
Angin berembus kencang mengiringi tetesan hujan yang tengah menari-nari di atas permukaan bumi. Davin dan Dimas berjalan menyelinap dengan hati-hati di antara dinding rumah yang berdiri kokoh. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, topi dan memasang janggut serta kumis palsu untuk menyamarkan wajah mereka.
Kedua pemuda itu menyandar sebentar ke dinding saat melihat ada CCTV yang terpasang di sudut rumah. Dimas berjongkok membuka laptopnya untuk merusak security system pada semua CCTV yang terpasang. Tak sampai tiga menit, Dimas telah berhasil meretasnya.
Dengan cepat, mereka segera menyelinap menelusuri halaman belakang dan mengintip dari balik tembok. Ada seorang satpam penjaga yang asyik bermain catur bersama seorang tukang kebun di sebuah saung bambu. Davin dan Dimas mengendap-endap, lalu berdiri di pintu belakang rumah secara hati-hati agar tak terlihat.
Mereka berdua tengah menyusup ke rumah Haikal untuk mencari sebuah Chip Memory atas perintah Pak Mathias siang kemarin. Menurut kabar yang mereka terima, dalam chip tersebut ada semua bukti kejahatan Menteri tersebut. Mulai dari pencucian dan penggelapan uang, penjualan senjata ilegal, penyuapan dan lainnya.
Mereka berhasil membuka kunci rumah dengan sebuah trik sederhana yang telah mereka pelajari selama di sekolah intelijen. Saat pintu terbuka, ada seorang pelayan pria yang sedang berjaga di dalam. Dimas langsung memukul tengkuk pria itu agar pingsan seketika.
Kedua pemuda itu berjalan mengendap-endap menuju tangga yang akan mengantar ke lantai tiga. Saat berada di lantai dua, Davin melirik kamar Shelyn yang tertutup. Gadis itu pasti sudah tertidur lelap sekarang lantaran saat ini sudah tengah malam. Apalagi ditambah cuaca dingin di luar.
Davin mendahului Dimas berjalan naik ke lantai tiga. Saat tiba di sana, ada seorang pelayan wanita yang tengah duduk tertidur di pinggir sofa di atas karpet beludru sambil memegang kemoceng. Sepertinya wanita itu tertidur karena kelelahan membersihkan ruangan.
Davin dan Dimas mengacuhkan wanita tersebut dan meneruskan langkah menyusuri lorong ke ruang kerja Haikal yang berada di ujung dekat perpustakaan pribadi. Mereka yakin chip itu ada di sana tersimpan rapi.
Davin mencoba membuka pintu ruangan tersebut secara perlahan. Ruangan itu terkunci rapat. Dimas segera mengeluarkan jurus pembuka kuncinya yang sangat mahir. Terdengar suara kasak-kusuk di bawah. Sayup-sayup suara langkah-langkah kaki terdengar mendekat di tangga menuju lantai tiga.
"Cepet, Dim. Mereka kayaknya udah tahu ada kita di sini!" desak Davin sambil memandang ke arah tangga. Sementara pelayan wanita itu tampak menggeliat mendengar kebisingan di bawah.
"Oke!" Dimas tersenyum lebar ketika berhasil membuka pintu ruangan itu. Mereka berdua masuk ke dalam cepat-cepat dan segera mengunci pintu dari dalam.
Terdengar suara seruan dari luar. "CARI PENYUSUP ITU KE SEMUA TEMPAT! MEREKA MASIH ADA DI DALAM RUMAH INI!"
Davin dan Dimas saling pandang sejenak, lalu memulai pencarian mereka. Ruangan ini tidak terlalu besar. Hanya berukuran 5x6 dengan sebuah meja kaca besar dan 1 kursi putar yang biasa diduduki Haikal. Terdapat sofa minimalis di tengah ruangan dan rak-rak buku yang mengelilingi dinding. Setumpuk berkas, komputer, beberapa alat tulis dan sebuah foto berpigura yang menampakan gambar Shelyn bersama Haikal tersusun rapi di atas meja kerja tersebut. Davin mengambil foto berpigura itu dan mengamati wajah Shelyn yang sedang tersenyum manis dalam foto.
