
Dua jam sebelumnya,
Shelyn berdiri menatap tajam pada Bara yang terlihat gelisah dan salah tingkah. Mereka akhirnya tidak jadi naik pesawat karena gadis itu memilih turun. Padahal 5 menit lagi pesawat akan lepas landas.
"Katakan yang sebenarnya, Bar. Apa maksud kamu soal aku harus hati-hati sama Davin? Siapa Davin sebenernya?"
Bara menahan napas. Merasa tak sanggup karena Shelyn terus mendesaknya. Ia tak bisa berbohong lagi. Apalagi pesawat yang seharusnya mereka naiki sejak tadi sudah berangkat.
"Shel, aku gak bisa bilang apa-apa. Aku udah janji sama Davin untuk jaga rahasianya," kata Bara.
Shelyn menarik tangan Bara dengan tidak sabar. "Rahasia apa itu? Tolong jelasin! Aku gak mau kenal sama kamu lagi kalo kamu gak mau kasih tahu aku yang sebenernya!"
Bara menarik rambutnya dengan kesal. Tidak tahan lagi. Shelyn menatapnya serius. Dengan terbata-bata, akhirnya Bara menjawab.
"Davin adalah seorang agen intelijen. Nama aslinya Davin Marcellio. Dia nyamar jadi bodyguard kamu selama ini untuk menangkap papa kamu, Shel."
"A-apa maksud kamu? Intelijen?!" Kedua bola mata Shelyn seperti akan melompat keluar, tak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya.
Bara mengangguk lemah. "Iya. Maaf cuma itu saja yang bisa aku kasih tahu kamu."
"Tunggu! Kenapa Davin mau nangkep papa? Apa salah papa?" Shelyn kembali mendesak.
Bara menghela napas. "Papa kamu terlibat kasus gelap, Shel. Aku juga gak tahu pasti, tapi itu yang aku denger dan Davin akan menangkapnya."
Seketika tubuh Shelyn gemetar hebat. Bara sampai memegangi bahu gadis itu agar tidak terjatuh.
"Nggak mungkin! Nggak mungkin papa seperti itu!" pekiknya sambil menggelengkan kepala.
Ia pasti salah dengar. Papa bukan orang seperti itu. Mereka cuma ingin menjebak papanya. Ya, papa selama ini banyak musuh. Musuh yang ingin menjatuhkannya.
"Aku nggak bisa ngebiarin ini!" teriak Shelyn berapi-api. Sedetik kemudian, ia berlari sekuat tenaga meninggalkan Bara yang tercengang.
"Shel, tunggu!" Bara berusaha mengejar Shelyn yang sudah menuruni eskalator menuju pintu keluar.
Cowok itu kesulitan berlari kencang karena harus membawa tas ransel dan koper besar Shelyn yang ditinggal begitu saja.
Cepat-cepat, tangannya merogoh saku untuk mencari ponsel. Ia segera menghubungi Davin untuk mengabarkan hal ini, namun Davin sama sekali tidak mengangkatnya.
"DAMN!" rutuknya kesal, lalu melanjutkan larinya untuk mengejar Shelyn.
Saat di pintu keluar, ia melihat gadis itu sudah menaiki taksi di depan. Bara benar-benar putus asa. Entah apa yang akan dilakukan Shelyn melihat papanya ditangkap nanti.
Dalam taksi,
"Pak, cepetan! Ngebut!" Shelyn berkata tidak sabar pada supir taksi. Rasanya taksi yang mereka naiki berjalan sangat lamban. Ia harus cepat sampai. Ia harus menyelamatkan papanya.
Papa. Davin.
Air mata menggenangi pelupuk matanya. Shelyn merasa tidak percaya atas semua yang terjadi.
"Saya cinta kamu, Shel ..."
Memorinya bersama Davin seketika terputar secara otomatis dalam otaknya. Saat-saat yang mereka lalui bersama. Bagaimana Davin menyelamatkannya di situasi yang genting dan masa-masa romantis mereka. Rasanya seperti mimpi.
Davin ternyata cuma menyamar. Davin membohonginya. Davin memanfaatkannya dan perasaan cintanya hanya semu belaka.
Shelyn menutup wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya sesak. Sungguh ia merasa dibodohi. Kenapa ia tidak menyadarinya sejak dulu?
Gadis itu bergegas mencari ponselnya untuk menghubungi Haikal. Ia tidak bisa membiarkan orang-orang menyakiti papanya. Tapi, ponsel Haikal tidak aktif. Lalu, ia mencoba menghubungi Mulya. Tak ada yang menjawab.
