My Sweet Bodyguard

My Sweet Bodyguard
Penculikan


__ADS_3


Davin menghentikan Benzy di sebuah gedung bertingkat dua, tempat les bahasa Prancis yang selama ini diikuti Shelyn.


Shelyn menghela napas memandang gedung bercat hijau muda dengan sebuah spanduk besar bertuliskan nama tempat belajar itu.


Tadi pagi, Haikal mengatakan bahwa keperluannya untuk pindah ke Prancis sedang dipersiapkan. Visa-nya akan keluar dalam 2 minggu mendatang dan gadis itu harus bersiap. Ini adalah keputusan mutlak.


Tiba-tiba saja, ia merasa tidak seantusias dulu saat mendengar negara Prancis yang disukainya. Cita-citanya untuk bersekolah di sana sebentar lagi terwujud, tapi ia malah merasa sendu. Seperti tidak ada lagi semangat untuk menimba ilmu di sana. Shelyn jadi lebih mencintai Indonesia berkat Davin.


"Aku turun dulu ya, Vin," katanya sambil menyandang tas dengan lesu.


"Tadi, Papa kamu bilang apa?" tanya Davin.


Shelyn menatapnya. "Aku harus siap-siap, 2 minggu lagi visanya keluar dan aku harus segera berangkat."


Mendengar itu, napas Davin tercekat di kerongkongan. Ia menarik tangan Shelyn dan menggenggamnya erat. Sorot matanya memancarkan kepedihan yang mendalam.


Secepat itu? Kenapa secepat itu saya harus kehilangan kamu, Shel? Suara menyakitkan bergema di dalam hati Davin.


"Vin?" Shelyn memandangnya.


Davin menarik napas panjang, pelan-pelan mengendurkan genggaman tangannya. Ia tahu akan begini jadinya. Menyakitkan untuk mereka berdua. Kendati Shelyn tidak pergi, maka ia yang nanti harus pergi meninggalkan gadis itu.


Shelyn membelai wajah Davin dengan lembut sambil tersenyum sedih. "Kamu tahu, ini adalah sesuatu yang pengen aku lakuin sejak dulu dan sekarang baru terwujud yaitu, aku bisa membelai wajah kamu."


Davin balas tersenyum dan merangkul erat gadis itu. "Waktu kita nggak banyak, Shel. Sisa 2 minggu lagi. Saya bener-bener nggak mau kehilangan kamu."


"Kalau begitu aku bilang ke Papa gak usah ke sana. Aku bisa kok paksa Papa. Dia selalu nurutin kemauan aku selama ini, Vin."


"Jangan." Davin melepaskan rangkulannya dan menatap Shelyn serius. Walau berat baginya, kepergian Shelyn ke luar negeri bukanlah hal yang buruk. Setidaknya, gadis itu tidak akan menyaksikan kenyataan menyakitkan tentang ayah kandungnya.


"Emang kenapa? Kok kamu setuju banget sih aku ke luar negeri, Vin?" Shelyn berkaca-kaca. "Apa aku nggak penting buat kamu? Kamu tahu kita baru aja jadian, sekarang malah kita berpisah. Susah payah aku ngedapetin hati kamu, tapi aku malah harus pergi ninggalin kamu kayak begini."


Dan tangis yang sejak tadi dibendung itu pun pecah seketika. Davin kembali memeluknya erat. Ia pun tidak ingin kehilangan Shelyn. Seandainya ia tahu akan begini jadinya untuk mereka berdua, sebaiknya ia tidak menerima tugas menjadi bodyguard Shelyn. Seharusnya ia menolak.


"Saya ... saya pasti akan menemui kamu nanti, Shel. Saya janji ...," kata Davin bersungguh-sungguh sambil mengusap air mata Shelyn.


"Kamu beneran janji kan, Vin?" Shelyn balas menatapnya penuh harap.


Davin mengangguk. "Tapi, satu hal saya cuma minta dari kamu, tolong nanti jangan benci sama saya. Apapun yang terjadi jangan membenci saya."