"Neo, bantuin nyari dong! Lo malah merhatiin Shelyn mulu," protes Dimas yang sedang membongkar sebuah rak buku di sudut ruangan.
__ADS_1
"Iya, Logan!" Davin meletakan foto itu kembali. Matanya melebar ketika melihat sebuah brankas kecil yang berada di pinggir meja.
Brankas itu berwarna hitam metalik, terbuat dari besi dan dilapisi kaca. Terdapat tombol-tombol angka di bagian sisi atasnya.
"Dim, gue tahu di mana chip itu disimpan!" Davin langsung memanggil Dimas yang serta merta menghampirinya dengan penasaran.
Davin menunjukan kotak brankas itu pada Dimas. Dimas mengeluarkan sesuatu dari tas ransel yang disandangnya. Sebuah serbuk yang biasa digunakan untuk mendeteksi jejak sidik jari pada permukaan benda. Dengan cepat, ia menaburkan serbuk tersebut pada bagian tombol pengunci brankas, kemudian mengambil sebuah kuas kecil dan membersihkan serbuk yang menempel. Seketika itu, tercetak sidik jari yang membentuk diatas beberapa tombol angka yang Dimas dan Davin yakini adalah bekas sidik jari Haikal.
Dengan segera, Dimas menekan tombol yang mendapat tanda sidik jari itu. Pintu brankas terbuka seketika. Di dalam kotak itu terdapat beberapa tumpuk uang dollar dan ratusan ribu rupiah. Sebuah map berisi foto-foto proyek pembangunan dan sebuah benda kecil berbentuk pipih yang tampak seperti chip memory.
Davin langsung mengambil chip itu dan menutup kembali pintu brankas sementara di luar suara orang-orang yang memaksa masuk ke dalam ruangan ini mulai terdengar.
"Mereka sepertinya ada di sini. Pintunya terkunci dari dalam!" teriak suara berat dari balik pintu.
"Kita dobrak saja supaya mereka nggak bisa melarikan diri!" sahut suara yang lain.
Davin mengintip ke jendela dan memandang ke sekeliling. Cukup tinggi juga untuk melompat ke bawah tanpa menggunakan sesuatu. Sementara Dimas sudah memasang kuda-kuda. Mereka akhirnya memilih bersembunyi di samping pintu sambil mengangkat pistol yang sudah dibawa masing-masing. Tak lupa kedua pemuda itu memasang masker hitam agar wajah mereka tertutup sambil saling menganggukan kepala.
Pintu terbuka lebar oleh satu tendangan keras dari seorang algojo berbadan besar dan kekar. Engsel pintu rusak. Dimas dan Davin langsung menyerang pria algojo itu dengan tendangan keras di bagian perut dan tinju di pelipis kirinya. Dua orang pria berpakaian hitam ikut menyerbu mereka. Tanpa ragu, Dimas dan Davin langsung menghajar kedua pria itu hingga tumbang.
Serangan lain muncul dari 3 pria lain yang datang membawa sebilah pisau dan juga senjata tumpul. Davin langsung menembakan pistolnya ke arah kaki para pria itu agar mereka tidak bisa menyerang. Suara letusan pistol membuat para pelayan wanita menjerit ketakutan dan berhamburan ke sana kemari. Teriakan dan jeritan tersebut berasal dari lantai bawah.
Davin dan Dimas cepat-cepat berlari menuruni tangga untuk melarikan diri. Saat berada di lantai dua, Davin melihat Shelyn tengah berdiri di depan pintu kamarnya mengenakan piyama bergaris. Wajah jelitanya menunjukan ekspresi tegang dan cemas. Para pelayan wanita yang berdiri di sekitar langsung berkumpul di sudut sambil berangkulan kala melihat Davin dan Dimas muncul.
