
Davin menatap ke jendela dimana Shelyn dan Bara duduk berhadap-hadapan di sebuah cafe es krim yang kemarin mereka singgahi. Davin tidak ikutan masuk hanya menunggu di luar. Sesekali ekor mata Shelyn melirik Davin yang sedang memperhatikan mereka.
"Kamu mau pesen apa, Shel?" tanya Bara sembari menatap Shelyn. Seorang pelayan wanita berdiri di dekat mereka untuk mencatat menu.
"Aku banana split aja, Bar," jawab Shelyn.
"Oke. Banana Split 1 dan Waffle Ice Cream 1, ya." Bara mengatakan pada pelayan itu.
Setelah mencatat semua pesanan, pelayan itu segera berlalu.
"Bar, soal jawaban kemarin." Shelyn to the point. "Kayaknya kita jadi temen aja, ya. Aku belum bisa nerima kamu ...."
Bara terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. "Kenapa? Pasti ada alasannya, 'kan?"
Shelyn menunduk. Bibirnya membisu. Tak ada yang bicara sampai pelayan mengantarkan pesanan mereka. Shelyn segera menyendok es krim itu ke mulutnya dengan canggung.
"Jadi, kamu bener-bener gak bisa terima aku lagi, Shel?" Bara kembali bertanya, memastikan bahwa pendengarannya yang salah menangkap perkataan Shelyn barusan.
Shelyn cuma mengangguk pelan, merasa tidak enak kala menatap kekecewaan yang tersirat di wajah Bara. "Sori, Bar. Tapi, kita masih bisa jadi teman kok."
Bara mengembuskan napas keras-keras, lalu mengalihkan pandangannya menatap Davin di luar dengan sebal.
"Apa karena Davin?" tebaknya.
Shelyn melirik Davin dan tergagap. "Bar, aku ...."
Bara mendesah kecewa. Hatinya belum bisa menerima kenyataan bahwa Shelyn akan menolaknya seperti ini.
"Kenapa kamu suka Davin? Kenapa bukan aku? Aku berharap kamu bisa kasih kesempatan kedua buat aku."
"Aku ... aku nggak tahu, Bar."
Bara menarik napas dalam-dalam. Bola matanya menatap Shelyn dengan sendu. "Aku akan tetap tunggu kamu, Shel. Saat kamu ada masalah, kamu bisa kasih tahu aku." Diraihnya tangan Shelyn yang berada di atas meja, lalu menggenggamnya lembut.
Melihat hal itu, Davin langsung menerobos masuk ke dalam cafe dan duduk di sebelah Shelyn sambil melipat tangan. Matanya menajam pada Bara, hingga Bara terpaksa melepaskan genggamannya.
"Udah selesai 'kan bicaranya? Apa sekarang dia boleh pulang?" kata Davin dingin.
Shelyn cuma bisa meringis. Ternyata Davin bisa cemburu juga.
Bara berdehem keras. Atmosfer ruangan ini jadi tidak nyaman untuknya. Dengan berat hati, ia pun mengalah.
"Shel, kalau begitu aku pergi dulu, ya. Masih ada yang harus aku urus. Makasih atas waktunya. Sampai ketemu lagi. Kalau ada apa-apa kamu kasih tahu aku. Aku akan selalu ada di samping kamu." Bara tersenyum pada Shelyn seraya bangkit berdiri. Ia menggerling sejenak pada Davin dengan tatapan sengit. Davin balas menatapnya dingin.
Tanpa berkata apa-apa lagi, cowok itu segera berlalu dengan hati terluka.
Shelyn menatap kepergian Bara. Sorot iba terpancar di matanya. Walau bagaimanapun, Bara adalah sosok yang baik selama ia mengenalnya.
"Kamu kenapa kasar sih sama Bara?" Shelyn menoleh pada Davin.
"Saya nggak suka aja dia pegang-pegang tangan kamu," sergah Davin memasang tampang jengkel.
