My Sweet Bodyguard

My Sweet Bodyguard
Tanggung Jawab


__ADS_3


"Pak, ada kabar baik untuk kita," ujar Mulya sambil menatap ponselnya dengan tersenyum.


"Apa itu?" Haikal menoleh padanya.


Dari tadi ia sibuk memandang keluar jendela mobil yang penuh dengan kendaraan padat merayap. Pikirannya menerawang pada Shelyn yang entah bagaimana keadaannya sekarang dan ingin cepat sampai ke tempat para penjahat itu. Ia sudah pasrah jika nanti sesuatu terjadi padanya jika menyerahkan chip itu pada mereka.


"Nona sudah berhasil pergi dari tempat penculik itu, Pak. Davin yang menyelamatkannya."


Haikal melebarkan kedua matanya mendengar perkataan Mulya. "Apa kamu serius? Dari mana kamu dapat kabar itu?"


"Tadi Davin yang mengatakan bahwa ia sudah menyelamatkan Nona Shelyn dari para penculik itu." Mulya menunjukkan ponselnya yang berisi pesan singkat dari Davin pada Haikal.


Haikal mengembuskan napas lega, tubuhnya menyandar ke jok mobil. Ketegangan yang dirasakan langsung lenyap seketika.


"Jadi, kita pulang saja, Pak?"


Haikal mengangguk. "Yah, kita tunggu mereka di rumah." Sebuah senyuman cerah terukir dibibirnya. Ia tak henti-henti mengucap syukur atas keselamatan putrinya. Hatinya pun berjanji untuk memberikan imbalan besar pada Davin yang dengan sigap telah berhasil menyelamatkan Shelyn, juga menyelamatkan chip-nya.


Mulya memutar mobil untuk menuju kembali ke rumah. Haikal kemudian memandang ke arahnya.


"Cari tahu siapa dalang dibalik semua ini. Saya yakin ketua mafia brengsek itu tidak bertindak sendirian. Apalagi dengan berani dia meminta chip itu,” dengus Haikal yang disambut anggukan Mulya.


***


Selama perjalanan pulang, Shelyn menangis di dalam mobil. Rasa takut dan trauma masih membayangi gadis itu. Seluruh tubuhnya bagai remuk redam. Entah apa yang terjadi jika Davin tidak cepat menyelamatkannya.


Davin merapatkan rahang menatap kondisi Shelyn yang nampak kacau. Matanya sembab karena terus menangis, bibirnya kering, kedua pipi gadis itu membengkak seperti habis terkena pukulan dan bajunya sobek di bagian bahu. Rambut Shelyn pun kusut masai. Ia benar-benar marah pada mereka yang telah membuat rencana buruk seperti ini.


Davin menghentikan mobil ke sebuah rumah makan yang mereka lewati di pinggir jalan. Ia menyuruh Shelyn untuk tetap di mobil menunggunya. Gadis itu menurut tanpa banyak bicara. Tak berapa lama, Davin datang membawa sekotak nasi dan sebotol air mineral untuk gadis itu.


"Makan, ya. Kamu pasti lapar belum makan apa-apa," katanya saat masuk ke mobil.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar, Shelyn meraih nasi kotak tersebut dan memakannya dengan lahap, hingga beberapa butir nasi jatuh di atas bajunya yang kotor. Davin mengamati Shelyn dengan perasaan sedih dan menyesal. Jika saja ia sudah lebih dulu menemukan chip memory itu, mungkin Shelyn tidak perlu menderita seperti ini.


"Maafin saya, Shel. Seandainya saya bisa lebih cepat menjemput kamu." Davin meremas stir kemudi di hadapannya dengan geram.


Shelyn menoleh dan tertunduk. "Kamu nggak salah kok, Vin," katanya lirih. "Semua penculikan ini kayaknya udah direncanain. Aku nggak ngerti. Tapi mereka nyebut-nyebut chip yang dijadiin sebagai tebusan aku. Chip apa sih? Apa kamu tahu benda apa itu?"


Davin menelan ludah. Ia tidak bisa menjelaskan tentang benda itu pada Shelyn. Jika dia melakukan itu sama saja membongkar identitasnya dan perbuatan Haikal.


"Chip? Saya nggak tahu, Shel."


Shelyn menarik napas, kembali melanjutkan makan nasi kotaknya yang tersisa sedikit. Ada kecurigaan yang menyelubungi hatinya. Entah apa itu, ia harus mencari tahu.


"Thanks, Vin udah nolongin aku," ucapnya tulus.


Davin mengangguk, lalu mengusap kepala Shelyn dengan lembut. Matanya terus tertuju pada pipi gadis itu. "Apa mereka mukul kamu?"


Shelyn meraba pipinya yang masih terasa perih. Ia terkena dua kali pukulan keras di kedua pipinya. Gadis itu cepat-cepat mengalihkan wajah. Ia tidak mau Davin semakin mengkhawatirkannya.


