
Sedari tadi Izzi bergerak tidak nyaman lantaran mendapatkan tatapan instens dari Zain. Hari ini Izzi sedang memperesentasikan tentang data Perusahaan di kantornya. Biasanya Izzi akan bersikap biasa saja apabila Zain menatapnya. Tapi kali ini beda, tatapan itu sangatlah beda. Seolah ingin sekali menerkamnya. Izzi semakin takut saat tidak sengaja melihat bagaimana Zain menggigit bibir bawahnya. Izzi meneguk salivanya susah payah. Jika dirinya di suruh pulang saat ini, pasti dia yang akan menjadi pertamanya.
10 menit berlalu.
Izzi bernafas lega sekarang. Tugasnya sudah selesai, tinggal membereskan beberapa berkas yang akan di simpan.
"Loh Zii? Mau kemana?Buru-buru amat. " Ranti nampak bingung melihat Izzi yang sedang terburu. Izzi menoleh sejenak.
"Tugas gue udah selesai, gue mau pulang dulu. "
"Cieeee, sekarang yang bebas... " Ranti berkata gurau. "Enak kan Zii gak capek lagi? "
"Gak juga sih biasa aja. " Izzi meraih tas yang ada di atas meja. " Gue cabut duluan ya? salam sama si Bos. " Bisik Izzi pada Ranti.
"Resek lo Zii!!! " Pekik Ranti sambil melihat punggung Izzi yang menjauh dari pandangannya. "Gue do'ain lo langgeng Zii. " Gumam Ranti.
Izzi POV
Izzi bernafas lega sekarang. Membaringkan tubuhnya di kasur empuk sambil menikmati hari istirahatnya. Biasanya Zain akan sangat sulit jika memberi cuti padanya. Di karenakan alasannya tidak bisa jauh darinya.
Alasan yang tidak masuk akal!!!
Memejamkan matanya sebentar. Mumpung Rika belum datang dari pasar dan Radit masih kerja, Izzi berencana untuk tidur sepanjang hari ini. Presentasinya cukup melelahkan. Membayangkan bagaimana dirinya menjelaslan secara detail ke mereka semua. Tiba-tiba saja pikirannya mengingat, bagaimana Zain menatapnya tadi, sangat menusuk.
__ADS_1
Masalah bubungannya dengan Zain, Izzi masih belum memberitahu pada orang tuanya. Izzi masih belum siap.
"Tuh orang bisa gak sih matanya gak tajem? " Izzi bertanya pada dirinya sendiri. Apa mungkin mamanya dulu ngidam makan silet?
Izzi menggeleng cepat. Membuang asal pikiran yang tidak masuk akal itu.
cit!!!!
Suara decitan pintu terdengar di telinganya. Izzi melirik ke arah pintu yang terbuka lebar. Menampilkan sosok paruh baya namun masih teihat cantik itu kini tengah berjalan ke arahnya.
"Tumben pulang cepet Zii? "
"Bosen kerja ma. " Celetuk Izzi sambil memejamkan matanya.
Rika menoleh semangat." Kalau gitu, nikah aja kan gak kerja tuh? "
"Kapan? " Kenapa mamanya selalu membahas pernikahan? Tidak tahu apa, bahwa dirinya sedang di landa kebingungan saat ini. "Mama akan selalu setuju sama pilihan kamu, tenang aja. "
"Termasuk Tono? "
"Kalau yang itu jangan!!!! " Izzi terkekeh geli. Menggoda mamanya adalah hobinya.
"Kamu tahu Zii, mama ngomong gini ke kamu cuma buat kebaikkan kamu. Mama takut kalo kamu gak nikah-nikah, terus sampe mama sama papa meninggal, kamu masih belum punya anak kan berabe masalahnya. " Rika tersenyum. " Apapun pilihan kamu, mama pasti setuju, tidak memandang dia kaya ataupun miskin. Yang penting putri mama aman sama orang yang tepat. "
"Mama tumben omongannya berfaedah? "
__ADS_1
"Tadi mama habis dari pengajian. " Izzi mengernyit .
"Jadi mama gak kepasar dari tadi?! " Rika tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hehe, iya. " Izzi memutar bola matanya jengah. Mempunyai mama rempong itu susah ternyata.
"Jadi sekarang gak ada makanan gitu??" Rika mengambil sebuah bingkisan. Terdapat makanan dan lauk pauk di sana." Ini mama dapat dari mana? "
"Nyolong!!!! ya di kasi lah!!! "
"Astaghfirulloh ma!!! " Izzi mengusap dadanya pelan. "Mama kalo ngomong bisa gak sih gak teriak? "
"Ini nasi di kasi pas mama ikut pengajian tadi. Ya kali mama nyolong. Bisa turun images mama. "
Ting tong!!!!
Suara bel rumah mengejutkan mereka.
"Siapa sih dateng jam segini? " Gumam Rika. Izzi mengikutinya dari belakang. Dengan cepat Rika membuka pintunya hingga matanya membelalak melihat sosok tinggi yang sangat.....
Tampan.
"Zii, ini siapa? "
Izzi nyengir tak berdosa." Hehe, pacar Izzi ma. "
__ADS_1