Ekor mata Shelyn terbelalak melihat kerumunan demonstrasi yang sedang berlangsung di depan jalan. Keadaan lalu lintas jadi macet total.
__ADS_1
"Neng, kita gak bisa lewat depan soalnya ada yang demo. Kita putar jalan aja ya, Neng." kata sang supir taksi sambil membelokan mobilnya ke jalan lain.
Shelyn tertegun menyaksikan sebuah spanduk bertuliskan:
...Turunkan Menteri Haikal!...
...Turunkan Tikus-Tikus Berdasi!...
Apa itu? Kenapa ada tulisan seperti itu?
Apa yang sudah dilakukan papa sampai semua orang ingin menurunkannya?
Shelyn benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Cepat-cepat tangannya bergerak membuka ponsel dan mencoba membaca berita online.
Nama Haikal jadi topik hangat dan Headline di hampir semua media. Gosip tentang perdagangan senjata ilegal, dana suap dan yang membuat Shelyn semakin tercekat adalah tertuduhnya Haikal sebagai otak pembunuhan berencana Ketua KPK lima tahun lalu.
Ponsel yang dipegangnya meluncur sempurna ke atas pangkuannya. Shelyn merasa lemas tak bertenaga, bahkan untuk menangis pun ia tak punya kekuatan. Yang bisa dia lakukan hanya duduk tak bergerak sambil mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.
Nggak mungkin! Papa nggak mungkin seperti itu! Batinnya sedih. Dia yakin papa tidak akan melakukan semua perbuatan tercela itu.
Kala mobil yang ia naiki masuk ke dalam komplek perumahannya, Shelyn sontak tersadar. Ia pun menyuruh taksi itu berhenti di sini saja. Setelah membayar argo, ia bergegas turun. Rumahnya sudah dekat, berjarak 20 meter dari tempatnya berhenti. Namun sudah ada beberapa wartawan yang terlihat tengah berdiri di sana.
Shelyn berjalan pelan sembari memutar otak untuk masuk ke dalam rumahnya dengan aman. Ia pun berbelok menuju jalan belakang. Ada pohon mangga lebat yang tertanam di belakang rumahnya. Ia bisa memanjat pohon itu untuk masuk melewati pagar tembok rumah karena dahannya tumbuh sangat lebat.
Dengan susah payah, gadis itu menaiki pohon tersebut dan langsung melompat turun ke dalam pagar. Untung saja ia mengenakan celana jins bukan rok atau dress.
Cepat-cepat ia masuk ke dalam rumahnya lewat pintu belakang yang tembus menuju dapur dan ruang makan. Beberapa pelayan yang tengah bersih-bersih terkejut menatapnya. Shelyn refleks meletakan telunjuk di depan bibir agar mereka diam.
Gadis itu berjalan pelan menyusuri dapur. Ketika kakinya hendak melangkah ke atas tangga menuju lantai dua, Shelyn mendengar suara langkah kaki bergema sedang menuruni tangga. Ia pun buru-buru bersembunyi di balik pot besar.
Mulya dan Haikal terlihat tengah membawa setumpuk berkas dan barang-barang dalam kotak kardus menuju sebuah ruangan di pojok lantai satu. Mereka nampak terburu-buru.
Shelyn dengan hati-hati mengikuti mereka di belakang. Niatnya hendak memanggil Haikal, ia urungkan. Haikal dan Mulya berdiri masuk ke dalam ruangan kosong di sana. Shelyn mengintip dari balik pintu yang setengah tertutup karena merasa penasaran.
Shelyn tak berkedip melihat pemandangan luar biasa dihadapannya saat ini. Rumah ini ternyata punya ruangan bawah tanah. Kemana saja ia selama ini sampai tidak mengetahuinya sama sekali?
Shelyn sungguh tak menyangka apa yang baru saja dilihatnya tadi. Benar-benar diluar logikanya. Apa yang disimpan papanya di dalam sana?
Terdengar suara sirene dan mobil-mobil yang masuk ke halaman rumah. Shelyn tersentak, lalu mengintip dari balik tembok untuk melihat siapa orang-orang yang datang menyerbu rumahnya.
Tampak orang-orang berseragam abu-abu hitam bersenjata lengkap. Shelyn menutup mulut menahan rasa terkejutnya. Ia bisa menebak orang-orang yang berbadan tegap dan garang tersebut pasti ingin menangkap papanya. Seketika lutut Shelyn terasa lemas. Jantungnya berdebar tidak karuan.
