
"Mana nih bonusannya?! "
"Lo gak bisa sabar emang ya?! " Ranti menjadi jengkel mendengar ocehan dari Galang. Sedari tadi tak ada henti-hentinya berbicara
"Napa lo?! sewot amat!! " Ranti hanya mendengus kesal. Lagipula sia-sia saja jika bicara pada Galang, bisa-bisa naik darah.
"Lo kalo laper, mending lo bayar sendiri sono! sumpek ada lo di sini. " Dimas yang tadinya diam kini ikut bicara.
"Gak ah! nunggu yang gratisan lebih nikmat. "
"Enak di lo gak enak di Izzi!!! " Ingin rasanya Ranti mengubur hidup-hidup temen satunya itu. Ngurus satu teman seperti dia saja sudah membuatnya marah, apalagi 10???
"Hidup lo emang selalu gratisan!! gak malu?! "
Galang tersenyum manis. " Ngapain malu? kan gue di kasi? rezeki jangan di tolak? "
"Teori dari mana tuh?! "
Kini yang di tunggu pun datang. Galang tersenyum senang membuat Ranti mendengus sebal. Izzi dan Zain datang dan duduk di antara mereka.
"Pesen gih. " Ucap Izzi pada Zain agar untuk memesankan mereka makanan. Semua pasang mata tertuju pada pasangan couple itu. Ada yang menatapnya penuh senang, memuji, dan ada juga yang sirik pada mereka. Tapi Izzi hanya diam saja dan sengaja memberi sebuah tatapan tajam pada mereka. Zain yang melihat kekasihnya sedang di landa cemburu itu, tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Izzi. Izzi menoleh. " Mereka genit sayang?? aku gak suka...." Izzi merengek sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Panas ati abang!!!!" Galang mengibaskan kemejanya.
Ranti menatap tajam ke arah Alana.
Tentang Alana, dia masih belum keluar dari Perusahaan. Padahal Zain telah memecatnya.
"Lo gak ada obrolan lagi ya? selain ngomongin orang lain?! gak malu lo?! apa urat malu lo udah putus?!! "
Alana tersenyum sinis. " Gue sebenernya mau keluar sih dari sini, cuma karena -"
"Karena apa?! Lo gal bisa dapetin si Bos, makanya lo masih di sini?! "
"Lo bilang apa tadi? lo kalo punya mulut di jaga ya?! "
"Sorry ya? " Ranti menjeda. " Kalo ngomong sama cewek gatel kek lo sih, pengennya ceplos aja. " Semua tertawa mendengar ucapan yang begitu pedas dari Ranti. Siapa di sini yang tidak kenal Ranti?? seorang cewek yang bermulut pedas jika sekali bicara.
"Bos mau nraktir kita ya? " Galang tersenyum tanpa dosa. Zain memandangnya datar.
"Di dalem otak lo isinya makanan mulu ya? heran gue sama lo. "
__ADS_1
"Jadi Zain, kapan kalian nikahnya? " Dimas bertanya. Jika bicara pada Zain, Dimas kerap sekali memanggil dengan namanya saja. Kadang juga dengan sebutan " Bos" .
"Gue sih rencananya nunggu bokap nyerahin Perusahaan yang satunya lagi ke gue. "
"Emangnya bokap lo punya Perusahaan berapa sih? kagak ada habis-habisnya perasaan. " Dimas memutar bola matanya malas. Izzi yang baru mendengar Zain berbicara " Lo gue" hanya melongo. Bukan hanya Izzi saja, tapi Ranti dan juga Galang tidak menyangka.
"Zii, tumben pacar lo ngomongnya gak pake " kamu saya" ?"
"Gue aja bingung Ran? keknya dia bukan Zain deh? " Izzi menyubit pelan kedua pipi Zain. Menoelnya hingga menarik pelan pipi kekasihnya. Zain protes tidak suka. Bukannya merasa bersalah, Izzi malah memasang wajah polos.
"Kamu ngapain sih? " Bukannya tidak suka ataupun marah. Hanya saja cubitannya tadi terasa sakit sekali.
"Kamu siapa sih? keknya bukan Zain deh. "
"Hah? " Zain membeo. " Maksud kamu? "
"Punya temen kok guobloknya tebel. " Celetuk Galang. Ranti melirik tajam ke arah Galang.
"Kamu tadi ngomong pake " Lo gue" Jadinya aku kaget. "
Zain tertawa. Bahkan tertawanya kali ini membuat seluruh penghuni kantin menatap kagum padanya. Izzi berdiri dan menggebrak meja yang ada di depannya. Menatap tajam ke arah mereka semua.
__ADS_1
"MATA KALIAN PENGEN GUE CONGKEL?!!!!!! "