Mau tidak mau Shelyn tersenyum. Ia melanjutkan memakan es krim yang baru dimakannya sedikit. Senang rasanya melihat Davin cemburu padanya.
Davin menatap Shelyn lekat-lekat. Tiba-tiba ia mencondongkan tubuh ke wajah gadis itu.
"Kamu mau apa?" tanya Shelyn gugup ketika Davin semakin mendekat. Jantungnya seketika bergemuruh hebat.
Jangan-jangan Davin ingin cium gue lagi? pikir Shelyn deg-degan.
Gadis itu memejamkan mata. Ia sudah pasrah jika Davin memang mau menciumnya. Apa boleh buat, tentu saja ia tak bisa menolak.
Shelyn merasakan sesuatu yang hangat menyentuh bagian atas bibirnya. Gadis itu membuka sedikit kelopak matanya, mengintip apa yang sedang dilakukan Davin. Ternyata pemuda itu tengah membersihkan sudut bibir Shelyn dari es krim yang menempel menggunakan jarinya.
Shelyn mengembuskan napas. Antara malu dan lega. Malu karena sudah berpikiran mesum, lega karena ia tidak melakukan hal yang dipikirkan tadi di depan umum.
Davin menarik hidung Shelyn sambil tertawa pelan. "Kamu mikir apa tadi? Mesum, ya?"
Shelyn mengusap-usap hidungnya. Pipinya bersemu merah. "Ih, nggak kok."
Davin menatap Shelyn tak percaya. "Kok tadi kamu pake merem segala? Emang kamu kirain saya mau ngapain?"
Shelyn menutup wajahnya menahan malu. Davin tertawa karena berhasil menggoda gadis itu. Diturunkan tangan Shelyn dengan lembut, lalu menarik wajahnya agar sejajar dengan pemuda itu.
"Jangan mikir mesum, ya," kata Davin saat dilihatnya wajah Shelyn kembali merona.
Shelyn nyengir. Namun, sedetik kemudian Davin mencium pipinya. Tubuh Shelyn langsung menegang, sementara Davin tersenyum sangat manis membingkai wajahnya yang tampan.
"KALIAN BERDUA PACARAN?" pekik seorang wanita tak jauh dari tempat mereka duduk.
__ADS_1
Shelyn dan Davin tersentak kaget, lalu menoleh ke sumber suara. Pandangan mereka membentur sosok Poppy bersama Rara sedang terperangah menatap mereka.
Shelyn dan Davin salah tingkah. Suara keras Poppy menarik perhatian pengunjung cafe yang lain. Setengah berlari, mereka bergegas mendekat. Ekspresi jail dan seringai nakal muncul di wajah keduanya.
"Hayoo ... ketauan lo berdua!” seru Poppy, ngakak melihat paras Davin dan Shelyn yang sudah semerah tomat.
"Tuh kan gue bener, Pop. Pasti ada apa-apa sama mereka. Waktu di perpus kemaren ...." Rara menimpali, "gue gak mungkin salah lihat. Mereka waktu itu pasti mau ... ehm... ehm..."
Kedua bola mata Shelyn seketika melebar mendengar perkataan dua sahabatnya itu.
Rara dan Poppy masih cekikikan menertawakan ekspresi Shelyn dan Davin yang tertangkap basah.
"Gals, please ... diliatin banyak orang tuh." Shelyn merasa jengah. Malu sekali ketika banyak orang yang memperhatikan di tempat umum seperti ini.
Rara dan Poppy segera menghentikan tawa tidak jelas mereka, kemudian duduk di hadapan Shelyn dan juga Davin.
"Jadi, kalian bener pacaran 'kan?" tebak Poppy antusias. Seringai jail mencuat di wajah tirusnya.
Shelyn dan Davin saling pandang. Lalu, keduanya mengangguk berbarengan. Sorakan riuh dari mulut dua gadis itu membahana. Mereka senang sekali melihat Shelyn dan Davin bisa pacaran.
