My Sweet Bodyguard

My Sweet Bodyguard
Penangkapan


__ADS_3


Sabtu Pagi,


Shelyn menyandang tas yang berisi barang-barang penting seperti Paspor, Visa, KTP, dompet dan lain-lain. Tangannya sibuk membuka ponsel, menunggu pesan atau telepon yang dinanti sejak tadi.


Dua jam lagi penerbangan tujuan bandara Charles de Gaulle di kota Paris akan berangkat. Namun, batang hidung Davin belum juga terlihat. Ia sudah mengirim pesan pada cowok itu, tapi masih belum ada balasan.


Seorang pelayan menggeret sebuah koper besar milik gadis itu ke dalam bagasi mobil. Saat ini pasti sudah memasuki musim gugur di negara itu. Ia tidak membawa banyak pakaian. Rencananya di sana ia akan sekalian ber-shopping ria membeli baju hangat.


"Mana Davin?" tanya Mulya pada Shelyn yang terus mengecek ponselnya.


Tepat saat itu, ada sebuah pesan balasan dari Davin yang meminta Shelyn pergi lebih dulu ke bandara karena ia akan terlambat. Gadis itu sedikit merasa lega.


"Dia bilang bakal terlambat. Katanya dia nyusul," beritahu Shelyn.


"Kalau begitu, pergilah Nona," kata Mulya.


Shelyn mengangguk. Mata bulatnya memandang sekeliling rumah. Ia pasti akan merindukan suasana tempat tinggalnya ini.


Haikal keluar menuju putrinya yang akan berangkat. Gurat kesedihan terpancar di wajahnya. Shelyn memeluk Haikal erat dan mengecup pipinya dalam-dalam.


"Kamu hati-hati di sana, ya! Papa akan sering berkunjung nanti kalau ada waktu," ujar Haikal sambil mengelus punggung Shelyn dengan lembut.


"Iya, Pah. Papa jaga kesehatan, ya! Aku sayang Papa!"


Tanpa terasa, air mata membasahi pipi Shelyn. Haikal ikut berkaca-kaca melepas kepergian putrinya itu.


"Pergilah. Maaf Papa tidak bisa mengantar. Ada banyak urusan yang harus Papa dan pak Mulya urus."


"Iya, Pah. Nggak pa-pa." Shelyn mengangguk paham.


"Mana Davin? Apa belum datang?" Haikal menatap berkeliling.


"Dia bilang nanti nyusul ke bandara. Aku disuruh berangkat duluan."


"Oh, ya sudah kalau begitu. Pergilah."


Shelyn masuk ke mobil. Seorang supir pria duduk di jok kemudi. Mobil berjalan pelan meninggalkan pekarangan rumah. Shelyn melambai pada Haikal dan Mulya. Air matanya kembali menetes.


Sungguh perpisahan adalah hal yang amat menyayat hati, meskipun hanya sementara.


Gadis itu menatap jam tangan mungilnya. Davin belum memberi kabar lagi. Entah kenapa ada firasat tidak enak menghinggapi hati Shelyn. Rasa gelisah yang terus mendera. Semalam ia bermimpi buruk, melihat Davin jatuh ke laut dalam keadaan berdarah. Semoga saja tidak akan terjadi apa-apa pada diri mereka berdua.


Sepanjang perjalanan, Shelyn hanya bisa termenung.


"Kita sudah sampai, Nona." Suara sang supir mengejutkan Shelyn dari lamunan.


Shelyn bergegas turun. Supir tadi sudah mengeluarkan koper dari bagasi. Shelyn menyeret benda itu menuju kursi kosong di koridor bandara.


Selama setengah jam menunggu, Davin belum juga datang. Ponselnya pun tidak diangkat. Gadis itu merasa cemas sekali. Ia harus segera check in.


"Shel!" sapa seseorang pada Shelyn yang sedang terpaku menatap ponselnya.


