My Sweet Bodyguard

My Sweet Bodyguard
Perasaan yang Terpendam


__ADS_3


"Jawab, Vin? Kamu suka nggak sama aku?"


Davin menahan napas. Pertanyaan yang meluncur dari mulut Shelyn membuatnya tercekat. Ia tak bisa berkata-kata.


Apa yang harus ia jawab? Benarkah ia tak punya perasaan apapun pada gadis itu? Jika benar ia memang menyukai gadis itu, lalu apa? Pantaskah ia mengatakan cinta padahal sebelumnya telah menyakitinya?


"Kenapa kamu diem aja? Apa kamu nggak ada sedikit pun cemburu sama Bara yang nyatain perasaannya sama aku tadi?"


Davin semakin membisu. Bibirnya seolah terkunci rapat walau pertanyaan Shelyn begitu menohok hatinya.


Hening sesaat. Detik-detik yang berlalu tanpa suara terasa begitu mencekam. Shelyn terus menunggu jawaban yang akan dilontarkan Davin. Gadis itu telah mengeluarkan segala keberaniannya untuk menanyakan pertanyaan yang sangat menyangkut harga dirinya itu. Selama ini, Shelyn tak pernah bisa menyukai seseorang begitu rupa, bahkan saat bersama Bara dulu.


"Nona ... kita harus segera pulang. Nona harus mengerjakan tugas.” Akhirnya kalimat itulah yang meluncur dari mulut Davin. Ia segera menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.


Shelyn mendengkus kecewa. Matanya berkaca-kaca. Gadis itu membuang muka ke arah jendela. Ia benci pada Davin. Setidaknya katakan saja dengan jujur jika memang tidak menyukainya. Kenapa harus mengatakan hal yang sangat ambigu?


Selama perjalanan pulang, Shelyn terus menekuk wajahnya tanpa bicara sepatah kata pun. Begitu mobil sampai di halaman rumah, gadis itu langsung melompat turun tanpa menunggu Davin yang membukakan pintu. Davin terperangah melihat Shelyn yang ternyata ngambek padanya.


Setengah berlari, gadis itu menaiki tangga dan masuk ke kamar sambil membanting pintu keras-keras, hingga membuat beberapa pelayan yang ada di dekat kamarnya kaget setengah mati.


Shelyn membanting tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tertelungkup. Wajahnya ia benamkan di atas bantal. Air matanya meleleh tak tertahankan.


Kenapa Davin tega sekali padanya? Ia merasa dipermalukan. Apa susahnya sih mengucapkan ya atau tidak pada pertanyaannya barusan? Davin memang keterlaluan banget. Nyebelin!


Shelyn mengangkat wajahnya sambil menghapus air mata yang meleleh di pipinya. Niatnya ingin mengerjakan tugas jadi buyar. Gadis itu meraih ponsel dalam tas sandangnya, lalu mengirim pesan pada Rara dan Poppy.


Shelyn:


Gals, kita clubbing malam ini yuk. Bete banget gue sumpah!


Rara:


Tugas lo udah selesai belom?


Poppy:


hayuu aja. Besok-besok juga bisa dikerjain tugasnya. 'Kan masih seminggu ini.


Shelyn:


Kumpul di tempat biasa, ya. Jangan telat!


Shelyn bangkit dari tempat tidurnya seraya menatap jam di dinding. Sudah pukul lima sore. Gadis itu bergegas mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk segera bersiap party malam ini.


Oke, Davin kalo itu mau lo!


***


Suara musik disko berdebam-debam memekakkan telinga di bawah sinar lampu berkelap-kelip temaram. Segerombolan pria dan wanita asyik menari di lantai dansa sambil tertawa-tawa penuh gembira. Beberapa ada yang menari dengan lincah, ada yang biasa saja sementara ada pula yang menari dengan gaya menggoda, seperti yang dilakukan Shelyn, Rara dan Poppy. Tubuh mereka meliuk-liuk di antara gerombolan cowok-cowok muda yang sedang mengelilingi mereka sejak tadi. Bahkan, ada yang iseng mendempet-dempetkan tubuh mereka pada Shelyn yang tengah asyik menari dalam keadaan setengah mabuk.


Gadis itu menghabiskan dua gelas bir yang ia pesan tadi ketika baru saja sampai. Ia langsung turun ke lantai dansa dan menari-nari dengan berbagai macam gaya tanpa mempedulikan Davin yang mengikuti dan mengawasinya sejak tadi di dekat meja bar.


Davin tahu bahwa Shelyn sedang marah padanya. Ketika ia berbicara, Shelyn tidak mempedulikannya sama sekali dan sekarang ia tak menyangka gadis itu akan bertingkah konyol seperti ini.


"Hai!" Terdengar sebuah suara wanita menyapa.

