My Sweet Bodyguard

My Sweet Bodyguard
Epilogue


__ADS_3


"Bonjour (selamat pagi)!" Seorang wanita berambut pirang kemerahan menyapa ramah gadis bersepeda yang melintas di depan tokonya.


Gadis itu melambaikan tangan dan tersenyum riang. "Bonjour, Maddame!"


Sepedanya menyusuri jalanan sempit yang diapit bangunan-bangunan apartemen, toko, dan cafe dengan deretan tiang lampu jalanan yang klasik. Keranjang sepeda berisi buket bunga yang dibawanya bergoyang-goyang saat ia menuruni lintasan sepeda pada turunan tangga.


Setelah itu, ia berbelok dan berhenti di sebuah toko roti yang aromanya sudah tercium dari jarak beberapa meter sebelum ia sampai kemari. Aroma yang sangat disukainya.


Triinnggg!


Sebuah lonceng pintu terdengar ketika gadis itu bergerak membuka pintu kaca dan masuk ke dalam toko roti tersebut.


*"Bonjour!" *sapanya riang.


Seorang pria berambut cokelat gelap dengan mata berwarna biru pucat itu menoleh, lalu tersenyum menatap gadis itu. Tangannya yang sedang menguleni adonan roti di atas pantry seketika terhenti.


Gadis itu menyerahkan buket bunga yang dibawanya tadi pada pria itu. " J'espère que votre amant aime les fleurs, Monsieur (semoga kekasihmu suka dengan bunganya, Pak)!"


Pria itu tertawa dan menerima bunga itu dengan senang. "Merci, Shelyn!" ucapnya berterima kasih.


Shelyn mengedipkan sebelah matanya. "Bonne journée. (Semoga harimu menyenangkan)."


Dia segera berjalan keluar dari toko roti tersebut karena harus mengantar dua buket bunga lagi pada pelanggannya. Shelyn memang bekerja menjadi pengantar buket bunga sebagai pekerjaan sampingannya selama di sini di Prancis, beberapa tahun terakhir. Ia punya banyak pekerjaan paruh waktu, salah satunya mengantar bunga yang hanya dilakukan saat weekend saja.


Shelyn menaiki sepedanya dan kembali menyusuri jalanan di kota Paris yang mulai menghangat karena musim semi telah datang. Ia menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya dengan penuh semangat.


Shelyn menyukai musim semi dimana banyak bunga-bunga bermekaran dan tentu saja berkaitan dengan pekerjaan paruh waktunya sebagai pengantar bunga. Ia masih harus menyelesaikan studi S2-nya di sini yang sempat terkendala 2 tahun karena gadis itu memutuskan bekerja dulu sampai mendapat biaya melanjutkan kuliah.


Shelyn turun dari sepedanya dan berdiri di dekat trotoar. Ada sebuah pesan masuk di ponselnya. Gadis itu segera mengecek. Ada pesan dari seseorang yang mengatakan vonis hukuman Pak Mulya telah dijatuhkan. Pria itu akan dikenakan eksekusi hukuman tembak tentang kasus pembunuhan berencana yang dilakukannya pada almarhum Setyo. Sementara papanya mendapat vonis hukuman 20 tahun penjara setelah sebelumnya ia didakwa dengan hukuman seumur hidup, tapi setelah mengajukan banding, Haikal dapat keringanan hukuman jadi 20 tahun.


Shelyn memejamkan mata. Hatinya berdebar sedih mengenang nasib Pak Mulya yang setia memasang badan demi Haikal. Ia harus menerima hukuman mati akibat perbuatannya.


BRAAAKKK!


Shelyn terlonjak kaget saat ada seseorang yang menabrak sepedanya hingga terjatuh dan membuat buket-buket bunganya pun ikut berserakan di tanah.


Ia segera mengambil buket-buket bunga itu dan mendirikan kembali sepedanya.


"Désolé, Mademoiselle. (Maaf, Nona)," ucap pemuda yang menabrak sepedanya itu.


Shelyn mencebik dan berniat memarahi pemuda itu. Mulutnya yang baru setengah terbuka langsung terkatup rapat ketika ia menyadari siapa yang menabraknya.


Pemuda itu juga terperangah, sejurus kemudian ia tersenyum.


Shelyn ingat tatapan mata tajam itu, bentuk alisnya dan senyumnya yang selalu hangat.


"Da-Davin?"


"Still remember me?" katanya masih tetap tersenyum.


Sejenak mereka saling bertatapan. Ada kerinduan yang membuncah dalam hati Shelyn. Cinta yang telah lama dikuburnya seperti hidup kembali. Dan pria itu, pria yang telah lama tak pernah ia ketahui kabarnya. Entah masih hidup atau sudah mati, kini berdiri di hadapannya dan sedang tersenyum seolah baik-baik saja.


"Hei, he's there. Catch him! Don't let him go away!"