"Bara?" Shelyn menoleh dan terkejut melihat Bara sedang berdiri menyandang tas ransel cukup besar.


"Kebetulan, kamu belum check in?" Cowok itu menghampirinya.


Shelyn mengangguk. "Iya. Lagi nunggu Davin. Kok dia belum dateng juga dari tadi?"


"Mending kita check in aja dulu. Nanti kalo udah di ruang tunggu kasih tahu dia. Dia 'kan bisa nyusul nanti."


Shelyn menggaruk-garuk pipi seraya menimbang ucapan Bara. Tak lama kemudian, gadis itu mengangguk. Bara tersenyum dan membantu membawakan koper Shelyn untuk check in ke dalam.


Seorang petugas bandara meminta menunjukkan identitas mereka. Shelyn mengeluarkan KTP dan paspornya, begitupun dengan Bara.


"Kamu emang mau ke mana, Bar?" Shelyn bertanya penasaran. "Amerika?"


"Paris." Bara terkekeh. "Aku pengen liat Menara Eiffel sama Museum De Lovre baru ke Amrik. Itung-itung ganggu liburan kamu sebentar, Shel."


Shelyn cuma geleng-geleng kepala.


Petugas bandara tadi mengembalikan kartu identitas mereka setelah dirasa cukup memeriksanya. Shelyn dan Bara pun bergegas masuk.


Selama mengantre untuk check in, Shelyn tak henti-henti mengecek ponsel, lalu memandang berkeliling mencari siluet Davin. Siapa tahu saja sudah berada di dalam bandara ini.


Bara memperhatikan gadis itu sambil menghela napas. Teringat pertemuannya dengan Davin kemarin yang mengatakan akan melepas Shelyn dan menyuruh Bara untuk menemani gadis itu naik pesawat, juga selama berada di Prancis. Davin akan menangkap Haikal pada hari keberangkatan Shelyn, yaitu hari ini.


Sebelum pergi, ia juga meminta Bara mengatakan semua tentangnya jika gadis itu sudah di sana. Bara jadi merasa kasihan pada Davin yang terlihat sangat patah hati harus berpisah dengan Shelyn, dan telah bersiap jika nanti gadis itu akan membencinya.


Giliran Bara dan Shelyn untuk segera check in. Bara meminta kartu identitas Shelyn dan juga tiket pesawatnya untuk di data. Gadis itu dengan lesu merogoh tas sandangnya dan tampak ragu sejenak sebelum memberikan kepada Bara.


"Kenapa?" tanya Bara heran. Antrian di belakang mereka sudah mengular. "Ayo, nanti kita diomelin orang yang mau check in juga."


"Aku mau tunggu Davin aja." Shelyn menghentakan kakinya.


"Shel, nanti Davin nyusul kok."


"Gimana kalo dia gak jadi ikut?" sergah Shelyn.


"Dia pasti pergi, Shel."

__ADS_1


"Terus kenapa sampe sekarang belum datang juga? Ponselnya aku telpon nggak diangkat. Aku takut dia kenapa-napa."


"Ya udah. Nanti kita telpon dia kalo udah check in." Bara menarik tangan Shelyn yang hendak berlalu pergi.


"Kamu duluan. Aku tunggu Davin." Shelyn menarik kopernya keluar dari antrian.


Bara menganggukkan kepala meminta maaf pada orang-orang di belakangnya dan petugas tiket yang memperhatikan mereka berdua sejak tadi dengan tatapan jengkel.


Cowok itu cepat-cepat menyusul Shelyn yang tengah berjalan menuju pintu keluar.


"Shel! Tunggu dulu. Kamu mau ke mana?"


"Aku mau tunggu Davin."


Bara menarik kuat tangan gadis itu. "Shel ... please!"


Shelyn spontan menyentakkan tangan Bara dengan kasar. "Apaan sih, Bar? Kamu kenapa sih?"