"Eh, kalian berisik banget sih. Malu diliatin orang!" omel Shelyn saat orang-orang kembali memperhatikan mereka.
"Pokoknya kita harus rayain ini. Ayo, traktir dong. Jatah jadian!" seru Poppy yang disambut anggukan kepala oleh Rara.
Shelyn menghela napas dan melirik Davin sambil geleng-geleng kepala. "Ya udah sana, mau pada pesen apa? Buruan mumpung gue lagi baik!"
Rara dan Poppy tersenyum penuh kemenangan. Seorang pelayan menghampiri mereka. Poppy memesan es krim gellato tiramisu dan Rara strawberry sorbet. Keduanya memesan ukuran ekstra jumbo.
"Tadi gue liat Bara keluar dari sini. Apa dia abis ketemu lo, Shel?" tanya Rara begitu pelayan sudah pergi.
"Iya, dia di sini tadi. Ada sesuatu yang dia obrolin sama gue," sahut Shelyn sambil menyuapkan es krim ke mulutnya. Es krimnya sudah agak mencair.
"Lo ngobrolin apa sama Bara, Shel?" Rara bertanya lagi.
"Nggak ada apa-apa," jawab Shelyn malas.
"Jangan bilang dia nembak lo terus lo tolak dia gara-gara Davin." Poppy menebak asal. Namun, tebakannya entah kenapa selalu tepat.
Shelyn menarik napas panjang. "Iya, begitulah."
"Hmmm ... Vin, pokoknya lo harus baik sama Shelyn, ya. Jangan nyakitin dia. Demi lo dia udah nolak Bara dan sebagian cowok di kampus." Poppy menatap Davin dengan serius.
Davin mengangguk mantap, walau dalam hati merasa tertohok. "Tenang aja. Saya pasti akan jaga Shelyn sampai kapan pun."
Shelyn tersenyum. Ia bisa melihat kesungguhan di mata cowok itu kala memandangnya.
***
Melda berdiri diam menatap sebuah nisan bertuliskan nama Setyo Pratama bin Sulaiman. Seikat bunga lili teronggok di pinggirnya. Setetes air mata turun membasahi pipinya yang bulat. Wanita berlipstik merah itu menengadah saat bulir-bulir bening lain muncul. Ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak terisak jika berkunjung ke makam tersebut.
Dengan langkah gontai, ia berjalan keluar pemakaman menuju mobil Hatchback miliknya yang terparkir tak jauh dari makam itu. Saat berada dalam mobil, ponselnya berdering.
"Halo!" sapa wanita itu di telepon.
"Nona, kami sudah selesai mencetak buku biografi tentang bapak Setyo. Kapan kira-kira Anda akan meluncurkannya?"
Melda menatap kaca spion mobil. Ada jejak air mata yang membekas di pipinya. "Saya akan kabari jika waktunya sudah tepat."
"Baiklah. Kami tunggu, Nona."
Melda mematikan ponselnya dan segera meninggalkan tempat itu. Ada dendam yang membara dalam dadanya.
Setyo Pratama adalah ayah kandungnya yang tewas mengenaskan dalam kecelakaan mobil 5 tahun silam. Ya, menurut berita dan investigasi polisi bahwa itu murni kecelakaan, tapi tidak bagi Melda. Ia banyak menemukan kejanggalan. Ia yakin bahwa sang ayah yang dulu menjabat sebagai ketua KPK dibunuh oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Sebagai Jaksa, sekarang ia akan mengungkapkan kebenarannya.
Mobil hatchback berwarna merah maroon itu berhenti di sebuah rumah mewah berlantai dua yang terletak di pusat kota. Melda turun dan segera masuk ke dalam rumah tersebut. Saat melintasi dapur untuk mengambil segelas air es dari dalam kulkas, semua orang yang tengah duduk menyantap makan malam menatapnya.
"Malam!" sapa Melda datar sembari meneguk air es tersebut tak bersisa.
"Melda, kamu sudah makan? Mari ke sini bergabung bersama kami," ajak seorang wanita paruh baya bernama Laila. Wanita itu adalah ibunya.