Terdengar suara teriakan yang berasal dari empat pria berpakaian gangster. Salah seorang dari mereka menunjuk-nunjuk ke arah Davin. Sepertinya Davin sedang dikejar oleh mereka.


Shelyn terperanjat saat keempat orang itu mengencangkan larinya sambil mengeluarkan pistol. Davin geleng-geleng kepala. Ia menatap Shelyn yang sedang berdiri cemas.


"Ayo!" ajaknya sambil menarik tangan gadis itu berlari dari kejaran para pria gangster tersebut.

__ADS_1


Suara-suara peluru beterbangan membuat orang-orang ketakutan dan berhamburan ke sana kemari.


Shelyn berlari mengikuti Davin. Cowok itu masih terus menggenggam tangannya. Davin sesekali menoleh pada Shelyn dan tampak tersenyum.


Shelyn merasa seperti dalam mimpi. Davin tiba-tiba saja hadir di hadapannya. Bagaimana mungkin?


Mereka berbelok dan bersembunyi di balik tembok sebuah rumah tua kosong. Shelyn terpekur dengan jantung berdetak kencang. Mereka sedang berdiri berhadap-hadapan dengan jarak beberapa senti saja. Shelyn bisa merasakan nafas Davin yang terengah-engah sehabis berlari.


"Siapa mereka, Vin? Dan kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Shelyn dengan rasa penasaran yang begitu besar.


Davin menatapnya dan kembali tersenyum. Ekor matanya terus mengawasi setiap sudut jalan. Tiba-tiba, ada sebuah mobil sedan berwarna merah tua berhenti. Seorang pengemudi cowok mengeluarkan kepalanya dari jendela dan memanggil Davin.


"Vin, Ayo!"


Davin mengangguk. "Oke, tunggu bentar, Dim!" Ia berbalik menatap Shelyn yang masih terpaku. Lalu, mengecup pipi gadis itu lembut.


"Akan saya jelasin nanti. Ini kartu nama saya! Call me maybe!" Davin menyerahkan sebuah kartu nama pada Shelyn sembari mengedipkan mata di wajah tampannya. Lalu, ia segera berlari masuk ke dalam mobil.


Shelyn tertegun memandangi kepergian mobil tersebut. Kepalanya menunduk membaca kartu nama yang diberikan Davin tadi. Ada sebuah nama dan nomor telepon. Shelyn tersenyum menatap nama yang tertera di kartu tersebut.


Davin Sebastian Alvaro


Gadis itu berpikir sejenak, lalu memutuskan mengambil ponselnya dan mengirimi pesan, memberitahukan nomor kontaknya pada Davin. Tiba-tiba ada rasa antusias yang dirasakan Shelyn dengan kemunculan Davin di hadapannya. Yang jelas kelegaan menyelimuti hatinya, bahwa Davin masih hidup.


Tak perlu menunggu waktu lama, sebuah pesan balasan dari Davin pun langsung masuk ke ponsel Shelyn.


Davin:


Malam ini punya waktu? Mungkin saya butuh seseorang untuk jadi tour guide saya malam ini.


Shelyn langsung membalas oke dan Davin mengatakan ingin mereka bertemu pukul tujuh malam nanti. Shelyn menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku dengan hati berbunga-bunga. Masih merasa takjub dan sulit percaya atas apa yang sedang terjadi. Mengejutkan sekali ia bisa bertemu Davin di sini di Paris.


Udara malam di musim semi masih terasa dingin. Shelyn menghirup napasnya dalam-dalam kala angin sepoi-sepoi membelai wajahnya. Bibirnya tak henti-henti tersenyum melihat seseorang yang sedang berjalan beriringan di sampingnya saat ini. Davin.


Sesuai janji, mereka bertemu malam ini karena Davin meminta Shelyn untuk menemaninya berkeliling kota Paris yang indah. Mereka menyusuri pinggiran Champ-Elysees yang ramai dipenuhi orang-orang berlalu lalang. Melihat toko-toko Brand ternama juga berbagai macam restoran dan cafe yang bertebaran sepanjang jalan serta dipenuhi nyala-nyala lampu terang benderang. Kemudian, mereka mampir sebentar ke Arch De Triomphe.


Setelah itu, Shelyn mengajak Davin naik metro menuju menara Eiffel karena perjalanan yang cukup jauh dari Arch De Triomphe jika berjalan kaki.


Awalnya, mereka tampak canggung dan malu-malu. Davin juga terlihat salah tingkah setiap kali mereka terdiam saat membicarakan sesuatu. Setelah empat tahun lamanya tak pernah saling berjumpa dan bertanya kabar, rasanya segalanya jadi berbeda.


“Kamu capek?” tanya Davin ketika dilihatnya gadis itu diam saja.


Shelyn menggeleng. “Nggak kok, Vin. Aku seneng malam ini sebetulnya karena bisa ketemu kamu lagi,” ungkapnya jujur.