Segerombolan algojo dan penjaga mengepung mereka, memblokir jalan keluar. Davin dan Dimas saling pandang. Tangan mereka masih mengacungkan pistol ke segala arah. Beberapa penjaga yang juga memegang pistol ikut mengarahkan pistol mereka pada Davin dan Dimas, siap untuk menembak di waktu yang tepat.
Davin memandang Shelyn dengan jantung berdebar kencang. Gadis itu ternyata juga sedang menatapnya. Davin lalu menggerling ke arah Dimas, memberi isyarat agar mengikutinya. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam, lantas berlari kencang menuju Shelyn yang masih tertegun di depan kamarnya.
Begitu sampai, Davin langsung meraup bahu gadis itu dan menahannya. Kemudian, diarahkannya mulut pistol ke pelipis kanan Shelyn. Shelyn memekik kaget dan ketakutan setengah mati. Tak menyangka ia akan dijadikan sandera oleh pria yang menerobos rumahnya sendiri. Davin terpaksa melakukan hal itu karena itulah satu-satunya cara agar ia dan Dimas bisa keluar dari rumah ini.
__ADS_1
"JANGAN ADA YANG BERGERAK! ATAU SAYA TEMBAK GADIS INI!" ancam Davin dengan suara lantang dan tegas, walau dalam hati merasa gugup.
Dimas yang sudah berada di samping Davin melirik rekannya itu dengan takjub. Tak menyangka Davin bisa senekat itu menjadikan Shelyn sebagai sandera.
Shelyn meronta dalam rangkulan Davin yang membuat pemuda itu semakin mempererat rangkulannya agar Shelyn diam. Terdengar suara isakan dan napas yang tersengal-sengal. Davin merasakan ada sesuatu yang hangat mengaliri pergelangan tangannya. Itu air mata Shelyn. Gadis itu menangis saking takutnya. Apalagi sebuah pistol tertodong di pelipis gadis itu, siap merenggut nyawanya kapan saja.
Davin menahan napas. Dadanya terasa sesak lantaran nekat melakukan hal ini pada Shelyn yang tidak tahu apa-apa. Pelan-pelan, ia menarik Shelyn mengikuti langkahnya menuju lantai satu. Dimas pun mengikuti Davin sambil terus mengacungkan pistol kepada semua orang yang mengepung mereka.
Sesampai di pintu keluar, Davin melirik Dimas dan memberi kode untuk bersiap melarikan diri.
"Maaf ...," bisik Davin lirih pada telinga Shelyn, lalu melepaskan rangkulannya. Ia dan Dimas segera menghambur keluar dengan cepat menembus pekatnya malam. Rentetan peluru terdengar di belakang.
Shelyn merasa kakinya lemas tak bertulang. Gadis itu jatuh berjongkok dengan wajah pucat pasi, tubuhnya pun gemetar hebat. Empat orang pelayan wanita langsung menghampiri Shelyn dan membantunya berdiri.
Entah kenapa ada rasa yang tidak asing pada pemuda yang menyanderanya itu. Kata maaf yang diucapkan si pemuda, Shelyn yakin ia pasti mengenalinya
Sementara di sisi lain, Davin menyandarkan kepala ke jendela dengan lemas. Mereka sudah berhasil melarikan diri dan saat ini sedang berada dalam mobil menuju ke markas. Dimas yang mengemudikan.
"Gue nggak nyangka lo bisa melakukan hal itu sama Shelyn, Vin!" ujar Dimas sambil geleng-geleng.
Davin memejamkan mata, teringat bagaimana air mata Shelyn yang hangat membasahi pergelangan tangannya dan sorot ketakutan dari kedua netra gadis itu. Ada rasa perih yang mengganjal.
Maafkan saya, Shelyn...
...🌹🌹🌹...
Makasih buat yang sudah mampir baca sampai sejauh ini...
Mohon terus dukungannya ya buat cerita ini...
__ADS_1
Jangan lupa untuk kasih vote atau like nya....
happy reading.... ❤❤❤