
"Udah di biasa'in aja, lihat? make upnya jadi gak rata kan gara-gara keringet kamu. " Rika mencoba menenangkan putri satu-satunya ini. Wajar saja Izzi gugup setengah mati, karena hal ini baru di alaminya. Apalagi yang akan menjadi suaminya seorang CEO muda. Izzi mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
"Nih minum? biar gak gerogi. " Rika terkekeh melihat ketegangan putrinya, setelah sekian lama menjomblo akhirnya Izzi akan menikah juga. " Mama setuju dengan pilihan kamu, Zii. Tidak peduli itu kaya ataupun miskin, jika dia bisa membuatmu bahagia, mau bagaimana lagi, hm? " Izzi memeluk erat tubuh Rika.
"Makasih ma. Meskipun mama sering marahin Izzi, tapi Izzi tetep nganggep mama orang tua Izzi. Mama gak usah khawatir soal itu. "
"Iya mama ngerti. " Rika mengusap pelan pungggung putrinya. Mendorong pelan tubuh putrinya dan memandangnya lama.
Sangat cantik.
Gaun putih yang melekat pada tubuhnya dan juga lengan panjang sangat cocok dengan warna kulit putihnya. Di tambah rambutnya yang sengaja di cepol, hingga membuat leher jenjangnya terlihat.
"Cantik banget putri mama? "
"Anaknya siapa dulu dong?? " Rika mencubit gemas pipi Izzi.
"Iya iya, anaknya Rika yang paling cantik. "
Zain and Izzi POV
__ADS_1
"Tenang dan jangan gugup ok! ada papa di samping kamu. " Izzi hanya mengangguk patuh. Radit mengisyaratkan pada putrinya agar tetap tenang. Di depan matanya, sudah ada Zain yang kini tersenyum seakan semuanya baik-baik saja. Izzi membalas senyuman itu.
"Izzi udah siap pa. "
Semua pasang mata tertuju pada wanita yang kini sedang di temani oleh pria paruh baya. Melangkah ke depan menuju sang kekasih.
"Kamu cantik hari ini. " Bisik Zain pada kekasihnya yang kini sedang menyembunyikan malunya.
"Bukannya aku memang cantik dari dulu? " Zain terkekeh.
"Tapi hari ini, kamu benar-benar cantik. Aku makin cinta sama kamu. " Izzi memukul pelan dada bidang milik Zain.
"Cieeee yang malu-malu kucing. " Ranti menyenggol keras perut Galang yang tiba-tiba saja membuka suara. Izzi menatap tajam padanya, seketika nyali Galang menciut ketika Izzi memperagakan jari telunjuknya mengiris lehernya.
Setelah acara pertukaran cincin selesai, semua pada terharu. Rika dan juga Ivina ikut menangis.
"Ciee yang ntar lagi suami istri.... "
"Jadi? Lo kapan nikahnya, Ran? " Ranti tersenyum.
"Nunggu jodoh. "
__ADS_1
"Jodoh gak bakalan dateng kalo di tunggu terus. "
"Sama gue aja ya Ran? " Tiba-tiba Galang merangkul pundak Ranti dan langsung di hempasnya keras. Izzi dan Dimas tertawa. " Ya elah Ran, galak amat makanya gak laku. "
"Lo ngomong gitu lagi, gue palu pala lo!!! " Ranti menjeda. " Kek gak ada cewek lain aja. "
"Kalo gue maunya lo, gimana?? "
"Nyebur aja lo sono di lubang buaya!!! " Lagi mereka tertawa melihat interaksi antara Ranti dan juga Galang.
"Ran, kasian tuh si Galang, pasti bingung nyari calon istri. "
"Ogahh gue!!! " Ranti menyeruput jusnya. " Oh iya Pak Bos,masalah laporan, di tunda dulu ya? biar gak capek. "
Zain menggeleng. " Besok saya masuk. Jam 8 laporan itu harus sudah ada di meja saya. "
"Tapi kan ad-"
"Evellyn capek. Saya tidak mau tunangan saya kecapekan. " Ranti hanya melongo mendengar permnuturan dari Bos kekasihnya itu.
"Yang sabar aja ya?? " Izzi menepuk pelan punggung Ranti. Ranti mendengus.
__ADS_1
"Puas lo?!!! " Izzi hanya nyengir tak berdosa.