
Matahari masih terbit, angin masih menyeruak. Sinar mentari menelisik mengisi celah dedaunan dan ranting. Deru mesin mulai menyala aktivitas di jalanan semakin padat, dan Kanaya yang masih menikmati hari-harinya yang berliku. Perlahan ia mulai terbiasa dengan keadaan gadis itu tersadar bahwa apa yang di berikan Tuhan untuknya adalah pilihan terbaik.
Bi Rita, panggilan untuk wanita penghuni samping rumah Kanaya, Wanita yang memiliki 3 anak setelah menikah dengan Adik dari Ibunya, Paman Andri.
Kanaya tidak pernah ingin merepotkan Bibi dan Pamannya. Mengingat Bibinya yang hanya fokus pada pekerjaan rumah tangga dan Pamannya yang bekerja sebagai satpam di salah satu perusahaan, belum lagi ketiga anak pamannya yang masih membutuhkan banyak biaya untuk keperluan sekolah dan si bungsu masih balita, membuat kanaya enggan untuk sekedar meminta bantuan karena takut mereka terbebani.
Saat akhir pekan mulai datang, Kanaya saatnya berdiam diri di rumah, merehatkan jiwa raga serta pikirannya. Tidak ada mata kuliah, dan jadwal kerja part time nya libur tepat pada hari Minggu.
"Naya, buka pintu sebentar ada yang ingin bibi bicarakan"
Suara Bi Rita dari luar rumah yang membuat Kanaya langsung bergegas membuka pintu.
"Iya bi? Kemari Bi masuk"
Kanaya meraih Axcel, menggendong bayi gembul itu ke dalam rumahnya.
"Begini Naya, bibi ingin bicara serius denganmu"
"Ada apa bi? Membuat kaget saja"
Kanaya segera mendudukan Axcel bocah imut keponakannya.
"Nay, kamu jangan kaget ya"
"Iya bi, ada apa bicaralah"
"Begini, sebenarnya bibi tidak enak bicara soal ini terhadapmu. Tapi, kamu juga perlu tau kan"
Bi Rita terdengar menghela nafas
__ADS_1
"Ibu dan Ayahmu"
"Kenapa dengan Ibu dan Ayah Bi? Naya sudah mengikhlaskan mereka"
Kanaya takut bibinya masih mengkhawatirkan dirinya masih terlarut dalam kehilangan
"Iya Nay bibi tahu kau sudah mengikhlaskan mereka. Tapi bukan itu yang akan bibi bicarakan"
Bi Rita menatap lekat keponakannya.
"Ibu dan ayahmu punya hutang terhadap kami Nay"
Bi Rita berbicara dengan lirih
Deg, Kanaya tertegun sesaat, cobaan apa lagi ini
"Sebenarnya bibi dan pamanku mau mengikhlaskannya nya Nay, tapi kau tahu kan kondisi keuangan kamu seperti apa. Bibi dan paman mu membutuhkan uang itu"
Kanaya tidak berniat menyinggung bibinya ia hanya memastikan kapan orang tuanya meminjam uang.
"Sudah lama Nay saat mereka membutuhkan biaya untuk kamu sekolah, kebetulan saat itu kami sedang ada"
Kanaya tampak berfikir sejenak.
"Kalau boleh tau, berapa bi uang yang Ayah dan Ibu pinjam? "
"Lima puluh"
Kanaya mengerutkan kening.
__ADS_1
"50 bi? "
"Ya, 50 juta Nay"
Deg... Ruangan tiba-tiba terasa sesak dan mencekam
"Bibi dan pamanmu sedang membutuhkannya Nay, kamu pikirkan dulu. Maapkan bibi"
Cobaan apa lagi ini, sepanjang malam Kanaya terjaga, memikirkan jalan keluar yang harus ia hadapi.
Sesekali gadis itu membuka lemari usang di sudut ruang kamarnya. Sekedar membuka dan memandangi tumpukan berkas yang tersusun rapi di dalamnya.
Tidak... Aku tidak harus menjual rumah ini kan? Ini peninggalan Ayah dan ibu, dimana nanti aku tinggal.
Mata kanaya semakin membengkak, setelah semalaman meringkuk dan menangis, hiks kenapa dunia begitu kejam padanya.
Sampai sore tiba Kanaya masih terlihat tidak fokus pada apa yang sedang dilakukannya, bahkan Alin beberapa kali menegur Kanaya karena kebanyakan melamun saat dosen memberi materi. Kanaya hanya bercerita kalau dirinya sedang tidak enak badan.
Beberapa kali Dimas menyuruh Kanaya pulang untuk istirahat, tapi gadis itu menolaknya, pikirannya sedang bergelut memikirkan apa yang harus dia lakukan.
Saat pelanggan mulai sepi Kanaya membuka handphone miliknya, memberanikan diri menelepon pamannya. Dari seberang terdengar suara laki-laki paruh baya menyahut.
"Paman, maafkan Naya. Naya tidak mengetahui jika ibu dan Ayah memiliki pinjaman terhadap kalian" Kanaya berkata dengan lirih.
"Iya Nay maafkan paman tidak bercerita terhadapmu. Paman mohon bantu paman untuk segera membayarnya ya, Paman ada keperluan yang sangat mendesak"
Deg... Niat hati ingin meminta tempo waktu terhadap pamannya, belum juga tersampaikan Paman Andri sudah berbicara seperti itu.
"Baik paman, akan Naya usahakan. naya meminta waktu sampai rumah ayah dan ibu laku terjual"
__ADS_1
Pecah sudah tangis Kanaya.
Bersambung....