My Sweet Bodyguard

My Sweet Bodyguard
Plan B (2)


__ADS_3


Shelyn memejamkan mata. Jantungnya bergemuruh hebat. Bisa dirasakan napas hangat Davin yang semakin mendekat pada wajahnya. Satu detik sebelumnya, Shelyn masih sempat berpikir untuk mengelak. Namun, hasrat dalam tubuhnya seketika menahannya agar pasrah menerima ciuman Davin. Betapa ia sejak tadi sudah mendambakannya.


Bibir mereka nyaris bersentuhan ketika terdengar suara Poppy dan Rara berseru memanggil Shelyn. Keduanya tersentak dan sama-sama memalingkan wajah. Shelyn merutuk habis-habisan kehadiran dua sahabatnya yang datang pada momen tidak tepat.


"Shel!" panggil Poppy dengan langkah cepat menghampiri gadis itu.


"Apaan sih?" Shelyn menjawab jutek. Kesal karena adegan romantisnya jadi tertunda. Davin yang duduk di sebelahnya pura-pura menulis sesuatu.


"Lo lagi ngapain sih?" Poppy menatap Shelyn dan Davin bergantian dengan ekspresi ingin tahu.


"Nggak liat lagi ngerjain tugas?" Shelyn masih ketus.


"Oh, Davin juga bantuin lo ngerjain?"


Davin tersenyum pada Poppy, lalu mengangguk singkat. Ia menyenggol Shelyn untuk menyalin rumus yang baru saja dipecahkannya. Shelyn meraih pulpen yang sempat terjatuh tadi dan buru-buru menulis.


"Wah, hebat ya! Lo emang bodyguard yang multitasking banget, Vin—kayak smartphone mahal,” puji Rara yang berdiri di belakang Poppy.


"Terus tugas kalian udah selesai?" tanya Shelyn, matanya masih terfokus pada rumus-rumus soal yang dipecahkan Davin.


"Gue udah," jawab Rara.


"Gue belom. Masih sedikit lagi." Poppy menimpali.


"Terus kalian ke sini mau apa? Gue kirain mau bikin tugas bareng.”


"Awalnya sih iya. Tapi ada yang lebih penting," kata Poppy dramatis.


Shelyn menghentikan kegiatannya menulis, lantas menatap Poppy penasaran. "Apaan?"


"Lo tau nggak, tadi gue ketemu Mikho. Dia mau pindah ke luar kota katanya."


Shelyn terperanjat kaget, lalu berpaling pada Davin yang sama terkejutnya.


"Serius lo?"


"Iya. Dan tadi sih Mikho nyuruh kita nyampein pesan ke elo kalo dia mau ngomong sama lo. Katanya sih mau minta maaf, Shel." Rara menambahkan.


Shelyn terdiam. Sudah beberapa minggu sejak peristiwa naas itu terjadi, ia tidak pernah bertemu lagi dengan Mikho. Rasa benci dan jijik seketika menjalari punggungnya. Ia bergidik tiap kali teringat kala Mikho menggerayangi tubuhnya sambil berkata tidak sopan.


"Gue nggak mau ketemu dia. Gue benci!" tandas Shelyn tiba-tiba.


Rara dan Poppy saling pandang. "Tapi, Shel ...," gumam Poppy pelan.


"Gue nggak mau!"


Shelyn tahu Mikho melakukan ini karena sudah mendapatkan hukuman dari papanya dan Shelyn masih belum bisa memaafkan atas apa yang terjadi. Untuk melihat wajah cowok itu, Shelyn merasa muak.


"Gue ke kelas dulu," katanya seraya membereskan buku-buku ke dalam tas. Gadis itu segera berlalu tanpa bicara apa-apa lagi.


Rara dan Poppy menghela napas dan memandang Davin yang ikut bangkit berdiri.


"Di mana cowok itu sekarang?" tanya Davin pada kedua gadis itu.


"Di lapangan parkir. Dia masih nungguin Shelyn di sana," beritahu Rara


"Oke. Biar saya aja yang temui dia."


