
17 tahun kemudian.
Hari demi hari telah terlewati, berganti dengan bulan, bahkan berganti tahun, begitu pun seterusnya. Bayi mungil yang ditinggalkan sang ibunda pun tumbuh dengan sangat baik. Ia kini berusia 17 tahun, dan duduk di bangku SMA kelas 3.
Begitu pula dengan Shanum. Mereka berada di kelas yang sama.
Belle, tumbuh dengan sikap datar dan dingin. Ia juga sedikit em kasar, hehe. Jika seseorang membuat nya marah maka ia akan membuatnya merasakan panasnya luka bakar dengan sentuhan tangannya.
Berbeda dengan Shanum yang ramah dan lembut.
Sudah beberapa kali, Belle membuat temannya terluka menderita luka bakar di tubuhnya. Tapi ia tak peduli, jika teman-teman nya tak membully nya ia pun tak akan berbuat kejam seperti itu.
Seperti saat ini.
"Aaaaa lepaskan tanganku. Ini sangat panas. Dasar kau gadis penyihir." teriak Cindy.
Kedua teman Cindy yang lain, Nana dan Via melihatnya takut.
Seseorang memanggil guru.
"Siang, pak. hosh hosh hosh" ucap nya sambil memegang dada.
"Ya siang. Ada apa kamu lari-lari seperti itu?" ucap pak Rahmat guru BK.
"Di disana ada yang ribut pak. Belle dan Cindy berantem." ucap Aldi si kacamata.
"Dimana? kenapa gak di kalian lerai? aduh masalah apalagi, ini." ucap pak Rahmat geleng kepala.
"Ayo." ucap pak Rahmat pada Aldi yang terlihat masih memegangi dadanya mengatur nafas.
"Eh iya pak." ucap Aldi.
Mereka pun berjalan ke tempat kerumunan siswa siswi. Mereka yang melihat pak Rahmat pun menggeser memberi jalan.
Masih terdengar suara teriakan Cindy dan wajah dingin dari Belle.
"Belle... Cindy... hentikan." ucap pak Rahmat.
__ADS_1
Belle pun langsung melepaskan tangan Cindy dari genggaman tangannya.
"Ah, my hand... huhu sakit.. papi sakit." ucap Cindy menangis melihat telapak tangannya melepuh merah.
Keduanya teman Cindy pun histeris melihatnya.
"Belle, apa yang kau lakukan adalah menyakiti temanmu. Kenapa harus seperti itu?" ucap pak Rahmat.
Belle memutar bola matanya malas.
"Dia yang memulainya. Lagian itu cuma kuberikan sedikit luka. Jangan lebay, merengek dan menangis." ucap Belle dingin.
Semua orang tercengang mendengar nya.
'Apanya yang sedikit? itu begitu merah. pasti rasanya pedih' ucap mereka berbisik.
"Huh... Baiklah kau ikut saya ke ruang BK." ucap pak Rahmat pada Belle.
"Dan kalian antar Cindy ke UKS untuk merawat lukanya." ucap pak Rahmat pada Nana dan Via.
"Iya ,pak." ucap mereka.
Di ruang BK.
Belle duduk dengan tenang di hadapan pak Rahmat.
Mereka belum berbicara apapun, mereka menunggu kedatangan ayah Belle dan Cindy.
Di sisi lain.
"Sha Sha Sha. gue denger adik lo ada di ruang BK tuh." ucap Maya teman dekatnya Shanum.
"Apa? kata siapa?" ucap Shanum kaget.
Posisi mereka kini berada di kantin, dan Maya mendengar beritanya di dalam toilet. Para siswa tengah membicarakan perkelahian Cindy dan Belle yang berakhir terlukanya Cindy dan Belle yang berakhir di ruang BK.
"Aduh, Lo telat banget sih. Semuanya lagi heboh tuh ngegibahin Belle sama Cindy." ucap Maya.
__ADS_1
"Huh.. emang Cindy sih mulutnya nyari masalah terus sama Belle. Belle itu gak mungkin jahat kalau dia gak di usik. Aku tahu persis." ucap Shanum.
"Eh gitu ya. So tahu deh lo." ucap Maya sambil meneruskan makan baso di mangkuk nya.
"Emang tahu, kan gue kakaknya." ucap Shanum cerewet.
"Hahaha. Iya gue lupa." ucap Maya.
Mereka pun makan dengan lahap. Setelah itu mereka pergi ke ruang BK untuk menemui Belle.
"Tok tok." Shanum mengetuk pintu ruang BK yang terbuka.
"Masuk." ucap pak Rahmat.
"Ada apa kalian kemari ?" ucap pak Rahmat.
"Ya ampun, Belle. Kamu gak kenapa-kenapa kan." ucap Shanum memeluk Belle.
" Hemm." ucap Belle berdehem.
"Justru yang harus kamu khawatir kan ialah Cindy. Ia terluka karena Belle." ucap Rahmat.
Shanum memanyunkan bibirnya cemberut.
"Sudah saatnya masuk kelas, kalian boleh pergi." ucap pak Rahmat.
"Iya, bapak." ucap Maya.
"Belle, bye. Jaga dirimu." ucap Shanum dengan mimik muka melas.
Tak lama kemudian kedua orang tua sudah datang. Cindy pun di panggil ke ruang BK untuk di minta keterangan.
Dan ternyata memang benar Cindy lah yang memulai perkelahian sehingga menyinggung hal sensitif pada Belle.
Cindy pun meminta maaf.
Selesai. Mereka pun pulang, karena waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.
__ADS_1
🌸🌸🌸
next..