My Sweet Bodyguard

My Sweet Bodyguard
Sebuah Pilihan


__ADS_3


PLAAKKK!!!


Sebuah tamparan keras mendarat pada pipi kiri Davin hingga kepalanya tertoleh ke sebelah kanan. Seruan tertahan terdengar dari beberapa orang yang melihat kejadian itu. Davin merasakan cairan asin di sudut bibirnya yang sobek.


Pak Lukas memandangnya berapi-api. Napasnya memburu. Wajahnya merah menahan emosi yang memuncak.


"DASAR BODOH! BRENGSEK!!!" maki Lukas dengan suara nyaring. Semua orang yang berada di sana terdiam melihat kemarahannya.


"Apa yang sudah kamu lakukan, hah?! Mau sok jadi pahlawan kesiangan!? Kamu sadar tidak akibat dari perbuatanmu itu kita gagal mendapatkan chip itu lagi. Padahal Haikal sudah setuju akan menyerahkannya!"


Davin membisu, kepalanya tertunduk sambil menggertakan rahang. "Seharusnya kita tidak mengorbankan orang lain," katanya lirih.


Lukas menatap Davin seakan ingin menelannya bulat-bulat. Pria itu mengambil buku-buku yang ada di meja kerjanya, lalu melempar ke arah Davin yang berdiri tak bergerak. Dua buku tebal telak mengenai kepala dan dada Davin hingga membuat tubuhnya sedikit gamang ke samping.


Mathias dan bu Melda cepat-cepat menahan tangan Lukas saat ia ingin melempar sebuah asbak berukuran sedang ke arah Davin.


"Brengsek!" umpat Lukas, lalu menghempaskan asbak itu kembali ke atas meja. "Berani kamu memberi saya nasehat! Apa yang akan kamu lakukan sekarang? JAWAB!"


Davin menarik nafas berat. Sementara Dara dan Dimas terperanjat mendengar bentakan Lukas yang menggelegar seperti akan meruntuhkan tembok ruangan ini.


"Saya akan bertanggung jawab," kata Davin lirih.


Lukas mendengus. "Apa yang bisa kamu pertanggung jawabkan dari sikap sok pahlawanmu itu? Kamu tahu betapa pentingnya chip itu bagi kita semua! Sekarang kamu malah mengacaukannya. Kalau kamu suka gadis itu, kenapa nggak kamu nikahkan saja dia? Berhenti jadi agen intelijen!"


Davin menelan ludah. Perkataan Lukas sungguh membuatnya merasa tertohok.


"Lebih baik tulis surat pengunduran dirimu! Saya tidak bisa membiarkan ini. Jangan mentang-mentang kamu selalu mendapat pujian dan penghargaan atas kinerja kamu selama ini, kamu bisa merasa sombong dan saya akan melunak?"


"Maafkan saya, Pak!" Davin semakin menundukan kepalanya. "Saya benar-benar minta maaf. Tapi, sebenarnya saya bisa mendapatkan chip itu jika bapak memberi saya kesempatan."


"Maksudmu chip yang salah seperti kemarin?" ejek Lukas sembari menyeringai. "Sudahlah, kamu sudah mengacaukan segalanya. Jika terjadi apa-apa pada lembaga kita, apa kamu mau bertanggung jawab?!"


"Ya, saya akan bertanggung jawab!" sela Davin lantang.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tantang Lukas dengan nada mencemooh. "Lebih baik kamu urus surat pengunduran dirimu. Saya tidak percaya lagi padamu sekarang. Berhentilah dari lembaga ini!"


Lukas duduk kembali di kursi sambil menyeka wajahnya yang terlihat gusar. Davin menegakkan kepala dan menatap lurus pada pria itu.


"Saya akan mendapatkan chip itu dan menangkap Haikal dengan tangan saya sendiri. Saya bersedia mengundurkan diri jika saya tidak berhasil melaksanakannya," katanya dengan nada lantang yang membuat semua orang tertegun mendengarnya.


***


Davin berdiri menyandar pada tembok seukuran dada di atap gedung. Matanya memandang ke arah mobil-mobil berseliweran di jalan raya yang terlihat kecil dari pandangannya. Langit senja telah mengeluarkan semburat jingga di arah barat.


Kata-kata Lukas tadi membuatnya sadar bahwa ada hal yang harus dikorbankan dalam sebuah pencapaian. Dan ia tahu apa yang harus ia korbankan.


