My Sweet Bodyguard

My Sweet Bodyguard
Kejujuran Hati


__ADS_3


...Sometimes I wonder when you sleep...


...Are you ever dreaming of me?...


...Sometimes when I look into your eyes...


...I pretend you're mine, all the damn time...


...'Cause I like you...


...Is it cool that I said all that?...


...Is it chill that you're in my head?...


...'Cause I know that it's delicate (delicate)...


...Yeah, I want you...


...Is it cool that I said all that...


...Is it too soon to do this yet?...


...'Cause I know that it's delicate (delicate)...


...(Taylor Swift—Delicate)...


Shelyn memasang earphone pada telinganya dan menatap ke luar jendela kelas. Suara merdu Taylor Swift mengalun sendu di pendengarannya. Ia menengadah sedikit menatap dedaunan yang berguguran dari pohon akasia yang tinggi menjulang. Sebagian dahan lebatnya memayungi setengah gedung kampus dari sinar terik matahari.


Shelyn tersenyum kala teringat masa kecilnya yang sangat lincah, tidak bisa diam. Dia suka sekali memanjat pohon jambu di halaman rumah dan selalu berakhir dengan terjatuh. Mamanya pasti akan memarahinya, tetapi Papa justru selalu datang membela. Jika terkenang masa-masa itu, Shelyn selalu merindukan Sang Mama yang telah lama meninggalkan dunia ini.


Di kejauhan, Davin yang duduk di bangku taman tengah memperhatikan Shelyn tak berkedip. Gadis itu terlihat sangat manis dan di saat Shelyn tersenyum, jantung Davin berdesir. Ada sesuatu yang telah lama disadarinya, bahwa ia menyukai gadis itu. Meski Davin sudah berusaha menahan. Namun, gejolak dalam dirinya terus memberontak. Ia tahu walau bagaimanapun, ia tidak akan bisa bersama dengan gadis itu. Setelah tugasnya terpenuhi dan Haikal ditangkap, ia harus menghilang dan menjalani tugas baru.


Itu berarti Shelyn hanya mimpi baginya. Davin harus mengubur cinta itu dalam-dalam atau mereka akan sama-sama terluka.


Shelyn menurunkan kepalanya dan tak sengaja pandangannya membentur pada sosok Davin. Mereka berdua sama-sama terdiam sejenak kala pandangan mata mereka bertemu. Sedetik kemudian, gadis itu tersenyum manis dan Davin refleks ikut tersenyum. Mereka saling bertatapan hingga berapa saat lamanya sampai seorang Dosen masuk ke dalam kelas dan Shelyn mengalihkan atensinya dari Davin.


Davin mengembuskan napas. Teringat ucapan Mikho beberapa hari lalu saat ia menemuinya di pelataran parkir kampus. Cowok itu merasa menyesal telah melakukan hal buruk pada Shelyn. Mikho berkata bahwa Haikal akan terus memburunya jika ia tidak pindah ke luar kota untuk menjauh. Haikal memang sangat menyayangi Shelyn dan Davin merasa itu pantas dilakukan karena Mikho sudah melakukan hal yang kurang ajar.


Ponsel Davin berbunyi. Ada pesan dari Dimas yang mengatakan ia sedang berdiri di depan gedung kampus untuk membicarakan sesuatu. Davin segera berjalan menemui Dimas di sana.


"Ada apa, Dim?" Davin langsung bertanya begitu sampai.


Dimas berdiri menyandar pada sebuah mobil Hatchback berwarna putih. Ia mengenakan kemeja biru kotak-kotak dan jeans lusuh sobek-sobek favoritnya. Ekspresinya sedikit cemas. Sebatang rokok terselip di bibirnya. Ya, Dimas merokok kadang-kadang.


"Vin, gue pengen kasih tahu sesuatu. Soal Plan B. Kita bicara di dalem aja," katanya, lantas masuk ke mobil.


Davin pun mengikuti Dimas masuk ke dalam mobil, kemudian bertanya penasaran. "Soal Plan B? Apa itu?"


"Gue juga kaget saat baru denger. Ini rencana untuk menjebak Haikal supaya bisa dapetin chip itu. Chip yang kita ambil kemarin itu cuma chip biasa. Lo tahu, Pak Lukas marah banget karena kita salah ambil chip."


