
"Biarkan saya yang mengakui perbuatan pembunuhan Setyo," ucap Mulya pada Haikal saat mereka sedang berada di ruang tahanan KPK—bersiap untuk menghadapi jaksa yang akan bertanya mengenai kasus pembunuhan Setyo hari ini.
Selama tiga hari, mereka sudah mendekam dalam ruang tahanan di gedung KPK ini. Berkas mereka sudah dilimpahkan ke Kejaksaan. Banyak pejabat lain yang juga terkena tangkap, tapi Haikal harus menghadapi kasus yang lebih berat. Ia terancam hukuman mati jika terbukti melakukan pembunuhan berencana pada Setyo lima tahun lalu.
Siang ini, rencananya Haikal dan Mulya akan dipindah ke Kejaksaan untuk diperiksa lebih lanjut. Jaksa yang memeriksa mereka adalah Melda Pertiwi, putri kandung Setyo.
"Kamu sudah gila! Saya juga bertanggung jawab karena saya yang menyuruhmu melakukan itu, Mulya!" omel Haikal padanya.
Mulya menatapnya sendu. Ia sudah mengabdi lebih dari dua puluh tahun pada Haikal dari semenjak Haikal masih menjadi anggota partai. Mereka sudah jatuh bangun bersama. Mulya merasa Haikal telah banyak berjasa padanya dan keluarganya. Mulya bisa menyekolahkan adik-adiknya ke perguruan tinggi bergengsi. Orang tuanya pun bisa naik haji. Walau ia memilih tidak menikah karena ingin selalu mengabdi pada Haikal, ia tetap merasa senang. Hingga hari ini, Mulya tetap menunjukan loyalitasnya sebagai tangan kanan yang setia.
"Saya tidak bisa membiarkan bapak terkena hukuman mati. Biarkan saya yang mengaku semua tentang pembunuhan Setyo adalah perbuatan saya."
"Mulya!" Haikal melotot padanya.
Mulya menatap Haikal dengan bersungguh-sungguh. "Tidak apa-apa, Pak. Saya melakukan ini karena saya bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan."
Haikal tak kuasa lagi membendung rasa haru dan sedihnya. Tangannya bergerak merangkul bahu pria yang berusia 10 tahun lebih muda darinya itu.
"Maafkan saya, Mulya. Ini semua karena saya. Saya yang membuatmu jadi seperti ini. Saya benar-benar buruk untuk kalian." Haikal terisak.
Mulya cuma tersenyum tipis. "Tidak, Pak. Saya tidak akan menyalahkan bapak. Karena bagaimanapun sejak dulu saya selalu mengagumi bapak. Seharusnya saya bisa menasehati bapak agar semua ini tidak perlu terjadi."
Haikal mengusap wajahnya yang tampak menyesal. Ia hanya bisa tertunduk lemas saat Melda muncul bersama asistennya untuk membawa mereka ke kantor Kejaksaan. Mulya menepuk bahunya agar Haikal kuat dan tegar.
Mereka telah bersiap dengan hukuman yang menanti mereka di depan.
...***...
Shelyn duduk menatap papanya yang tampak kelam dan agak kurus. Beberapa helai rambut Haikal mulai memutih. Janggut dan kumis tipis pun tumbuh merambat di sekitar hidung dan dagu. Biasanya Shelyn-lah yang sering mencukurnya agar Haikal terlihat bersih dan segar.
Tepat sepekan semenjak Haikal ditangkap, Shelyn baru mendapat izin berkunjung hari ini.
"Gimana kabar papa? Apa semuanya berjalan dengan baik?" tanya Shelyn.
"Yah, semuanya lancar. Mungkin mulai sekarang kita akan sulit untuk duduk bersama lagi. Papah minta maaf ...," jawab Haikal sedih.
__ADS_1
Shelyn hanya bisa mengembuskan napas berat mendengar jawaban papanya. Gadis itu mulai berkaca-kaca. Sulit bagi Shelyn membayangkan satu-satunya orang tua yang dimiliki harus mendekam di balik jeruji besi.
"Jaga kesehatanmu ... kamu kelihatan kurus. Berhentilah menangis. Semua ini kesalahan Papa. Kamu harus melanjutkan hidupmu dengan baik." Haikal menatap putrinya sendu. Senyum tipis mengembang di bibirnya yang kering.
Shelyn menyeka air mata yang mulai menetes. "Oh ya, Shelyn bawain ini buat Papa. Makanan kesukaan Papa, sate padang. Tadi Shelyn beli di jalan."
Shelyn menunjukkan bungkusan makanan yang ada di tangan sambil tersenyum. Namun, air mata gadis itu terus saja mengalir turun, hingga ia harus menengadah dan menyekanya.
Haikal sesenggukan seraya mengangkat tangan yang dalam keadaan terborgol terangkat, guna mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Ia tak kuasa menahan kesedihan melihat Shelyn menangis di hadapannya.
"Terima kasih, Sayang... maafin Papa, ya. Papa benar-benar orang tua yang buruk ...."
Shelyn mengusut air mata yang terus mengalir. Bibirnya bergetar. Kepedihan dan kepiluan menyeruak di dalam hatinya yang hancur. Namun, apapun yang terjadi ia harus tegar untuk menerimanya.
