
Shelyn menatap nanar pada sebuah buku paspor dan visa di tangannya, seolah ia sedang memegang sesuatu yang mengerikan. Untuk beberapa saat lamanya, Shelyn hanya bisa terpekur tanpa berkata apa-apa. Semuanya tampak kabur dan terlalu memusingkan.
"Seharusnya dua minggu lagi 'kan, Pah? Kenapa tiba-tiba secepat ini?" Shelyn memandang papanya sedih.
"Kamu liat sendiri apa yang terjadi sama kamu jika kamu terus berada di sini. Papah tidak mau kamu jadi korban lagi, Sayang ...." Haikal mengelus kepalanya. Ia sudah menyiapkan segala keperluan Shelyn untuk pergi ke Prancis secepatnya. Semua telah direncanakan Haikal dengan rapi. Ia tak bisa membuang waktu lagi.
Shelyn menunduk. "Emangnya apa yang Papa lakuin selama ini sampe mereka juga mengincar aku, Pah? Apa Papa melakukan kesalahan?"
Haikal tercekat mendengar pertanyaan anak gadisnya itu. Dengan gusar, ia mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kenapa Papa nggak jawab? Pasti ada sesuatu yang terjadi selama ini yang aku nggak tahu.”
"Shel, Papa tidak melakukan apa-apa. Kamu jangan khawatir." Haikal berdusta.
"Terus soal chip. Itu benda apa, Pah? Mereka culik aku karena pengen merebut benda itu."
Haikal merapatkan mulutnya mendengar pertanyaan Shelyn yang lagi-lagi membuatnya kesulitan menjawab.
"Aku udah lama merasa ada yang nggak beres. Papa pasti sembunyiin sesuatu dari aku," lanjut Shelyn lagi. Tatapannya menuntut.
"Shel, percaya sama Papa. Papa selalu berusaha untuk buat kamu bahagia. Mereka hanya tidak suka dengan Papa. Jadi, mereka sengaja mengincar kamu."
"Nggak. Mereka culik aku karena ada alasan. Ini karena benda itu."
"Sudahlah!" sentak Haikal kesal. "Tolong turuti kata Papa. Jangan banyak bicara. Ini demi keselamatan kamu dan Papa. Pergilah ke Prancis sabtu ini. Papa sudah memesan tiketnya."
Haikal bangkit, berjalan ke pintu. Ia berbalik menatap Shelyn yang masih duduk di pinggir tempat tidurnya dengan ekspresi sedih.
"Papa minta maaf, Shelyn. Papa sangat menyayangimu. Kamu harus bisa jaga dirimu baik-baik selama di sana. Papa harap kamu bisa mengerti."
Shelyn menutup wajahnya dengan tangan. Air matanya jatuh tak tertahankan.
"Apa Davin nggak bisa ikut aku, Pah? Aku pengen dia juga ikut."
Haikal menarik napas berat. Ia bisa melihat bahwa anak gadisnya punya perasaan pada pemuda itu dan Davin sepertinya tidak buruk untuk Shelyn.
"Baiklah, Papah akan perintahkan dia untuk ikut sama kamu. Kamu jangan sedih lagi. Berkemaslah."
Shelyn mengusap air matanya sambil terbelalak. "Serius, Pah? Bener Davin boleh ikut?"
Haikal mengangguk. "Iya. Papah pikir dia memang sebaiknya ikut sama kamu di sana. Jadi, apa kamu masih merasa sedih?"
Shelyn tersenyum lebar. Gurat kesedihan di wajahnya lenyap berganti dengan keceriaan.
"Makasih, Pah. Makasih banyak!"
Haikal tersenyum. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berlalu meninggalkan kamar, diikuti Mulya yang sejak tadi menunggu di dekat pintu. Sang Menteri itu berbalik menatap Davin yang juga berdiri di sana. Ia menyuruh Davin mengikutinya ke ruang kerja.
Shelyn bangkit berdiri sambil tersenyum lebar. Rasanya tidak percaya Davin akan ikut dengannya ke Prancis. Namun, hati kecilnya tetap merasakan keganjilan. Ini tentang chip itu. Benda itu sukses menggelitik rasa penasarannya. Ia sepertinya harus mencari tahu.
Suara ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ada pesan dari Bara.
Bara:
__ADS_1
Shel, apa kabar? Kamu baik-baik aja 'kan? Aku pengen ketemu. Ada sesuatu yang ingin aku omongin sama kamu, Shel.
^^^Shelyn:^^^
^^^Aku ada di rumah, Bar. Mau ngomong apa? Kamu gak kembali ke Amerika?^^^
Bara:
Bisa kita ketemu? Aku gak jadi balik ke Amerika.
^^^Shelyn:^^^
^^^Kamu ke rumah aja. Aku lagi males keluar.^^^
Bara:
Oke...
***
"Saya punya permintaan pada kamu, Vin. Bisakah kamu membantu saya?" Haikal langsung bicara begitu masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Apa yang harus saya bantu, Pak?" tanya Davin penasaran.
"Pergilah bersama Shelyn ke Prancis. Saya akan mengurus semuanya untuk kamu. Biaya hidupmu dan keluargamu pun akan saya jamin. Kamu tidak perlu takut. Saya juga akan memberimu kompensasi atas jasa kamu sudah menyelamatkan Shelyn."
Davin terbelalak mendengar ucapan Haikal. Lidahnya mendadak kelu. Pak Menteri itu terlihat serius dengan perkataannya.
"Saya butuh kamu untuk menjaga Shelyn dan kelihatannya dia juga menyukaimu. Pergilah bersamanya. Segala keperluanmu akan saya urus dengan baik."