Davin terperangah. "Jadi, Chip itu bukan yang kita cari?"


"Iya. Makanya sekarang ada rencana kedua. Rencana baru untuk menjebak Haikal." Dimas merendahkan suaranya. "Gue langsung ke sini nemuin lo karena bagi gue ini penting. Rencana kedua ini sedikit ekstrim soalnya."


"Ekstrim kenapa emangnya?"


Dimas mengembuskan napas, lalu membuang puntung rokok yang sudah mengecil ke luar jendela yang sedikit terbuka. "Mereka bakal pake Shelyn untuk menjebak Haikal."


"Maksudnya?" Davin membelalakan mata.


"Mereka kerja sama bareng ketua mafia yang sekarang jadi buronan itu. Gue takutnya dia bakal ngelakuin hal buruk sama Shelyn. Ya, walaupun Bu Melda sama semua atasan kita bilang mereka cuma ingin gertakan, tapi ini penjahat, Man. Dia bisa aja melakukan hal buruk."


Perkataan Dimas membuat Davin terhenyak. "Kok gue gak dikasih tahu apa-apa dari Pak Mathias? Dan Bu Melda itu siapa?"


"Makanya gue ke sini dan pak Mathias juga suruh gue. Sebenernya atasan yang lain bilang nanti aja kasih tahu lo kalo rencana itu udah dilaksanakan. Tapi, gue pikir lo harus tahu secepatnya," jelas Dimas. "Dan Bu Melda itu jaksa. Dia berambisi banget mau nangkap Haikal dengan cara apapun."


Davin mengusap wajahnya dengan cemas. "Kenapa mereka bisa pake taktik kotor gitu sih? Kenapa harus libatin Shelyn?"

__ADS_1


Dimas menatap Davin dengan tatapan bersahabat. Ia tahu pasti Davin tidak menyukai ide ini sama seperti dirinya.


"Sebaiknya, lo cepet cari tahu di mana Haikal nyimpen benda itu. Kalo lo bisa dapetin lebih dulu, Shelyn gak bakal jadi korban," katanya. "Gue sama Dara bisa bantu lo untuk dapetin benda itu."


***


"Apa kata Davin, Dim? Lo udah ngomong sama dia, 'kan?" Dara langsung bertanya ketika Dimas sudah kembali dari pertemuannya bersama Davin.


Ada Pak Mathias di sana. Mereka sedang berada dalam ruangan beliau. Dimas menemui Davin juga atas perintahnya.


Dimas mengempaskan bokongnya pada sebuah kursi kosong dekat meja. Pak Mathias dan Dara menatapnya penasaran.


"Yah, dia bilang akan coba lagi cari chip itu."


Pak Mathias manggut-mangut, lalu duduk kembali di kursinya. Tangannya sibuk membereskan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja. Beliau juga tidak menyukai rencana B ini sebenarnya. Tapi karena situasi sudah terdesak dan semua rekannya setuju, beliau tidak bisa berbuat banyak.


Terdengar suara ketukan di pintu. Dara dengan cepat membukanya. Bu Melda berdiri di ambang pintu dengan senyuman khas dan lipstik merah menyala. Dia melangkah mengitari ruangan menuju arah mereka. Dimas dan Dara memandangi wanita itu tanpa berkedip.


"Bisa kita bicara sebentar, Pak?" tanyanya.


Pak Mathias mengangguk. Ia menggerling pada Dara dan Dimas. Kedua anak buahnya mengangguk paham sementara Melda duduk di hadapan beliau.


Dimas dan Dara segera berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Perut lo gimana? Apa masih sakit?" Dimas bertanya saat mereka menyusuri koridor gedung.


Dara memandangi perutnya yang waktu itu terkena tendangan keras dari ketua mafia beberapa hari lalu.


"Masih memar, tapi udah agak berkurang sakitnya."


"Nih, gue beli tadi di jalan. Olesin ke memar lo biar cepet sembuh." Dimas melemparkan sebuah salep oles pada Dara yang secara refleks menangkapnya.


"Thanks!"


"Lain kali berhati-hatilah kalo lagi bertugas biar lo gak terluka," katanya lagi, lalu berjalan mendahului Dara keluar gedung.


