
Ombak yang berdebur di tengah lautan seperti menjadi pertanda kehidupan yang masih aktif. Larutan kesedihan yang berhari-hari dilewati gadis mungil sendirian rasanya cukup melelahkan. Hingga saatnya tiba hari ini, hari dimana Tuan Anton meminta Kanaya dan pamannya datang kembali.
Kanaya sengaja memakai kostum hari ini dengan sedikit berantakan dan lusuh.
Kalau aku seperti ini setidaknya Tuan anton akan merasa jijik kan terhadapku?
Saat sampai di lantai khusus milik Tuan Anton Kanaya melirik sekilas pamannya yang sedari tadi tidak ada percakapan satu katapun dari mereka.
"Masuklah, paman tunggu disini"
"Temani aku paman. Aku mohon, aku takut masuk sendirian"
"Naya.... "
Sampai seorang staff memanggil Kanaya dan mempersilahkan masuk.
"Paman ikutlah masuk, temani aku"
"Silahkan anda masuk duluan, biarkan Pak Andri menunggu disini"
Staff itu membukakan pintu untuk Kanaya.
Ya Tuhan tolong aku.
Deg...
Kanaya melihat pemandangan sekitar. Di sofa tamu sudah duduk Tuan Anton di sampingnya ada wanita cantik dengan gestur tubuh dan penampilannya yang elegan. Dan apa? Di seberang sofa duduk seorang laki-laki yang benar-benar Kanaya kenali. Dave, pria yang memakinya beberapa hari terakhir.
Kanaya membeku sesaat. Sampai ketika Tuan anton memanggil nama Kanaya dan mempersilahkan duduk. Kanaya berjalan dengan sedikit gemetar. Hati, pikiran dan mulutnya sudah kehilangan kata-kata.
Kanaya duduk di hadapan tuan Anton yang artinya ia harus sejajar dengan Dave, walaupun posisi tubuh mereka terbentang dari ujung ke ujung.
__ADS_1
"Kau datang juga rupanya. Saya kira kamu akan bersembunyi dan menghindar dari tawaran saya"
Tuan anton memulai percakapan. Kanaya hanya diam dan tersenyum getir ia kebingungan dalam situasi seperti ini.
"Ternyata kau takut sekali pamanmu dipenjarakan ya?"
Kanaya menarik nafas panjang memejamkan mata dan mencari jawaban yang tepat untuk menjawab kalimat uang dilontarkan Tuan Anton
"Maafkan saya Tuan, sepertinya anda salah menilai. Saya memang datang karena paman saya, bukankah ketika paman saya memiliki sebuah masalah sayapun harus ikut terseret, karena itulah tali keluarga terbentuk sangat erat. Sebagai keponakan tentu saja saya harus menyelamatkan keluarga saya, paman saya, keluarga yang saya miliki di dunia ini"
Tuan Anton terhenyak mendengar jawaban dari Kanaya, sedangkan wanita disampingnya hanya tersenyum dengan sorot mata penuh kagum.
"Terlepas dari kesalahan paman saya, saya harap Tuan bisa mempertimbangkan kembali"
"Luar biasa, berani sekali. Saya baru tau kalau Pak Andri memiliki keponakan yang luar biasa"
Deg, kanaya keheranan tawa apa yang dilakukan pak Anton? Apa ia sedang di ejek saat ini? Persetan dengan laki-laki di sampingnya, Kanaya merasa Dave hanya angin berlalu, hidupnya sudah hancur toh mau dibagaimanakan lagi.
Setelah Tuan Anton berhenti tertawa ia berbicara bagai mengeluarkan bom tiba-tiba
"Apa?!"
Ekspresi terkejut Kanaya yang bersamaan menjawab dengan pria di sampingnya, Dave.
"Ma.. Maafkan saya Tuan, bukankah ini terlalu cepat. Untuk menuju ke jenjang pernikahan bukankah kita harus mengenali lebih dalam dulu"
Kanaya berusaha mencari ide agar orang di depannya berubah pikiran.
"Saya sudah tahu kamu beserta latar belakangnya. Jadi, tidak perlu lagi ada perkenalan"
Hiks... Ibu tolong aku, aku tidak mau jadi madu.
__ADS_1
Kanaya mulai berkeringat.
"Bagaimana dengan istri anda Tuan? Apakah beliau setuju? Saya rasa anda akan melukai hati istri anda"
"Tentu saja. Justru ini ide dari istriku, benarkan sayang? "
Tuan Anton memegang punggung tangan wanita disampingnya.
Benarkan, itu istrinya Tuan Anton. Kau sudah gila ya membuat ide macam itu
"Benar, saya yang membuat ide pernikahan ini akan di gelar bulan depan. Bukankah lebih cepat lebih baik"
Kanaya rasanya hampir mau menangis, tapi ia berusaha menahannya.
"Ma? Bukankah terlalu cepat? Satu bulan Ma? Yang benar saja! Mama tida mengatakan apapun terhadapku"
Dave yang sedari tadi diam tak berkutik akhirnya mengeluarkan suara
Tidak. Ini tidak benar, apa jadinya jika aku menikah dengan papa Dave. Aku tidak mau!
"No problem kami akan persiapkan semuanya, kalian tenang saja"
"Tapi nyonya... "
"Sudahlah. Kau sudah datang kemari artinya kau setuju jadi menantu kami"
"Menantu? "
Tuan Anton dan istrinya hanya tersenyum.
Apa? Kenapa si brengsek ini diam saja? Tidak! Ini lebih menyeramkan dari apa yang aku pikir. Hiks
__ADS_1
Bersambung....