
4 Tahun kemudian,
Davin berlari masuk ke dalam ruangan bertuliskan Meeting Room dengan tergesa-gesa. Bisa ia dengar suara berat Pak Mathias tengah menjelaskan sesuatu di dalam ruangan itu. Sepertinya rapat misi sudah berjalan beberapa menit yang lalu dan ia terlambat gara-gara Dimas mengerjainya pagi tadi.
Untuk kesekian kalinya, ia selalu tertipu oleh kejailan rekannya itu. Entah ia yang bodoh atau Dimas yang lebih cerdik. Cepat-cepat ia membuka pintu ruangan yang tertutup. Semua orang langsung menatap ke arahnya.
"Maaf, Pak. Saya terlambat," ucap Davin sambil nyengir kuda.
Pak Mathias berdeham sebentar, lalu menyuruhnya duduk. Davin segera berjalan cepat menuju kursi kosong di antara Dara dan Dimas.
"Sialan lo!" Davin mengomel pelan dan menoyor kepalanya.
"Sori, Vin ..." Dimas terkikik di bangkunya, tak memperdulikan ekspresi kesal Davin yang baru saja ditipunya.
Semalam Dimas mengatakan rapat misi ditunda besok karena Pak Mathias ada urusan dan tidak bisa hadir hari ini. Davin yang naif percaya saja dengan keusilan Dimas dan tidak curiga apa-apa. Hingga tadi pagi, Dara mengabari dan menyuruhnya bergegas ke ruang rapat karena rapat sama sekali tidak ditunda. Akhirnya, Davin yang bangun kesiangan harus berlari tergopoh-gopoh dari kamar mess-nya menuju ruang rapat. Seperti Dejavu karena dulu ia pernah dijaili Dimas sekali seperti ini.
Dara menyerahkan berkas berisikan beberapa profil para mafia gembong narkoba kelas nasional dan internasional. Davin pun dengan segera membacanya.
"Jadi, kita mendapatkan misi besar lagi tahun ini. Kali ini pihak BNN yang meminta kerja sama pada kita untuk menangkap gembong narkoba kelas kakap yang jadi buronan dan terlibat jaringan internasional." Suara berat Pak Mathias kembali menjelaskan.
Davin memperhatikannya dengan seksama. Di layar proyektor terpampang gambar seorang pria berkewarganegaraan asing.
"Namanya Felipe Monarez. Keturunan Spanyol dan berkewarganegaraan Kolombia. Dia terlibat dengan beberapa sindikat perdagangan narkoba di Asia Pasifik terutama Indonesia," jelas Pak Mathias. "Ingat berita para selebriti di tanah air beberapa minggu lalu yang banyak tertangkap karena kasus narkoba? Kabarnya, Felipe Monarez terlibat di dalamnya. Dia sempat tinggal selama tiga tahun di Indonesia dan berhasil menyelundupkan narkoba ke negara ini. Jadi, Pihak BNN berharap bisa menangkap Felipe yang sekarang berstatus buronan dan mengajak kita bekerja sama."
"Wow!" seru Dimas takjub.
Pak Mathias tersenyum. "Misi yang sangat berat, bukan? Tapi, kabar baiknya jika kita berhasil menyelesaikan misi dan menangkap Felipe Monarez, lembaga kita akan mendapatkan penghargaan kembali dari Pemerintah dan kalian semua akan mendapat bonus gaji besar juga tunjangan hari tua yang dijamin oleh Pemerintah."
Semua orang bersorak sorai mendengar perkataan beliau. Hingga ruangan rapat pekak oleh kebisingan antusiasme seluruh anggota. Davin hanya tersenyum di kursinya, sementara Dara ikut bertepuk tangan dan Dimas bersiul-siul kegirangan.
Pak Mathias memberi kode menggunakan tangan agar semua kembali tenang. Ia melanjutkan kembali penjelasannya di depan. Layar berganti dengan gambar Felipe Monarez saat beraktifitas.
"Foto-foto ini diambil saat Felipe sedang tinggal di Indonesia beberapa waktu lalu sebelum akhirnya berhasil melarikan diri. Menurut kabar yang berhasil dikumpulkan. Felipe berada di China empat bulan lalu. Kemudian, di Meksiko satu bulan lalu dan terakhir, ia sedang menetap di Prancis bersama adiknya seorang anggota gangster terkenal di Eropa dan Amerika Selatan. Namanya, Danielo Monarez. Mereka ingin membangun Casino di negara tersebut."
Hati Davin berdesir ketika mendengar kata Prancis. Ia tiba-tiba teringat Shelyn.
__ADS_1
"Jadi, kami sudah mengatur beberapa rencana. Salah satunya adalah kami akan menugaskan beberapa dari kalian untuk pergi ke Prancis mencari Felipe dan menangkapnya. Apa kalian semua siap?"
"Siap, Pak!" sahut semua orang serentak.
"Tugas ini cukup berat karena berhubungan dengan bandit kelas internasional. Kalian harus hati-hati dalam bertugas. Jika gagal, mungkin nyawa kita dalam bahaya."
Semua orang terdiam mendengar ucapan Pak Mathias. Tentu saja menjadi agen intelijen adalah tugas yang tidak mudah. Mereka bertaruh nyawa dalam menjalankan tugas atau misi rahasia.
"Baiklah, saya akan membagi kalian menjadi tiga tim seperti biasa. Dan tim pertama yang akan berangkat ke Prancis untuk mencari dan menangkap Felipe. Saya akan memanggil nama kalian satu per satu. Kalian harus mempersiapkan diri menjalankan tugas ini. Misi lembaga kita ada di tangan kalian." Pak Mathias menatap satu per satu wajah anak buahnya dengan tegas.
