My Sweet Bodyguard

My Sweet Bodyguard
Pernyataan


__ADS_3


Haikal berjalan menuruni tangga pesawat dengan tergesa-gesa. Sekretarisnya, Mulya Hidayat dengan setia mengikuti Menteri tersebut menyusuri bandara Internasional Soekarno-Hatta siang ini. Semalam, Haikal mendengar kabar saat sedang di Bali bahwa rumahnya dimasuki penyusup yang ia curigai merupakan orang-orang yang sedang memata-matainya saat ini. Dengan terpaksa, ia mempercepat kepulangannya hari ini karena merasa khawatir.


"Bagaimana dengan Shelyn? Apa dia baik-baik saja sekarang?" tanya Haikal terus mempercepat langkah untuk segera pulang melihat keadaan putri semata wayangnya.


Mulya mensejajarkan langkah mengikuti Menteri itu sambil memberi informasi yang didapatnya dari para pelayan dan penjaga di rumah.


"Nona baik-baik saja sekarang. Semalam dia sempat disandera oleh salah satu penyusup yang akan melarikan diri. Tapi, untungnya tidak ada yang melukai Nona."


Haikal mengembuskan napas lega. Setiap hal yang menyangkut putrinya, ia tak akan tinggal diam. Shelyn adalah hal terpenting dalam hidupnya saat ini.


"Bagaimana dengan bodyguard-nya? Apa dia tidak melakukan apapun?"


"Kabarnya Davin berada di rumah sakit karena sedang sakit, Pak."


Langkah Haikal seketika terhenti. Dia berbalik menghadap Mulya yang ikut menghentikan langkahnya.


"Sakit?" Haikal menyipitkan mata, "sakit apa dia?"


"Entahlah. Tapi saya dengar masalah pencernaan, Pak."


Haikal berdehem sebentar, lalu melanjutkan langkah. "Ayo, kita cepat kembali ke rumah!"


"Iya, Pak!" Mulya mengangguk. Kedua pria itu berjalan cepat menuju pintu luar bandara.


Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan Haikal saat ia berdiri di depan koridor luar bandara. Ia beserta sekretarisnya masuk ke dalam mobil jemputan tersebut. Mobil langsung berjalan meninggalkan bandara menuju rumah yang hanya memakan waktu kurang dari 20 menit karena jalanan tidak terlalu macet.


Begitu sampai, Shelyn langsung menyambut kepulangan papanya dengan hangat. Haikal memeluk erat putri kesayangannya itu dengan rasa khawatir yang mendalam. Davin yang berdiri tak jauh dari mereka memperhatikan sambil tersenyum tipis. Ia sudah mulai bekerja tadi pagi dan sedikit merasa bersalah saat bertemu gadis itu. Untungnya Shelyn sudah kembali ceria, jadi Davin tidak terlalu cemas lagi.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Apa kamu terluka?"


Shelyn melepas rangkulannya dan menggeleng pelan. "Nggak, Pah. Tapi Shelyn takut banget. Ini pertama kalinya ada maling yang masuk ke rumah kita. Mereka bawa pistol lagi. Dan Shelyn dijadiin sandera."


Haikal mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Tenang, Sayang. Papa akan tangkap orang yang sudah menyakiti kamu itu."


"Iya, Pah ...."


"Oh ya, kenapa kamu tidak masuk kuliah?"


"Bolos, Pah. Abis semalem rumah kita kemalingan." Shelyn nyengir. "Emang apa sih yang maling itu cari? Kenapa dia nggak curi barang-barang berharga kita? Kenapa malah masuk ke ruang kerja Papa?"


Pertanyaan itu membuat air muka Haikal langsung menegang. Ia melirik Mulya yang berdiri di sampingnya. Kemudian berdehem sebentar. Davin mengamati Haikal dengan seksama. Setelah kejadian semalam, ia dan Dimas langsung menyerahkan chip itu pada atasan mereka. Jika memang chip itu punya banyak bukti kuat untuk menjerat Haikal dan kroni-kroninya, maka bisa dipastikan Haikal akan segera ditangkap.


