My Sweet Bodyguard

My Sweet Bodyguard
Kegetiran


__ADS_3


5 tahun yang lalu,


Suara petir seakan merobek langit di antara gemericik hujan yang turun. Seorang pria berjaket dengan celana panjang hitam terlihat berlari kencang dalam keadaan basah kuyup akibat kehujanan. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang. Sebuah tas jinjing warna hitam didekap erat dalam rangkulannya.


Sedikit lagi pria itu akan sampai ke rumahnya yang terletak di ujung gang sempit ini. Angin kencang bergemuruh menambah dinginnya suasana saat itu. Si pria terengah-engah. Ia sudah lelah rasanya berlari selama satu jam dari kantornya menuju rumah. Kalau saja orang-orang itu tidak mengejar dan mengancam ingin membunuhnya.


Sebuah mobil sedan hitam sekonyong-konyong melintas tepat di depan pria itu dan membuatnya jatuh terjerembab dengan posisi bokong duluan menghantam aspal. Nyaris saja ia tertabrak jika tidak cepat menghindar.


Seorang pria berjas hitam keluar dari dalam mobil, menatapnya tajam. Pria tadi buru-buru bangkit untuk melarikan diri. Namun, sebuah suara berat menginterupsi gerakannya.


"Bawa dia masuk!"


Dengan sigap, pria berjas hitam itu menarik pria tadi sebelum berhasil kabur, kemudian menyeretnya masuk ke mobil.


Pria itu masuk dengan paksa. Ia terkejut saat melihat seorang pria pemilik suara berat itu duduk di dalam mobil, menatapnya tajam dan menunjukan seringai sinis padanya.


"P-Pak Haikal ...?" desisnya parau.


Pria bernama Haikal itu menggeram. "Kenapa kamu memilih seperti ini, Setyo? Kenapa kamu malah membuat hubungan kita memburuk? Hiduplah dalam damai. Kalau seperti ini kamu yang rugi."


Pria yang disebut Setyo itu mendelik. Tangannya terus mendekap tas jinjing yang dibawanya sejak tadi. "Sampai mati pun saya tidak akan menyerahkan apa yang Anda mau. Anda harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan Anda, Pak. Saya akan secepatnya membongkar perbuatan busuk Anda!"


Haikal terkekeh pelan sembari mengibas-ngibaskan ujung jasnya yang terkena percikan air hujan dari tubuh Setyo.


"Sepertinya kamu memilih untuk cara yang lebih keras. Baiklah kalau kamu memilih seperti itu. Jabatan ketua KPK memang terlalu cocok untukmu."


Setyo mendengkus. "Justru sebagai ketua KPK-lah, saya harus menangkap Anda dengan semua bukti yang saya punya. Anda dan semua pejabat yang terlibat akan mendekam dalam penjara. Maafkan saya, Pak. Saya hanya melakukan tugas saya sebagai ketua KPK."


Haikal menggertakan rahang mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Setyo. Ia menggerling pada Mulya yang duduk di kursi kemudi. Mobil sedan tersebut berhenti di jalan berbukit yang sangat sepi. Mulya menyeret paksa Setyo keluar dari mobil. Sementara Haikal duduk di dalam mobil dengan santai.


"Mau dibawa ke mana saya!" teriak Setyo sembari meronta dari cengkraman Mulya. Pria itu berhasil mendaratkan sebuah tinju ke perut Mulya dan Mulya balas menendang dada Setyo. Setyo tersungkur ke tanah. Tas jinjing yang dipegangnya terlepas. Dengan sekuat tenaga, ia meraih tas itu. Namun, Mulya menginjak tangannya dengan kuat hingga menimbulkan bunyi KRAAKK yang mengerikan.


Setyo melolong kesakitan. Suaranya tenggelam oleh rentetan petir dan hujan yang mengguyur semakin lebat. Mulya menjambak rambut Setyo, lalu mengeluarkan sebuah tisu dalam saku jasnya yang dibungkus plastik. Tisu itu sudah diberi cairan obat bius. Lalu, Ia membekap mulut dan hidung pria malang itu.