__ADS_1


Davin menoleh dan mendapati Elisa sedang berdiri di dekatnya sambil menyunggingkan senyum manis dan sorot ramah. Gadis itu berpakaian sama sexy-nya dengan pakaian yang dipakai Shelyn, hanya beda warna dan model saja. Mereka mengenakan mini dress ketat tanpa lengan yang memperlihatkan bentuk lekuk tubuh dan kaki mereka yang jenjang. Rambut Elisa diikat ponytail. Sepasang anting-anting panjang menghiasi daun telinganya.


"Masih inget gue, 'kan?"


Davin mengerutkan kening, mencoba mengingat sebentar, lantas menjawab datar. "Nggak."


Elisa terperangah. "Masa sih lo nggak inget? Gue Elisa. Yang kemarin birthday."


"Oh ...." Davin bergumam pendek.


Elisa terlihat mengembuskan napas jengah. Merasa kesal karena artis setenar dia bisa-bisanya Davin tidak mengenalinya.


"Lo pergi sama siapa ke sini?"


Davin menatap Shelyn yang sekarang sedang asyik bergoyang ngebor bersama Rara dan Poppy sambil tertawa-tawa. Dua orang cowok di dekatnya mencoba untuk mendekati Shelyn sambil melempar seringai nakal. Salah seorang dari mereka bahkan sempat merangkul Shelyn dari belakang dan cewek itu diam saja seperti tidak mempermasalahkan.


"Oh, sama Shelyn." Terdengar suara Elisa menyeletuk, ikut memandang ke arah Shelyn di lantai dansa, lalu tertawa mencemooh. "Dasar Shelyn! Mau-maunya dideketin sama cowok-cowok begitu."


"Kamu kenal sama mereka?" tanya Davin ingin tahu. Sejak tadi merasa geram melihat kelakuan cowok-cowok yang mengambil kesempatan dan bersikap kurang ajar pada Shelyn.


"Gue kenal salah satu dari mereka. Namanya Reza. Dia model, masih satu agency sama Mikho. Dari dulu dia suka sama gue, tapi gak gue tanggepin. Ternyata sekarang dia malah deketin Shelyn," jelas Elisa sambil tersenyum sinis, "Lo tahu. Dia itu badboy banget. Cewek kalo udah masuk perangkap dia bakalan abis nggak bersisa."


Davin mengepalkan tinjunya. Dilihatnya cowok bernama Reza itu mulai mencium-cium rambut Shelyn dari belakang. Sementara temannya tertawa, seolah itu adalah hal yang lucu. Shelyn sendiri tidak sadar ada cowok yang mengambil kesempatan berbuat tidak senonoh pada dirinya. Gadis itu terus menari mengikuti irama musik tanpa memperdulikan sekitarnya.


"Lo liat, 'kan? Sih Shelyn aja gampangan banget. Mau aja digituin cowok ...."


"Jaga ucapan kamu! Jangan bicara seperti itu tentang dia!" tukas Davin ketus yang membuat Elisa menghentikan ucapannya.


Davin sudah tak tahan lagi. Ia melangkahkan kakinya cepat-cepat menghampiri Shelyn saat Reza dan temannya makin menjadi-jadi. Cowok itu menarik tangan Shelyn agar menjauh.


"Apaan sih lo? Gue nggak mau pulang!" teriak Shelyn marah.


Ia mendorong tubuh Davin dengan kasar, lalu berbalik kembali menuju lantai dansa dengan langkah terhuyung-huyung. Sementara orang-orang menatap mereka termasuk Rara, Poppy dan dua lelaki mesum tadi.


Davin mengembuskan napas jengkel, mencoba untuk bersabar. Ia berjalan mengikuti Shelyn yang mulai menari lagi dengan gaya yang tidak jelas. Mata tajamnya tak lepas dari dua lelaki kurang ajar tadi dan mereka balas memasang gestur menantang.


Shelyn menghentikan tariannya dengan kesal ketika Davin tiba-tiba menyelimuti tubuhnya dengan jas yang dipakainya. Sambil mencebik, gadis itu membuang jas tersebut ke lantai. Davin terhenyak, menggelengkan kepala dan memungut jasnya yang terjatuh di lantai.


Shelyn berjalan menuju meja bar di mana Elisa masih duduk memperhatikan mereka dengan penuh minat. Ia memesan segelas bir pada bartender dan mengempaskan bokongnya pada kursi kosong di sebelah Elisa. Gadis itu masih belum menyadari keberadaan musuh bebuyutannya itu.


"Hei, Shel!" sapa Elisa akhirnya karena Shelyn tampak tak menghiraukannya sama sekali.


Shelyn menoleh dan melengos saat tahu siapa yang menyapanya. "Mau apa lo? Gak usah sok ramah!"


Elisa menyunggingkan senyum sinis sembari mengaduk-aduk minuman cocktail-nya dengan sedotan bergaris.


"Jutek banget sih lo! Kalo lo gak mau lagi sama bodyguard lo, kasih ke gue aja," katanya menyindir. Ia memperhatikan bagaimana Shelyn memperlakukan Davin dengan kasar.


