
Davin duduk memandangi sejumlah orang-orang berseragam pasien yang sedang berjalan-jalan di taman dari balik jendela kamarnya. Ia masih sulit untuk banyak bergerak lantaran dalam masa pemulihan atas koma yang dialaminya selama 2 minggu.
Ya, dokter yang setiap hari datang memeriksa, mengatakan bahwa ia terkena luka tembak. Satu di punggung dan satu di dada. Akibat luka itu, Davin harus menjalani operasi dan banyak jahitan. Salah satu peluru itu sukses menembus paru-parunya, dan membuatnya koma.
Jika kondisinya hari ini semakin membaik dan stabil, maka dokter akan mengizinkannya pulang dalam dua hari ke depan.
Namun, ada hal yang mengganjal dalam lubuk hati Davin sejak ia siuman dari komanya beberapa hari lalu.
Bagaimana kabar Shelyn? Apakah gadis itu baik-baik saja?
Ia tidak tahu sudah berapa hari terlewat sejak peristiwa penembakan kemarin. Ia berharap semoga keadaan tidak semakin memburuk selama dirinya tak sadarkan diri.
Suara pintu terbuka. Dara, Dimas dan Pak Mathias menghambur masuk ke dalam ruangan.
"Vin!" panggil Dara antusias.
Davin menoleh pelan pada mereka sambil tersenyum tipis. Selama ia berada di rumah sakit, rekan-rekannya-lah yang selalu setia menemaninya dan membantu agar bisa pulih dengan cepat.
"Gimana perasaan lo, Vin?" Dimas menepuk sebelah bahunya.
"Udah lumayan," sahut Davin.
"Syukurlah kamu sudah semakin membaik, Vin. Bapak sangat cemas takut kamu kenapa-napa karena luka tembak kamu," ujar Pak Mathias memasang tampang khawatir.
Davin cuma tersenyum pada atasannya itu. "Tenang saja, Pak. Saya ini anak buah bapak yang paling kuat. Jadi, bapak nggak perlu khawatir."
"Cepet sembuh ya, Vin. Biar kita bisa bertugas bareng lagi," timpal Dara, menatap Davin sendu.
"Tentu aja, Dar." Davin mengangguk padanya.
"Sih Dara sampe nangis mulu, Vin. Waktu lo masih koma. Coba deh lo perhatiin matanya udah bengkak kayak tomat." Dimas meledek Dara sambil tergelak.
Dara mendengkus dan dengan sebal menyikut dada Dimas, membuat cowok itu melenguh kesakitan.
"Sakit!" protes Dimas sembari mengusap-usap dadanya yang terkena sikutan.
"Ya, kenapa lo ngeledekin gue?" Dara cemberut.
"Cepet ngambek nanti lo cepet tua," sahut Dimas. "Noh, liat muka lo udah mulai keriput kayak nenek gue gara-gara keseringan ngambek."
Dara mencebik sambil memutar bola mata. "Nggak lucu, Dimas!"
"Hei, sudah-sudah kenapa kalian berdua ini malah bertengkar?" sela Pak Mathias, melototi kedua anak buahnya yang masih adu argumen dengan jengkel. "Kita ke sini untuk membesuk Davin bukan untuk melihat kalian bikin keributan."
"Iya, Pak. Maaf. Abis Dimasnya nyebelin," kata Dara, melirik Dimas sengit.
"Kan yang gue omongin fakta. Lo nangis mulu kalo ngeliat Davin belum sadar," bantah Dimas.
"Aduuhh ... kalian berdua ini." Pak Mathias menghela napas gusar. "Kalo kalian masih ribut, bapak tidak akan cairkan bonus kalian minggu depan."
Dara dan Dimas langsung mengatupkan mulut mereka rapat-rapat. Kata bonus membuat keduanya tak berani membantah. Mereka semua yang terlibat dalam tugas penangkapan Haikal akan mendapatkan bonus gaji dari lembaga yang mereka naungi. Bonus cukup besar atas keberhasilan menangkap para pejabat korup di negeri ini.
__ADS_1
Davin memperhatikan mereka sembari tersenyum kecil. Lalu, ia bertanya lirih, "Bagaimana kabar Haikal dan ... Shelyn? Shelyn ... dia baik-baik saja, 'kan?"
Pertanyaan itu membuat Dimas, Dara dan Pak Mathias terdiam dan saling pandang. Davin sendiri menatap mereka dengan penasaran.
"Haikal sama sekretarisnya, Mulya udah ditangkap, Vin. Sekarang kasusnya udah bergulir untuk jalanin sidang. Kalo Shelyn—" ucapan Dimas terputus karena Dara langsung menyela.
"Shelyn udah pergi, Vin. Ke Prancis ...."
Jantung Davin sontak berdegup kencang. Namun, ia berusaha menahan dirinya untuk bersikap wajar.
"Oh, dia udah pergi. Tapi dia baik-baik aja, 'kan?" Davin meneguk ludahnya.
"Dia baik-baik aja, kok. Berhenti khawatirin dia, Vin. Lo harus pikirin kesehatan lo. Lo kena koma gara-gara dia." Dara menatapnya jengah.
