My Sweet Bodyguard

My Sweet Bodyguard
Hard Decision


__ADS_3


Shelyn menggenggam kedua tangan Rara dan Poppy sambil berlinangan air mata. Entah kenapa ia jadi gampang mewek belakangan ini, apalagi menyangkut soal kepergiaannya ke Prancis. Padahal ini adalah impiannya untuk sekolah di sana. Di negara kesukaannya itu.


"Jadi, lo harus pergi sabtu ini? Kenapa mendadak banget sih, Shel? Katanya tahun depan lo baru pergi ke sana?" Poppy mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Ia juga merasakan kesedihan akan berpisah dengan sahabatnya itu.


"Iya, Shel. Kenapa mendadak banget? Kita berdua bakalan sedih gak ada lo di sini." Rara terisak.


Shelyn menggeleng pilu. "Gue juga gak tahu. Papa bilang gue harus berangkat demi keselamatan gue. Gue juga sedih ninggalin kalian."


"Jaga diri lo baik-baik, ya. Apa Davin ikut?" tanya Rara menyeka air matanya dengan tisu yang selalu tersedia dalam tasnya.


Shelyn mengangguk. Sebuah senyuman cerah terukir di bibirnya. "Iya, Papa udah ngasih izin Davin ikut ke sana."


"Wah, seru juga lo. Enak dong bisa honeymoon sama Davin di sana!" seru Poppy sambil tertawa.


"Apaan sih," Shelyn menepuk pelan bahu Poppy sambil tersipu, lalu mereka bertiga tergelak.


Davin yang memperhatikan ketiga gadis itu dari dalam mobil menghela napas. Sejak tadi tangannya menggenggam kotak beludru berisi chip dengan erat. Ia benar-benar dilema. Soal chip itu, ia belum memberi tahu siapa pun. Bahkan juga pada Dimas. Jika ia memberi tahu pada pak Mathias atau pak Lukas, mereka pasti sudah melakukan penangkapan Haikal sekarang juga dan tugasnya pun selesai. Ia akan dapat bonus dan nilai bagus dalam karirnya.


Masalahnya, Davin tidak sanggup melukai Shelyn dan melepasnya. Ia masih ingin bersama gadis itu. Shelyn pasti akan membencinya jika tahu dirinya yang sebenarnya. Dan jujur saja, ia tergiur dengan tawaran Haikal untuk tinggal bersama Shelyn di Prancis. Tapi apakah itu adalah jalan yang benar? Apakah ia harus membantu Haikal untuk menyembunyikan kebusukannya?


Davin benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Teringat bagaimana Melda menasehatinya bahwa ia harus bijak memilih dan Bara yang mengatakan bahwa apa pun yang dipilih Davin, Shelyn tetap yang terluka.


Pintu mobil terbuka. Shelyn masuk ke dalam dengan wajah sembab. Hari ini ia memang ke kampus untuk mengurus berkas-berkas kepindahannya dan mengambil buku-bukunya yang masih tertinggal, sekaligus berpamitan pada teman-temannya.


"Mau jalan-jalan?" Davin menatap Shelyn sambil tersenyum tipis.


"Ke mana?"


"Ke mana aja yang kamu mau. Kita nge-date. Kayak pasangan-pasangan lain."


Shelyn tersenyum senang.


"Hayuuu..."


***


Davin dan Shelyn berjalan menyusuri Kota Tua sambil berpegangan tangan erat. Sesekali mereka berfoto selfie di beberapa spot foto yang menarik dan juga bersama seniman jalanan yang memakai kostum unik.


Shelyn cepat-cepat mengamit lengan Davin kala seorang perempuan yang berpakaian noni Belanda mengedipkan mata pada Davin saat mereka sedang berfoto.


Suasana siang menjelang sore hari ini cukup terik dan agak ramai. Mereka berdua menyewa sepeda ontel dan dua buah topi, lalu berkeliling dengan gembira. Setelah itu, mereka duduk di sebuah kursi kosong sambil makan es krim dan ber-selfie lagi.


"Mau diramal?" Davin bertanya pada Shelyn yang sedang memperhatikan seorang bapak-bapak duduk mengampar tengah meramal seorang remaja perempuan.


Shelyn tersenyum dan menggeleng. "Aku gak percaya sama yang begituan."


