
Semua dugaannya salah. Mengira bahwa keluarga besar dari kekasihnya itu sama seperti kekasihnya, Zain. Di mulai dari Ivina mama dari Zain yang katanya sangat ramah dan juga penyayang karena memang itu kenyataannya. Semua anggota keluarga telah Izzi temui, termasuk adik bungsu dari Zain. Rain gadis berusia 20 tahun itu, kini telah kuliah di Universitas Kedokteran karena keingginannya yang ingin menjadi Dokter. Rain termasuk gadis yang sangat ceria. Sudag terbukti dari perilakunyq, bahkan Rain menyambut senang kedatangannya.
"Kak Izzi belum ketemu sama papa kan? "
Jleb!!!!!!
Tubuh Izzi menegang. Mengingat bagaimana Zain menceritakan bagaimana sosok paruh baya itu yang begitu dingin bahkan terkenal galak, membuat pundak Izzi meronsot. Takut jika pria paruh baya itu menghinanya karena statusnya dari kalangan terendah.
Karena tidak mendapat respon dari Izzi, Rain mengguncang pelan tubuh Izzi. Lantas Izzi menoleh. " Y-ya Rain? Kamu bilang apa tadi? "
Kening Rain mengerut. " Kak Izzi gak apa-apa kan? Kok muka kakak jadi pucat gitu? "
"Pucat? " Izzi membeo. " Aku gak pa-pa kok! " Seru Izzi sambil mengusap keringat yang entah sejak kapan membanjiri kulit mulusnya.
"Gak pa-pa tapi kok keringetan? " Gumam Rain. Izzi mencoba menutupi rasa takutnya. Sekarang yang ia tunggu adalah kekasihnya Zain. Sudah 2 jam Zain meninggalkannya karena ada seseorang yang di temui. Izzi mendengus kesal. Merutukki kebodohannya karena, mau saja di bohongi oleh Zain.
"Rain? dia siapa? "
Akhirnya orang yang ia takuti pun datang. Muncul di hadapannya dengan setelan jas di tubuhnya. Izzi sempat memuja ketampanannya, karena di usia sekarang ini, mengapa wajahnya masih setampan itu??
__ADS_1
"Oh, dia pacarnya bang Zain pa. " Kening Aldan mengerut. Izzi meneguk salivanya susah payah. Tidak berani menatap wajah apalagi mata tajam itu. Sunggu!!! Izzi benar-benar membutuhkan oksigen sekarang.
"Jad-"
"Papa??? "
Ya allah!!!!! Ternyata engkau mengabulkan do'a hamba!!!!
Zain datang di saat waktu yang tepat, meskipun sedikit terlambat.
"Loh Zain? Sejak kapan kamu disini? kok gak bilang ke papa? "
"Kejutan dengan membawa calon menantu? " Aldan menaikkan sebelahnya. Zain menatapnya datar.
"Jangan menggodaku pa. " Aldan terkekeh. Ternyata putra sulungnya ini masih saja sama, tidak berubah. Aldan menoleh ke arah Izzi yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
"Nama kamu siapa? "
"Izzi Om. " Jawab Izzi dengan kepala masih setia menunduk.
__ADS_1
"Di bawah sana gak ada uang jatuh, ngapain kamu nunduk? "
"Heh??? " Aldan tersenyum. Sepertinya Zain menceritakan yang tidak-tidak tentang dirinya kepada Izzi.
"Gak usah takut, Om gak bakalan makan kamu. "
"Dia takut sama papa?" Rain yang sedari tadi penasaran dengan pembicaraan papanya, langsung mengajukan pertanyaannya.
"Itu karena abangmu menceritakan tentang papa yang tidak-tidak. "
"Itu bener bang? " Rain bertanya pada Zain. Zain berdehem pelan, kemudian mengangguk pelan. Sontak Izzi mendelik ke arahnya karena kekasihnya telah berani membohonginya.
"Kamu jangan sering-sering bikin kesal pacarmu, Zain. Nanti kalau dia lari terus gak mau balik lagi ke kamu, kan kasihan kamunya. "
"Kasihan kenapa pa? Tanya Rain.
"Kasihan gak ada yang mau sama abangmu yang galak ini. " Goda Aldan.
"Bully aja terus!! " Mereka semua langsung tertawa keras. Apalagi Izzi setelah melihat raut wajah kesal kekasih dinginnya itu, sangat lucu menurutnya.
__ADS_1