Melda menatap semua orang yang duduk di meja makan tersebut satu per satu tanpa ekspresi.
"Makanlah bersama kami," sambung pria paruh baya yang duduk di kursi utama meja makan.
Pria itu merupakan ayah tiri Melda.
Setelah kematian Setyo, ibunya menikah lagi dengan seorang pengusaha duda kaya raya yang mempunyai tiga orang anak. Dua laki-laki dan satu perempuan. Dua anaknya tinggal di luar negeri, kuliah sambil ikut mengurus semua bisnis milik ayahnya, sementara anak laki-laki sulungnya yang bernama Bara akan kembali ke Amerika besok.
Melda menurut dan duduk bergabung bersama mereka di kursi kosong sebelah Bara, adik tirinya.
Seorang pelayan memberikan piring kosong untuk Melda. Melda segera menyendokkan nasi ke atas piring. Ekor matanya melirik Bara yang sedang mengunyah nasi tanpa bicara sepatah kata pun. Ekspresinya sendu sekali.
__ADS_1
"Kenapa kok lo lesu banget?" tegur Melda padanya.
Bara diam saja. Tangannya meraih gelas berisi air minum di dekatnya.
"Bara mau ke Amerika besok, Mel." Laila yang menjawab.
"Kamu kapan menikah? Cepat menikahlah. Berhenti melakukan hal yang sia-sia. Apa kamu mau jadi perawan tua?" Suara berat ayah tirinya membuat gerakan Melda terhenti saat ia ingin menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Entah kenapa, setiap membahas persoalan menikah, perasaannya jadi sensitif.
"Apa kamu masih menyelidiki Haikal? Berhentilah mengganggu Menteri itu. Kamu tahu 'kan Bara dan putrinya punya hubungan." Ayah tiri Melda kembali melanjutkan.
"Sekarang nggak lagi, Pih." Bara menyela dengan nada lesu.
Sontak semua mata tertuju pada cowok itu sementara Bara menoleh ke arah Melda penasaran.
"Kenapa kakak nyelidikin Haikal? Apa dia melakukan sesuatu yang salah?"
"Lo liat aja nanti. Sebaiknya lo memang jangan berhubungan sama putrinya. Gak baik terlalu dekat sama mereka,” jawab Melda yang membuat Bara semakin penasaran.
Melda menghabiskan sisa makanannya dengan cepat dan segera meninggalkan meja makan. Ia tidak ingin mendengar orang tuanya menyinggung masalah pernikahan lagi.
"Kamu mau ke mana, Mel?" Terdengar suara Laila memanggil.
"Ke kamar, mau mandi dulu," sahut Melda.
"Putrimu itu sudah berkepala tiga. Kapan dia mau menikah? Carikan dia jodoh. Dia terlalu sibuk mengurus hal tidak penting sampai tidak bisa mengurus dirinya sendiri," omel Pradipta.
Bara ikut bangkit berdiri. Ia tidak berselera makan. Dengan langkah gontai, pemuda itu berjalan menuju kamarnya.
"Kamu juga mau ke mana?" tanya Pradipta heran.
"Ke kamar mau beres-beres," jawab Bara.
Bara menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar dengan nanar. Semangatnya lenyap sejak Shelyn menolak untuk menerima perasaannya.
Davin sialan! Rutuknya geram.
Cowok itu beranjak mengambil koper besar di dalam lemari pakaian. Satu per satu pakaiannya ia masukkan ke dalam koper tersebut. Setelah selesai memasukan pakaian seperlunya, cowok itu mengambil beberapa buku bacaan di atas meja belajar untuk ikut dibawa. Pandangannya membentur suatu benda yang mengingatkannya pada Shelyn ketika membuka laci meja belajarnya. Sebuah foto berpigura yang menunjukan gambar dirinya dan Shelyn di depan Menara Eiffel. Shelyn memang menyukai Prancis. Foto itu diambil saat liburan tahun baru ketika mereka masih SMA dulu.