Davin manggut-manggut, tatapannya beralih pada sekumpulan musisi jalanan yang sedang bernyanyi menghibur para pengunjung tak jauh dari tempat mereka duduk. Banyak bule yang mengabadikan mereka dalam ponsel masing-masing. Shelyn pun ikut menonton aksi musisi jalanan itu sambil bertepuk tangan. Salah seorang diantara musisi itu melihat ke arah Shelyn dan mengajak rekannya yang lain bernyanyi menghampiri gadis itu.


Shelyn tertawa saat mereka menyanyikan lagu Cantik milik Kahitna padanya.


Cantik


Ingin rasa hati berbisik


Untuk melepas keresahan


Dirimu


O..o..Cantik...


Bukan kuingin mengganggumu

__ADS_1


Tapi apa arti merindu


Selalu,...


Ooo...


Walau mentari terbit di utara


Hatiku hanya untukmu...


Shelyn tertawa saat sang vokalis menyanyikannya dengan gaya sok dramatis di depannya. Gadis itu bertepuk tangan, lalu memberi uang lembaran 100 ribu pada mereka. Semua musisi itu mengucapkan terima kasih sambil mengangguk dan tersenyum lebar.


Davin menggandeng tangan Shelyn saat gadis itu berdiri tersenyum menatap ke arah para musisi tadi.


"Jangan suka senyum gitu sama cowok," katanya mengingatkan sembari cemberut.


Shelyn menoleh dan mengerutkan alis. "Kenapa?"


"Pokoknya gak boleh."


"Iya. Tapi emang kenapa kok gak boleh senyum?" Shelyn garuk-garuk kepala bingung.


Davin menarik hidungnya lembut. "Karena senyum kamu bahaya bisa bikin cowok suka sama kamu. Jadi gak boleh, ya. Kamu boleh senyum kayak tadi cuma sama aku aja."


Shelyn tersenyum simpul. Pipinya bersemu merah mendengar ucapan Davin. "Kamu bisa ngerayu juga ternyata, Vin."


Dengan gerakan manja, ia memukul pelan bahu Davin menggunakan kedua tangan. Davin ikut tertawa, lalu mereka berjalan menyusuri tempat wisata itu menuju pintu keluar.


"Mau ke pantai?" tanya Davin.


"Boleh. Aku udah lama gak liat laut." Shelyn mengangguk antusias.


***


Setelah puas bermain air, Davin dan Shelyn duduk di tepi pantai. Davin menerawang memandang langit kemerahan. Matahari sudah bersiap untuk tenggelam ke singgasananya. Shelyn menatap Davin sekilas. Jari-jarinya sibuk menuliskan huruf-huruf di atas pasir bertuliskan:


...Davin ❤ Shelyn....


Gadis itu tersenyum setelah berhasil menulis kata tersebut yang membuat Davin tertawa. Kemudian, ia duduk di samping cowok itu sambil memandang deburan ombak.


"Aku udah gak sabar pengen cepet ke Prancis,” katanya riang.


Hati Davin berdesir mendengar kata Prancis. Melihat antuasiasme yang tersirat di wajah Shelyn semakin dirinya tersiksa dalam dilema yang mendera.


"Aku kangen aroma roti yang baru keluar dari oven setiap pagi, jalan-jalan naik perahu ke Sungai Seine, terus menyusuri jalanan Champ Elysees dan ngeliat lampu-lampu yang berkelap-kelip di Menara Eiffel. Pasti menyenangkan banget. Apalagi ada kamu, Vin."


Davin menahan nafas. Hatinya semakin terasa tidak karuan. Ia tak sanggup membayangkan semua itu. Terasa bagai fatamorgana yang muncul di depan matanya.


"Nanti kita bisa ke Arch de Triomphe juga. Dan oh iya, di atas sungai Seine ada jembatan cinta. Kita tulis nama kita berdua dan di gembok di sana.”


"Shel ..." lirih Davin memanggil.


Gadis itu menoleh. "Ya, Vin?" Raut keceriaan di wajahnya masih terlihat.


Davin menarik nafas susah payah. Ia tidak sanggup lagi mendengar celotehan Shelyn tentang Prancis. Karena dia tidak bisa pergi. Ia tidak bisa. Tapi, untuk berkata jujur pun ia tidak mampu.


"Apa Prancis seindah itu?" Kedua mata Davin terpejam, berusaha menahan perasaannya.