"Kita harus check in, satu jam lagi kita harus berangkat," desak Bara mulai kehilangan kesabaran.


"Kamu duluan. Aku mau nunggu Davin. Aku gak bisa kalo nggak sama dia," tukas Shelyn.


Bara mengembuskan napas jengah. Tepat saat itu ponsel Shelyn berbunyi. Gadis itu cepat-cepat memeriksanya. Ada pesan dari Davin.


Davin:


Kamu duluan, ya. Mungkin saya agak terlambat soalnya masih ada urusan yang harus saya selesain. Saya nyusul secepatnya...


^^^Shelyn:^^^


^^^Kamu dateng kan, Vin? Bentar lagi kita harus take-off.^^^


Davin:


Iya, saya pasti datang. Kalo telat nanti saya naik penerbangan selanjutnya.


^^^Shelyn:^^^


^^^Janji ya, Vin?^^^


Davin:


Take care di sana, ya. Saya sayang kamu, Shel. Jaga diri baik-baik.


^^^Shelyn:^^^


^^^Iya, Vin ... 😘^^^


"Ayo, Bar. Davin bilang dia bakal nyusul."


Bara menarik napas lega dan mengikuti Shelyn di belakang. Namun, ia bisa melihat ekspresi gadis itu yang masih gelisah. Bara berharap semoga rencananya untuk membawa Shelyn ke Prancis berjalan lancar.


Setelah selesai check in dan cek paspor imigrasi, mereka bergegas menuju ruang tunggu bandara. Setengah jam lagi pesawat akan berangkat. Mereka harus cepat agar tidak ketinggalan.


"Bar, boleh tanya sesuatu?" Shelyn tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat ketika mereka sudah berada di dalam pesawat. Sejak tadi, ia tidak bisa berhenti memikirkan Davin.


"Shel, ayo kita duduk dulu. Ada penumpang lain yang mau masuk," kata Bara, melirik ke belakang tubuh Shelyn yang menghalangi pintu masuk.


Shelyn menurut. Bola matanya bergerak mencari nomor kursi yang tertera di tiket. Tapi, ada suatu hal yang menyeruak dalam hatinya. Sebuah kecurigaan dan membuat gadis itu semakin ragu. Ia terus teringat kata-kata Bara beberapa malam lalu.


"Bar, siapa Davin sebenarnya?"


Bara yang tengah menaruh koper Shelyn ke atas bagasi langsung terperanjat, sebaliknya Shelyn sedang menatapnya dengan serius.


"Apa maksud kamu, Shel?"


"Siapa dia sebenarnya?" Shelyn mengulang dengan nada tajam. "Tolong jawab dengan jujur!"


...***...


Davin menengadah menatap sebuah pesawat yang terbang menembus awan di langit. Pesawat itu terlihat kecil sekali dalam pandangannya. Sembari menarik napas, Davin melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan.


Sudah waktunya! Shelyn pasti sudah berada di pesawat dan sedang terbang menuju Paris.


Selamat tinggal, Shel...


Semoga suatu saat nanti takdir kembali mempertemukan kita...


Maafin saya...


Jangan pernah membenci saya...


"Udah siap?" Dimas terdengar berbicara di belakang. Cowok itu sudah mengenakan seragam abu-abu hitam khas Lembaga Intelijen Pancasila lengkap dengan beberapa senjata api yang terpasang rapi di seragamnya, serta sebuah tas ransel hitam.


Mereka akan menangkap Haikal dan kroni-kroninya hari ini. Persiapan sudah dilakukan secara matang.


Gosip-gosip mengenai penangkapan pejabat elit negara mulai berembus sejak dua hari lalu. Banyak yang kelabakan karena merasa terkait, sementara Parlemen mulai bergejolak. Para mahasiswa mulai berdemo untuk menyuruh KPK mengungkap pejabat-pejabat korup. Tanpa diduga, berita kematian Setyo kembali terangkat. Kecurigaan mengarah kepada Haikal yang diduga melakukan pembunuhan berencana atas mantan ketua KPK tersebut.


