
"Lo ngedate bareng si Bos?! "
Uhuk!!
Uhuk!!
Izzi tersedak dengan makanannya sendiri ketika suara bariton milik Galang menganggetkannya. Izzi melotot dan segera meminum jus jeruknya. Galang masig dengan posisi berdirinya dan menatap Izzi seolah meminta penjelasan.
"Lo bisa gak sih, nanya gak pake teriak-teriak?! "
"Kagak bisa! Ini udah darurat. "
"Darurat lo kira rumah sakit?! Ada-ada aja lo. "
"Lo denger dari mana sih tuh gosip?! herman deh gue. "
"Dari para tante-tante rempong. " Galang menjawab asal.
"Lo bilang apa tadi?! " Teriak dari salah satu staf karyawan di sebelah kirinya.
"Gak ada. Cuma di sini banyak kecebongnya. "
"Lo kecebongnya!!! " Umpat Ranti.
"Ngatain gue lo. " Ucap Galang pelan. Galang menoleh ke arah Izzi. " Zii, kasi tahu gue, lo beneran ngedate bareng si Bos? "
Izzi memutar bola matanya jengah. " Gue udah bilang kan ke lo, kalo gue gak ngedate sama tuh Zain iprit. Lagian mana ada ngedate ada orang ketiga. " Ranti mengernyit. Sedikit tersinggung dengan ucapan Izzi.
__ADS_1
"Lah? Bukannya kita berdua mata-matai dia? Kok lo ngatain gue orang ketiga. "
"Sensian amat sih lo? Makanya otak lemot tuh jangan di rawat. " Izzi menjeda. " Maksud gue tuh, ngapain gue ngedate ama dia kalo ujung-ujungnya ada si Ranti. Gue juga ogah jalan bareng sama dia. "
"Ogah tapi satu mobil sama si Bos. "
Izzi kicep.
"I-itu kan gue pernah bilang, waktu itu gak sengaja ketemu. "
"Zii, kalo yang cakep ada di depan mata, ngapain di tolak? Rezeki itu... " Izzi menoleh kearah sumber suara itu. Dimas menghentikan aktifitasnya dan menyeruput minumannya. " Lagian menurut gue, si Zain itu orangnya perfect. "
"Kayak judul lagu aja bang. " Izzi tertawa hambar. Dimas tersenyum.
"Kata istri gue, kalo emang jodoh, kagak bakalan kemana. "
"Wah.... ternyata lo masih demen nonton dakwah ya Ga, kagum gue ma lo. " Ranti menambahkan.
"Gue gini-gini juga takut dosa, udah numpuk kek gunung mak gue. "
"Emang gunung mak lo gedenya segimana? "
"Segeda buah semangka, hahaha!!!! " Galang tertawa terbahak. Izzi dan Dimas hanya geleng-geleng kepala, melihat kedua temannya ini yang sama-sama goblok.
"Saya boleh duduk disini? " Semua saling melempar pandangan. Ranti menyenggol lengan Izzi pelan. Sedangkan Dimas dan Galang sedang mengatur detak jantungnya.
Zain masih berdiri menunggu respon dari ke empat para karyawannya itu.
__ADS_1
Izzi berdehem pelan. " Duduk aja Pak. " Izzi menggesser kursinya sedikit dan mengizinkan Zain duduk. Zain mengangguk sekilas.
Tidak ada yang berani membuka pembicaraan. Semua pada sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Perusahaan kita berkembang lebih pesat dari sebelumnya." Izzi mengerutkan keningnya, matanya melihat bagaimana cara pria di hadapannya ini meminum jusnya.
Sangat seksi....
Izzi meneguk ludahnya sendiri. Hingga kepalanya menggeleng pelan dan tersenyum tipis.
"Kalau begitu, baguslah. " Izzi memberi jeda. " Kalau bukan karena kita semua dan kerja keras, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. " Izzi mengangguk. Dimas, Galang dan Ranti masih setia memakan makanannya. Tahu bahwa obrolan ini hanya untuk seorang Bos dan juga Sekretarisnya.
"Tapi disini yang menjadi peran penting bagi perusahaan kita itu kamu, Evellyn. "
Uhuk!!!!
"Lo gak papa?! " Tanya Izzi khawatir ketika melihat Galang yang tiba-tiba batuk. Galang menggeleng pelan.
"Gue gak papa. Cuma keselek tulang ikan. "
"Makanya kalo makan tuh tawar-tawar. " Tegur Dimas yang sedari tadi memainkan ponselnya tanpa memperhatikan apa yang di ucapkan Zain.
"Tapi sekarang saya kagum sama kalian semua, tidak pernah mengecewakan Perusahaan. "
"Memangnya kapan kita pernah ngecewain perusahaan? " Dimas bertanya sambil menatap Zain.
"Kadang-kadang sih. " Zain meminum jusnya lagi hingga habis. " Saya pergi dulu, cepat habiskan makanan kalian, sebentar lagi kalian akan kerja keras lagi. " Zain pergi meninggalkan ke empat orang itu melongo.
__ADS_1
"Tadi barusan, si Bos makan bareng kita ya?? "