***


Shelyn meletakkan seikat bunga pada sebuah gundukan tanah yang bertuliskan nama Fenita Indah binti Rajasa pada sebuah batu nisan. Gadis itu duduk sambil tersenyum tipis. Air mata mengaliri pipinya kala ia memanggil lirih nama Sang Ibu.


Angin sepoi-sepoi berembus memainkan anak rambut Shelyn yang terurai bebas. Lama gadis itu terdiam tanpa bicara apa-apa. Saat di kampus tadi, ia tiba-tiba teringat ibunya dan meminta Davin menemaninya ke sini sebelum pulang ke rumah.


Davin memperhatikan Shelyn di tempatnya berdiri tak jauh dari makam. Davin jadi ikut teringat kepada kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia sejak ia kecil. Ada rasa rindu yang menyerang hatinya. Sudah lama juga ia tidak mengunjungi makam orang tuanya.


Shelyn menghapus air mata yang membasahi pipinya sejak tadi, lalu bangkit berdiri. Davin segera berjalan menghampirinya.


"Itu makam mamaku, Vin." Shelyn memberitahu kala mereka berjalan beriringan meninggalkan pemakaman. "Hari ini nggak tahu kenapa jadi kangen sama Mamah."


"Saya juga yatim piatu, Nona," ujar Davin, mengerti bagaimana perasaan rindu kepada seseorang yang tak dapat lagi ditemui di dunia ini.


Shelyn mendongak menatap Davin dengan terkejut. "Oh, pasti sulit buat kamu ya, Vin."


Davin cuma tersenyum tipis. "Mereka meninggal saat saya masih kecil."


"Boleh tahu kenapa mereka bisa meninggal, Vin?" tanya Shelyn hati-hati.


"Kecelakaan," jawab Davin singkat. Kepalanya menengadah memandang langit sore yang semakin teduh dan mengeluarkan semburat cahaya jingga di kejauhan.


"Ayo kita pulang, Nona. Sudah sore."


Shelyn mengangguk dan mempercepat langkah menuju mobil mereka yang di parkir di ujung seberang jalan. Tiba-tiba, kakinya tak sengaja menginjak sebuah patahan kayu yang tergeletak di tanah berumput. Davin langsung memegang bahu Shelyn agar tak terjatuh.


"Nona nggak apa-apa?"


Shelyn menggeleng, lalu menunduk menatap hak sepatunya yang patah. "Sepatu aku rusak, Vin. Duh, mana mobilnya masih jauh di sana," keluhnya.


Davin berjongkok dan mengambil sepatu yang dikenakan Shelyn. Hak sepatunya lepas. Davin mencoba memukul-mukul hak sepatu yang lepas tersebut pada sebuah batu besar agar bisa memperbaikinya kembali. Namun, setelah berkali-kali mencoba tetap tidak berhasil. Hak sepatunya tidak mau menyambung lagi.


"Nggak bisa, ya?" Shelyn menatap sepatunya dengan frustasi.

__ADS_1


Davin menggeleng dan bangkit berdiri. "Hak sepatunya nggak bisa nempel lagi, Nona. Mungkin di mobil ada lem atau paku kecil, saya masih bisa perbaiki."


"Udah biarin aja deh. Nanti aku bisa beli yang baru," kata Shelyn. Tangannya bergerak membuka sebelah sepatu yang terpasang di kakinya. Lalu, gadis itu tertawa saat melihat kedua kakinya menginjak tanah berumput tanpa alas sama sekali.


"Yuk, pulang! Udah sore nih nanti keburu malem sampe rumah," ajaknya. Namun, ia melenguh ketika telapak kakinya menginjak sesuatu di tanah. Sebuah batu kerikil yang ujungnya meruncing.


Davin menghentikan langkah, lantas menatap Shelyn yang tengah membersihkan telapak kakinya. Cowok itu pun berjongkok di hadapan Shelyn dan membuat gadis itu tertegun.


"Naik ke punggung saya, biar saya gendong Nona ke mobil."


Shelyn terkesiap dan membelalakan mata. "Nggak pa-pa kok, Vin. Aku bisa jalan sendiri," katanya merasa tidak enak.


