas? Pasti sekarang sudah selesai jika Davin yang membantunya.
__ADS_1
"Oh, jadi ini tuh begini?" Shelyn mengulang rumus yang diajarkan Davin padanya.
"Bukan, Nona ... yang benar seperti ini ... coba Nona perhatikan." Davin kembali menerangkan dengan sabar.
Shelyn mengamati Davin yang begitu serius mengerjakan soal. Ada debaran yang dirasakan kala mata mereka bertemu. Davin tersenyum padanya, membuat wajah Shelyn merona seketika.
"Apa Nona sudah bisa mengerti?" Davin membuyarkan lamunan Shelyn.
Shelyn mengerjapkan mata sesaat. Pikirannya benar-benar tidak fokus. Apalagi saat menatap bibir merah Davin yang terlihat basah merekah sedang bergerak menerangkan soal.
"Nona?" Davin memanggilnya lembut.
Shelyn memalingkan wajah cepat-cepat. Ia bisa mendengar helaan napas Davin di sisinya. Semoga saja Davin tidak beranggapan bahwa ia adalah gadis yang lemot. Sungguh Shelyn memang tidak bisa fokus. Perhatiannya hanya tertuju pada bibir Davin yang terlihat menggoda. Pikiran-pikiran mesum jadi terbayang di otaknya.
"Baiklah kalau Nona masih belum mengerti, saya bisa jelaskan lagi,” kata Davin mulai mencoret-coret rumus soal di kertas dan kembali menerangkan.
Shelyn merebut pulpen tersebut dengan kikuk. "Nggak pa-pa, aku udah ngerti kok," katanya cepat. Saat ia ingin menulis, pulpen tersebut jatuh ke bawah meja.
Shelyn dan Davin sama-sama menunduk untuk mengambil pulpen yang terjatuh tersebut dan tak sengaja kepala mereka saling terbentur.
"Aauuww!" lenguh Shelyn sambil mengusap-usap jidatnya yang terkena puncak kepala Davin.
"Nona nggak apa-apa?" Davin langsung bertanya. Ada bekas merah di kening gadis itu.
"Nggak pa-pa kok," ucap Shelyn, meringis. Keningnya masih berdenyut sakit.
Tangan Davin terulur mengusap kening Shelyn dengan lembut. Shelyn membeku. Jantungnya serasa meleleh berjatuhan ke lantai kala wajah Davin mendekat ke wajahnya.
Davin sendiri melakukan itu karena refleks merasa bersalah. Ia melihat kening Shelyn yang merah. Namun, tak menyangka hal itu juga membuatnya tiba-tiba merasa gugup dan deg-degan.
Tatapannya turun dari kening beralih menatap mata bulat Shelyn, lalu ke hidung dan bibir gadis itu. Davin menelan ludah. Ada gejolak yang dirasakan ketika Shelyn tiba-tiba menutup matanya perlahan. Davin menahan napas saat tanpa sadar wajah mereka semakin mendekat dan ia tidak bisa mengontrol keinginannya untuk mencium bibir gadis itu.
...🌹🌹🌹...
Kasih tanggapannya dong sejauh ini gimana dengan cerita ini?
Apakah menarik?
__ADS_1
Jangan lupa kasih dukungan terus yaa...
makasih ❤