Jantung Davin berdegup kencang. Ia sudah mempersiapkan diri jika namanya disebut.
Prancis ... ia berharap bisa pergi ke negara itu dan tentunya juga bertemu Shelyn di sana.
"Baik untuk tim pertama yang bertugas berangkat ke Prancis adalah Davin Marcellio, Dara Pramitha, Dimas Permana dan Rian Saputra. Kalian berempat segera mempersiapkan diri. Awal bulan depan misi mulai dijalankan. Saya harap kalian tidak membuat kesalahan. Kami akan terus memantau keadaan selama kalian di sana dan untuk yang lain akan membantu jika kalian kesulitan."
"Baik, Pak!" sahut semua orang dengan semangat.
"Untuk anggota tim yang lain, silakan liat nama kalian di layar. Kami sudah membagi kalian ke dalam tim 2 dan tim 3. Jika ada pertanyaan, silakan ajukan."
Pak Mathias menatap satu persatu anak buahnya yang kini sedang sibuk memperhatikan layar. Sementara Dimas dan Rian saling ber-high five karena merasa senang bisa menjadi bagian dari tim yang ke Prancis.
Davin cuma tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa. Namun, dalam hatinya ia merasa sangat antusias menerima tugas ini.
...🔫🔫🔫...
Davin duduk tegak menatap seorang pria paruh baya yang baru saja masuk ke dalam ruangan berukuran 5x6 meter ini. Dinding-dindingnya bercat warna kelabu gelap yang mulai kusam dan pudar.
Pria itu sedikit enggan ketika pandangannya bertemu dengan Davin. Gurat kesedihan dan kekecewaan tersirat dari wajahnya yang nampak tua dan kelam. Sekitar dagunya ditumbuhi janggut lebat yang sedikit memutih.
"Ada perlu apa kamu kemari?" tanyanya dengan suara serak dan dalam seraya duduk di kursi di hadapan pemuda itu.
Davin menarik napas, sedikit menundukan kepala karena merasa agak canggung menatap pria di hadapannya ini. "Bagaimana keadaan anda, Pak Haikal?" tanyanya.
Pria bernama Haikal itu mendengus. "Setelah empat tahun yang terjadi. Apa kamu sudah puas melihat keadaan saya seperti ini?"
Davin menegakkan kepalanya dan menatap lurus pria itu. "Maafkan saya, Pak. Saya hanya menjalani tugas saya."
__ADS_1
Haikal diam saja. Tangannya yang dalam keadaan terborgol, mengepal erat.
"Bolehkah ... bolehkah saya menemui putri anda di Prancis, Pak?" Davin kembali bertanya dengan suara lirih. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu setelah apa yang terjadi, rasanya sangat tidak tahu malu jika ia masih menyimpan kerinduannya pada gadis itu. Pada Shelyn.
Haikal menghela napas panjang. "Kenapa kamu ingin menemuinya? Sudah cukup menyakitkan dengan segala hal yang terjadi padanya, Davin. Putriku ... saya benar-benar tidak akan memaafkan jika kamu menyakitinya dan membuatnya terluka."
"Saya tahu saya tidak pantas. Maafkan saya, Pak ..." sahut Davin. Kepalanya kembali tertunduk.
Haikal menggigit rahangnya. Hatinya berdebar sedih setiap kali teringat Shelyn. Rasa menyesal dan bersalah selalu menghantui dirinya selama ini. Entah bagaimana keadaan putri semata wayangnya di negara itu. Mengingat Shelyn harus tinggal seorang diri tanpa dirinya, tanpa siapapun.
"Apa kamu memang mencintai putriku?" Haikal menatap Davin lekat-lekat.
Davin menengadah, lalu mengangguk pelan. "Sampai detik ini saya masih merindukannya. Saya tahu seharusnya saya tidak boleh seperti ini. Tapi, saya ingin meminta izin dari anda, Pak. Saya hanya ingin menemuinya di sana. Melihat keadaannya bahwa Shelyn baik-baik saja."
"Dia baik-baik saja," gumam Haikal. Kemudian, ia memanggil seorang sipir penjara yang berdiri di dekat pintu masuk. "Tolong, pinjamkan saya kertas dan pulpen. Saya harus menulis sesuatu."
Pria sipir tersebut mengangguk. Ia pergi keluar ruangan sebentar untuk mengambil benda yang diminta Haikal.
Tak berapa lama, pria itu muncul. Selembar kertas dan pena berada di tangannya.
"Terima kasih," ucap Haikal pada pria itu. Ia meletakkan kertas itu di atas meja di hadapan Davin. "Tulislah di kertas itu. Saya akan menyebutkan alamat tinggal Shelyn di Prancis padamu."
Kedua bola mata Davin membesar. Dengan cepat, ia meraih pena itu dan menuliskan alamat yang diucapkan Haikal.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih ..." katanya sambil menganggukan kepala.
Haikal menatap Davin dengan tajam. Namun, kedua matanya terlihat berkaca-kaca ketika berkata, "Tolong, jaga dia untuk saya. Jangan pernah buat Shelyn menangis ataupun terluka."
Davin menatap Haikal dengan kesungguhan. "Saya akan penuhi janji itu, Pak."
...🌹🌹🌹...
Terus dukung cerita ini ya, Guys ....
Aku penulis baru soalnya...
Kasih tanggapan kalian ya sama cerita ini...
__ADS_1