"Mungkin ini maksud papah untuk ngirim aku keluar negeri secepatnya." Shelyn berkata sendu.


"Seandainya kamu bisa pergi, Vin. Aku nggak tahu gimana kalo nggak ada kamu ...." Shelyn terus memandang ke jendela. Matanya terasa panas. Ia tidak ingin Davin melihat kecengengannya lagi.


Terasa sebuah tangan hangat menggenggam jari-jemarinya dengan lembut. Shelyn menoleh. Davin tengah menatapnya penuh sayang. Cowok itu kemudian menjalankan mobil tanpa melepaskan pegangan tangannya pada Shelyn.


Mereka tak bicara banyak selama sisa perjalanan pulang. Shelyn tampak tertidur pulas di kursinya. Wajahnya masih terlihat pucat.


Ponsel Davin berdering. Ada pesan dari Dimas yang mengatakan bahwa Pak Lukas menyuruhnya datang menemui beliau. Davin mengembuskan napas keras-keras. Ia sudah tahu pasti akan terkena tindak pendisiplinan atau mungkin disuruh mengundurkan diri, paling parah mungkin ia akan dipecat dengan tidak hormat.


Davin mengamati Shelyn yang masih terlelap. Mereka sudah sampai di rumah. Cowok itu pun bergegas turun dari mobil, lalu menggendong Shelyn dengan hati-hati ke dalam rumah.


Mulya terkejut dengan kedatangan mereka. Ia segera naik ke lantai tiga guna memberitahu pada Haikal yang berada di ruang kerjanya bahwa Shelyn telah pulang dengan selamat.


Dua orang pelayan mengikuti Davin di belakang menuju kamar Shelyn di lantai dua.

__ADS_1


Salah seorang di antaranya membuka pintu, lalu Davin segera merebahkan gadis itu di tempat tidur. Shelyn tampak menggeliat sebentar kala Davin menyelimutinya dengan selimut tipis. Lama Davin memperhatikannya sebelum berjalan keluar meninggalkan kamar.


"Pak Haikal ingin bicara sama kamu. Silakan ke ruang kerjanya sekarang." Mulya yang sudah menunggu sejak tadi langsung berkata saat Davin sampai di ambang pintu.


Cowok itu mengikuti Mulya menaiki tangga ke lantai tiga. Ia membukakan pintu begitu sampai di depan ruang kerja Haikal.


"Masuklah!" Suara berat Haikal terdengar.


Davin langsung melangkah masuk ke dalam dan berdiri di hadapan Haikal yang tengah duduk di meja kerjanya. Air mukanya terlihat kelam dan berkerut. Banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran Menteri itu.


"Bagaimana keadaan Shelyn? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya cemas.


"Tidak terlihat baik, Pak. Nona sepertinya masih shock. Selama perjalanan pulang dia tertidur di mobil. Dia sudah makan. Pipinya juga bengkak terkena pukulan," jelas Davin panjang lebar.


Haikal menggeram di kursi putarnya sambil mengepalkan tangan. "Brengsek!" umpatnya. Wajahnya semakin kelam menahan amarah. Setelah itu, ia mendongak menatap Davin. "Terima kasih sudah membantu saya menyelamatkan Shelyn. Kalau tidak ada kamu, entah bagaimana nasib dia dan juga nasib saya."


Davin mengangguk pelan. "Itu sudah tugas saya, Pak."


Helaan napas berat terdengar dari indera penciuman Haikal. Pria itu mengusap wajahnya. "Ini tidak bisa dibiarkan. Shelyn harus segera pergi dari sini. Saya tidak mau dia jadi korban. Saya harus percepat kepergiannya."


Mendengar hal itu, tubuh Davin menegang. "Ta-tapi, Pak ...." Ia menelan ludah. Suaranya seperti tertelan di kerongkongannya sendiri.


"Ini demi kebaikan dia. Saya tidak merasa aman jika dia masih berada di sini," gumam Haikal benar-benar gusar.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Haikal langsung mengangkat telepon itu. "Halo? ... iyaa. Apa para penjahat itu sudah ketemu? ... cepat cari mereka!! Jangan biarkan mereka lolos! Bawa kesini jika sudah tertangkap, biar saya yang membunuh mereka dengan tangan saya sendiri!"


KLIK!


Panggilan terputus. Davin terbelalak mendengarnya. Sorot bengis terpancar di kedua mata Haikal. Kemarahan dan kebencian telah menguasai dirinya.


"Pergilah. Nanti kita bicara lagi," katanya datar, tangannya memberi kode pada Mulya untuk masuk.


Davin segera keluar dari ruangan itu. Perasaannya campur aduk. Mengingat Shelyn semakin cepat akan pergi meninggalkannya, ia bingung harus bagaimana. Dengan langkah gontai, ia berjalan turun ke lantai satu untuk pergi ke markas menemui Pak Lukas. Pemuda itu harus bersiap dengan segala yang akan terjadi di depannya.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


__ADS_2