Haikal dan Mulya terlihat berlari keluar dari ruangan tadi menuju halaman. Shelyn bisa mendengar suara teriakan Haikal pada mereka dari tempatnya berdiri. Ia hampir memekik kala melihat sosok Davin yang keluar dari dalam mobil lantas berdiri tegak.
Jadi benar kata Bara, Davin memang seorang agen intelijen yang menyamar. Rasanya jantung Shelyn mencelos sampai ke perut. Buru-buru ia masuk ke dalam ruang kosong tadi, memencet tombol di dinding. Saat lantainya bergerak terbuka, gadis itu masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia harus mencari sesuatu yang bisa menolong papanya.
Kedua bola mata Shelyn terbelalak saat melihat apa saja yang tersimpan dalam ruangan ini. Ada emas batangan, guci-guci antik, berkas-berkas dokumen dan yang paling mengejutkannya adalah koleksi senjata api yang tersusun rapi dalam rak-rak besi di sisi ruangan.
Mata gadis itu menjelajah ke segala sudut. Terdengar suara teriakan Haikal yang memilukan. Gadis itu buru-buru mengambil sebuah pistol semi otomatis yang berada di dekatnya. Tangannya gemetar waktu memegangi senjata itu. Ia memang belum pernah menggunakan pistol. Namun, ia tak bisa diam saja melihat papanya dikepung pria-pria bersenjata itu, termasuk Davin. Setidaknya, ia bisa sedikit menggertak mereka menggunakan pistol yang dipegangnya pada mereka semua.
Shelyn keluar dari ruangan. Ia semakin merasa tak kuasa menahan kepedihan menyaksikan Haikal sedang bersimpuh di kaki Davin.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI RUMAH INI! LEPASIN PAPAKU SEKARANG!"
Shelyn mengacungkan pistol yang digenggamnya sejak tadi dengan tangan gemetar. Kedua matanya berkaca-kaca melihat papanya sedang bertekuk lutut tak berdaya dikepung oleh segerombolan orang-orang berpakaian abu-abu hitam.
Semua orang yang asing di kepalanya, kecuali pemuda berjas hitam itu. Pemuda yang sedang berdiri di dekat Haikal. Pemuda itu bernama Davin Anggara atau mungkin Davin Marcelio. Entahlah. Yang jelas pemuda itu telah sukses mengelabuinya selama ini.
Tak ada hal yang lebih menyakitkan bagi Shelyn, selain melihat papanya sekarang bersimpuh di hadapan Davin dalam keadaan tak berdaya. Bulir-bulir bening menggenangi pelupuk mata Shelyn, membuat pandangannya berkabut.
"Turunkan senjata kamu sekarang, Nona!" Terdengar suara lantang dari arah sisi kiri Shelyn.
__ADS_1
Shelyn tersentak. Namun, ia tetap bergeming. Tangannya terus mengacungkan pistol yang dipegangnya erat-erat. Gadis itu sudah siap akan menekan pelatuk yang sejak tadi di arahkannya pada Davin.
"Lepasin papaku sekarang juga! Atau aku tembak kalian!" teriak Shelyn penuh amarah dan lantang. Dadanya semakin terasa bergemuruh.
Shelyn melihat Davin menggeleng samar padanya. Gadis itu menggertakkan gigi. Ia benci Davin. Ia benci semua orang yang ada di sini. Mereka semua pembohong.
Saat itu, seorang laki-laki berseragam abu-abu hitam yang tadi berbicara, tampak memberi komando pada anak buahnya untuk menangkap Shelyn, kalau-kalau gadis itu bertindak gegabah. Shelyn menelan ludah. Kini atensi semua orang terpusat padanya.
"Shel, kamu harus tenang. Jangan seperti ini!" Davin bergerak maju mendekati Shelyn. Berusaha membujuk gadis itu agar mau menurunkan senjata.
"Jangan mendekat ke sini! Atau kamu mau aku tembak!" Shelyn malah kembali berteriak mengancam. Tatapan matanya dipenuhi kilatan amarah dan kecewa yang mendalam. Ia tidak peduli apapun. Ia benci dengan apa yang terjadi di hadapannya sekarang.
Davin membeku selama dua detik. Shelyn kelihatan bersungguh-sungguh. Sambil menggertakan rahang, Davin kembali maju selangkah. Sama sekali tak menghiraukan ancaman itu.