Davin tersenyum, memandang ke arah menara Eiffel yang dipenuhi ribuan lampu kuning berkelap-kelip indah dari tempatnya berdiri. Di bawah sana mengalir sungai Seine yang membentang. Sebuah Cruise atau kapal perahu yang penuh wisatawan berlayar di atasnya. Mereka sedang berdiri di atas jembatan Pont d'Iéna.


“Kenapa kamu bisa ada di sini, Vin?” Shelyn menatap Davin dengan penasaran.


“Kalau saya bilang bahwa saya ke sini untuk menemui kamu, apa kamu percaya?” Davin balas menatapnya dan Shelyn tersenyum.


“Aku bener-bener nggak menyangka bisa bertemu kamu lagi,” gumam Shelyn lirih.


“Saya juga, Shel. Saya pikir nggak ada kesempatan lagi untuk kita bertemu kembali. Tapi, ternyata kita di sini sekarang berhadap-hadapan.”


“Jadi, kamu kemari memang mau menemui aku?” Shelyn menatap Davin lekat-lekat, masih penasaran.


“Well, sebetulnya ada sesuatu yang harus saya lakukan di sini,” sahut Davin jujur.


“Jadi bukan karena aku, kamu kemari?” Shelyn cemberut dan membuat Davin tertawa.


“Bisa dibilang saya memang memanfaatkan situasi ini agar bisa bertemu sama kamu lagi,” kata Davin. Tangannya terulur menyentuh puncak kepala gadis itu dan mengusapnya dengan lembut.

__ADS_1


Shelyn menengadah menatap Davin. Kilauan cahaya lampu menerangi wajahnya. Setelah empat tahun berlalu, Davin menyadari bahwa Shelyn tampak lebih kurus dari sebelumnya. Namun, ia bisa merasakan Shelyn tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa. Pasti berat bagi Shelyn untuk menjalani semua ini sendirian di negara asing. Davin benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya.


“Maafin saya, Shel ...” bisiknya lirih.


“Kenapa kamu minta maaf?” Shelyn mengerutkan alis.


Davin menarik napas panjang. “Atas apa yang terjadi sama kamu dan papa kamu.”


“Udahlah, Vin. Itu bukan salah kamu. Aku yang seharusnya minta maaf.” Shelyn menunduk. “Aku bener-bener bodoh melukai kamu sama pistol itu. Maaf ...”


Davin memegang bahu Shelyn yang tampak bergetar menahan tangis. “Aku nggak kenapa-napa kok, Shel. Kamu marah itu wajar.”


“Tapi, aku bisa aja membunuh kamu, Vin. Kamu bisa mati gara-gara kebodohan aku.” Shelyn mendongak dan matanya berkaca-kaca.


Satu hal yang ternyata belum berubah dari gadis itu. Dan itu membuat Davin tersenyum.


“Kenapa kamu tersenyum? Apa ada yang salah?” Shelyn mengusap sudut matanya yang basah. Kedua alisnya berkerut bingung menatap ekspresi Davin.


“Kamu ternyata belum berubah, ya?”


“Maksudnya?” Shelyn makin tak mengerti.


Davin tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. “Kamu masih gampang nangis alias cengeng,” katanya sambil tertawa yang membuat Shelyn cemberut, tapi kemudian gadis itu pun ikut tertawa.


“Makasih udah mau berkeliling Paris sama aku, Vin ...”


“Saya hanya nagih janji kamu. Dulu kamu pernah bilang mau ajak saya jalan-jalan kalo ke Paris,” ujar Davin sambil mengamati langit malam yang diterangi lampu-lampu kota.


“Jadi, apa kamu suka Paris sekarang?”


Davin tersenyum, menoleh pada Shelyn dengan tatapan yang hangat. “Yes, maybe ... Lebih indah karena ada kamu.” Kemudian, ia menarik Shelyn ke dalam pelukannya. “Once again destiny has brought us together.”


Shelyn merasakan jantungnya berdebar kencang. Cinta yang telah padam seolah kembali berpendar seperti ribuan lampu yang menerangi menara Eiffel di hadapannya. Dan untuk pertama kalinya, Paris terasa sangat indah malam ini bagi Shelyn, dimana Davin berada di hadapannya dan masih memeluknya dengan erat.


Paris, I think i'm in love once again ...


...-Tamat-...


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Nah, gimana menurut kalian dengan cerita ini....


kasih tanggapannya dong di kolom komentar...


jangan lupa juga dukungannya ya untuk cerita ini..


kalo saya buat sequelnya masih pada mau baca nggak?


Kebetulan cerita ini sequelnya sudah ada sy tulis...


maaf kalo masih kurang memuaskan, ya...


Jangan lupa untuk liat trailer cerita ini di youtube juga ya dan kasih like di sana...


Ketik aja MY SWEET BODYGUARD Trailer ******* di kolom pencarian biar lebih gampang....


terima kasih sekali lagi buat yg sudah mampir membaca cerita ini...


LOve u all... 💋💋


__ADS_1


__ADS_2