Memikirkan hal itu membuat Davin sangat mencemaskan Shelyn. Gadis itu pasti akan sangat terpukul menerima kenyataan papanya adalah seorang pejabat korup di negeri ini.


"Sayang, nanti kita bicara lagi. Papa ada sesuatu yang harus diurus," kata Haikal seraya tersenyum untuk menyamarkan ketegangannya. Dia dan Mulya langsung masuk ke dalam meninggalkan Shelyn yang masih berdiri di halaman dengan ekspresi kebingungan.


Ketika sampai di ruang kerjanya, Haikal langsung membuka kotak brankas miliknya. Ia bisa menebak apa yang dicari oleh para penyusup itu di rumahnya. Sebuah chip yang berisi informasi penting tentang keterlibatannya terhadap kasus-kasus gelap selama ini. Haikal mendengkus begitu melihat isi brankas tersebut. Chip yang tersimpan di sana hilang. Pria itu melirik Mulya yang berdiri diam menunggu perintah.


"Ternyata mereka ingin bermain-main denganku," gumam Haikal, duduk di kursi putarnya dan menyunggingkan senyuman sinis.


"Apa mereka mengambil chip itu, Pak?" tanya Mulya.


Haikal mendongak menatap sekretarisnya dan tertawa pelan. "Mereka mengambil chip yang salah. Sungguh bodoh! Saya sudah tahu mereka akan mengincar benda kecil itu dan saya tidak seceroboh seperti yang mereka pikir akan meletakan benda sepenting itu sembarangan."


Mulya turut tersenyum mendengar penuturan Haikal. "Lantas di mana bapak menyimpan benda itu?"


Haikal menatap Mulya sembari menepuk-nepuk kursi putarnya. Ia sudah menyimpan benda itu di sebuah tempat yang sangat aman. Hanya ia sendiri yang mengetahuinya, bahkan Mulya sekalipun tidak pernah ia beri tahu. Haikal tak ingin mengambil resiko. Jika benda itu bocor pada orang yang salah, tamat riwayatnya.


"Di suatu tempat yang sangat rahasia. Maaf Mulya, saya masih belum bisa memberitahukan di mana benda itu berada karena situasi kita yang masih riskan."


"Ya, Pak. Saya mengerti," angguk Mulya.

__ADS_1


"Oh ya, panggil Davin kemari. Saya mau bicara dengannya," kata Haikal.


Mulya segera berjalan keluar ruangan menuju Davin yang masih berada di halaman menemani Shelyn di sana.


Tak berapa lama, Davin muncul di ambang pintu bersama Mulya. Pemuda itu langsung berdiri di hadapan Haikal dengan raut sedikit tegang.


"Ada apa, Pak? Bapak memanggil saya?"


Haikal bangkit dari kursinya, lalu berdehem. "Saya dengar kamu sakit. Bagaimana keadaanmu sekarang? Sakit apa kamu?"


Gleg!


Davin merasakan jantungnya berdegup kencang. Apa Haikal sedang mencurigainya? Ia harus bisa bersikap setenang mungkin agar tak terlihat mencurigakan.


"Sakit pencernaan, Pak. Untungnya saya sekarang sudah pulih," jelas Davin kalem.


Haikal menatap Davin tepat pada manik mata pemuda itu. Seperti sedang mencari jawaban atas sesuatu.


"Rumah ini sudah tidak aman, padahal saya sudah memasang CCTV di sekeliling rumah untuk meminimalisir terjadinya hal-hal yang tak diinginkan. Tapi, akhirnya para penyusup berhasil melumpuhkan semua CCTV yang bekerja dan mengambil sesuatu yang berharga di ruangan ini."


Davin menelan ludah mendengar perkataan Haikal yang terkesan menyudutkannya. Ia yakin ada maksud dibalik perkataan Haikal itu.


"Saya harap kamu bisa menjaga Shelyn dengan lebih baik mulai sekarang, karena saya takut ia akan mengalami sesuatu yang tidak baik lagi dari orang-orang yang mengincar saya," lanjut Haikal dengan nada cemas.