***


Haikal memadamkan TV dengan kesal kala menyaksikan berita heboh beberapa hari ini soal penangkapan komplotan mafia senjata. Remote control yang dipegangnya, ia banting ke atas meja. Sungguh hal yang di luar dugaan, komplotan mafia itu bisa terendus oleh para penegak hukum. Belum lagi masalah proyek Real Estate yang sedang tahap uji coba pengembangan mengalami kendala dari demo yang dilakukan para masyarakat sipil. Mereka tidak terima dengan rencana penggusuran dan berbagai macam alasan yang merugikan mereka.


Haikal mengusap wajah dengan gusar. Ponselnya berkali-kali berdering. Haikal tidak menjawab satu pun dari panggilan tersebut. Ia tahu bukan hanya dia saja yang sedang pusing dalam masalah ini, tapi pihak yang terkait dengan dirinya pun sedang merasa cemas dan juga was-was.


Saat rapat Dewan di Kementrian tadi pagi, ada beberapa pihak oposisi yang menyinggung masalah ini. Mereka sudah berencana menyerang Haikal jika terbukti melakukan kesalahan. Namun Haikal beruntung, masih banyak pihak koalisi di sisinya yang akan selalu mendukung.

__ADS_1


Pintu terbuka, Mulya datang memberitahu untuk segera bersiap berangkat. Mereka masih berada di gedung Kementrian. Rencananya mereka akan menemui pengacara dan Hakim Agung yang selama ini berada di pihak mereka. Haikal berharap ia bisa mengatasi semua tuduhan dan membersihkan namanya dalam kasus gelap yang dilakukannya.


Haikal dan Mulya melangkah menuju tempat parkir yang berada di basement gedung. Saat ia masuk ke mobil, seorang pria memakai kemeja dan jeans lusuh ikut menerobos masuk. Haikal mendelik kala mengenali siapa orang asing tersebut.


"Kenapa kamu kemari?" Haikal mendengkus, kehadiran pria itu seketika merusak suasana hatinya.


"Tentunya Bapak tahu kenapa saya menemui Bapak. Beberapa hari yang lalu, markas saya dan anak buah saya digrebek polisi. Sekarang mereka ditangkap dan saya buronan,” kata pria brewokan itu dengan suara sengau.


"Maaf, kerja sama kita hanya sebatas saya memudahkan Anda untuk mengeskpor senjata-senjata itu, 'kan? Sesuai perjanjian kita bahwa saya tidak ingin nama saya disangkutpautkan jika terjadi sesuatu." Haikal menekankan.


Pria brewokan itu adalah Roni, si ketua mafia senjata yang sedang dicari polisi saat ini. Ketika penggerebekan beberapa malam lalu, Roni berhasil melarikan diri dan bersembunyi. Hari ini ia terpaksa mendatangi Haikal untuk meminta pertolongan.


"Saya hanya ingin meminta bapak untuk membuatkan saya paspor dan identitas palsu. Saya ingin melarikan diri keluar negeri."


Haikal mendelik. "Kenapa saya harus melakukan itu?"


Roni menyeringai. Kedua bola matanya menajam pada Haikal. "Setidaknya Anda harus mengingat bagaimana kerja sama kita kemarin. Dan saya tahu di mana chip itu berada ...."


Mendengar kata chip disebut, Haikal merasa emosinya naik. Kedua tangannya serta merta menarik kerah baju Roni sambil berkata tajam, "Diamlah! Atau kamu akan menyesal!"


Pria itu terkekeh seakan tidak takut dengan ancaman Haikal yang nampak serius. Ia hanya asal bicara mengenai chip itu dan ternyata sukses memancing perhatian Sang Menteri.


"Jika bapak tidak ingin hubungan kita memburuk, setidaknya bapak berikan saya jaminan atas hidup saya. Saya hanya ingin identitas palsu dan melarikan diri dari negeri ini," kata Roni, jari-jari kotornya memainkan dasi panjang Haikal seraya tersenyum. "Sesuatu yang mudah bagi anda, bukan?"


