
Di kerajaan langit.
Claudia baru saja meninggalkan bumi, meninggalkan suami yang ia cintai untuk selamanya, dan juga putri mungilnya yang masih bayi.
Pandangannya lurus ke depan dengan mata yang tersirat kesedihan di dalamnya.
Raja Langit pun mengerti dengan perasaan calon permaisurinya. Untuk sementara ia akan membiarkan Claudia dengan perasaannya.
"Kita sudah sampai, Adinda. Beristirahat lah, tenangkan dulu hatimu." ucap raja Dirgantara.
"Baik." ucap Claudia menjawab.
"Antarkan tuan putri Claudia, ke dalam kamarnya." perintah raja Dirgantara pada dayang-dayang.
"Baik, yang mulia." ucap para dayang yang telah ditugaskan menemani Claudia.
"Mari tuan putri." ucap dayang.
Claudia pun mengikuti dayang yang menunjukan jalan di depannya.
Sedangkan raja Dirgantara pergi ke ruang kerjanya, dengan pengawal di belakangnya.
Sesampainya di kamar, Claudia langsung duduk di balkon kamarnya. Di sana tersedia 2 bangku santai empuk dan 1 meja bundar.
Dengan sigap dayang pun menyediakan satu teko teh hangat dan kue sebagai kudapan.
"Tinggalkan aku sendiri." ucap Claudia.
"Baik, tuan putri." ucap para dayang.
__ADS_1
Para dayang pun mundur beberapa langkah. Ia membiarkan Claudia duduk di balkon.
Sedangkan mereka berada di dalam kamar Claudia. Mereka hanya berjarak beberapa meter saja.
Claudia mengingat semua kenangan yang terjadi pada kehidupan nya di Bumi.
Berawal dari tibanya ia di Bumi, pertemuan pertamanya dengan sosok pria tampan di sebuah Curug di hutan, hingga pertemuan pertamanya dengan sang keluarga besar dari pria yang ia temui. Tinggal bersama, hingga ia dan pria Bumi itu saling mencintai dan menikah.
Awal pernikahan yang bahagia, penuh cinta, dan harmonis. Sampai tiba saatnya dimana ia merasakan patah hati terberat dalam hidupnya.
Ia di khianati oleh suami dan keluarga besarnya. Membiarkan ia menjadi wanita bodoh, yang tak tahu bahwa suaminya telah mendua. Bahkan dengan begitu cepat dikaruniai seorang bayi perempuan yang cantik.
Sakit hati.
Marah.
Kecewa.
Ia tak bisa terima jika suaminya memberikannya madu untuknya.
Ia tak ingin berbagi dengan siapapun. Apalagi pria yang ia cintai, ia harus berbagi dengan wanita lain, ia tak sanggup, lebih tepatnya tak Sudi.
Jika seperti itu akhirnya, lebih baik ia memberikannya keturunan juga untuk suaminya, walaupun resikonya ia tak akan bersama dengan pria yang ia cintai lagi untuk selamanya.
Walaupun perasaannya tak bisa dibohongi. Ia sangat berat meninggalkan bayinya yang masih kecil.
Ia tak mengkhawatirkan suaminya, karena ada istrinya yang lain yang akan mengurusnya.
Tapi ia sedih meninggalkan bayinya.
__ADS_1
Andai ia bisa membawa bayi keturunan manusia itu ke kerajaan Langit, past ia akan membawanya ikut serta.
Tapi tidak bisa, ada sebuah larangan untuk itu.
"Sayang . Maafkan ibunda yang telah meninggalkan mu. Ibunda sangat mencintai dan menyayangimu." ucap Claudia pada dirinya.
Berderailah air mata kembali membasahi wajahnya.
"Semoga ayahmu dan mama kedua mu merawatmu dengan tulus dan penuh kasih sayang." ucap Claudia berdoa.
"Suatu saat kita akan kembali bertemu, sayang. Ibunda akan menantikan hati itu, bersabarlah sayang." ucap Claudia.
Claudia pun menghapus air matanya menggunakan kain sapu tangan di dalam saku ya.
Ia pun meminum teh yang telah di sediakan dayang.
Tak lama setelah ia merasa tenang, ia pun kembali ke dalam kamarnya.
"Kami sudah menyiapkan air hangat untuk berendam tuan putri."
"Terima kasih . Ucap Claudia.
"Mari putri. Saatnya mandi dan berendam di air hangat .
"Hemm." ucap Claudia.
Claudia pun beranjak ke pemandian dan berendam di bak yang sudah berisi air hangat yang telah disiapkan oleh dayang.
🌸🌸🌸
__ADS_1
next..