My Sweet Izzi

My Sweet Izzi
Calon Menantu


__ADS_3

"Santai aja, gak usah takut. " Santai apanya?!! Masalahnya sekarang Zain akan memperkenalkannya dengan ibunya. Pacaran baru 2 hari saja, sudah main kenalan sama ibunya. Membayangkan bagaimana sangarnya wajah ibu dari kekasihnya ini saja, sudah membuat bulu kuduknya merinding. Zain yang dinginnya menyaingi dinginnya kutub utara saja sudah seperti itu, bagaimana dengan ibunya.



Izzi menoleh ke arah Zain, ingin mengatakan sesuatu tapi ia urungkan. Zain yang mengerti raut wajah wanitanya itu tersenyum tipis. " Ngomong aja. "



"Apa? " Izzi berkedip beberapa kali. Sepertinya kekasihnya ini mengerti dengan arah pikirannya.



"Hm, Zain? " Zain hanya menggumam pelan, dengan pandangan fokus ke depan.



"Ibumu sangar gak sih? " Dahi Zain mengernyit. " M-Maksud aku bukan begitu, aku hanya ingin tahu saja, apa ibumu galak seperti ka-"



"Aku? " Zain dengan cepat menjawab tanpa menunggu pertanyaan dari Izzi. Pandangan Izzi kini menunduk, tidak berani menatap mata elang milik pria di hadapannya ini.



"Maafkan aku.... " Ucap Izzi lirih. Zain tersenyum.



"Ibuku tidak seperti yang kamu fikir. Kamu pasti suka. "



"Tapi kamunya kok beda? " Tanya Izzi dengan wajah polosnya. Ya tuhan!!!! Sepertinya kekasihnya ini sangat takut sekali.



" Tapi kalau ayahku.... " Zain menjeda. Wajah Izzi mulai keringat dingin. Zain berusaha untuk tidak tertawa. " Dia sepertiku, bahkan lebih kejam. " Bisik Zain. Izzi meneguk ludahnya pelan. Zain semakin gemas melihat raut wajah Izzi yang sangat ketakuttan itu.



"Ki-kita balik ya? Lain kali aja deh.. " Izzi mulai merengek. Menghiraukan imagenya yang kini sedang turun.



"No no! Kita tetap kesana. "



"Tapi Zain... "

__ADS_1



"Gak bisa."



"Sayang..... "



Zain terdiam. Apa dia tidak salah dengar? Kekasihnya memanggilnya sayang??



Zain mencoba menahan rasa kasihannya karena Izzi memasang wajah polos. Menampilkan puppy eyesnya pada Zain. Zain berdehem keras.



"Kita berangkat sekarang, atau kamu aku cium di sini? " Zain menaikkan sebelahnya. Menggoda kekasihnya adalah bagian hobynya sekarang.


Bahu Izzi meronsot seketika. Melawan seorang Zain Amami memang selalu kalah.



" Kita jalan deh. " Detik berikutnya Zain tersenyum kemenangan.






Kini mereka berdua telah sampai di depan rumah yang berukuran sangat besar. Ralat bisa di bilang seperti istana. Izzi bahkan tidak berkedip sedikit pun.



"Sayang? keknya kita salah rumah deh? balik aja yuk. "



Kening Zain berkerut. " Balik? Hey!! Ini rumahku sayang, kamu sepertinya lagi gak enak badan ya? "



Izzi menggeleng cepat. " Gak sayang. Kamu lihat? Ini bukan rumah, tapi udah kek istana!" Seru Izzi. Zain terkekeh. Kenapa kekasihnya menggemaskan sekali.


__ADS_1


"Kita masuk aja. "



"Gak sayang!!! " Reflek Izzi menghempas lengan kekar milik Zain.



"Ini, keknya aku mimpi deh? " Izzi menampar keras pipinya.



"Aww!!!! "



"Zain?!!!!! " Zain menoleh. Seseorang memanggilnya. Wanita paruh baya sekitar usia 40 an, menghampiri mereka berdua. Tubuh Izzi menegang. Benar dugaannya. Dan Zain telah berbohong padanya.



" Putraku? Mama kangen... " Zain membalas pelukkan Ivana, mamanya.



" Kamu jahat banget sih sama mama? Mama kangen tahu sama kamu. " Izzi melongo di tempat. Dugaannya salah. Zain menyeringai kemenangan.



"Dia siapa? " Ivana bertanya. Berjalan menghampiri Izzi. Seketika mata Ivana melebar.



"Jadi ini, gadis yang selalu kamu cerita'in ke mama?! Cantik banget! "



"Dia memang cantik. " Ucap Zain datar. Zain mengangguk mencoba menenangkan Izzi.



"Calon menantu mama kok cantik banget sih?? "



"Calon menantu? " Izzi membeo. Menoleh ke arah Zain seolah meminta penjelasan. Zain mengangkat bahunya acuh.



"Ya udah ayo! kita masuk. " Ivana menuntun Izzi ke dalam. Namun sebelum Izzi hendak masuk, mata hazelnya menatap tajam Zain.

__ADS_1



" Mati dah gue.... " Gumam Zain.


__ADS_2