Haikal mendengkus, lalu tertawa geli. Ia menepis tangan pria itu dari tubuhnya dan menatap Mulya.


"Telepon polisi segera. Bilang padanya bahwa kita menemukan buronan yang mereka cari!"


Roni tertawa dengan nada sumbang. "Sungguh bapak ingin hubungan kita memburuk."


"Keluarlah! Atau saya lapor polisi!" Haikal mengancam. "Saya tidak punya banyak waktu meladenimu."


Mulya mengeluarkan ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang. Roni tersenyum sinis.


"Tidak apa-apa jika saya ditangkap, saya pastikan Anda akan ikut mendekam dalam penjara!"


Roni menatap lurus padanya. Seringai lebar menghiasi wajah sangarnya. "Tidak, tapi selama saya memiliki chip itu Anda tidak akan setenang ini."


"Kamu tidak tahu di mana benda itu berada. Kamu kira saya bodoh dengan ancaman licikmu itu!"


Roni mengangkat kedua alisnya. "Tentu saja saya tahu di mana benda kecil itu berada. Jadi besok kita berjumpa lagi. Jangan lupa bawa identitas palsu yang saya minta."


Sebelum pergi, pria itu menepuk bahu Haikal sembari mengulas senyum licik. Haikal balas melotot garang, lalu menyuruh Mulya segera meninggalkan tempat itu.


"Bunuh pria itu! Jangan ada jejak. Buat seolah-olah dia bunuh diri," perintahnya dengan nada geram yang disambut anggukan kepala oleh Mulya.


Mobil sedan hitam melesat pergi meninggalkan Roni yang kini berjalan cepat menuju pintu keluar sambil membetulkan rambut ikal gondrongnya yang awut-awutan.


Dimas dan Dara sedari tadi bersembunyi di balik sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari tempat Haikal memarkir mobilnya. Kedua agen itu diperintahkan untuk memata-matai Haikal karena seperti apa yang mereka duga, ketua mafia itu akan mendatangi Haikal untuk meminta bantuan.


Dimas langsung keluar dari persembunyiannya ketika jarak Roni sudah semakin dekat. Pemuda itu langsung menendang punggung sang mafia hingga tersungkur. Dara dengan cepat menahan Roni agar tidak kabur.


"SIAPA KALIAN!" teriak Roni kaget sekaligus marah karena mendapat serangan tidak terduga.


"Diam! Ikut kami sekarang!" bentak Dara sambil menarik tangan Roni untuk berdiri.


"Ada urusan apa kalian!" Roni meronta dan berhasil melepaskan diri. Satu tendangan mendarat ke perut Dara yang membuat gadis itu terjatuh sambil terbatuk.


Dimas langsung melompat mengejar agar pria itu tidak melarikan diri. Langkah Roni tertahan ketika sebuah mobil Van hitam berhenti tepat di depannya. Seorang wanita berlipstik merah menyala serta dua orang pria keluar dari dalam.


"Halo, Pak!" sapa si wanita yang merupakan jaksa bernama Melda. Senyum tipis mencuat di bibirnya.


"Siapa kalian?" Roni mendelik dengan napas terengah-engah.


"Kita berbincang di dalam saja." Dengan sebuah gerlingan mata, Melda menyuruh Dimas membawa pria itu masuk ke dalam mobil.


"Siapa kalian? Mau apa kalian!" Roni terus berteriak. Ada rasa was-was kala menatap orang-orang asing dalam mobil yang ia naiki.

__ADS_1


"Tenang saja, kami hanya ingin memberikan penawaran yang menarik untuk Anda," kata Melda santai.


Roni menatap tajam pada Melda, lalu berpaling ke orang-orang di sekelilingnya. "Apa maksudnya?"


"Perkenalkan saya adalah Melda, seorang jaksa. Saya sedang mendalami kasus Anda yang terlibat dalam perdagangan senjata ilegal."


Seketika tubuh pria itu melemas. Tak disangka dengan semudah itu seorang jaksa bisa menangkapnya.


