My Sweet Bodyguard

My Sweet Bodyguard
Keraguan


__ADS_3


Haikal membanting pintu sambil berjalan ke dalam ruangannya dengan wajah kusut dan kelam. Ia baru saja mengikuti rapat dewan di kantor kementerian. Kabar burung mengenai dirinya dan beberapa anggota dewan juga menteri lain sudah berembus. Mereka mendapat ancaman dari pihak oposisi jika ada yang terbukti melakukan hal gelap di belakang.


"Apa sudah ada kabar mengenai ketua mafia brengsek itu? Kita harus menemukan dan menangkapnya lebih dulu agar situasi kita lebih aman," katanya pada Mulya yang sedang berdiri di hadapannya.


"Saya sudah menyuruh beberapa preman untuk mencari ke semua tempat. Tapi tidak menemukannya, dan semalam saya dapat kabar bahwa pria itu sudah ditangkap dan berada di kantor Kejaksaan."


Haikal langsung menggebrak meja dengan kesal. "BRENGSEEKKK!"


"Maafkan saya, Pak!" Mulya menundukkan kepala. "Saya sudah lalai."


Haikal menatap Mulya dengan tajam, lalu mengembuskan napas keras-keras. "Tidak. Ini sudah rencana mereka. Mafia itu pasti bersekutu dengan mereka. Mereka yang memburu chip itu dan yang menyusup ke dalam rumahku."


"Jadi, apa yang harus kita lakukan, Pak?" tanya Mulya cemas.


"Adakan pertemuan dengan pihak yang terkait pada kita. Saya tidak mau menanggung semua ini sendirian," kata Haikal.


"Baik, Pak. Akan segera saya lakukan!"


Tiba-tiba pintu ruangan diketuk. Seorang karyawan wanita masuk ke dalam.


"Selamat siang, Pak! Ada seorang Jaksa yang ingin bertemu dengan Anda."


Haikal dan Mulya saling pandang satu sama lain. JAKSA?


"Suruh dia masuk!" kata Haikal kemudian.


Karyawan tadi segera memanggil jaksa yang dikatakannya tadi. Tak berapa lama, seorang wanita muncul di ambang pintu dengan senyuman khas dan lipstik merahnya.


"Selamat siang, Pak Haikal!" sapanya. "Perkenalkan, nama saya adalah Melda Pertiwi. Saya seorang Jaksa."


Haikal menatap tajam wanita itu. Sebuah firasat buruk seketika muncul.


"Ada perlu apa Anda kemari?"


"Saya hanya ingin meminta waktu Anda sebentar, Pak. Bisakah Anda meluangkan sejenak?"


"Maaf, saya sibuk."


Melda kembali tersenyum. "Hanya 10 menit, Pak. Tidak akan lama."


"Apa yang ingin kamu bicarakan pada saya?" Haikal tampak tak berminat.


"Bisakah saya bicara sambil duduk?" Melda mengedikkan kepala pada sofa di tengah ruangan.


Haikal menarik napas jengah, lalu berjalan ke sofa diikuti Mulya. "Baiklah, silakan duduk!"


Melda kemudian melenggang menuju sofa bersama asistennya yang bernama Arif. Setelah duduk, Melda tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, memamerkan deretan giginya yang putih.


"Apa saya tidak disediakan minum, Pak?"


Haikal menatap Melda dengan sebal, lalu menekan tombol satu pada sebuah telepon kabel di meja sudut dekat sofa yang didudukinya.


"Siapkan minuman untuk tamu kita,” perintahnya, lalu berpaling pada Melda. "Ingat hanya 10 menit sesuai katamu tadi."


Melda mengangguk, mengeluarkan sesuatu dari dalam tas jinjing yang dibawa asistennya. Ada lima lembar foto. Wanita itu meletakan foto-foto tersebut di atas meja dan menjejerkannya satu per satu.


Haikal dan Mulya memperhatikan foto-foto itu dalam diam. Melda menunjuk salah satu foto berukuran 4R tersebut pada Haikal.


"Apa Anda mengenali pria ini?"


Haikal mengangkat alisnya, menatap foto yang bergambar ketua mafia senjata yang sangat dikenalinya itu.


"Saya tidak kenal dia. Kenapa Anda bertanya soal ini pada saya?" jawab Haikal ketus.


"Baiklah, kalau Anda tidak mengenalinya. Lalu bagaimana dengan foto-foto yang ini?"


Haikal tercekat saat melihat foto-foto lain yang sedang menunjukan gambar ia dan Mulya di sebuah dermaga berdiri mengobrol bersama Roni, ketua mafia itu. Haikal ingat saat itu ia sedang mengontrol para mafia di dermaga untuk mengeskpor senjata rakitan mereka.


"Apa maksud Anda?" Haikal bersuara ketus.


"Apa bapak benar-benar tidak mengetahui pria di foto itu?" Melda menatap lurus manik mata Haikal. Ada ekspresi dingin terpancar di wajahnya.