"Saya juga ingin menitipkan sesuatu padamu. Benda yang sangat penting. Awalnya saya meragukanmu, tapi melihat bagaimana kamu melindungi Shelyn selama ini dan situasi di sini yang tidak membaik, saya pikir kamu adalah orang yang tepat untuk saya percaya."
"A-apa itu, Pak?" Davin tergagap.
Haikal mengeluarkan sebuah kotak beludru warna hitam. Di dalam kotak tersebut ada sebuah benda kecil pipih berwarna sama. Bola mata Davin nyaris melompat dari rongganya. Itu adalah chip memory yang selama ini mereka cari.
"Apa kamu tahu benda ini?" Haikal bertanya.
Davin spontan mengangguk, tapi kemudian menggeleng cepat. "Benda apa itu, Pak?"
"Ini adalah chip memory. Di dalam benda ini ada data yang sangat penting. Selama ini saya menyimpannya di tempat rahasia. Saya ingin sekali menghancurkannya, tapi saya butuh benda ini untuk menekan para menteri lain," jelas Haikal bersuara rendah.
"Saya minta kamu menjaga benda ini. Bawalah ke Prancis bersamamu. Simpan di sana jangan sampai ada yang tahu soal ini. Karena jika disimpan di sini sudah tidak aman. Mereka pasti akan datang lagi menyusup ke dalam rumah saya."
Davin seperti berdiri di atas duri. Perasaannya campur aduk antara senang, gugup, dan takut.
Ini kesempatannya untuk menangkap Haikal. Peluang yang sangat besar. Namun, membawa benda itu ke Prancis bersama Shelyn otomatis juga akan membuatnya bahagia, apalagi Haikal menanggung semua kebutuhannya.
Tapi balik lagi, Davin akan kehilangan profesi yang sangat dicintainya. Kehilangan loyalitas dan tentunya melindungi seorang pejabat korup bukanlah hal yang benar. Dan jika ia tidak menerima tawaran itu, ia akan kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Seseorang yang ia cintai saat ini.
Haikal menyerahkan benda itu kepada Davin yang setengah kesadarannya masih mengambang. Cowok itu menerimanya dengan tangan gemetar.
"Tolong jaga benda itu dan juga Shelyn selama di sana. Saya mohon padamu." Haikal menatap Davin penuh harap.
Davin hanya bisa mengangguk lemah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Langkahnya terlihat gemetar kala berjalan meninggalkan ruangan ini.
__ADS_1
***
"Ada apa, Bar? Kamu mau ngomong apa?" tanya Shelyn saat Bara sudah menemuinya.
Mereka duduk di halaman depan rumah yang dihiasi lampu-lampu taman.
"Shel, bener kamu mau pergi ke Prancis?" Bara malah balik bertanya.
Shelyn mengangguk pelan sambil mengembuskan napas panjang. "Iya, Bar. Rencananya sabtu ini. Kamu nggak jadi balik ke Amerika?"
Bara menggeleng. "Ada sesuatu yang menahan aku buat pergi."
"Sesuatu apa, Bar?"
"Kamu, Shel. Aku mengkhawatirkan kamu."
Shelyn mengernyitkan wajah, bingung dengan maksud ucapan Bara. "Kenapa kamu mengkhawatirkan aku? Apa karena soal penculikan itu?"
"Penculikan?" Kedua pupil Bara membesar. "Kamu diculik?"
"Iya, beberapa hari lalu aku diculik dan Davin yang nyelametin aku."
Bara merutuk dalam hati. Ternyata memang yang dikatakan Melda kemarin benar. Rencana untuk menjadikan Shelyn sebagai umpan dan kenapa Davin kemarin diam saja tidak memberitahu soal penculikan Shelyn?
"Tapi, kamu nggak pa-pa kan?" Bara terlihat semakin cemas.
Shelyn tersenyum tipis seraya menggeleng. "Nggak. Aku udah baik-baik aja."
Bara meraih tangan Shelyn dan menggenggamnya erat. "Shel, apapun yang terjadi kamu kasih tahu aku, ya. Aku akan jagain kamu."
"Makasih, Bar. Tapi, ada Davin yang akan melindungi aku.”
"Kamu harus berhenti mengandalkan dia, Shel. Dia nggak bisa melindungi kamu terus-terusan. Kamu tahu 'kan kamu akan pergi. Dia nggak bisa bersama kamu."
Ucapan Bara membuat Shelyn menatapnya tajam. "Kenapa aku nggak bisa bersama Davin? Dia bakal ikut aku ke Prancis. Papah udah kasih dia izin, kok."
Bara tersentak. "Apa kamu serius? Tapi dia nggak bisa pergi, Shel."
"Kenapa? Kenapa dia nggak bisa pergi?" Shelyn bangkit agak marah. Ia menarik tangannya yang digenggam Bara.
"Shel ...," panggil Bara pelan.
"Pergilah. Aku mau beres-beres. Aku minta maaf ...."
Shelyn membalikkan badan, berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Bara yang tertegun di kursinya. Namun, langkahnya sedikit terhenti kala suara lirih Bara berkata tajam.
"Shel, kamu harus hati-hati. Kamu akan terluka. Davin bukan orang yang seperti kamu pikirkan."
Shelyn menoleh dan tersentak, Bara sudah berlalu dari sana. Cowok itu berjalan dengan langkah berat menuju mobilnya.
"Apa maksud kamu?" Shelyn berteriak mengejar Bara.
Bara diam saja tanpa menghentikan langkahnya masuk ke mobil. Lalu, segera tancap gas dan menghilang dari balik gerbang yang tertutup secara otomatis. Shelyn menghela napas bingung.
Apa maksudnya?
__ADS_1
...🌹🌹🌹...