Bara memasukan kembali foto itu ke dalam laci. Menyakitkan rasanya harus melupakan kenangan indah bersama orang yang sudah membekas begitu dalam di hatinya.
Bara keluar dari kamar. Ia berjalan menuju kamar Melda untuk mengambil headset yang dipinjam Melda beberapa hari lalu.
Bara mengetuk pintu kamar yang tertutup sambil memanggil nama kakaknya berkali-kali. Tak ada jawaban. Tangannya meraih gagang pintu dan membukanya.
Walaupun mereka bersaudara tiri, tapi hubungan mereka berdua tidak terlalu buruk. Bara menghargai Melda sebagai kakak yang baik, walau dia adalah tipikal wanita yang sangat dingin dan ambisius.
Bara mengedarkan pandangan pada kamar bernuansa ungu muda itu. Benda yang ia cari tergeletak di atas meja rias. Bara segera mengambil benda itu. Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi di dalam kamar ini. Melda pasti lagi mandi, pikirnya.
Tatapan Bara tak sengaja membentur pada setumpuk berkas dokumen di atas ranjang. Ia semula tidak tertarik untuk melihatnya, tapi ada sesuatu yang menggelitik rasa ingin tahunya.
Ia pun mengambil beberapa lembar dokumen yang berisi data profil orang-orang tak dikenalnya. Saat membaca dokumen yang ke empat. Matanya terbelalak. Ada profil Davin di sana. Disitu tertera jabatan Davin sebagai Agen Intelijen bintang 5 dan berstatus Aktif On Duty.
Bara semakin terperangah ketika melihat tulisan targetnya adalah Haikal Wiyatma dan Shelyn Amanda Wiyatma. Bara menutup mulutnya tak percaya. Seolah ada petir menggelegar di depan wajahnya.
"Hei, lo gak boleh liat dokumen itu! Itu dokumen rahasia!" teriak Melda yang baru saja keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe. Cepat-cepat tangannya merebut berkas yang dipegang Bara.
Bara mendelik sambil ternganga menatap Melda. "Itu ... apa dokumen itu asli?"
"Asli lah. Lo gak boleh liat dokumen ini. Ini rahasia soalnya. Menyangkut nama negara!" tukas Melda. Ia segera membereskan semua dokumen di atas tempat tidurnya dan menyimpan kembali ke dalam tas sandangnya. "Lain kali kalo mau masuk kamar gue ketuk dulu, ya. Gue mohon!"
"Davin ... itu kenapa Davin ada di sana? Lo kenal sama Davin 'kan? Bodyguard Shelyn?"
Melda menghela napas kesal. "Udah deh berhenti kepo. Gue nggak mau dapet masalah gara-gara lo."
"Kak, tolong gue cuma mau tahu Davin itu siapa? Dan kenapa target yang tertulis ada nama Shelyn dan bokapnya? Apa yang mau dia lakuin sama kedua orang itu?"
"Sori, gue gak bisa kasih tahu lo."
"Kak, please ... kasih tahu siapa Davin yang sebenarnya. Dan kenapa kakak juga belakangan ini nyelidikin Haikal? Tolong, kak. Gue janji gak bakal kasih tahu siapa pun. Gue bakal jaga rahasia ini." Bara terus memohon. Ia tidak bisa diam saja jika hal ini menyangkut Shelyn.
Melda duduk di atas ranjang dengan putus asa. Bara terus memasang tampang memelas agar kakaknya bermurah hati untuk menceritakan semua hal rahasia yang tidak diketahuinya selama ini.
"Baiklah ..." Akhirnya Melda mengalah setelah mengalami pergulatan panjang di hatinya. Matanya menajam kala menatap Bara.
"Pokoknya lo harus rahasiain semua ini. Kalo terjadi apa-apa sama gue. Lo yang gue tuntut!"
...🌹🌹🌹...
Jangan lupa vote, comment dan like nya...
__ADS_1
terima kasih ❤❤