__ADS_1


Haikal dan Mulya diam seribu bahasa. Melda kembali tersenyum. Ia senang bisa menyerang Haikal dengan telak. Lalu, ia mengeluarkan selembar foto lagi. Kali ini foto seorang pria paruh baya yang membuat Haikal terbelalak.


"Bapak ingat beliau siapa?"


"Apa maumu, Nona?" Haikal menatap tajam Melda. Jantungnya berdebar saat melihat foto itu. Foto bergambar Setyo, mantan ketua KPK lima tahun lalu.


Melda mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum penuh arti.


***


Shelyn duduk di sisi tempat tidurnya. Ia sedang membereskan barang-barang yang akan dibawanya ke Prancis dua hari lagi. Davin tidak kelihatan sejak kemarin. Ia minta izin pada Shelyn dan papanya bahwa ada urusan yang harus ia persiapkan.


Jujur saja, sejak pulang dari pantai beberapa hari lalu, Davin tampak berubah. Ada keraguan dalam hatinya seolah Davin tidak akan ikut dengannya ke Paris.


Ucapan Bara beberapa malam lalu membuat Shelyn sedikit bingung. Apa maksudnya tentang ia harus hati-hati dengan Davin? Memangnya apa yang membuatnya harus berhati-hati?


Sebuah pesan masuk dari Bara mengagetkannya. Ia dengan segera membukanya.


Bara:


Shel, jam berapa kamu berangkat sabtu besok?


^^^Shelyn:^^^


^^^Jam sebelas pagi, Bar. Emang kenapa?^^^


Bara:


Gak ada apa2, Shel. Kamu take care, ya di sana...


^^^Shelyn:^^^


^^^Bar, boleh aku tanya sesuatu? Soal malam itu, apa maksud kamu aku harus hati-hati sama Davin?^^^


Bara:


Aku gak ada maksud apa-apa kok, Shel. Udah dulu, ya. Aku lg djalan soalnya... Nanti kita sambung lagi...


Shelyn meletakan ponselnya di atas pangkuannya dan tercenung beberapa saat. Kenapa di saat semuanya telah berjalan dengan baik, ia merasa ada sesuatu yang janggal? Sesuatu yang membuatnya merasa ada yang tidak beres.


"Ya, Shel ada apa?"


"Kamu lagi apa, Vin?"


"Oh, saya lagi di jalan, Shel. Apa terjadi sesuatu?"


"Nggak kok. Aku cuma, kangen kamu, Vin." Shelyn mendesah.


Terdengar suara helaan napas di seberang telepon. "Ya, Shel. Saya juga kangen banget sama kamu ...."


"Kamu pasti ikut kan, Vin? Kamu pergi, kan?" Shelyn berusaha meyakinkan dirinya bahwa keraguan di hatinya hanyalah semu belaka.


Davin diam sejenak sebelum menjawab, "Iya, Shel. Kamu tenang aja ... Nanti saya hubungi kamu lagi, ya. Saya lagi di jalan. Kamu beres-beres aja dulu."


"Iya, aku emang lagi beres-beres nih. Ya udah, hati-hati di jalan, Vin. Sampai ketemu di bandara."


"Ya, Shel. Bye!"


Terdengar suara sambungan telepon dimatikan. Shelyn menghela napas panjang. Masih ada yang mengganjal hatinya dan ia teringat soal chip. Benda yang dicari-cari para penjahat itu dan membuatnya diculik oleh mereka. Cepat-cepat, ia berjalan keluar dari kamarnya dan naik ke lantai tiga untuk menemui Mulya.


Saat ia sampai di ruang kerja papanya, terdengar sayup-sayup suara Haikal sedang berteriak di dalam. Ruangan itu tertutup. Shelyn berdiri diam. Alisnya berkerut bingung mendengar nada gusar papanya saat berbicara.


"Jadi, Melda itu anak kandung Setyo? Sialan! Kurang ajar!"


"Maaf, Pak. Saya juga baru mendapatkan informasi ini semalam." Suara Mulya terdengar menjawab.


"Benar-benar kurang ajar! Kita harus cepat bertindak sebelum terlambat!" Haikal kembali berteriak.


"Baik, Pak."


Pintu terbuka. Mulya dan Haikal tersentak melihat Shelyn di ambang pintu sedang berdiri tak bergerak dengan raut kebingungan.


"Ada apa, Nona? Apa Nona perlu sesuatu?" Mulya langsung bertanya. Matanya mengerjap gugup sementara papanya tertegun melihat kemunculan putrinya di sana.

__ADS_1


Shelyn menelan ludah. Ia melirik Haikal sejenak, lalu menatap Mulya. "Pak, boleh kita berbicara sebentar?"


Mulya menoleh pada Haikal di belakangnya. Haikal terlihat mengangguk. "Baiklah, Nona. Apa yang Nona ingin bicarakan?"


Shelyn menggaruk pipinya dengan gelisah. "Bisa bicara di luar, Pak? Ada yang ingin saya tanyakan."


