
Kali ini Izzi harus benar-benar menuruti keinginan Bosnya itu. Sebenarnya perkataannya waktu itu hanyalah sebuah alibi saja karena takut akan teror yang selalu di lakukannya. Izzi masih membutuhkan pekerjaan tersebut. Meski dirinya selalu di kekang oleh Bos sialannya itu, Izzi masih bisa menghadapinya. Sifatnya yang egois hanya untuk mendekatinya membuat Izzi tidak tahan.
Duduk di ruangan yang bernuansa putih yang di kombinasi dengan warna abu-abu di setiap sudut ruangan, disinilah Izzi berada. Di depannya sudah ada seorang pria yang sangat tampan tapi angkuh, siapa lagi jika bukan Zain Amami. Zain menyuruhnya untuk menemuinya di ruangan kerjanya. Tentu saja Izzi tidak bisa memberontak. Tapi bukan berarti Izzi takut, tapi Izzi masih ingin menggenggam selembaran uang.
"Untuk apa Bapak memanggil saya? " Kali ini Izzi membuka suara. Dengan wajah yang datar tanpa ekspresi. Izzi mengkerutkan keningnya ketika melihat senyuman tipis di bibir pria itu. " Kenapa? "
Zain menggeleng pelan. " Aku kangen sama kamu. "
Bolehkah Izzi berteriak sekencang mungkin saat ini dan berbicara keras bahwa seorang CEO di Perusahaan kerjanya sudah gila??
Mendengar hal itu, justru Izzi merasa muak dan ingin muntah.
__ADS_1
"Ini tempat kerja, jangan pernah anda campur urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. "
"Kamu terlalu profesional, Eve.... Dan aku sangat menyukainya. "
"Jika saya tidak profesional, berarti saya tidak akan pernah mandiri dan mengatur hidup keluarga saya. "
Zain tersenyum tipis. Mengeluarkan sebuah kotak merah yang ada di balik jas hitamnya. Kening Izzi mengkerut, merasa penasaran apa yang akan di lakukan oleh Bos gilanya itu padanya.
Sangat lembut dan juga halus.
Zain tersenyum. Sudah terlalu lama Zain menunggu momen ini. Dimana dirinya harus terpaksa membuat wanita di hadapannya harus bekerja lembur hanya untuk mendekati wanitanya. Zaib menciumnya lama. Zain terkekeh melihat raut wajah Izzi yang memerah sedang menahan malu.
__ADS_1
"I Love You, Eve... " Izzi masih belum bisa mencerna perkataan itu. Seperti sebuah mimpi saat ini. Zain membuka kotak merah itu, terdapat sebuah cincin berukuran kecil, sangat polos dengan ukiran yang terselip di pinggirnya namun tidak ketara. Sangat elegan.
"Eve... " Mata elang Zain menatap lekat mata hazel milik Izzi. Seakan terhipnotis akan tatapan itu, Izzi sampai tidak menyadari bahwa Zain saat ini dekat sekali dengannya. " Setelah sekian lama, sambil menunggu waktu yang tepat, aku menunggumu Eve, melakukan segala cara agar aku bisa selalu dekat denganmu. Bisa di bilang saat ini aku egois, tapi inilah aku. Seorang pria yang hanya mencintai seorang wanita yang berhasil membuatnya jatuh sejatuh jatuhnya. Di depanku ini, ada sosok wanita yang mampu membuat hati seorang Zain Amami luluh. Seorang wanita yang berhasil membuat seorang Zain tidak pernah mengenal cinta, sekarang merasakannya. Semua itu hanya kamu yang bisa melakukannya. "
"Z-zain-"
"Aku, aku sangat mencintaimu, Eve, tidak peduli seberapa besar kamu membenciku,aku tidak peduli. Yang aku inginkan sekarang hanyalah bisa mencintaimu dengan tulus. Kamu tahh, aku menyusun kata-kata ini tidak ada rencana. Tapi kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirku. Jadi... " Zain memberi jeda. " Maukah kamu menikah denganku, Evellyn? "
Izzi tak mampu berkata-kata. Mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Kata-kata itu tidaklah bohong, dia mengatakannya dengan hati yang paling dalam. Tidak ada kebohongan di dalamnya. Hingga detik berikutnya Izzi tersenyum.
__ADS_1
"Aku pikirin dulu ya?"