
Di tengah padatnya suasana ibukota, di sebuah gang sempit seorang gadis sedang merapikan rumahnya, sudah dua tahun berlalu sejak kepergian kedua orang tuanya karena kecelakaan membuat gadis bernama Kanaya hidup dirumah itu sendirian, meskipun lokasinya masih bersebelahan dengan bibi dan pamannya.
Kanaya menjalani harinya sebagai mahasiswa fakultas Fashion Design. Saat sore hari ia mengambil kerja part time di kafe yang tidak jauh dari kampus.
Matahari semakin beranjak, Kanaya segera menaiki motor peninggalan kedua orang tuanya menuju kampus.
Alina, sahabat Kanaya yang selalu setia menemani hari-hari penuh rintangan.
"Naya, kau tidak sendiri disini. Kau masih mempunyaiku, ada ibu dan ayahku juga. Kau bisa menganggap mereka seperti orang tuamu" Kata-kata itulah yang terbisik dari Alina ditelinga Kanaya saat sahabatnya itu tersungkur di hadapan batu nisan orang tuanya.
Saat motor Kanaya menepi di parkiran kampus rupanya di seberang selasar orang-orang tengah memperhatikannya. Dengan perasaan bodo amat Kanaya berlalu melewati sekumpulan wanita itu.
"Haha, anak kampung. Rupanya dia belum respect terhadap diri sendiri guys! Masih aja memaksakan diri buat kuliah, makan aja udah kere! "
"Haha, kere gak tuh? "
"Yang kenceng dong say ngomongnya, dia kan tuli"
Kanaya menghela napas, wanita tadi adalah Grace dan teman-temannya. Merasa memiliki banyak uang dan orang tuanya sebagai salah satu donatur di kampus membuat Grace dan teman-temannya semakin sombong dan sering mengintimidasi orang lain. Bagi Kanaya cemoohan itu sudah biasa selama Grace dan teman-temannya tidak mengganggu hal yang menyangkut masa depannya Kanaya tidak akan pernah mau peduli. Toh mulut mereka biarkan mau berbicara apa saja.
__ADS_1
Kanaya cukup di kenal di kampus, sebagai mahasiswa yang cukup pandai Kanaya mendapat beasiswa, ia sering terpilih saat kampus mengadakan acara atau perlombaan, dari segi fisik Kanaya adalah wanita kecil yang imut, rambut yang bergelombang dan cukup menarik di mata laki-laki.
"Nay, mereka tidak mengganggumu lagi kan? "
Alin langsung to the point saat melihat dari kejauhan saat Kanaya melewati Grace and the genk.
"Sudah biasa, mereka tidak punya kerjaan. Biarkan saja Lin. Ayo masuk, sebentar lagi Dosen datang"
Kanaya tersenyum merangkul sahabatnya.
Usai sudah waktu kuliah Kanaya, sepulang dari kampus gadis itu langsung memarkirkan motornya di depan sebuah kafe bertuliskan kafe kenangan. Saat sebelum orang tuanya pergi Kanaya memang sudah terbiasa mencari kegiatan sampingan yang bisa menghasilkan uang untuk membantu meringankan beban kedua orang tuanya. Jadi bagi Kanaya sesulit apapun akan coba ia hadap, berusaha dan berjuang sampai titik akhir.
Sapa Dimas, rekan kerja Kanaya. Dimas memiliki riwayat kerja di kafe ini cukup lama, sehingga laki-laki itu diberi kepercayaan sebagai kepala pengelola kafe di cabang ini.
"Sore Kak, aku ganti baju dulu ya"
Kanaya berlalu menuju ruang ganti dan loker, ia segera menggunakan seragam dan apron khas tempatnya bekerja.
Masih terlintas dengan jelas dalam ingatan Dimas, seorang gadis dengan wajah keputusasaan datang mengunjungi kafe dan menanyakan loker part time. Sempat ada keraguan untuk menarik Kanaya bergabung di timnya, tapi keraguan itu pudar saat Kanaya menunjukkan semangatnya seperti bara api yang menyala.
__ADS_1
Kafe kenangan, dari segi tempat yang cukup luas dan interior yang menarik dengan desain vintage membuat banyak kalangan berkunjung ke tempat ini terutama kalangan anak remaja, selain untuk menyantap hidangan tempat dan suasananya sangat cocok untuk mendinginkan pikiran ditambah dengan alunan akustik yang sedap didengar.
"Nay, bagaimana kuliahmu?"
Dimas bertanya di sela-sela waktu senggang saat pengunjung mulai terlihat sepi.
"Baik kak, semua berjalan dengan baik" Kanaya memberikan senyum semangatnya
"Kau tidak capek? Pulang larut malam terus? Istirahat lah Nay, jika kau capek kau boleh cuti beberapa hari" Mengingat jam ramai kafe mulai dari sore hingga jam 9 malam membuat Dimas memikirkan perihal gadis di hadapannya.
"Hehe, capek kak tapi kalau sudah tidur besok pagi semangat lagi kok"
"Semangat kerjamu luar biasa ya Nay"
Dimas menepuk halus pundak Kanaya
'Tentu saja aku semangat kak, demi masa depanku. Tidak mungkin kan aki sampai harus berhenti kuliah, ayo semangat terus kanaya! Harimu masih panjang'
Bersambung
__ADS_1