"Jadi anda adalah jaksa?" Wajah Roni memucat.


"Tenang saja. Saya akan memberikan penawaran untuk Anda jika Anda bersedia membantu kami.”


"Apa maksudnya?"


Melda melirik Lukas dan Mathias yang duduk mengapit pria itu. Lukas langsung melanjutkan, "Kami ingin bekerja sama denganmu untuk menjebak Haikal. Anda pasti tahu tentang chip yang dimiliki Pak Menteri itu, kami membutuhkannya."


"Saya pernah mendengar benda itu, tapi tidak tahu keberadaannya. Tadi saya hanya sekedar mengancam beliau saja."


"Kenapa kamu mengancam Haikal?" tanya Melda ingin tahu.


Roni mengendikan bahu. "Saya cuma ingin minta dibuatkan identitas palsu agar saya bisa melarikan diri ke luar negeri. Cuma itu saja," katanya jujur.


Melda berdehem. "Lantas, apa Haikal mau membantumu?"


Pria itu menggeleng. "Kelihatannya tidak. Karena beliau bersikeras tidak mau terlibat lagi dengan saya."


"Kalau begitu, bisakah kamu membantu kami untuk mendapatkan chip itu?"


Kedua pupil mata Roni sontak membesar. "Saya ... tidak bisa ... benda itu, saya nggak tahu di mana."


"Kamu cukup ikuti skenario kami.” Melda menatapnya berapi-api.


Ada sebuah pikiran licik yang terlintas di otak mafia itu. "Jika saya membantu kalian, apa saya akan dibebaskan? Saya rasa ini cuma jebakan kalian untuk saya."


"Kami tidak ingin buang-buang waktu untuk bedebah sepertimu!" sentak Lukas geram. "Ikuti saja apa yang kami perintahkan atau kamu memilih hukuman mati?"


Pria itu membeku di tempatnya. Dia tahu memiliki senjata api ilegal apalagi memperjualbelikan bisa terkena hukuman berat.


"Jadi, apa mau kalian?"


Mathias mengeluarkan sebuah foto seorang gadis cantik. Roni membelalakkan matanya. Dia mengenali gadis itu sebagai putri Haikal.


"Kamu pasti mengenal siapa gadis di foto ini?" Mathias memandangnya.


Dimas dan Dara yang duduk di depan seketika menoleh ke belakang. Mereka berdua terkejut melihat foto Shelyn.


"Apa yang ingin kalian lakukan pada gadis itu? Tak disangka kalian menggunakan cara kotor," ejek Roni sambil terkikik.


Lukas langsung menggeplak kepala Roni dan membuat pria itu menyeringai.


"Haikal sangat menyayangi putrinya. Kita hanya bermain-main sedikit. Seperti kata pepatah, membuang sesuatu yang kecil untuk sebuah umpan yang besar." Melda menjelaskan.


"Jadi, apa yang kalian ingin saya lakukan pada gadis itu? Dan apa yang saya dapatkan jika saya melakukannya? Ini sangat beresiko."


"Saya bisa mengurangi masa tahanan Anda sebanyak 5 tahun dari tuntutan dan kamu akan terbebas dari hukuman mati. Mungkin itu adalah tawaran yang impas.”


Roni membuka mulutnya seolah berpikir sesuatu. "Bagaimana dengan 10 tahun?"


Melda tertawa pelan. "10 tahun terlalu banyak untuk bedebah sepertimu. Tapi akan saya pertimbangkan jika kamu berkelakuan baik. Jadi, lakukan sesuatu pada gadis itu sampai Haikal menyerahkan chip-nya. Ingat jangan kelewat batas. Ini hanya sekedar gertakan.”


Dimas membulatkan matanya seraya menatap Dara dengan ngeri. Mereka akan melakukan sesuatu pada Shelyn.


...🌹🌹🌹...



Jangan lupa terus dukung cerita ini, yaa...

__ADS_1


Terima kasih ❤


__ADS_2