Selama 5 detik Setyo menggelinjang dalam dekapannya, dan akhirnya tak sadarkan diri. Mulya menatap nanar pria itu, lantas menyeretnya menuju sebuah mobil sedan berwarna biru tua yang terparkir di pinggir jalan. Itu mobil milik Setyo yang berhasil mereka curi sebelumnya.


Mulya membawa Setyo duduk di kursi kemudi mobil tersebut dan memasang seatbelt-nya. Semuanya sudah dipersiapkan dengan baik. Mesin mobil dinyalakan. Mulya mengambil sebuah batu bata di bawah mobil yang telah tersedia. Lalu, meletakannya pada pedal gas. Mobil perlahan berjalan sendiri lurus ke depan. Mulya segera menutup pintu. Di ujung sana terdapat sebuah dataran curam yang cekung membentuk jurang.


Mobil itu terus melaju tanpa pernah berhenti. Tak berapa lama, terdengar suara tabrakan keras. Mobil Setyo berhasil masuk ke dasar jurang. Mulya menghela napas dan berjalan kembali menuju kendaraannya. Tak lupa, ia mengambil tas jinjing milik Setyo yang terjatuh di tanah, kemudian membawanya masuk ke dalam di mana Haikal masih menunggunya.


"Sudah beres, Pak," lapor Mulya. Tubuhnya basah kuyup tertimpa air hujan.


Haikal tersenyum tipis. "Buka tas itu. Ambil barang bukti yang dia punya!"


Mulya segera membuka tas jinjing berbahan kulit sapi yang sudah basah terkena guyuran hujan. Cuma ada sebuah laptop dan beberapa lembar berkas dokumen serta foto-foto Haikal bersama beberapa orang yang disinyalir sedang diburu oleh Setyo beserta tim-nya.


Mulya menemukan sebuah kotak kecil yang terbuat dari kain beludru, lalu membukanya. Ternyata sebuah benda kecil berbentuk pipih warna hitam, sebuah Chip Memory. Haikal menatap Chip tersebut, lalu tersenyum lebar.


--


Haikal memejamkan mata teringat bagaimana ia harus melakukan hal keji untuk mendapatkan benda kecil itu. Benda yang menyangkut hidup dan matinya selama ini. Sekarang benda itu tersimpan dengan aman di dalam sebuah brankas kecil di ruangan sangat rahasia, yaitu ruang bawah tanah dalam rumahnya.


Tak ada yang tahu perihal ruang bawah tanah ini selain Mulya dan juga dirinya. Mulya sendiri tidak mengetahui letak Chip Memory itu tersimpan, karena Haikal tidak pernah memberitahunya.


Haikal membuka mata dan menatap seisi ruangan berdiameter 7 x 8 itu. Barang-barang berharga yang didapatnya dari hasil melobi atau bekerja sama dengan orang-orang tersusun rapi dalam ruangan ini. Ada senjata api berjenis revolver, machine gun, AK-47, lalu benda-benda antik yang bersejarah. Beberapa guci mahal juga emas batangan yang ia susun dalam peti. Semua benda ini sengaja ia simpan dengan sangat rahasia.


Mulya tiba-tiba muncul di ambang pintu, membuyarkan lamunan Haikal.


"Bapak memanggil saya?"


Haikal berdehem, lalu menunjukan chip memory yang selama ini ia simpan.


"Apa itu chip yang dicari-cari semua orang selama ini, Pak?" Mulya membulatkan mata memandang benda pipih itu.


Haikal mengangguk. "Iya. Ini adalah chip itu. Saya harap kamu berhati-hati. Jangan sampai ada orang yang mengetahui benda ini. Saya sudah lama menyimpannya di sini."

__ADS_1


"Jadi selama ini bapak simpan di sini?"


"Tentu saja. Di mana lagi tempat paling aman selain ruangan ini untuk menyimpan benda sepenting itu."


Mulya mengangguk. "Anda benar, Pak."


"Mana Shelyn? Apa dia sudah pulang?"


"Belum, Pak. Mungkin sebentar lagi dia baru pulang."