Suara ketukan sepatu terdengar dari arah belakang. Davin menoleh dan mendapati seorang wanita berwajah dingin dengan lipstik merah sedang berjalan ke arahnya. Dia berdiri di samping Davin, ikut melihat pemandangan di bawah. Tangannya mengeluarkan sebungkus rokok, lalu menyulutnya sebatang.


Davin memandang wanita bernama Melda itu. Melda balas tersenyum padanya dan menawarkan sebatang rokok.


"Mau?"


Davin diam saja dan membuang pandangannya ke arah berlawanan.


"Jujur, kamu adalah pemuda yang pemberani," ujarnya, membuat Davin kembali menoleh. "Kamu pasti tahu apa yang akan terjadi jika kamu menyelamatkan gadis itu. Tapi kamu masih nekat menyelamatkan dia. Kamu pasti sangat menyukainya."


Davin mendengus. Tahu apa wanita itu soal perasaannya. Ia hanya tidak ingin mendengar nasehat dari wanita licik yang merencanakan penculikan itu.

__ADS_1


"Saya juga dulu pernah menyukai seseorang. Kami sudah bertunangan," sebuah senyuman miris terukir di bibirnya. "Tapi dia meninggalkan saya hanya karena saya terlalu berambisi untuk meraih karir saya. Dia menikah dengan wanita lain karena bosan menunggu."


"Lantas hubungannya dengan saya apa?" sela Davin dingin.


Melda mengembuskan asap rokoknya ke atas, kemudian melirik Davin sembari tersenyum. "Kamu tahu ada hal-hal yang harus kamu pilih dan korbankan dalam hidupmu. Kamu tidak bisa mendapatkan keduanya sekaligus. Putuskanlah dengan bijak. Menyakitkan memang, tapi itulah seni kehidupan."


Davin cuma diam tak menanggapi ucapannya. Melda membuang puntung rokoknya ke lantai. Sebelum pergi, ia menepuk bahu Davin. "Pikirkan baik-baik. Apapun yang kamu pilih, jangan disesali. Sampai ketemu lagi."


Melda berjalan tegak menyusuri atap. Kotak rokoknya ia lempar pada Dimas yang baru saja datang bersama Dara.


"Your gift!" gumamnya, mengedipkan mata dan berjalan ke pintu, lalu menghilang.


Dimas menatap wanita itu terperangah sambil garuk-garuk kepala. Dara buru-buru menghampiri Davin yang masih berdiri di pinggir tembok.


"Vin, lo nggak pa-pa?" tanyanya khawatir. Kedua matanya langsung melebar melihat luka di sudut bibir dan goresan di pelipis Davin.


"Ada luka di bibir sama pelipis lo, Vin. Gue ambil salep dulu, ya."


"Nggak usah." Davin menggeleng. "Nanti juga sembuh sendiri."


Dara mendesah. Saat Davin dimarahi tadi, gadis itu sempat menangis. Ia takut Davin dikeluarkan oleh Pak Lukas.


"Lo masih di sini, Vin? Belom balik ke rumah Haikal? Gimana keadaan Shelyn?" Dimas yang baru bergabung langsung bertanya. Mengambil sebatang rokok yang diberikan Melda tadi, lalu menyulutnya.


"Dia baik-baik aja," sahut Davin menerawang memandang matahari senja yang semakin tenggelam.


"Bu Melda tadi bilang apa?" Dimas kembali bertanya.


"Nggak apa-apa. Dia cuma ngasih nasehat gak penting," katanya datar. "Gue pergi dulu, ya."


Dengan langkah pelan, cowok itu melangkah menuju pintu. Dara memandangnya dengan nanar. Ada rasa nyeri dalam dadanya. Saat mendengar Davin menyelamatkan Shelyn dari para penculik itu, Dara merasa sangat patah hati. Ia tahu ke mana Davin telah melabuhkan hatinya.


Dara cuma mendengus. "Membuka hati? Lo pikir gampang. Lagian membuka hati sama siapa?"


"Sama gue misalnya."


Dara menoleh pada Dimas. Terperanjat.


Dimas sedang menengadah menatap langit. Ada sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya.


***


Davin menjalankan mobil dengan kecepatan penuh. Ponselnya berdering saat ia baru saja ingin berbelok masuk ke halaman rumah Haikal. Ada sebuah panggilan dari nomor tak dikenal.


"Halo?" sapanya.


"Ini gue Bara. Ada yang mau gue omongin sama lo. Penting."


"Ngapain lo nelpon gue?" tanya Davin malas. Ia sedang tidak mood bicara dengan siapapun.


