
'tes tes tes' air mata Daniel mengucur di pipinya. Ia membelalakkan matanya ke tempat dimana Claudia menghilang.
Dengan tangan gemetar yang memangku anaknya, ia pun terduduk dan menangis.
'hiks hiks'
Ia pun terduduk di sofa kembali, Dona pun mengambil alih Hestia ke dalam pangkuannya.
Sedangkan Daniel ia tampak terisak dan memejamkan matanya.
Perasaannya campur aduk. Marah, kehilangan, ia merasa sekujur tubuhnya melemas dengan kenyataan yang ia saksikan bahwa istrinya yang ia cintai bukan bagian dari dirinya.
Tak masuk di akal, tapi ini nyata.
Mama Mela dan papa Andi pun mendekat pada putranya, dan memeluk Daniel. Ia tak tahu harus berkata apa selain memeluknya. Mereka pun sangat shock dengan kejadian barusan yang terjadi.
"Mah, apa ini benar-benar nyata?" ucap Daniel dalam tangisnya.
"Iya sayang. Kamu harus kuat demi putrimu." ucap Mama.
"Jika aku tahu ini akan terjadi, tidak apa jika ia tak memberiku anak ma. Aku hanya ingin bersamanya. hiks hiks " ucap Daniel.
"Maafkan mama. Ini salah mama, mama yang menginginkan cucu. Mama telah menyakiti perasaan Claudia menantu mama. Ia pasti sakit hati dengan pernikahan keduamu dan anak kalian." ucap mama menangis.
Daniel tak menjawab , dalam hati ia membenarkan ucapan sang mama. Andai ia tak mengkhianati istrinya bahkan memiliki anak dari wanita lain. Andai ia tak mengikuti keinginan orang tuanya yang menginginkan cucu. Pasti semua ini tak akan terjadi.
Claudia pasti tetap bersamanya.
__ADS_1
Ya semuanya hanya tinggal 'Andai saja '.
Nayla pun ikut menangis sedih melihat kakaknya menangisi kepergian istri yang ia cintai. Ia pun mengusap air mata di pipinya dan tak sengaja melihat foto pernikahan Daniel dan Claudia di dinding yang mulai memudar.
"Kak Daniel." ucap Nayla panik.
"Lihat foto-foto kak Claudia. Wajahnya.. wajahnya memudar." ucap Nayla berseru.
Daniel pun mengusap air matanya dan mendongak ia melihat foto pernikahan nya di dinding. Wajah Claudia pun memudar.
Ia pun beranjak dari duduknya dan menghampiri semua foto-fotonya bersama Claudia yang dipajang. Dan semuanya memudar.
Semua orang pun ikut menatap semua foto yang di pajang dan ternyata benar.
"Tidak Clau, tidak sweety. Jangan hukum aku seperti ini. hiks hiks. Kau pergi meninggalkan ku dan fotomu pun tak bisa kulihat. hiks hiks. Aku tak ingin melupakan mu. Jangan hapus ingatanku. Aku ingin bersamamu dalam ingatanku. Kumohon. hiks hiks." Daniel menangis.
Hingga membangunkan Hestia dengan teriakan nya.
"Oek oek oek." suara tangis Hestia.
Dona pun menenangkan nya dengan menimang nya dan membawanya ke kamar. Ia juga menyuruh sus Lina menyeduh susu untuk Hestia.
Dengan masih mengendong Shanum yang ikut terbangun karena kaget, ia pun membuatkan susu untuk Hestia dan Shanum.
"Cup cup anak cantik, anak pintar, jangan menangis lagi ya sayang. Ada mama di sini. Ini minum susunya ya." ucap Dona memberikan susu pada mulut mungil Hestia.
Hestia pun meminum nya dengan semangat dengan sesekali terdengar suara rintihan tangisnya. Begitu pun dengan Shanum yang minum susu dan kembali tenang dalam gendongan sus Lina.
__ADS_1
Sedangkan di ruang tamu Daniel masih menangis pilu. ia pun tak sadar lalu pingsan.
Ia dibawa ke kamarnya oleh papa dan pa Udin satpam rumah yang menopang nya.
"Istirahat lah nak." ucap mama. Ketika Daniel diletakkan di tempat tidurnya.
Ia pun menelpon dokter keluarga untuk memeriksa keadaan Daniel yang pingsan.
Tak berselang lama dokter pun datang dan memeriksa kondisi Daniel.
"Bagaimana dokter?" ucap mama khawatir.
"Sepertinya ia hanya shock dan kelelahan. Saya sudah menyuntikan obat tidur, biarkan ia istirahat untuk menenangkan tubuh dan pikirannya." ucap dokter.
"Baiklah, terima kasih." ucap papa dan mama yang mengangguk.
Papa mengantar kepergian dokter sampai depan rumah.
Sedangkan mama Mela, menatap sedih anaknya. Ia tak menyangka atas apa yang terjadi hari ini.
"Sudahlah ma, ayo istirahat dulu. Mama juga harus istirahat kan." ucap papa saat kembali masuk.
Mama pun mengangguk dan meninggalkan kamar Daniel.
🌸🌸🌸
next...
__ADS_1