
Beberapa menit kemudian, datanglah suster dengan mendorong box bayi. Ia mengantar kan bayi new born Claudia.
"Halo, tuan dan nyonya. Saya mengantar bayi anda. Silahkan di berikan ASI ya nyonya." ucap suster sambil memangku bayi Claudia yang belum diberi nama dengan senyum ramah.
"Halo sus." ucap Claudia dan yang lainnya.
"Ah cucu Oma. Masya Allah cantik sekali nak. Putih bersinar seperti Dewi ". ucap mama antusias.
"Terima kasih, ma." ucap Claudia tersenyum.
'Ia memang Dewi ,ma.' batin Claudia tersenyum.
Suster pun meletakan bayi cantik itu di pangkuan sang Ibu. Lalu membuka kancing baju Claudia dan memberi tahukan cara menyusui yang baik dan benar. Setelah selesai dengan tugasnya, ia pamit undur diri.
Kini bayi mungil seputih susu itu tengah menyusu pada sumber kehidupannya. Tak butuh waktu lama, kini bayi mungil itu telah kembali terlelap dalam tidurnya.
Mama Anjani pun mengambil alih sang cucu lalu menimang nya sebentar. Ia pun meletakan nya kembali pada tempat tidurnya agar lebih nyaman.
"Apakah kalian sudah menyiapkan nama untuk nya?" ucap papa Andi.
"Kami belum berdiskusi tentang itu, pa." jawab Daniel.
Ia kini tengah duduk di samping istrinya sambil menggengam tangan Claudia.
"Bagaimana nak,? apa kamu sudah punya nama ?" ucap papa Andi pada Claudia.
Claudia pun tersenyum lembut.
"Aku sudah menyiapkan nya pa." ucap Claudia.
"Tapi, bolehkah aku yang memberinya nama, mas ?" ucap Claudia bertanya pada suaminya.
"Tentu saja, honey." ucap Daniel. Lalu mencium tangan Claudia.
__ADS_1
Semua orang tersenyum dengan kemesraan Daniel dan Claudia. Ya, mereka tentu tahu, betapa mereka saling mencintai. Terutama Daniel.
"Kalian ini. Selalu saja bermesraan." ucap Nayla meledek.
Keduanya hanya tersenyum.
Dona pun ikut tersenyum melihatnya. Terbesit di hatinya, ia juga ingin diperlakukan sama oleh suaminya.
"Siapa namanya, sayang.? ucap mama.
Semuanya melihat ke arah Claudia.
"Hestia Clarabelle." ucap Claudia.
"Nama yang cantik. Apa artinya?" ucap Daniel bertanya.
"Hemm, untuk artinya kalian akan tahu saat usia Belle 40 hari nanti. Kita akan mengadakan syukuran." ucap Claudia.
"Baiklah sayang." ucap Daniel.
"Clau, mas, ma, pa. Aku pamit pulang ya. Kasihan Shanum di rumah." ucap Dona.
"Iya nak. Kamu pulang saja. Biarkan Daniel yang mengantarmu." ucap mama Mela.
"Tak apa ma. Aku naik taxi saja." ucap Dona.
"Tidak Dona. Mas, kamu pulang dulu ya antar Dona, kamu juga belum melihat Shanum kan hari ini." ucap Claudia.
"Iya sayang." ucap Daniel.
Ia pun mencium kening Claudia sebelum pergi.
"Ayo." ucap Daniel pada Dona.
__ADS_1
"Iya mas." ucap Dona.
Mereka pun pergi dari ruangan Claudia setelah berpamitan.
Tak ada adegan gandengan tangan dengan Dona. Walaupun sikapnya sudah lebih baik dari sebelumnya.
Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah.
Hening.
Tak ada percakapan sama sekali di dalam mobil. Ya, Daniel akan diam saja, jika tak ada yang mengawali pembicaraan. Hanya dengan Claudia ia bisa bersikap mesra.
"Mas?" ucap Dona memecah keheningan.
"Hem?" ucap Daniel berdehem santai.
"Apa nanti akan langsung kembali ke rumah sakit ?" ucap Dona.
"Iya. Setelah mandi dan bermain sebentar dengan Shanum." ucap Daniel.
"Mau makan malam di rumah?" tanya Dona lagi.
Ia berharap akan makan malam bersama.
Daniel diam sebentar untuk berpikir.
"Boleh." ucap Daniel.
"Baiklah. Aku akan masak makan malam." ucap Dona tersenyum senang karena Daniel mau makan malam di rumah.
Daniel hanya diam mengangguk. Ia kembali fokus dengan kemudinya.
πΈπΈπΈ
__ADS_1
next...
Selamat membaca readers π