"Ada hal penting yang mau gue bicarain sama lo. Bisa ketemu?"


"Ngomong aja di telepon. Gue lagi sibuk."


"Oke. Ini tentang identitas lo. Gue tahu siapa lo sebenernya Davin Marcelio."


Jantung Davin mencelos mendengar nama aslinya disebut. Sejauh ini ia sudah berhati-hati untuk bersikap agar tidak ada yang mengetahui identitasnya. Tapi bagaimana Bara tahu soal ini?


"Apa maksud lo? Gue nggak ngerti." Davin berusaha tidak terpancing.

__ADS_1


"Nggak usah pura-pura lo. Gue tahu semua tentang lo dan apa misi lo selama ini."


Davin menggertakan rahangnya geram. batinnya jengkel.


"Oke. Di mana kita bisa ketemu?"


Bara terdengar mendengus senang. Lalu menyebutkan sebuah alamat Cafe sebagai tempat pertemuan mereka. Tanpa pikir panjang lagi, Davin langsung melesat menuju alamat tersebut.


Sesampainya di sana, Bara telah menunggu di salah satu kursi dengan ekspresi dingin. Davin langsung duduk di hadapannya.


"Apa yang mau lo omongin?" tanyanya to the point.


"Apa yang mau lo lakuin sama bokapnya Shelyn?" Bara balas bertanya.


"Itu bukan urusan lo," tukas Davin.


Bara mendengus. "Gue nggak mau Shelyn terluka gara-gara lo. Lo cuma pura-pura suka sama dia, kan? Ini semua bagian taktik lo."


Davin melotot padanya. "Tahu apa lo soal perasaan gue! Denger ya, Bar. Apapun yang gue lakuin, itu bukan urusan lo. Lebih baik lo urus urusan lo sendiri! Kenapa lo gak jadi balik ke Amerika?"


"Karena gue nggak bisa ninggalin Shelyn dalam keadaan begini. Gue nggak bisa liat dia tersakiti gara-gara lo!"


"Tenang aja. Shelyn juga bakal pergi ke Prancis dalam waktu dekat ini."


Ucapan Davin membuat kedua mata Bara langsung membesar. "Prancis? Lo nggak bercanda, kan? Terus lo bakal ikut dia?"


Davin diam saja. Kedua tangannya terkepal di atas meja. "Menurut lo apa gue harus ikut?"


"Lebih baik lo menyerah sama perasaan lo ke Shelyn. Lo nggak bisa bersama dia. Lo nggak berhak!"


Davin langsung menarik kerah baju Bara dengan kedua tangan. Para pengunjung yang melihat langsung menutup mulut menahan keterkejutan mereka. Seorang pelayan yang baru saja ingin mengantar menu pada Bara dan Davin langsung melangkah mundur.


Davin melepaskan tarikannya dan duduk kembali di kursi. Sementara Bara menyeringai.


"Kenapa gak boleh? Gue cinta sama dia. Gue rela ngelakuin apapun buat dia!" Davin menatap tajam pada Bara.


"Terus apa lo rela ninggalin semuanya demi Shelyn? Karir lo? Tanggung jawab lo? Semua kehidupan lo? Lo bisa?"


Davin menelan ludah. Lidahnya kelu. Ia tahu ia tidak bisa melakukan apa-apa. Seolah ada sebuah dinding yang memisahkan mereka untuk bersatu dan ia tidak cukup kuat untuk merobohkannya.


"Pikirin semua itu! Lo gak bisa miliki semuanya. Lo harus memilih. Dan apapun pilihan lo, tetep aja Shelyn yang akan terluka. Lo nggak boleh egois."


Bara benar. Ia terlalu egois untuk melepaskan. Namun, terlalu sulit untuk mengalah.


"Gue nggak bisa kehilangan dia. Gue tahu gue egois. Tapi, apa gue nggak boleh egois? Awalnya gue pikir gue bakal mudah lepasin tangannya tapi ternyata sulit."


"Pikirin baik-baik. Gue nggak akan tinggal diam kalo lo nyakitin dia. Lebih baik lo lepasin dia. Menghilanglah dari kehidupannya setelah tujuan lo tercapai." Bara menatapnya dingin.


Davin mencengkram bahu Bara dengan keras. "Tolong jangan katakan dulu siapa gue sebenernya sama Shelyn."


***


Bagaimana dengan Part ini?


Apa yang bakal dipilih Davin?


Kasian sama Davin dan Shelyn yaa...


__ADS_1


__ADS_2