DOORRR!
Terdengar suara letusan peluru merobek langit. Shelyn menembak Davin tepat di bagian dada kanan pemuda itu. Shelyn terkejut dan sontak melempar pistolnya ke bawah. Telinganya terasa berdengung sementara air matanya mengalir tak tertahankan melihat pria yang dicintainya tertembak oleh tangannya sendiri.
Davin menekan dadanya yang terasa panas akibat terkena letusan peluru. Semua orang berteriak kaget melihat Shelyn betul-betul menembak Davin. Gadis itu terpekur di tempatnya berdiri. Seketika Lukas memberi kode pada anak buahnya untuk menangkap Shelyn.
Shelyn tersentak dan mengacungkan kembali pistolnya pada semua orang.
"Turunkan senjatamu, Nona!" teriak Lukas berang.
Namun, Shelyn masih tetap bergeming. Hal ini membuat Lukas akhirnya menyuruh anak buahnya untuk melakukan tembakan balasan karena gadis itu sudah melakukan tindakan berbahaya.
Davin yang melihat kode Lukas langsung berlari sekuat tenaga menuju Shelyn dan menghempaskan tubuhnya agar gadis itu tidak terkena tembakan.
DOORR ...
Sebuah peluru berhasil menembus punggung Davin yang saat itu tengah memeluk Shelyn, melindunginya dari serangan peluru. Shelyn memekik kaget ketika sadar bagaimana Davin melindunginya. Air matanya tumpah membasahi pipinya menyaksikan Davin bergelimang darah, lalu merosot lemah dari rangkulannya.
Shelyn berjongkok. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu berteriak kaget dan memanggil nama Davin. Mereka tak ada yang menyangka dengan reaksi nekat Davin menghadang peluru itu demi Shelyn.
Shelyn terduduk di tanah sambil menepuk-nepuk pipi Davin. Tangisnya pecah. Darah segar terus mengucur keluar dari dada dan punggung Davin. Shelyn melihat mata Davin bergerak menatap lurus padanya walau hanya segaris.
"Maaf ..." hanya itu kata yang bisa ditangkap Shelyn dari mulutnya, sebelum akhirnya Davin terkulai tak sadarkan diri.
"DAVINNNN!!!" jerit Shelyn menyayat hati.
Dara, Dimas, Rian dan pak Mathias menghambur ke tempat mereka seketika dengan wajah panik. Dara ikut menangis, sementara Dimas dan Rian tak henti-henti memanggil nama Davin agar cowok itu kembali sadar. Namun, Davin tetap terpejam hingga tak berapa lama terdengar suara ambulans datang. Mereka segera membawa tubuh lemah Davin ke rumah sakit terdekat.
Shelyn terduduk lemas di tanah. Matanya menatap nanar pada mobil Ambulans yang telah bergerak menjauh. Lalu, ia berbalik memandang papanya yang saat itu masih bersimpuh dan diborgol oleh seorang pria berseragam abu-abu hitam. Semua terasa semakin kabur, hingga ia tak sadar telah berada di dalam sebuah mobil dalam keadaan tangan terborgol dan di sebelah papanya yang sedang tertunduk.
Shelyn menatap ke luar jendela, lalu terpekur sejenak memandangi kedua telapak tangannya yang tadi dengan tak sengaja menembak Davin. Pemuda yang dicintainya. Pemuda yang melindunginya dan sekarang sedang terluka parah gara-gara dirinya.
Air mata kembali menggenangi pelupuk mata Shelyn. Ia tak bisa membayangkan jika Davin harus kehilangan nyawa gara-gara dirinya.
"Maafkan papah, Sayang ...."
Suara lirih Haikal membuat Shelyn sontak menoleh. Gadis itu menarik napas dengan susah payah. Sejak tadi dadanya terasa sesak. Ia tidak sanggup berkata-kata. Hanya bisa menangis pilu. Menangisi dirinya, papanya dan Davin.
"Ja ... jadi semua itu benar, Pah?" Shelyn berkata disela-sela isak tangisnya.
"Maafkan papah ... maaf ...." Hanya itu kata yang keluar dari mulut Haikal.
Kata-kata yang cukup membuat hati Shelyn semakin tersayat. Seorang ayah yang dibanggakannya selama ini ternyata adalah seorang penjahat.
Shelyn membuang pandangannya keluar jendela. Semuanya mengabur secara perlahan sampai ia tak tahu harus bagaimana lagi nanti menjalani hidupnya.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1