Nikah Paksa Dengan Suami Kejam

Nikah Paksa Dengan Suami Kejam
Hari Pernikahan


__ADS_3

Pagi ini matahari bersinar dengan hangat, di sebuah gedung tinggi dengan nuansa yang sangat mewah di sebuah ruangan Kanaya duduk di hadapan cermin. Tatapan kosongnya terpandang lurus kedepan saat beberapa orang pelayan mendandaninya.


Pekan ini adalah hari pernikahannya dengan laki-laki yang sama sekali tak ia cintai belum lagi dengan kata-kata makian yang tempo hari keluar dari calon suaminya membuat Kanaya semakin muak berada di posisi sekarang.


Tidak ada istilah undangan tersebar, walaupun pernikahannya di gelar di gedung mewah dengan dekorasi secantik mungkin hanya beberapa kerabat saja yang datang dan memberikan selamat. Ditambah dengan pihak Kanaya yang hanya ditemani oleh pamannya saja, bibinya kemana? Mungkin kerepotan mengurus anak. Jadi apa yang Kanaya harapkan dari acara ini? Menciptakan kebahagiaannya sendiri atau kebahagiaan untuk keluarganya. Bukan keduanya, dia duduk di tempat sekarang hanya dari sebuah keterpaksaan menyelamatkan hidup dirinya dan pamannya.


"Sudah selesai"


Pelayan wanita, mengulurkan tangannya untuk menuntun Kanaya keluar dari ruangan ketika hari sudah semakin siang.


Akhirnya Dave dan Kanaya resmi bersanding sebagai suami istri.


Seharian ini mereka habiskan dengan acara pernikahan, menerima selamat dari para kerabat dan fotoshoot dengan berbagai macam tema.


Hari sudah semaki sore, sang paman sudah pamit untuk pulang. Kanaya duduk di kursi kamar hotel yang sudah di sediakan. Kamar di lantai paling tinggi dan khusus dipesan untuk kamar pengantin.


Kanaya memperhatikan sekitar, banyak bunga mawar cantik bertebaran di kasur, lilin-lilin kecil di lantai dan masih banyak lagi hal yang membuat Kanaya malas untuk memperhatikan. Ia duduk mendekap ponselnya, sedangkan Dave dan orang tuanya masih di luar menunggu semua kerabat pulang.


Kalau saja pernikahan ini digelar dengan orang yang saling mencintai pasti terasa bahagia dan menyenangkan


Kanaya melepas atribut dan perhiasan yang menempel di kepala dan tangannya. Ia sangat kelelahan dengan aktivitas hari ini.


Gadis itu membersihkan dirinya, kemudian berganti dengan pakaian santai yang ia bawa dalam koper kecil miliknya.


Kanaya berjalan ke arah balkon, menikmati suasana senja yang semakin pekat, melihat pemandangan kota dengan lampu yang semakin menyala.


Ibu, Ayah apa kalian di sana? Hari ini Naya sudah resmi menjadi istri. Istri orang yang sama sekali tidak Naya sukai. Kenapa Ayah dan Ibu membiarkan Naya sendirian. Hiks.

__ADS_1


Miris sekali Kanaya menyeka air matanya yang tak terasa jatuh menetes begitu saja.


Sedangkan di ruang sisa acara berlangsung hanya Dave dan orang tuanya yang tersisa. Semua kerabat sudah pamit pulang. Dave melemparkan jas hitamnya ke sembarang arah kemudian membaringkan dirinya di kursi sofa yang tadi siang mereka pakai untuk fotoshoot.


"Dave cepat masuk kamarmu"


Mama Dave berbicara dengan pelan dan lembut


"Hm"


"Temani Kanaya, jangan jahat padanya"


"Iya benar, papa dan mama mu juga akan masuk kamar. Istirahatlah nak"


"Dave, ayo cepat"


"Ma!"


"Kau ini sulit sekali diatur Dave"


"Kenapa? Kenapa harus diatur? Aku bukan anak kecil lagi"


"Masuk kamar Dave jangan biarkan Kanaya sendirian"


"Dave mau pesan kamar lain"


Plak

__ADS_1


Tuan Anton menampar putranya


"Jangan gila, cepat masuk kamarmu sebelum papa seret kamu untuk masuk"


"Hah!" Dave tersenyum sinis sembari memegang halus pipinya yang baru saja di tampar


"Kalau aku tidak mau bagaimana"


"Kau menantang rupanya?!"


Dengan segera Mama Dave menghalangi Tuan Anton yang mulai tersulut amarah.


"Sudah kan? Aku sudah menikahi wanita ****** itu, apa lagi yang kalian inginkan? Menidurinya? Tidak akan! Aku tidak akan pernah meniduri seorang pelacur!"


"Dave jaga ucapanmu!"


Kali ini Mama Dave yang berteriak


"Masuk kamar Dave cepat, kasihan istrimu"


Tuan Anton mulai menurunkan nada suaranya


"Mama dan Papa hanya mementingkan si wanita sia*lan itu! Apa mama mementingkan juga perasaan Dave? Jadi siapa yang sebenarnya anak kalian ini? "


Deg...


Dave memungut jasnya kemudian pergi tanpa mengucapkan satu kalimat pun pada orang tuanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2