My Sweet Izzi

My Sweet Izzi
Persiapan Tunangan.


__ADS_3

"Pelan-pelan dong sayang jalannya? gaunnya gak bakalan pergi kalau pelan sedikit. " Zain sudah beberapa kali mengingatkan kekasihnya itu untuk tidak lari-lari. Sudah 3 kali Izzi terjatuh karena memakai haig hels yang cukup tinggi di tambah dengan jalannya yang begitu cepat. Izzi hanya cengengesan dan tersenyum manis. Zain menghela nafas pelan. Mengapa kekasihnya itu tidak bisa jelek sehari saja???



"Sayang yang itu aja ya?! " Izzi segera menarik lengan kekar Zain menuju ke tempat dimana gaun itu terpajang. Gaun berwarna putih panjang tanpa lengan. Di dominasi dengan mutiara yang melingkar di bagian pinggulnya. Sederhana tapi terlihat elegan. Zain melihat ada rasa suka pada raut wajah kekasihnya itu. Izzi tidak berhenti mengucapkan kata " keren" pada gaun tersebut. Tapi Zain sepertinya tidak terlalu suka dengan model gaun itu, terlalu terbuka dan mengekspos tubuh indah kekasihnya itu.



"Jangan yang ini, jelek. " Seketika bahu yang mulanya tegap kini meronsot ketika mendengar perkataan tak enak dari Zain. Izzi memandang sendu kekasihnya itu.



"Gak usah nangis, ntar aku pesenin yang lebih bagus dari ini. "



"Gak mau!!! " Zain mengernyit bingung ketika Izzi menghempaskan tangannya kasar. Kenapa dengan kekasihnya ini?? " Pokoknya aku mau yang ini! " Izzi tetap bersikeukeuh pada pendiriannya. Bukannya Zain tidak menyukai gaun itu, hanya saja, Zain tidak berbagi jika miliknya di lihat oleh orang lain. Zain mencoba membujuknya.



"Sayang-"



"Aku mau yang itu Zain. "



"Hei?? kenapa kamu marah gini sih? lihat, cantiknya ilang deh. " Izzi melipat kedua tangannya di depan dada dan mengerucutkan bibirnya kesal. " Aduhhh, makin gemes banget sih pacarnya aku. " Goda Zain sambil menoel pipi Izzi. Izzi tidak merespon.



"Kok cemberut gini sih? ya udah ntar aku cari'in yang bagus dan kamu aku izinin untuk memilih, ok? "



"Tapi aku maun-"


__ADS_1


"Gak usah bantah, Evellyn? " Desis Zain tajan hingga membuat Izzi takut dan menunduk. " Ayo pulang. "



Izzi diam dan menurut. Pelayan wanita itu menatap pasangan yang baru saja pergi dengan bingung.


"Kok Tuan Muda galak gitu sih? " Gumamnya sambil berjalan le tempat duduknya.




☕☕☕



"Kok masih cemberut gitu sih? " Di abaikan oleh kekasihnya ialah sesuatu yang Zain tidak suka. Apalagi Izzi mendiaminya karena perkara gaun itu, Zain tak habis fikir, kenapa sifat kekasihnya selalu berubah-ubah?? Zain berfikir jika Izzi sedang mengalami PMS yang di rasakan oleh kaum wanita saja.



"Kamu lagi PMS ya? " Tanya Zain sambil mengecup pelan tangan lembut kekasihnya itu. Izzi mengangguk pelan.




Zain tersenyum, melihat tingkah kekasihnya yang begitu menggemaskan selalu ingin membuatnya mencubit pipi tembem itu.



"Kamu banyak makan ya? kok tambah tembem pipinya? " Zain menoel pelan pipi Izzi, sontak Izzi membelalak kaget.



"Aku gak gendut!!!! " Zain mengernyit. Lagipula, siapa yang mengatakan kekasihnya gendut.



"Aku gak ngatain kamu -"

__ADS_1



"Pokoknya aku gak gendut Zain!! aku lagi njaga pola makan aku, gak mungkin aku gendut. " Detik berikutnya Izzi menangis terisak do dalam pelukan Zain. Zain mulai memaklumi kesensitifan kekasihnya itu akibat pengaruh PMS.



"Cup cup cup!! udah gak usah nangis. Aku minta maaf ya? "



"Pokoknya aku gak gendut... "



"Iya pacar aku gak gendut... " Izzi menghapus pelan air matanya. Menatap kemeja kekasihnya yang basah. Izzi memandangnya polos.



"Kemejamu basah? " Zain lagi-lagi tersenyum dan mengecup sedikit bibir tipis itu.



"Gak pa-pa. Yang penting pacar aku bahagia. " Izzi tersenyum.



"Aku lapar? makan? " Detik berikutnnya Zain menyalakan mobil dan mengenggam erat tangan mungil itu.



"Siap Tuan Puteri!!! "





__ADS_1


__ADS_2