
"Jadi, ini cowok yang kamu bilang tadi malam itu, Zii? ganteng banget? " Mendengar kata " Ganteng" Dari Radit papanya Izzi, sontak Zain tersenyum manis sekali. Memang tidak bisa di pungkiri jika seorang CEO yang bernama Zain Amami ini terkenal sangat tampan bahkan menyaingi ketampanannya V BTS. Rika datang dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat 2 gelas jus jeruk. Rika tersenyum manis pada Zain.
"Mama bisa gak sih, senyumnya gak usah sok manis gitu? " Celetuk Izzi ketika melihat Rika tersenyum pada kekasihnya.
Kening Rika mengkerut. " Loh? emangnya kenapa, Zii? kan Zain bakalan jadi mantu mama? "
"Mantu apa calon suami mama?! "
"Hus!!! Izzi, jaga bicara kamu! " Izzi hanya memutar bola matanya jengah.
"Di tinggal papa baru tahu rasa. " Gumam Izzi yamg sempat terdengar oleh Zain. Zain tersenyum melihat respon kekasihnya itu yang begitu cemburuan.
"Tapi Zain? Mama itu genit banget!!! "
"Kamu ngomongin orang tua dosa loh? "
"Kelakuan aja kek anak dewasa kurang asupan. "
__ADS_1
"Papa... " Rika mengadu pada Radit. Izzi mengedikkan bahunya acuh.
"Jadi... Kapan kamu melamar anak saya? " Zain nampak berfikir.
"Saya akan bertunangan dulu dengan Eve Om. Nunggu papa saya nyerahin semua aset perusahannya pada saya Om. "
"Om sangat beruntung sekali karena ada pria yang tulus mencintai Izzi. Tapi kamu tidak perlu menunggu perusahaan itu. Maksud Om, Om tidak keberatan jika Izzi di lamar oleh pria sepertimu, dan Izzi akan menerima kamu apa adanya. " Izzi menggigit bibir bawahnya pelan. Zain yang mengerti kondisi kekhawatiran kekasihnya, memberikan senyuman menenangkan.
"Saya tidak mempersalahkan hal itu Om. Jika menyangkut tentang kebahagiaan Eve, saya akan melakukan apapun demi dia, asal Eve bahagia. " Radit mengangguk setuju.
"Tante sih terserah pada Izzi, semua ada di tangannya. "
☕☕☕
Kini Izzi diduk di kursi dekat belakang rumahnya. Sebuah taman yang cocok untuk mengobati kegundahannya sekarang ini. Rika menghampiri putrinya yang kini sedang memikirkan sesuatu. Rika tersenyum simpul.
__ADS_1
"Ma? Apa pilihan Izzi sudah tepat? maksud Izzi, Izzi hanya sedikit ragu ji-"
"Untuk apa kamu ragu? " Rika segera memotong perkataan dari Izzi." Apapun keputusanmu dan juga pilihanmu, mama yakin itu selalu tepat. Mama tidak pernah mengajarkanmu untuk pesimis kan, sayang? " Izzi menatap sendu wajah serius mamanya. Tak ada kebohongan di sana. Rika tulus menyayanginya, meskipun mereka sering bertengkar.
"Izzi takut terluka untuk yang kedua kalinya ma, Izzi sangat takut... " Air mata lolos dari pelupuk mata hazelnya. Rika menarik tubuh rapuh putrinya itu dan mengusap lembut punggungnya.
"Putri mama gak pernah nangis ah!! Cantik-cantik tapi cengeng. Mana Izzi yang tegar, hm? " Izzi masih sesenggukkan di dalam pelukan mamanya. Terlalu berharga untuk di lepaskan.
Pelukan seorang ibu memang yang terbaik.
"Apapun keputusanmu, mama akan tetap mendukungmu apapun itu. Kamu harus yakin sayang.. "
Izzi mengangguk pelan. Menghapus pelan air matanya.
"Masih cengeng aja putri kecil mama ini? "
"Ihh mama apaan sih??? " Rika semakin semangat menggoda putrinya ini. Kapan lagi bisa seperti ini??
"Ya udah yuk? Tuh pacar kamu kasihan nungguin. " Izzi menyambut lengan mamanya dan masuk kedalam.
__ADS_1