Shelyn mengerutkan alisnya, tak mengerti maksud perkataan Davin. "Kenapa aku harus benci kamu, Vin?"


"Pokoknya, itu yang saya minta dari kamu, Shel. Saya nggak mau kamu membenci saya."


"Tapi ...." Ketika Shelyn hendak bertanya lagi, Davin sudah mencium bibirnya, lama dan dalam. Perasaan yang berkecamuk di hatinya seolah ia tumpahkan lewat ciuman itu. Entah berapa lamanya mereka berciuman, sampai suara dering ponsel Shelyn mengagetkan mereka.


Shelyn kelabakan mencari ponselnya yang ternyata tersimpan dalam tasnya sendiri. Dengan terbata, ia menjawab panggilan tersebut. "Ha-halo?"


"Bonjour!”


"Oui, Madame," sahut Shelyn dalam bahasa Prancis. Ternyata guru lesnya yang menelepon.


"Shelyn, tu es toujours absente aujourd'hui? Pourquoi n'êtes-vous pas encore venu? la classe commencera*." ("Shelyn, apa hari ini kamu absen lagi? Kenapa belum datang? Sebentar lagi kelas akan dimulai.")


Shelyn melirik jam tangan mungil yang melingkari pergelangan tangannya. Itu suara guru les bahasa Prancisnya. Berarti cukup lama ia berada dalam mobil karena jika sudah turun sejak tadi, ia tidak akan sampai ditelepon gurunya gara-gara terlambat.


"Oui, je vais entrer maintenant*." (Iya. Saya masuk sekarang.")

__ADS_1


Shelyn buru-buru bergegas turun sebelum Davin sempat membukakan pintu mobil. "Aku pergi dulu, Vin. Jemput aku dua jam lagi, ya!"


Davin mengangguk. Shelyn segera berjalan cepat memasuki gedung berlantai dua tersebut. Davin memandang punggung Shelyn sampai menghilang di balik pintu.


Davin mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi Dimas. Mereka sudah janjian kalau hari ini akan memata-matai rumah Haikal untuk mencari chip memory yang asli. Mereka tidak ingin sampai terjadi sesuatu pada Shelyn.


"Neo, gue udah di depan rumah Haikal. Cepet nyusul ke sini."


"Oke.”


Davin mematikan ponselnya dan segera menjalankan mobil meninggalkan tempat itu.


Saat sampai di depan rumah Haikal, Davin melihat Dimas sedang menyamar menjadi tukang cilok lengkap dengan gerobaknya. Ada tiga orang anak sekolahan yang mampir membeli ciloknya. Davin terperangah. Rekannya yang satu ini memang totalitas sekali.


"Bang, beli lima ribu ya!" Davin pura-pura menyapanya, bibirnya mengulum senyum.


Dimas menggerling padanya, lalu memberikan sebuah kotak berwarna hitam pada Davin. Ia tersenyum penuh arti. Sebungkus cilok dengan bumbu super pedas ia hidangkan untuk Davin.


Davin melotot. Sifat usil Dimas memang tidak berubah. Terpaksa ia berpura-pura memakannya dan harus kepedasan. Sebuah cengiran lebar terpampang di wajah Dimas. Setelah menghabiskan satu mangkok cilok, Davin masuk ke dalam mobil. Dimas mengikutinya setelah tiga orang pelajar tadi pergi.


"Ini apa?" tanya Davin saat melihat benda berbentuk seekor lalat dalam kotak hitam tersebut.


"Ini kamera pengintai. Alat ini bisa kita gunain untuk memeriksa keadaan rumah tanpa ketahuan. Ada remote control-nya biar lebih gampang kita kendalikan," jelas Dimas yang membuat Davin terkagum-kagum.


Dimas mencontohkan cara pengoperasian alat tersebut pada Davin. Saat kedua antena lalat itu ditekan, sensor aktif pada benda tersebut akan menyala dan robot lalat tersebut langsung mengapung di udara seperti lalat hijau sungguhan. Dimas menggerakkan lalat tersebut menggunakan remote control sesuka hatinya.


