
Cahaya jingga memudar dengan sendirinya, menenggelamkan sang mentari untuk terlelap di malam tiba. Lampu-lampu perlahan mulai menyala, menandakan gelap sudah mampir.
Kanaya masih dalam perjalanan, seharian ini setelah dirinya keluar dari hotel ia sama sekali tidak membuka handphonenya yang diletakan di dalam tas. Sehingga gadis itu tidak tahu berapa banyak notifikasi pesan dan panggilan yang masuk untuk sekedar bertanya mengenai kabar dirinya.
Kanaya berjalan di gang menuju rumahnya, setelah membayar dan mengucapkan terimakasih pada sopir taxi yang sudah bersedia menunggunya siang tadi.
"Naya! Kau mau membuat paman malu?"
Deg, Kanaya menoleh suara pamannya yang lantang dari halaman rumah sebelah. Kanaya yang membuka kunci pintu rumahnya diam sejenak.
"Kemana kamu Naya? Tuan Anton sedari sore tadi terus menghubungi paman, mereka bilang kau mau pulang kemari dari pagi! Darimana saja kamu? Jangan coba macam-macam Naya, jangan sampai paman lihat lagi kamu memakai baju tak pantas itu apalagi sampai kau pergi ke tempat malam lagi"
Kanaya menarik nafas dalam
"Paman, dengarkan aku. Aku tidak semurahan apa yang paman pikir, lagian apa peduli paman kalau aku pulang atau tidak?"
Kanaya mendekat ke arah pamannya
"Karena paman takut disingkirkan dari perusahaan Tuan Anton? Karena itukan? Bukan karena khawatir terhadapku"
Kanaya menjeda ucapannya sejenak
"Aku habis dari makam ayah dan ibu. Naya capek, Naya ingin istirahat" Dengan segera Kanaya meninggalkan pamannya yang mematung dan tak berkutik.
Setelah membersihkan tubuhnya Kanaya membaringkan diri di atas tempat tidur kemudian membuka handphonenya yang dipenuhi notifikasi. Puluhan panggilan tak terjawab dari Tuan Anton dan istrinya serta beberapa pesan yang belum terbaca, belum lagi ada pesan dari pamannya yang mengutuki dan mencaci gadis itu karena belum sampai juga.
__ADS_1
Ribut sekali, untuk apa mencari ku ujung-ujungnya aku juga yang tersiksa. Lagian Tuan Anton kenapa sampai harus menghubungi paman bukankah mereka sudah mengetahui aku akan pergi ke makam Ayah dan ibu.
Kanaya bergumam sendiri sembari memainkan handphonenya. Mulutnya memang mengoceh tak karuan kesana kemari, tetapi jari tangannya sedang mengetik sesuatu memberi pesan pada Mama Dave memberitahu kabar keberadaan dirinya.
Belum sampai dua menit, handphonenya berdering menandakan telepon masuk.
"Naya? Kamu baik-baik saja kan? Mama khawatir Pamanmu bilang kau belum sampai rumah"
Suara di sebrang sana
"Naya baik-baik saja, mungkin karena rindu dengan Ayah dan Ibu Naya sampai lupa membuka handphone. Maaf"
"Yasudah, Mama hanya khawatir syukurlah jika kamu sudah sampai rumah. Besok setelah pulang dari kampus kamu langsung kemari ya, nanti Mama kirim sopir kalah kamu tidak mau bareng Dave"
Deg. Benar besok Senin, artinya besok Kanaya sudah mulai ke kampus lagi. Bukan hanya itu, Kanaya sudah hampir seminggu ijin pada Dimas untuk tidak masuk kerja.
"Kafe? Kamu kerja?"
"Iyaa Ma, Naya kerja sepulang dari kampus"
"Yasudah mulai besok kamu resign dari sana ya"
Obrolan terhenti setelah Kanaya mengiyakan semua perkataan mertuanya. Gadis itu kembali membuka handphonenya yang sebelumnya ada pesan yang belum terbuka semua.
Naya, kau dimana?
__ADS_1
Kau sedang sibuk ya?
Tumben sekali kau tidak meresponku, kau baik-baik saja kan?
Nay?
Pesan-pesan dari Alin yang baru saja Kanaya baca, rupanya sahabatnya itu telah mengirim dirinya pesan dari sore tadi. Dengan segera Kanaya menyambungkan panggilan ke sahabatnya.
"Alin? Maafkan aku, aku baru membuka handphone. Ada apa?"
Kanaya berbicara setelah memastikan Alin mengangkat panggilannya.
"Kau baik-baik saja kan?"
Alin di sebrang sana balik bertanya
"Aku baik. Ada apa?"
Bercerita lah Alina, tentang apa yang dirinya lewati hari ini. Mulai dari Arham telat menjemputnya, pergi ke Timezone hingga bertemu dengan Fikri.
Rupanya dia ke rumah Arham
Batin Kanaya saat Alin mengatakan bahwa Arham telat menjemputnya karena ada Dave di apartemennya.
Obrolan mereka semakin berlangsung, layaknya seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Berbincang kesana kemari menjadi bagian terpenting ras wanita.
__ADS_1
Malam ini ditutup dengan pembicaraan rumpi-merumpi lewat ponsel. Rutinitas wajib para wanita saat bertemu atau berbincang satu sama lain.
Bersambung....