"Suruh dia menemui saya jika sudah pulang nanti. Ada hal penting yang mesti saya bicarakan padanya."


"Baik, Pak!”


***


Shelyn membuka mata saat Davin melepaskan ciuman dari bibirnya. Mereka saling berpandangan sesaat dengan wajah merah padam. Davin tersenyum melihat wajah Shelyn yang begitu menggemaskan ketika blushing.


"Kenapa senyum? Kamu ngetawain aku, ya?" Shelyn mengerutkan alis sambil menyentuh pipinya yang terasa panas.


Davin menarik hidung gadis itu dengan gemas. "Nggak ada yang ngetawain kamu, Nona."


"Itu tadi."


"Saya cuma senyum, bukan ngetawain," sanggah Davin.


"Iya, sama aja. Kenapa kamu senyum liat muka aku?"


"Karena kamu cantik," jawab Davin lembut.


Shelyn mengatupkan bibirnya dengan malu-malu. Davin tersenyum lagi melihat ekspresi Shelyn yang lucu.


"Jadi, aku jangan nerima Bara nih?" Shelyn menatap Davin dengan manja.


"Jangan!" tegas Davin.


"Ya udah, kalo gak boleh. Terus sekarang status kita apa? Pacaran?"


"Terserah Nona maunya gimana," katanya kemudian.


"Jangan panggil Nona ya mulai sekarang. Panggil nama aja atau panggilan sayang."


Davin jadi terkikik geli.


Shelyn sontak mengerutkan alis. "Kok ketawa sih?"


"Nona lucu banget soalnya ...."


"Dibilangin jangan panggil Nona lagi."


"Iya-iya. Panggil apa? Babe?"


"No! It sounds like Mikho!" Shelyn bergidik sambil menggeleng. "Panggil nama aku aja juga udah cukup kok."


Davin tersenyum. "Iya, Shel."


"Nah, gitu dong." Shelyn berkata girang.


Senja telah terbit. Davin baru menyadari bahwa mereka sudah cukup lama menghabiskan waktu di mobil. Ia lantas kembali menjalankan mobilnya yang sempat terhenti karena adegan romantis yang mereka lakukan tadi.


"Kita pulang sekarang, Nona ... ehm ... maksud saya, Shel."


Shelyn menghela napas. Ada semburat bahagia terpancar di wajah cantiknya. Ya, dia bahagia sekali karena Davin sudah membalas cintanya. Selama perjalanan pulang, bibirnya tak henti-henti tersenyum lebar. Tidak pernah ia merasa sebahagia ini.


Saat mobil mereka sampai di pekarangan rumah. Pak Mulya sudah berdiri menunggu kedatangannya.


Shelyn turun dari mobil setelah Davin membukakan pintu. Ia menatap Mulya penasaran.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?"


"Nona, silakan ke ruang kerja papa Nona. Beliau ingin bicara penting." Mulya memberitahu.


Shelyn mengangguk, menatap Davin sebentar, lalu segera berjalan menuju ruang kerja Haikal di lantai tiga. Davin mengikuti di belakangnya.


"Ada apa, Pah?" tanya Shelyn begitu bertatap muka dengan papanya.


Haikal menutup laptop yang sedang digunakannya, lalu menarik napas panjang. "Papa ingin kamu segera ke Amerika dalam satu-dua bulan ini."


Shelyn terperanjat. "Kenapa, Pah? Kok tiba-tiba banget? 'Kan rencananya tahun depan aku lanjut kuliah di sana. Dan aku maunya ke Prancis, bukan ke Amerika, Pah."


Haikal menatap lurus wajah putrinya dengan bimbang dan gusar. Ia tahu pasti Shelyn tidak akan langsung menyetujui hal ini, tapi ada hal yang harus ia selamatkan lebih dulu, yaitu putrinya sendiri. Lambat laun berita tentang reputasinya akan menyebar ke semua media online maupun cetak. Shelyn tidak boleh mendengar soal itu. Gadis itu pasti akan down jika tahu perbuatannya seperti apa.