Dimas langsung menyenggol bahu Dara agar gadis itu berhenti bicara. Namun, Dara cuma membuang muka.
Davin diam saja. Ia bangkit berdiri perlahan di jendela. Melihat ke langit kelabu yang dipenuhi awan menggumpal. Bekas luka tembaknya masih terasa panas dan berdenyut kala ia bergerak. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Davin merasa lebih sakit jika teringat Shelyn. Bahkan jika ia harus mati karena tertembak kemarin, itu tidak cukup untuk menutupi segala rasa bersalah yang menderanya saat ini.
Dimas yang sejak tadi memperhatikan Davin, menyenggol bahu Dara lagi.
"Apaan sih?" bisik Dara sambil mengusap-usap bahunya.
"Kasih surat itu. Surat Shelyn," kata Dimas pelan.
Dara merengut. Ia memang terlupa perihal surat yang dititipkan Shelyn padanya sebelum pergi kemarin. Tangannya merogoh tas sandang yang berada di pundaknya, lalu mengambil sepucuk surat beramplop warna biru polos. Dengan berat hati, diserahkannya surat itu pada Davin yang masih berdiri di dekat jendela.
"Vin, ini dari Shelyn ...."
"Dia nitip ini ke gue buat lo sebelum pergi."
Davin menerima surat itu, kemudian tersenyum tipis. "Makasih, Dar ...."
Dara cuma mengangguk, lalu berjalan meninggalkan ruangan disusul Dimas sementara Pak Mathias berjalan menghampiri Davin sebelum pergi.
"Kamu sudah melakukan pekerjaan hebat, Vin. Bapak bangga sama kamu. Tetap semangat. Jangan terlalu menghukum diri kamu sendiri," katanya seraya menepuk bahu Davin dengan lembut. Beliau tersenyum hangat sampai garis-garis matanya terlihat.
Davin balas mengangguk pelan dan mengucapkan terima kasih tanpa suara.
Pak Mathias kemudian berjalan meninggalkan Davin seorang diri. Davin menghela napas panjang. Tangannya membuka surat itu secara perlahan. Tanpa ia sadari, air matanya menetes kala membaca huruf-huruf kecil yang ditulis Shelyn pada kertas itu. Hatinya berdebar sedih seiring dengan kalimat demi kalimat yang dibacanya.
Dear Davin,
Hai, Vin...
Saat kamu baca surat ini, mungkin kamu sudah sadar dari koma dan aku sudah pergi.
Aku berharap kamu cepat pulih dari luka kamu...
Maafin aku, Vin karena aku sudah bikin kamu terluka...
Maafin aku juga karena aku pergi tanpa menunggu kamu sadar...
Terima kasih sudah jadi bodyguard aku ...
__ADS_1
Terima kasih sudah melindungi aku dengan baik selama ini ...
Kamu adalah laki-laki terhebat yang pernah kutemui dalam hidup aku ...
Dan mungkin takkan pernah tergantikan ...
Bersamamu, aku merasa detik-detik hidup yang aku lewati begitu indah dan juga berharga walau mungkin hanya sesaat ...
Seandainya kita bisa dilahirkan kembali, aku ingin memilih menjadi seorang wanita biasa. Bukan putri dari seorang Menteri yang jahat ...
Dan aku berharap kamu terlahir bukan sebagai seorang intelijen agar kita dapat melebur jadi satu...
Aku selalu bahagia selama bersama kamu, Vin ...
Tapi, sayangnya kebahagiaan itu harus diakhiri sekarang...
Aku tahu berat bagi kamu selama ini berada di sisi aku...
Seandainya aja ... ya, aku selalu berandai-andai sekarang...
Seandainya kita bertemu lebih awal atau kita bertemu dalam kehidupan dan waktu yang berbeda... mungkinkah kita bisa bersatu selamanya?
Lalu, bolehkah aku meminta satu hal?
Tolong kenanglah aku sebagai kenangan indah dalam hidup kamu ...
Seperti aku yang selalu mengenang kamu sebagai memori berkesan dalam cerita hidupku...
Seperti ribuan kunang-kunang di dalam gelapnya malam, kamu bagai lentera yang menjadi penerang dalam hidup ku...
Sekali lagi, terima kasih bodyguardku...
Semoga kita bisa bertemu di dalam kehidupan yang berbeda dan dalam keadaan yang bahagia...
Semoga takdir memberi kesempatan itu untuk kita ...
^^^With Love,^^^
^^^Shelyn Amanda.^^^
Davin menggengam kertas surat itu dengan hati pilu. Air matanya turun tanpa bisa ia cegah. Ini kali pertama ia menangis setelah kematian Pamannya dulu. Pertama kalinya ia merasakan cinta dan akhirnya harus berpisah.
Ditatapnya langit kelabu yang kini mulai meneteskan hujan dengan mata berkaca-kaca, seolah perasaan sendunya menyatu dengan tetesan hujan yang turun membasahi bumi.
Selamat tinggal, Shelyn ...
...🌹🌹🌹...
Menuju bab-bab ending....
Makasih buat yang sudah membaca cerita ini....
__ADS_1