"Iya, Pah. Papah juga harus makan yang banyak. Maaf, kalau nanti Shelyn nggak bisa sering berkunjung ke sini."
Haikal mengangguk. Ia ingin sekali memeluk anak gadis kesayangannya itu kalau tidak ada kaca besar yang menghalangi mereka.
"Pergi lah, Sayang ... lanjutkan hidupmu. Jaga dirimu baik-baik. Papa yakin kamu pasti kuat. Papa selalu menyayangi kamu. Putri cantik Papah."
Shelyn meneguk ludah dengan susah payah karena tenggorokannya terasa sakit. "Aku juga sayang papah," ucapnya sembari terisak.
...***...
Bisa terlihat dari jendela besar di dinding ruangan di hadapannya, terbaring sosok pemuda yang sangat dicintainya. Pemuda yang memberi kebahagiaan dan arti cinta yang besar.
Shelyn memandangi sosok itu sambil terisak pilu. Davin masih terbaring di sana dan belum sadarkan diri sampai hari ini. Karena luka tembaknya cukup parah, terutama di bagian dada dan membuat Davin mengalami koma akibat peluru yang menembus paru-parunya.
Shelyn tak sanggup melihatnya dari dekat. Ia sungguh menyesal telah melakukan hal bodoh pada Davin. Ia berharap semoga pemuda itu cepat sadar.
"Masih berani ke sini?" Suara sinis seseorang membuat Shelyn tersentak.
Dara sedang menatap tajam padanya. Di samping Dara berdiri Dimas yang tampak menyuruh Dara untuk tidak mengganggu Shelyn.
Shelyn menatap kedua orang itu bergantian, lantas menunduk. "Gue cuma pengen tahu keadaannya."
"Davin masih koma!" sentak Dara. "Sebaiknya lo jangan kemari lagi. Lo cuma bawa sial buat Davin. Dia selalu terluka gara-gara lo!"
__ADS_1
"Iya, gue tahu ...." Shelyn menunduk semakin dalam, menatap ujung sepatu sneakers-nya sembari meremas buku-buku jarinya yang terasa dingin. "Gue hanya ingin melihat keadaan dia terakhir kali dan nitip surat ini sama kalian. Setelah itu, gue akan pergi. Tolong ...."
Dara menatap kesal pada Shelyn. Namun, hatinya sedikit iba saat melihat air mata Shelyn kembali mengalir turun. Shelyn merogoh tas sandangnya. Ragu-ragu, memberikan surat beramplop biru pada Dara.
“Tolong, kasih surat ini kalo Davin udah siuman.”
Dara menghela napas panjang seraya menerima surat itu. Ia menatap Shelyn sejenak tanpa berkata apa-apa. Kemudian, segera menarik Dimas meninggalkan Shelyn yang masih terpaku.
Shelyn mengusut air matanya. Pelan-pelan melangkah ke dalam ruangan tempat Davin terbaring dalam keadaan koma.
Shelyn memperhatikan tubuh Davin yang banyak terhubung selang-selang. Suasana sunyi sekali hanya terdengar detak jantung Davin pada ECG (Electrocardiogram). Shelyn menyentuh lembut tangan Davin yang terasa hangat. Tangan hangat inilah yang selalu menggengam jemari dan membelai pipinya dengan lembut.
Shelyn membungkuk mencium pipi Davin sambil berlinangan air mata.
"Terima kasih, Vin. Terima kasih udah memberikan kisah manis dalam hidup aku. Aku nggak pernah menyesal mencintai kamu," ucap Shelyn sesenggukan. "Maafin aku ... aku harus pergi. Kamu harus cepet sehat, ya. Aku sayang kamu, Vin ... aku nggak akan pernah membenci kamu sampai kapanpun."
Shelyn mengusap hidungnya sementara air matanya terus mengalir. Dengan susah payah, ia menarik napas yang terasa sesak. Hatinya bagai teriris. Namun, ia tahu bahwa menyesali segalanya tidak akan membuat keadaan lebih baik.
"Kamu janji harus cepet sembuh ya, Vin. Maafin aku ... aku bener-bener minta maaf udah bikin kamu kayak begini," ucapnya lagi sembari menggenggam kuat tangan Davin. Sungguh ia tak sanggup untuk melepasnya. Dadanya pun serasa bergemuruh dipenuhi gumpalan kepedihan yang menyesakkan dan membuatnya sakit.
"Terima kasih, Vin atas segalanya ...." Dibelainya sekali lagi pipi Davin dengan lembut. "Terima kasih atas semua pengorbanan kamu ... aku akan selalu mencintai kamu."
Sebelum pergi, Shelyn mencium tangan Davin dalam-dalam sambil terisak. Lalu, berbalik menuju pintu. Tangisnya semakin hebat ketika dia sudah berada di luar. Dara dan Dimas yang melihat gadis itu dari kejauhan juga ikut berkaca-kaca.
Selamat tinggal, Vin ...
Selamat tinggal, bodyguardku ...
...🌹🌹🌹...
CERITA INI JUGA SUDAH AKU BUATKAN TRAILERNYA, YA DI YOUTUBE...
YANG MAU CEK BISA KE YOUTUBE SEGERA...
Maaf ga bisa kasih link di sini soalnyaa...
jadi aku kasih SS nya aja...
__ADS_1
terima kasih