"Ya, kalau kamu mau ke Prancis juga tidak apa-apa. Papa akan segera mengurus kepindahan kamu dan mencari universitas yang bagus di sana. Kamu persiapkan diri kamu."


"Kenapa tiba-tiba papa suruh aku ke luar negeri cepat-cepat?" Shelyn memandang dengan penuh selidik. Ada kecurigaan yang muncul di hatinya.


"Turuti saja. Papa tidak ingin kamu membantah. Lagipula dari dulu kamu yang ingin kuliah di luar. Kenapa sekarang kamu tiba-tiba tidak setuju?"


Shelyn menggigit bibirnya dengan bingung. Masalahnya, ia baru saja jadian bersama Davin. Jika ia pergi sekarang, mereka bakal berpisah dan Shelyn tidak mau itu terjadi.


"Boleh kalo Davin juga ikut, Pah?"


Pertanyaan Shelyn membuat Haikal terbelalak. "Sayang, Davin tidak bisa ikut ke sana. Kamu harus pergi sendiri. Kenapa kamu tiba-tiba mau ajak dia?"


Shelyn cemberut dan menunduk sedih. "Kenapa nggak bisa, Pah?"


"Jawab dulu pertanyaan papah," balas Haikal.


Shelyn mengendikan bahunya sembari menatap ke pintu yang tertutup. Di balik pintu ada Davin yang sedang berdiri menunggu. Davin bisa mendengar percakapan mereka dari tempatnya berdiri. Pemuda itu kaget luar biasa ketika mendengar Haikal tiba-tiba menyuruh Shelyn pergi keluar negeri. Ia tahu bahwa bagaimanapun ia memang harus merelakan gadis itu. Namun, dengan situasi yang mendadak seperti ini membuatnya merasa pedih.


Pintu terbuka. Shelyn muncul dengan wajah kusut. Kedua bola matanya sudah memerah menahan tangis. Davin memegang pergelangan tangan Shelyn dengan lembut dan menggandengnya turun ke lantai dua menuju kamar Shelyn di sana.


Tangis Shelyn pecah saat mereka sudah berada dalam kamar gadis itu. Davin memeluknya erat dan mengelus punggung Shelyn agar tenang.


"Kenapa? Hiks ... Kenapa Papa tiba-tiba nyuruh aku pergi? Hiks ... Mana dalam waktu secepat ini lagi. Aku harus gimana, Vin?"


Davin terdiam. Ia tak tahu harus bicara apa walaupun mengerti tujuan Haikal mengirim Shelyn ke luar negeri.


"Kamu ikut aku ya, Vin? Aku akan jelasin status hubungan kita. Aku gak mau kalo kamu gak ikut pergi." Shelyn mendongak menatap Davin dengan mimik sedih.


Davin tercekat. Shelyn lagi-lagi memberinya situasi yang sulit. Ia mana mungkin bisa menerima ajakan Shelyn.


"Kenapa kamu diem aja, Vin? Kamu gak mau ikut aku?" Shelyn melepaskan pelukan Davin dan mengernyit.


Davin menggenggam erat tangan Shelyn dengan putus asa. Ia hanya menggeleng pelan yang membuat gadis itu kembali sesenggukan.


"Kenapa kamu gak mau ikut aku, Vin?"


"Maaf ... saya gak bisa ikut sekarang karena ada tugas yang harus saya jalani setelah tugas menjadi bodyguard selesai." Davin berkata jujur. "Mungkin saya bisa nyusul kamu setelah tugas itu dilaksanakan."


Shelyn menengadah. Pupil matanya sontak membesar. "Kamu serius, Vin? Kamu janji?"


Davin tersenyum dan kembali memeluk Shelyn dengan lembut. Ada kegetiran yang dirasakannya.


"Pergilah, Nona. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi ...."


Mungkinkah kita akan bertemu lagi setelah apa yang nanti akan terjadi?


Dan apakah cinta akan terus membekas di hati bila kita berpisah?


...🌹🌹🌹...



Terimakasih untuk kalian yang sudah membaca cerita ini....

__ADS_1


terus kasih dukungannya, ya...


jangan lupa untuk vote, like dan comment...


__ADS_2