Davin merapatkan jasnya dan berjalan tegak menghampiri Dimas yang menunggu di pintu. Saat ini mereka sedang berada di atap gedung LIP, bersiap untuk menyerbu kediaman Haikal dan pejabat lain sebelum mereka semua melarikan diri.


"Ayo, kita berangkat!"

__ADS_1


"Apa Shelyn udah pergi?" tanya Dimas yang membuat gerakan Davin terhenti sesaat.


"Udah," ucap Davin lirih sambil tersenyum tipis.


Mereka berdua berjalan cepat menuruni tangga. Orang-orang sudah menanti di ruang aula dengan perlengkapan lengkap. Mobil-mobil Van terparkir rapi berjejer di tempat parkir. Davin mengambil dua buah pistol yang dimasukan ke dalam saku jasnya.


Kemudian, satu per satu para anggota intelijen masuk ke mobil diikuti Pak Mathias, Pak Lukas dan Pak Ilman. Mereka bersiap untuk menangkap para tikus-tikus di negeri ini.


...***...


Haikal membanting ponselnya yang terus berdering ke lantai hingga hancur berantakan. Rasa marah dan kesal telah menguasai dirinya. Saat menyalakan TV emosi pria itu semakin memuncak.


Bagaimana bisa berita kematian Setyo kembali menguak ke permukaan? Dan pelaku yang dicurigai adalah dirinya.


Haikal teringat dengan wanita Jaksa bernama Melda itu. Fakta yang mengejutkan adalah wanita itu bersaudara tiri dengan Bara. Benar-benar sebuah kebetulan yang menyebalkan, dan Haikal yakin wanita itulah yang sengaja mengangkat kasus kematian Setyo yang selama ini telah sempurna ia tutupi.


"Apa yang harus kita lakukan, Pak?" Mulya bertanya sembari mengintip keluar jendela dimana sekelompok mahasiswa sedang berdemo di depan gedung kantornya.


Haikal mengempaskan tubuh ke kursi putar dengan wajah gusar. Pikirannya menerawang pada Shelyn dan Davin. Chip itu harus segera keluar dari negeri ini jika ia ingin selamat.


"Shelyn dan Davin, apa mereka sudah berangkat? Tidak ada kendala, 'kan?"


Mulya menatap arlojinya. "Seharusnya mereka sudah terbang ke Prancis."


Haikal menarik napas berat. Badannya sedikit limbung saat ia bangkit berdiri. Kepalanya pun terasa sakit. Pasti tekanan darahnya mulai naik. Stres yang diderita Haikal beberapa hari ini membuat kesehatan pria itu tidak stabil.


"Anda tidak apa-apa, Pak?" tanya Mulya buru-buru menghampirinya.


Haikal mengangkat tangan dan berjalan gontai menuju pintu. "Kita harus pulang. Ada banyak benda yang harus diselamatkan. Jika suasana semakin tidak baik, kita harus keluar dari negeri ini."


Mulya mengangguk pelan dan memapah Haikal keluar dari ruangan kantor menuju parkiran yang berada di basement gedung.


Setelah masuk ke mobil, mereka melewati pintu belakang gedung karena daerah depan sudah dipenuhi mahasiswa yang sedang berdemo.


Haikal sempat melihat spanduk bergambar dirinya yang dicoret-coret bertuliskan:


...Turunkan Menteri Haikal...


...Turunkan tikus-tikus berdasi...


Haikal menatap tulisan di spanduk itu dengan geram. Ia yakin ada penggerak massa pendemo yang sengaja diturunkan untuk menyerang dirinya.


Jalan raya mengalami macet parah di sekitar Bundaran HI, gedung Kementrian, Istana negara dan gedung DPR. Ada juga yang berdemo di depan gedung KPK. Para reporter dan wartawan pun telah stand by di titik lokasi untuk meliput berita.