Shelyn tersenyum lebar. "Iya. Pokoknya kamu suka deh kalo ke sana. Dulu, aku pernah ke sana sama Bara waktu liburan sekolah pas SMA ...."


Gadis itu menghentikan ucapannya karena tersadar bahwa ia salah bicara. Bibirnya seketika terkatup rapat kala menatap ekspresi Davin yang berubah sendu.


"Oh, pasti menyenangkan ...."

__ADS_1


"Ehmm ... perginya juga rame-rame kok sama Papa dan orang tuanya Bara. Nggak berdua, Vin. Waktu itu papi nya Bara baru Married sama ibu tirinya yang sekarang." Shelyn cepat-cepat meralat ucapannya.


Davin cuma tersenyum, tapi Shelyn bisa melihat sorot kesedihan terpancar di matanya.


"Kalo aku gak pernah hadir di kehidupan kamu, pasti kamu udah bareng Bara lagi kan, Shel? Aku cuma penghalang kalian berdua."


"Vin, kamu jangan ngomong gitu. Aku bahagia kok jatuh cinta sama kamu. Aku bahagia kamu hadir dalam hidup aku." Shelyn menyela sambil memegang bahu Davin.


Davin mengalihkan pandangannya pada laut lepas. Tatapannya kembali menerawang.


Apa kamu akan tetap cinta saat tahu siapa saya, Shel?


Apa kamu akan bahagia kalo kamu tahu bahwa saya akan menangkap papa kamu?


Davin terus membisu. Termenung dalam lamunannya hingga ia tersentak saat kepala Shelyn menyandar di pundaknya.


Davin menoleh pada gadis itu. Ada rasa bersalah terselip di hatinya. Mungkin ini adalah saat-saat terakhir mereka bersama karena ia telah meneguhkan hatinya sekarang. Ia harus kembali pada dirinya yang sesungguhnya. Seorang Davin Marcelio, Sang Agen Intelijen bintang lima.


"Saya cinta kamu, Shel ...." Davin berbisik lembut.


Shelyn menegakkan kepalanya, menatap Davin dan tersenyum. "Aku juga, Vin."


Davin mencium kening Shelyn, lalu kedua mata gadis itu, hidung dan terakhir bibirnya dengan kecupan yang lama dan hangat.


Makasih, Shel sudah hadir dalam hidup saya...


Makasih Tuhan telah menciptakan malaikat cantik ini ke dunia...


Terima kasih takdir yang mempertemukan kami dalam waktu yang berkesan...


***


Davin berjalan menyusuri koridor gedung bernuansa hitam putih itu. Langkahnya tegak dan mantap. Lampu-lampu ruangan beberapa sudah dimatikan. Namun, suasana gedung masih tampak ramai walau telah mendekati tengah malam.


Davin naik tangga ke lantai dua, kemudian berbelok ke lorong kanan dan berhenti pada sebuah ruangan bertuliskan Ruang Kepala Koordinasi dan Staff.


Davin mengetuk pintu sebentar. Pak Mathias membukanya dan terkejut dengan kedatangan Davin yang tanpa diduga. Di dalam ruangan itu sedang berkumpul Pak Lukas, Pak Ilman dan juga beberapa kepala bidang yang lain.


"Malam, Pak! Maaf kedatangan saya mungkin mengejutkan semuanya," kata Davin sembari mengangguk sekilas. "Saya akan memberikan sesuatu yang kalian cari."


Davin mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari balik jasnya. Lalu, meletakan ke atas meja di hadapan Lukas.


Lukas menatap Davin bingung. Tangannya bergerak membuka kotak tersebut. Begitu terbuka, seisi ruangan mendelik tak percaya. Mereka menatap Davin dengan takjub.


"Ini ... ini chip asli, kan?" Lukas melotot pada Davin dengan rasa tak percaya.


"Silakan bapak periksa jika tidak percaya," jawab Davin. "Saya sudah melaksanakan tugas saya. Sebelum kalian menangkap Haikal, bisakah saya memohon satu hal?"


"Apa itu?" tanya Mathias ingin tahu.


Davin berpaling memandangnya dengan sendu. "Tolong tangkap Haikal saat Shelyn sudah berangkat ke Prancis."


***


Part ini agak mellow ya....


Gimana, masih mau Lanjut nggak???


Jangan lupa untuk selalu dukung cerita ini, ya...


terima kasih ❤❤❤


__ADS_1


__ADS_2