Shelyn cuma mendelikan mata tanpa membalas ucapan Elisa. Seorang bartender memberikan segelas bir sesuai yang dipesannya tadi. Davin seketika merebut gelas bir itu dari tangan Shelyn dan mengempaskannya ke meja.


"Tolong Nona jangan minum lagi," kata Davin tegas.


Shelyn menyibakan rambutnya sambil bangkit berdiri. Sejujurnya, ia sudah merasa pusing. Gadis itu tidak pernah mabuk-mabukan seperti ini. Ia hanya pernah melakukannya sekali saat lulus SMA. Alhasil, ia dimarahi Papanya dengan melarangnya keluar malam selama 1 bulan. Haikal tidak pernah marah pada Shelyn jika gadis itu tidak keterlaluan dan semarahnya Haikal, tetap saja tidak tega menghukum putrinya dengan kejam.


"Kenapa sih lo peduli sama gue! Terserah gue mau ngapain!" bentak Shelyn, meninggalkan Davin dan tersaruk ketika berjalan menuju lantai dansa.


Elisa tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan Shelyn yang seperti anak kecil. Davin segera menghampiri gadis itu sambil geleng-geleng kepala, tapi Reza lebih dulu membantu Shelyn untuk berdiri.

__ADS_1


"Thanks!" ucap Shelyn pada cowok berambut cepak itu.


"Kenalin gue Reza!" Cowok itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


Shelyn melirik Davin yang berdiri di dekatnya dan langsung menyambut uluran tangan Reza sambil tersenyum ramah. "Shelyn ...."


"Lo cantik, ya! Boleh minta nomor hape lo?" kata Reza to the point.


"Boleh. Nomor gue 08—"


"Maaf, menganggu. Tapi saya harap perkenalannya ditunda karena saya akan membawa pulang Nona ini," sela Davin yang sejak tadi sudah greget ingin membawa Shelyn pulang.


"Eh, lo nggak boleh maksa kalo cewek nggak mau!" bentak Reza garang ketika melihat Shelyn menolak. "Lagian lo siapa sih?"


"Gue bodyguard-nya!" tandas Davin lebih galak.


Tawa mencemooh keluar dari mulut Reza. "Cuma bodyguard doang. Bukan cowoknya udah belagu lo!"


Davin mengeluarkan seringai sinis. "Kalo gue cowoknya juga, lo mau apa?”


Shelyn, Rara dan Poppy terkesiap mendengarnya. Mereka sama-sama membelalak memandang Davin yang wajahnya sudah berapi-api menahan emosi.


"Ayo, Nona!" Davin menggenggam tangan Shelyn yang masih terkesima dan menariknya pergi dari tempat itu, diiringi tatapan tidak senang dari Reza dan juga Elisa.


Sesampai di luar, Davin memakaikan jasnya pada Shelyn yang berdiri linglung. Gadis itu diam saja. Ucapan Davin tadi masih terngiang di telinganya.


"Jangan pakai baju seperti ini lagi, Nona. Saya tidak suka melihatnya!" Suara Davin terdengar jengkel.


"Emang kenapa kamu nggak suka? Itu bukan urusan kamu! Kamu bukan siapa-siapa aku. Cuma bodyguard," balas Shelyn telak. Tapi, dalam hatinya merasa sedikit senang Davin memberi perhatian.


Terdengar helaan napas dari penciuman Davin. Cowok itu berjalan ke mobil tanpa berkata apa-apa.


"Masuklah ...," katanya lembut.


Shelyn menurut dan melangkah masuk ke mobil. Selama perjalanan pulang, mereka sama-sama membisu. Davin terlihat masih jengkel sementara Shelyn merasa pusing akibat minuman alkohol yang ia minum tadi.


"Nona tidak apa-apa?" tanya Davin yang ternyata diam-diam memperhatikan.


Shelyn meliriknya sekilas. "Nggak."


"Kalau pusing Nona tidur saja. Nanti saya bangunkan jika sudah sampai."


"Sebenernya kamu peduli sama aku karena emang sekedar tugas atau karena kamu memang peduli sih, Vin?"


Davin merasa tertohok lagi. Pertanyaan Shelyn benar-benar membuatnya kesulitan menjawab.


"Diem lagi, 'kan. Terus aja gitu,” gerutunya sebal, menyandarkan kepala pada jok mobil yang empuk sambil memejamkan mata.


Saat mereka sampai, Davin melihat Shelyn sudah tertidur pulas sambil mendengkur pelan. Cowok itu tersenyum kecil mendengar suara dengkurannya. Sambil menghela napas dipandangi gadis itu dan dibelainya rambut Shelyn dengan lembut, lantas berbisik pelan.


"Jika saja saya bukanlah Davin yang kamu kenal? Apa cinta itu masih akan tetap ada?"


...🌹🌹🌹...


Jangan lupa dukung aku terus yaa dengan kasih like, vote dan commentnya...


Terima kasih ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2