Davin mengangguk mantap. "Saya akan laksanakan dengan baik, Pak! Maaf semalam saya tidak bisa melaksanakan tugas saya menjaga Nona," katanya dengan kesungguhan.


"Saya akan mencari tahu siapa penyusup yang berani mengobrak-abrik rumah saya dan memberinya pelajaran!" tandas Haikal geram.


***


Shelyn berjalan menyusuri koridor sambil membawa beberapa tumpuk buku pelajaran dari perpustakaan. Dua hari membolos kuliah membuatnya sedikit ketinggalan. Apalagi beberapa dosen mata kuliah memberikan banyak tugas yang harus dikumpulkan minggu depan.


Buku-buku yang dibawa Shelyn berhamburan ke lantai saat gadis itu menuruni tangga. Dia berjongkok memunguti buku itu. Namun, Davin dengan cekatan membantu mengambil buku-buku yang berserakan tersebut.


"Biar saya yang bawakan, Nona." katanya sambil menenteng buku-buku itu di tangannya.


Shelyn tersenyum dan mengikuti Davin berjalan di belakang.


"Kenapa Nona banyak sekali meminjam buku?"


"Ada tugas kuliah, Vin. Banyak banget. Minggu depan harus selesai."


Tak berapa lama, mereka sampai di pelataran parkir. Poppy dan Rara sudah pulang lebih dulu. Shelyn masuk ke mobil setelah Davin membukakan pintu untuknya. Gadis itu tidak pernah duduk di belakang lagi. Ia sengaja duduk di sebelah Davin agar bisa lebih akrab.


Davin menjalankan mobil secara perlahan meninggalkan gedung kampus. "Kita langsung pulang?"


"Nggak, Vin. Anterin aku ke Cafe es krim di deket ujung sana, ya. Ada Bara ngajak ketemu di cafe itu," kata Shelyn menunjuk sebuah bangunan yang didominasi warna pink pastel di seberang jalan tak jauh dari kampus.


Semalam Bara meneleponnya, mengajak bertemu karena ingin mengatakan sesuatu. Shelyn penasaran apa yang ingin dikatakan cowok itu padanya.


"Bara?" tanya Davin seraya menoleh pada gadis itu. Ada rasa jengkel terselip setiap kali nama Bara disebut.


Shelyn mengangguk. "Iya, dia bilang ada sesuatu yang pengen dia omongin. Nggak tahu soal apa."


Davin melambatkan laju mobilnya. Tidak ingin cepat-cepat sampai ke tempat itu. Mood-nya seketika berubah. Ia bisa menebak apa yang ingin Bara katakan pada Shelyn di cafe itu nanti.


Saat mobil mereka sampai, Davin dan Shelyn turun. Bara terlihat duduk di dekat jendela, mengenakan T-shirt abu-abu gelap yang sangat pas di tubuhnya. Cowok itu langsung melambaikan tangan ketika melihat Shelyn sampai.


"Hai, Shel!" sapanya tersenyum hangat pada gadis itu. Namun, wajahnya berubah cemberut ketika melihat Davin berdiri di belakang Shelyn.


"Hai, Bar! Udah nunggu lama?" Shelyn duduk dihadapannya. "Tadi aku ke perpus dulu sih minjem buku buat ngerjain tugas seabrek."


"Nggak, kok. Aku juga baru sampe.” Bara berbohong. Padahal ia sudah hampir satu jam menunggu gadis itu di sini.

__ADS_1


"Oh, ya. Kamu mau ngomong soal apa, Bar? Kayaknya penting banget deh."


Bara melirik Davin yang berdiri di dekat mereka dengan dingin. "Aku pengen bicara empat mata aja sama kamu, Shel. Bisa gak?"


Shelyn memandang Davin sekilas dengan perasaan tidak enak. "Emang kenapa? Penting banget ya sampe bodyguard aku nggak boleh di sini?"


"Iya, Shel. Penting banget," kata Bara, lalu berpaling pada Davin. "Bisa kamu tunggu di luar aja?"


"Saya akan duduk di sana. Maaf, saya gak bisa ninggalin Nona sendirian di sini," balas Davin sama dinginnya. Telunjuknya ia arahkan pada kursi kosong yang berjarak 1 meter dari tempat mereka duduk.