Ia menyuruh Davin untuk mengaktifkan internet di ponselnya dan mengetik sebuah kode sandi agar terhubung pada server kamera pengintai tersebut. Jika sudah terhubung, mereka bisa melihat gambar yang ditangkap kamera tersebut dari ponselnya.


"Wow! It's awesome! Siapa yang nyiptain benda ini? Jenius banget!" puji Davin sambil berdecak memandangi robot itu, kagum.


"Siapa lagi kalo bukan gue sama Agen Frodo. Lo 'kan tahu gue paling ahli dalam hal kayak gini selain nge-hack. Gue jenius, 'kan!"


Davin menatapnya berbinar. "Iya, Logan emang jempol!"


"Maksud lo?" Davin berjengit mendengar perkataan Dimas barusan.


"Bercanda ...." Dimas terkekeh.


Mereka segera mencoba menerbangkan lalat tersebut ke dalam rumah Haikal. Dimas dengan ahli mengendalikan lalat tersebut hati-hati saat masuk ke rumah itu. Ada beberapa pelayan yang sedang sibuk membereskan rumah tertangkap kamera. Lalu, beberapa penjaga dan algojo yang sedang mondar-mandir.


"Ngomong-ngomong, ini mobil Si Tuan Putri, ya?" Dimas mengamati interior mobil mewah ini sambil berdecak kagum.


Davin meraih remote control tersebut dan gantian memegang kendali. "Iya, ini mobil dia,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan.


Tiba-tiba Dimas mengendus-endus tubuh Davin. "Lo pake parfum, ya? Kok wangi banget sih lo? Parfum lo bau cewek lagi.”


"Gue nggak pake parfum. Sembarangan lo." Davin masih mengamati ponselnya yang menunjukan gambar sebuah ruang kosong di lantai satu. Sudah lama Davin mencurigai ruangan itu pasti ada sesuatu.


"Kalo lo nggak pake parfum, kenapa lo wangi parfum?" tanya Dimas lagi penasaran. Sedetik kemudian seringai jail muncul di wajahnya. "Ini pasti bau parfum Shelyn, 'kan? Tuh, jok mobilnya juga wangi sama kayak bau baju lo. Hayoo ... lo abis ngapain sama dia? Kok bisa parfum dia nempel di badan lo?"


Davin mengembuskan napas jengkel. Ia jadi sulit berkonsentrasi karena terganggu oleh ucapan Dimas yang menyebalkan.


"Logan, serius dikitlah. Lo jangan bikin gue nggak konsen deh. Kita harus menemukan chip itu. Gue gak mau terjadi apa-apa sama Shelyn,” omelnya kesal.


Dimas cuma nyengir lebar. Ingin sekali Davin meremas wajah mengesalkannya itu. Mereka kembali menatap layar ponsel.


"Lo lagi liat ruangan apa?" tanya Dimas saat tampilan gambar ponsel mereka menunjukan sebuah lukisan besar yang menutupi dinding.


"Ruang kosong di lantai satu. Gue yakin ada sesuatu di ruangan ini," kata Davin.

__ADS_1


Benar saja, saat itu terlihat Mulya berjalan sendirian di ruangan itu. Pria itu terlihat seperti menekan sesuatu di dinding ruangan yang tertutup lukisan, lalu lantai ubin yang dipijak Mulya terlihat bergeser terbuka membentuk sebuah tangga menuju lorong ke bawah. Mulya segera masuk ke dalam lorong tersebut dan secara otomatis pintu tertutup.


Sontak, kedua mata Dimas dan Davin membesar. Ekpresi keduanya seolah menemukan sekarung emas di depan mata.


"Jackpot!" Dimas berseru.


"Ternyata bener firasat gue kalo ruangan itu ada sesuatu yang mencurigakan," kata Davin.


"Ayo, kita menyelinap ke sana. Kita cari chip itu."


"Nggak bisa sekarang, masih ada Mulya di sana. Kita harus cari waktu yang tepat."


"Oke, kabarin gue kalo udah siap,” angguk Dimas antusias. Ia segera menerbangkan robot lalat tadi kembali ke dalam mobil dan menyimpannya ke dalam kotaknya dengan hati-hati.