"Baiklah. Mari, Nona." Mulya berjalan lebih dulu menyusuri lorong dan menuruni tangga. Shelyn mengikuti di belakangnya.


"Ada apa, Nona?" tanya Mulya begitu mereka sampai di halaman rumah.


Shelyn menatapnya. "Pak, saya hanya ingin tahu mengenai chip yang dicari penculik itu. Benda apa itu? Pak Mulya pasti mau kasih tahu saya, 'kan?"


Seketika raut wajah Mulya menegang. "Apa yang Nona bicarakan? Saya tidak mengerti."


"Please, Pak. Saya pengen tahu benda apa itu. Saya yakin benda itu yang bikin saya diculik." Shelyn menatapnya gusar.


Mulya menarik napas panjang. "Nona, benda itu bukan apa-apa. Penculik itu penjahat. Mereka ingin menekan papa Nona supaya bisa mendapat keuntungan. Nona tidak perlu cemas."


Shelyn menggigit bibirnya ragu. Wajahnya mengernyit. "Tapi, Pak ...."


"Sebaiknya Nona mulai berkemas. Besok lusa hari keberangkatan Nona ke Paris. Jangan sampai ada barang penting Nona yang ketinggalan. Juga jangan pikirkan hal lain. Fokus pada tujuan Nona saja." Mulya menepuk bahunya pelan. "Semuanya baik-baik saja, Nona. Tidak ada yang perlu Nona khawatirkan."


Shelyn akhirnya mengangguk pasrah. Mungkin kegelisahannya berlebihan. Ia hanya mencemaskan sesuatu hal yang tidak perlu.


"Ya udah. Saya kembali ke kamar dulu."


"Iya, Nona. Kalau ada perlu apa-apa, Nona panggil saya saja." Mulya tersenyum padanya.


Shelyn berjalan pelan menuju kamarnya. Sepanjang perjalanan, ia berusaha membuang semua hal yang mengganggu pikirannya dan berharap kepergiannya ke Prancis akan menyenangkan. Setidaknya ia bisa tinggal bersama Davin di sana.


***


Davin memarkir mobilnya di depan sebuah Cafe yang terletak di pinggir jalan. Ia segera turun dan masuk ke dalam dengan tergesa-gesa. Bara terlihat duduk di salah satu kursi kosong dekat jendela. Cowok itu sedang memandang kendaraan yang berlalu lalang di luar. Tangannya terkepal di atas meja. Seorang pelayan tengah menghidangkan secangkir kopi latte padanya.


"Terima kasih," ucap Bara pada pelayan itu sembari tersenyum.


Pelayan itu menggangguk dan segera berlalu.


Davin langsung duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan Bara. Wajah Bara seketika berubah serius.


"Sori, gue telat," kata Davin.


"It's okay. Cuma telat sepuluh menit. So, apa yang mau lo bicarain sama gue? Shelyn baru aja ngirim pesan tadi. Tapi, tenang aja gue tetep tutup mulut soal lo." Bara menyahut sambil menatapnya dingin.


Davin menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata pelan, "Bar, gue mau minta tolong sama lo. Ini soal Shelyn juga."


"Ya, apa yang bisa gue bantu?"


"Temenin Shelyn ke Prancis besok."


Kedua mata Bara melebar. "Lo serius?"


Davin hanya mengangguk. Sorot matanya terlihat sedih. "Gue nggak bisa biarin dia sendirian di sana. Apalagi kalo dia denger soal papanya nanti. Lo mau nolongin gue, 'kan?"


Bara menggigit rahangnya. Matanya menatap lurus pada Davin. Sebuah senyuman sinis terukir di bibirnya. "Lo yakin minta tolong sama gue? Apa lo bener-bener udah nyerah sama dia?"


Davin mengembuskan napasnya kasar. Seorang pelayan datang menyodorkan menu padanya dan ia langsung mengangkat tangan tanda menolak. Pelayan itu pun segera pergi.


"Seperti kata lo, gue nggak bisa lepasin karir gue. Ada tanggung jawab yang harus gue emban. Dan juga gue harus menangkap Haikal. Dia udah terlalu banyak berbuat jahat. Jadi, tolongin gue untuk bawa Shelyn ke Prancis. Gue nggak mau liat dia sedih karena masalah ini."


Bara mengerucutkan bibirnya, berpikir keras. Ada sedikit rasa kasihan melihat kepedihan di wajah Davin yang terpancar. Pasti berat rasanya melepas sesuatu yang sangat kita cintai.


"Oke. Gue akan bawa Shelyn ke Prancis," putus Bara kemudian.


"Makasih, Bar. Tolong jaga dia untuk gue." Davin menatapnya lekat.


...🌹🌹🌹...


Haloo ada yang kangen sama cerita ini?


sebentar lagi cerita ini end loh...


tinggal beberapa bab lagi...

__ADS_1


maaf, ya saya ga bisa nulis cerita yg terlalu banyak part....


__ADS_2