Haikal menyuruh Mulya untuk menyalakan televisi kecil di dalam mobil. Terpampang wajah Presiden tengah berpidato terkait masalah gejolak yang sedang berlangsung hari ini.


Hampir setengah jam, akhirnya mereka sampai ke rumah. Haikal segera masuk ke dalam menuju ruang kerja di lantai tiga. Mulya membantu untuk membereskan beberapa dokumen penting juga barang-barang yang bisa membahayakan situasi mereka.


Setelah itu, keduanya bergegas ke ruang bawah tanah dan menyimpan semua barang-barang itu di dalam sana.


Sekonyong-konyong, terdengar suara mobil dan sirene masuk ke pekarangan rumah.


Haikal dan Mulya yang masih di dalam ruang bawah tanah sontak berpandangan. Mereka cepat-cepat keluar dari ruangan tersebut dan terkejut setengah mati melihat gerombolan orang-orang berpakaian abu-abu hitam telah berkumpul di halaman dengan senjata lengkap.


"Ada apa ini?" tanya Haikal dengan suara tercekat melihat orang-orang tersebut.


"Maaf, Pak Haikal. Kami harus membawa Anda sekarang ke gedung KPK. Anda harus diperiksa." Lukas langsung menjawab lantang.


Haikal tertawa seraya meludah ke tanah. "Apa maksud kalian? Kenapa saya harus ke KPK? Kalian tidak punya bukti untuk membawa saya."


Tiba-tiba Davin menyeruak dari dalam mobil dengan tatapan dingin. Haikal dan Mulya terperanjat melihatnya.


"Ka-kamu!" teriak Haikal bagai tersambar petir. Ia memegang bagian belakang kepalanya yang mendadak terasa sakit.


Davin berdiri tegak, lantas mengangguk sekilas. "Maafkan saya, Pak. Saya adalah anggota Lembaga Intelijen Pancasila. Selama ini saya menyamar sebagai bodyguard putri Anda."


Haikal sontak terjatuh dan memegangi kepalanya yang terasa kian berat. "Ka-kamu harusnya ke Prancis. Shelyn ... putriku ... apa yang terjadi? Apa maksudmu?"


"Putri anda sudah berangkat ke Prancis dengan aman, Pak. Maaf, saya hanya melakukan tugas saya." Davin berkata dengan rasa bersalah.


Haikal merangkak mendekati Davin yang berdiri menjulang di hadapannya.


"Kenapa kamu mengkhianatiku? Chip itu! Shelyn—putriku yang malang. Kamu menipuku! Menipu putriku. Bedebah kurang ajar!" Haikal menarik kaki Davin lantas mencengkramnya dengan kencang. Air mata menggenangi pelupuk matanya.


Haikal lemas tak berdaya. Merasa begitu bodoh dengan mudahnya mempercayai pemuda yang berdiri di hadapannya ini. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengenang betapa menyesalnya dia dan membayangkan harus mendekam dari balik jeruji besi.


Beberapa orang mendekati Mulya dan memborgol kedua tangannya. Sementara Haikal masih bersujud di tanah. Tak tahu harus berbuat apa.


"Maafkan saya," ucap Davin sambil menahan napas. "Bapak harus mempertanggung jawabkan semua yang sudah bapak lakukan."


Davin mengulurkan tangan hendak membantu Haikal untuk berdiri. Namun, ada sebuah suara lantang yang berteriak. Suara yang sangat dikenali Davin.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI RUMAH INI! LEPASIN PAPAKU SEKARANG!"


Shelyn sedang berdiri dengan tangan memegang sebuah pistol teracung tegak ke arah Davin. Matanya mendelik garang walau terlihat agak berkaca-kaca.


Davin terhenyak.


Bagaimana bisa Shelyn di sini?


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2