Bara menggigit rahangnya, tapi akhirnya ia mengangguk. "Ya udah, silahkan lo duduk di sana!"


Davin segera berjalan dan duduk di kursi yang ia tunjuk tadi. Mata tajamnya tak lepas mengawasi Bara dan Shelyn yang saat ini saling bertatapan serius. Seorang pelayan mengantarkan menu pada mereka untuk memesan makanan.


Shelyn memesan es krim gellato rasa red velvet dan untuk Davin rasa coklat vanila sementara Bara memesan es krim green tea. Pelayan wanita itu segera mencatat pesanan mereka dan berlalu.


"Jadi kamu mau ngomong soal apa, Bar?" tanya Shelyn penasaran.


Bara melirik Davin yang masih memperhatikan mereka, lalu kembali menatap Shelyn dengan lembut. "Minggu depan rencananya aku mau balik ke Amrik, Shel. Kamu masih inget 'kan soal bisnis restoran yang aku ceritain kemarin?"


"Iya, aku inget. Terus kenapa? Emang kamu nggak balik ke sini lagi?"


"Aku bingung, Shel. Aku balik mungkin 6 bulan atau setahun sekali. Makanya aku pengen nanya kamu. Semua tergantung dari jawaban kamu."


Kedua alis Shelyn bertautan bingung. "Kenapa aku?"


"Aku pengen kita pacaran lagi kayak dulu, Shel. Kamu mau 'kan, Shel? Kalau kita pacaran lagi, aku nggak akan ninggalin kamu lama seperti dulu. Aku akan buka cabang restoran aku di sini juga."


Shelyn menahan napas dan menoleh ke belakang menatap Davin yang berpura-pura cuek padahal sedang memasang kuping mendengar percakapan mereka. Davin balas menatap Shelyn dengan tatapan yang sulit dimengerti gadis itu.


"Aku ... aku gak tahu, Bar. Kita baru aja ketemu setelah tiga tahun," jawab Shelyn terbata.


Bara tersenyum hambar, saat Shelyn menatap Davin tadi, cowok itu sudah bisa menebak bagaimana perasaan gadis itu sekarang. Tapi, ia tidak akan menyerah. Shelyn adalah gadis yang tidak akan ia temukan di mana pun jika ia menyerah begitu saja.


"Saya akan kasih waktu, Shel. Sampai kamu siap. Saya akan tunggu kamu. Karena sampai kita putus kemarin, kamu adalah satu-satunya cewek terbaik yang pernah aku temuin dalam hidup aku. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku masih sayang sama kamu, Shel."


Davin yang mendengarnya tersenyum geli sementara Shelyn tak tahu harus jawab apa. Ia suka bertemu lagi dengan Bara, tapi sejujurnya ia sudah mulai menyukai Davin.


Setelah acara pernyataan cinta Bara tadi. Shelyn diam seribu bahasa selama perjalanan pulang. Pikirannya kalut. Sesekali mata bulatnya melirik Davin yang sedang menyetir di sampingnya.


"Vin?" Akhirnya gadis itu membuka suara.


"Iya, Nona?"


"Menurut kamu aku harus terima Bara lagi atau nggak?"


Davin memandang Shelyn sambil mengernyitkan wajah. "Kenapa Nona tanya saya?"


"Aku nggak tahu gimana perasaan aku, Vin." Shelyn menunduk, "Apa kamu nggak pernah sedikit pun suka sama aku?"


"Maksud Nona?" tanya Davin tak mengerti.


"Pernah nggak kamu suka sama aku walau cuma sedikit sebagai wanita?"


Deg!


Jantung Davin seketika berdebar keras hingga ia bisa mendengar sendiri debarannya pada telinganya. Mobil yang ia kemudikan mendadak terhenti karena pertanyaan konyol Shelyn. Gadis itu terlihat menatapnya dengan bersungguh-sungguh.


"Jawab, Vin? Kamu suka nggak sama aku?"


...🌹🌹🌹...


__ADS_1


__ADS_2