Davin menatap arlojinya. "Gue harus jemput Shelyn dulu. Nanti gue telepon lo lagi."


Dimas menyeringai. "Tanyain merk parfumnya dia, ya. Wanginya enak. Bikin merem melek," ledeknya yang membuat Davin mendelik.


"Udah keluar sana. Berisik lo, ah!" gerutu Davin kesal.


"Oke. Gue juga mau jualan cilok lagi," katanya, tergelak. Lalu, segera keluar dari dalam mobil.


Davin segera menjalankan mobilnya menuju tempat les Shelyn. Ia mengendus-endus tubuhnya karena teringat ucapan Dimas tadi. Ternyata aroma tubuh Shelyn memang menempel di jas dan kemejanya. Cowok itu tertawa kecil. Entah apa reaksi Dimas jika tahu bahwa ia memang sudah pacaran dengan Shelyn.


***


Shelyn berdiri di depan gedung tempat les-nya sambil sesekali menatap jam tangannya. Sudah 10 menit ia menunggu, tapi Davin belum terlihat. Ia hendak menelepon cowok itu. Namun, cepat-cepat mengurungkannya. Davin pasti sebentar lagi akan sampai. Ia harus berhenti bersikap manja mulai sekarang.


Sekonyong-konyong, sebuah mobil Van hitam berhenti tepat di depannya. Shelyn mengerutkan alis, bertanya-tanya mengapa mobil tersebut berhenti di hadapannya. Seorang pria berkepala plontos turun dari dalam, berjalan mendekatinya.


"Nona Shelyn?" pria botak itu menatapnya tajam.


Seketika Shelyn merasa ada yang mencurigakan. Pria itu pasti akan melakukan hal jahat padanya.


"Ka-kalian siapa?" Suara Shelyn bergetar walau ia sudah mencoba untuk bersikap tenang.


"Coba tebak siapa?" Pria botak itu menyeringai.


Dua orang pria lain muncul dengan tampilan lebih sangar dan galak. Shelyn bergidik ngeri. Kakinya pelan-pelan mundur ke belakang. Ia menghitung dalam hati untuk siap berlari. Pada hitungan ke-3 gadis itu mengambil langkah seribu meninggalkan para penjahat itu.


Namun, dengan cepat juga pria-pria tadi mengejarnya. Pria botak itu berhasil menarik tangan Shelyn. Shelyn meronta dan berteriak, tapi mereka berhasil membekap mulutnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Saat berada dalam mobil, mereka langsung mengikat tangan dan kaki Shelyn, lalu melakban mulutnya agar tidak bisa teriak.


"Beres, Bos!" kata si pria botak pada laki-laki brewokan dan berambut ikal yang menyetir di depan.


Shelyn menatap satu per satu pria-pria berjumlah enam orang tersebut dengan tatapan garang. Lalu, kembali meronta untuk melepaskan ikatan yang ada di kaki dan tangannya dengan sekuat tenaga.


"Eh, tenangin tuh cewek. Gak bisa diem banget!" Kata pria brewokan yang menyupir tadi. Dia adalah Roni, ketua mafia senjata yang tempo hari melakukan kerja sama dengan Melda dan petinggi intelijen itu.


Mereka sengaja menculik Shelyn untuk meminta tebusan sebuah chip memory yang sangat berharga pada Haikal. Jika melihat putrinya tersakiti, Haikal pasti akan mengalah.


Pria berkepala plontos itu menampar wajah Shelyn dengan keras sampai gadis itu tak sadarkan diri.


"Eh, lo jangan keras-keras mukulnya. Kalo dia mati bisa mampus kita!" protes Roni waktu melihat Shelyn tergeletak pingsan di atas kursi.


"Sori, Bos. Kebawa suasana,” sahut si pria botak sambil cengengesan.


Mobil Van tersebut terus melaju meninggalkan ibu kota menuju daerah terpencil, membawa Shelyn yang malang dalam keadaan tak sadarkan diri.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...



__ADS_2