
"Loh Evellyn, kamu ngapain kesini? "
Deg.....
Bagai tersengat listrik yang berhasil menusuk tulang dan juga uratnya, demi tuhan Izzi benar-benar terkejut sekaligus ketakutan. Apalagi sekarang pria itu ada di hadapannya. Izzi meneguk salivanya susah payah, sedangkan Ranti tak berani menatap mata tajam milik Zain.
"Dan kamu Ranti? Kamu juga bareng Evellyn? "
"Hehe, i-iya Pak. " Ucap Ranti cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mata Zain baralih menatap Izzi yang kink sedang menutupi wajahnya dengan buku menu makanan.
Jangan panggil gue.....
"Kamu belum jawab pertanyaanku Evellyn. " Ucap Zain datar.
Izzi tersenyum kikuk. " Pertanyaan apa ya Pak? " Zain memutar bola matanya malas.
"Kamu ngapain ada disini? Apa kamu ngikutin saya? "
Selidik Zain yang kini sudah entah kapan sudah duduk di kursi. " Lepas maskermu. Tidak sopan jika bicara dengan orang lain dalam keadaan seperti itu. "
"Buka ogeb! " Ucap Ranti pelan. Izzi mendelik sebal.
Perlahan Izzi membuka masker itu. Rasa takut semakin menjalar ke seluruh tubuhnya. Merutuki kebodohannya karena telah melakukan hal yang semakin membuatnya rumit.
"Kamu mau makan apa mau memata-matai orang? "
Deg....
Lagi?????
__ADS_1
Mengapa pria di hadapannya ini selalu saja tahu isi pikirannya? Seorang cenayangkah dia?
"Ma-mau makan Pak. " Ucap Izzi cepat. Zain menyipitkan matanya.
"Tapi pakaianmu-"
"Apa salahnya jika kami memakai pakaian seperti ini? Siapa tahu jika ada maling kita bisa melaporkannya ke polisi. " Itu suara Ranti. Setelah sekian lama diam, akhirnya Ranti membuka suara. Mencoba untuk bersikap tenang dan santai.
"Saya kira, kalian sedang berlomba menjadi Detektif kota. " Izzi menahan tangan Ranti yang ingin menggebarak meja. Izzi menutup matanya sekilas, lalu itu tersenyum tipis.
"Bapak mau makanan apa? biar saya pesankan. "
Zain terdiam sejenak. " Seafood aja. " Izzi mengangguk. Meskipun di dalam hatinya sempat teriak karena kebodohannya sendiri, Izzi tetap mencoba biasa saja.
Izzi memanggil pelayan itu dan memesan makanan. Setelah itu pelayan itu pergi dan tak lupa dengan senyum tipis di bibirnya.
"Bertemu klien. "
Kubur gue hidup-hidup, gue mobon????
Izzi memutus kontak mata dengan Ranti yang kini menaapnya datar.
"Kamu tidak mau cuti? "
"Sa-saya Pak? " Izzi menunjuk dirinya ragu.
"Siapa lagi jika bukan kamu. "
__ADS_1
"Kok Izzi saja yang di tanya Pak? Kan saya juga pengen libur. "
Zain mengernyit. " Loh? Bukannya kamu sudah mengambil cutimu beberapa hari lalu selama 2 hari? "
"Ya tapi itu belum cukup Pak. " Ranti meminum aqua yang ada di sebelahnya.
"Yang sopan. " Desis Izzi. Ranti tertawa sinis.
"Dia aja gak sopan sama kamu. "
"Ranti?!! " Izzi menegur pelan temannya itu. Bisa dibilang Ranti cukup berani jika dalam melawan seorang Zain Amami itu.
Pesanan pun datang. Entah kenapa suasana mendadak canggung. Izzi berdehem pelan untuk melawan kecanggungan.
" Emmm, Bapak tidak mau pulang? " Zain menaikkan sebelah alisnya. " T-tidak! Maksud saya, Bapak tidak mau memakan ini? Lihat ini makanannya enak sekali. "
"Dari mana kamu tahu jika itu enak? "
Jleb.....
"Aa.. nu itu dari... makanannya! " Izzi mengangguk antusias.
"Guoblokkkkk! " Lirih Ranti. Izzi mendelik kesal.
Lagi.....
Akhirnya mereka bertiga makan bersama. Dan sepertinya Izzi dan Ranti gagal untuk rencana pertamanya.
__ADS_1