"Nggak pa-pa, Nona. Naik saja ke punggung saya. Kaki Nona bakal sakit kalau berjalan gak pake apa-apa.” Davin menunjuk punggungnya dengan santai.


Duuhh! Shelyn langsung merona. Ragu-ragu gadis itu mendekat ke punggung Davin yang terasa hangat dan nyaman. Ia bisa mencium aroma maskulin dari tubuh Davin. Shelyn mengeratkan tangan pada leher Davin ketika cowok itu secara perlahan berdiri dan mulai melangkah.


"Nona lumayan berat, ya," ujar Davin yang membuat Shelyn terperanjat.


"Masa sih, Vin?"


Terdengar tawa renyah dari mulut Davin. "Saya cuma bercanda, Nona."


Shelyn menarik napas lega, tapi ia tak mampu menyembunyikan kegugupannya. Mereka menyusuri jalan berumput yang cukup luas. Angin sepoi-sepoi berembus menyapa mereka. Suasana pemakaman di sore hari ini sangat sepi. Benzy terlihat masih terparkir manis di ujung jalan. Davin segera mempercepat langkah menuju mobil kesayangan Shelyn itu.


"Vin, apa kamu capek?" Shelyn menatap Davin yang agak berkeringat di pelipisnya. "Maaf, ya. Aku selalu ngerepotin kamu."


Davin menyunggingkan senyum. "Nggak apa-apa, Nona. Ini tugas saya. Oh ya, Nona soal kejadian di perpustakaan waktu itu, saya minta maaf."


Mendengar kata perpustakaan, membuat otak Shelyn memutar kembali peristiwa ciuman yang gagal total itu. Ia pun membenamkan wajahnya di punggung Davin karena merasa malu.


"Sudah sampai, Nona," kata Davin, lalu menurunkan Shelyn ke tanah. Ia segera membuka pintu mobil dan gadis itu pun masuk ke dalam.


"Thanks, Vin udah gendong aku tadi," ucap Shelyn ketika Davin masuk ke mobil.


Davin mengangguk sekilas seraya memasang seatbelt. Mobil bergerak perlahan meninggalkan area pemakaman.


"Vin, boleh tanya sesuatu?" Shelyn menatap Davin lekat. Parasnya terlihat sudah semerah tomat.


Davin menoleh memandang gadis itu. "Ya, Nona mau tanya apa?"


Shelyn menarik napas dalam-dalam. Sudah beberapa hari penasaran akan hal ini. "Soal kejadian di perpustakaan. Apa kamu cium aku karena kamu suka sama aku, Vin? Atau ada alasan lain?"


DEG!


Davin tak sengaja menginjak rem dan membuat mobil yang mereka naiki berhenti mendadak. Dihembusnya napas keras-keras, lantas menatap lekat pada kedua mata Shelyn.


"Kenapa Nona tanyakan hal itu?"


"Karena ini penting, Vin. Aku harus kasih jawaban ke Bara. Besok lusa dia mau berangkat ke Amerika."


Davin menggigit rahangnya. Pikirannya berkecamuk. Shelyn menunggu Davin mengatakan sesuatu, tapi Davin masih membisu. Gadis itu pun menunduk. Pandangannya terasa berkabut. Isakan pelan terdengar dari penciumannya.


Davin memandang Shelyn dan terkejut bahwa gadis itu tengah menangis.


"Maaf ...." Shelyn mengusap air matanya, lalu tersenyum kecut. "Aku cengeng, ya? Kamu nggak perlu jawab, Vin. Aku tahu kok sebenernya kamu gak suka sama aku. Aku aja yang rese nanya terus ke kamu. Besok aku bakal kasih jawaban ke Bara. Dia cowok yang baik, mungkin balikan lagi sama dia bukan hal yang buruk."


"Jangan ...." Tiba-tiba terdengar suara lirih Davin.


Shelyn mendongak menatapnya dengan bingung.


"Jangan terima dia," kata Davin lagi.


Shelyn mengernyit. "Kenapa?"


Davin menarik napas. Gelora yang sudah ditahannya sejak lama akhirnya pecah tak terbendung lagi. Ia menarik leher gadis itu mendekat, lalu menciumnya.


...🌹🌹🌹...


__ADS_1


__ADS_2