My Sweet Bodyguard

My Sweet Bodyguard
Episode 14 Suspicious (2)


__ADS_3


Shelyn memandang Dara dan Dimas bergantian sambil mengerutkan alis. Kedua agen intelijen itu sedang berdiri tegak di hadapan Shelyn dengan perasaan campur aduk setelah ketahuan habis bersembunyi dalam lemari.


"Jadi, kalian benar teman Davin?" Shelyn menyelidik.


Dara dan Dimas mengangguk.


"Teman sekolah?" tanya Shelyn lagi.


"Iya ...," sahut keduanya serentak.


"Oh ... SMP atau SMA?"


"SMP!"


"SMA!"


Kening Shelyn mengernyit bingung mendengar jawaban kedua orang di hadapannya yang tidak singkron.


"Eh, maksudnya saya temen SMA dan Dara teman SMP-nya Davin." Dimas langsung meralat ucapannya yang disambut anggukan kepala oleh Dara.


Shelyn manggut-manggut paham, tapi tatapannya tetap menyelidik. "Jadi kalian berdua sebenarnya pacaran atau nggak?"


"Pacaran!" sahut Dimas.


"Nggak!" Dara menjawab.


Shelyn menaikkan alisnya bingung. Dimas langsung cengengesan melihat reaksi gadis itu.


"Maksudnya, saya emang pacaran, tapi kemaren udah putus." Dimas menjelaskan.


Shelyn manggut-manggut lagi. Ekor matanya melirik Davin yang masih duduk diam di atas ranjang dengan ekspresi sulit ditebak.

__ADS_1


"Kalo kalian teman Davin kenapa kalian pake acara sembunyi di lemari?" tanya Shelyn lagi masih penasaran.


Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kita cuma nggak enak nanti ganggu kamu sama Davin."


"Gue nggak papa kok. Kenapa harus nggak enak?" Shelyn menatap Dimas lekat-lekat.


Dimas deg-degan ditatap Shelyn begitu rupa. Cowok itu jadi salah tingkah, lantas menyenggol Dara untuk membantu memberi alasan. Dara cuma mengendikan bahunya sekilas dengan gestur cuek.


Tiba-tiba suara ponsel Dimas, Dara dan Davin berbunyi bersamaan. Mereka bertiga segera mengecek ponsel mereka masing-masing yang membuat Shelyn keheranan. Ada pesan dari Pak Mathias untuk mereka. Habis membaca pesan tersebut, ketiga orang itu saling berpandangan dengan isyarat.


"Ada apa?" Shelyn yang mengamati tingkah laku ketiga orang itu merasa penasaran.


"Oh, nggak ada apa-apa kok," sahut Davin, meletakan kembali ponselnya ke atas meja.


Shelyn melirik Dara dan Dimas yang juga ikut memasukan ponsel mereka ke dalam saku. Mendadak ada rasa curiga yang merayapi hatinya.


"Oh ya, Nona Shelyn. Kami mau pulang dulu, ya!" pamit Dimas tiba-tiba. "Ada urusan penting yang harus saya kerjakan."


"Saya juga pamit." Dara tersenyum manis pada Davin dan memasang senyum jutek pada Shelyn.


"Ada yang aneh, deh sama mereka," katanya dengan nada penuh curiga.


"Emangnya mereka kenapa?" tanya Davin ingin tahu. Ia bisa memaklumi kecurigaan Shelyn karena Dara dan Dimas memang tidak berakting dengan baik di hadapannya.


"Gak tahu pokoknya ada yang aneh. Kamu juga mencurigakan, Vin."


Gleg! Davin menelan ludah.


"Mencurigakan gimana?"


Shelyn diam saja sambil mengusap-usap dagunya yang lancip dengan jari. "Hmm ... dan cewek yang bernama Dara itu kayaknya nggak suka deh sama aku. Keliatan banget dari gerak-geriknya."


"Cuma perasaan nona saja," bantah Davin.

__ADS_1


"Terus kenapa kalian tiba-tiba bisa nerima pesan barengan? Pesan dari siapa itu?"


"Oh ... itu pesan dari grup. Saya sama temen-temen yang lain punya grup di whatsapp. Dimas dan Dara juga ikutan," jelas Davin yang memang jujur mengenai grup itu.


"Boleh aku ikutan?"


Pertanyaan Shelyn membuat Davin ketar-ketir. Cowok itu menggaruk hidungnya yang tidak gatal. "Kalau memang nona mau, nanti saya akan kasih tahu teman-teman."


"Thank's, Vin." ucap Shelyn sedikit tenang. Ia menatap jam tangan mungilnya. "Aku mau pergi dulu."


"Nona, mau kemana?"


"Ada les piano sama bahasa prancis. Aku udah 3 minggu bolos soalnya lagi jenuh kemarin." Shelyn menatap lurus mata Davin, "Rencananya tahun depan aku akan lanjutin kuliah ke luar negri. Apa kamu mau ikut aku ke sana, Vin?"


Davin memandang shelyn seketika. Gadis itu menatapnya serius. Ia jadi merasa bingung harus menjawab bagaimana.


"Uhm ... aku pergi sekarang, ya." Shelyn beranjak dari kursinya.


Davin menengadah dan ikut bangkit berdiri. "Saya akan antar nona ke sana."


"Nggak usah, Vin! Nanti Bara yang anterin aku. Kamu istirahat aja biar cepet pulih total," kata Shelyn. Ponselnya berdering nyaring. Gadis itu menatap layar ponselnya, nama Bara tertera di sana.


"Iya, Bar? Oohh ... kamu udah di depan. Oke, aku turun sekarang, ya," katanya, lalu memasukan ponselnya ke dalam tas sandangnya.


"Vin, aku pergi, ya! Bye!" Shelyn segera berjalan ke pintu, lalu keluar meninggalkan ruangan ini.


Davin tertegun beberapa saat. Ia berjalan pelan ke jendela, melihat siluet Bara yang sedang berdiri menyandar pada mobil sedannya di bawah. Cowok itu mengenakan kaus berkerah warna hijau lumut dengan celana jeans pendek selutut serta kacamata hitam yang menempel pas di wajahnya.


Shelyn berlari kecil menghampiri Bara sambil tersenyum riang. Bara balas menatapnya dengan semringah. Cowok itu segera membukakan pintu mobil untuk Shelyn. Beberapa detik kemudian, mobil melaju meninggalkan pelataran rumah sakit.


Davin menghela napas panjang. Ada sekelumit rasa getir dalam hatinya melihat kepergian Shelyn bersama Bara.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1



__ADS_2